Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Pertemuan awal season ketiga


__ADS_3

Dua puluh tahun kemudian


Pagi yang cerah, matahari mulai tampak dari peredarannya. Seorang wanita dengan motor matic nya membelah keramaian kota Jogja. Hari ini adalah hari pertama dia bekerja. Karena begadang nonton Drakor semalam, dia harus kesiangan masuk kerja pagi ini. Usai sholat subuh, dia tidur lagi.


Faisal, ayahnya sudah lebih dulu berangkat ke rumah sakit. Karena pagi ini akan ada meeting bersama dewan direksi. Selain sebagai dokter, Faisal juga menjabat sebagai direktur utama di rumah sakit sejaktera. Rumah sakit yang diamanahkan oleh pak Erlangga padanya.


Wanita berparas cantik itu adalah dokter spesialis kanker. Usai menamatkan pendidikannya S2 di universitas Gunadarma, Sisi sekarang resmi menyandang gelar itu.


Dia mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Karena merasa sudah terlambat, sehingga dia tidak fokus menyetir. Saat dia akan berbelok ke persimpangan, dia lupa menghidupkan sen nya sehingga sebuah mobil dari arah yang sama menyrempet dia. Hingga akhirnya membuat keseimbangannya goyah. Sisi kemudian jatuh dengan motornya. Mobil yang menyrempetnya itu pun berhenti.


"Aduh, rese banget sih!" umpat Sisi memaki pengendara mobil itu. Seorang laki-laki berparas tampan kemudian turun dari mobilnya.


""Apa kamu bilang? Rese? Kamu yang rese. Kalau nggak bisa nyetir motor itu, nggak usah sok gaya. Begini, nih! Kalau punya SIM hasil nembak," maki pria berpostur tinggi atletik itu.


"Hey,,, yang salah itu kamu udah nyrempet saya sampai saya jatuh!!!" teriak Sisi yang tak terima di salahkan pria itu.


"Apa? Heey Nona, kamu mau belok gak nge-sen. Kok saya yang disalahin!" sahut pria itu tak mau kalah.


"Buang-buang waktu saya aja!!" sambungnya lagi kemudian berlalu meninggalkan Sisi yang masih meringis kesakitan.


"Dasar lelaki gak punya hati. Tolongin kek, dah tau luka-luka gini. Malah ditinggal pergi. Apes amat sih hari ini. Ketemu lelaki yang gak punya akhlak seperti dia!" gerutunya sembari kesulitan mengangkat motornya.


Dengan sedikit menahan sakitnya, Sisi menghidupkan kembali motornya dan segera melanjutkan perjalanannya. Lima belas menit kemudian, Sisi sampai di rumah sakit. Dia memarkirkan motornya di parkiran motor sebelah barat.


Saat Sisi akan masuk kedalam rumah sakit. Dari sisi lain seorang pria juga akan masuk ke dalam. Sisi akan memegang gagang pintu, begitupun dengan pria itu. Sehingga tangan mereka saling bersentuhan. Sisi menoleh kearah orang yang sedang memegangnya. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat siapa yang memegang tangannya.

__ADS_1


"Kamu!!!" Sisi langsung menarik tangannya dari tangan pria itu.


"Ya Ampun kamu lagi, ngapain sih kamu disini!" seru pria itu menunjuk Sisi.


"Hello ini tempat umum tau, jadi semua orang berhak ada disini. Termasuk saya!!!" Sisi langsung masuk duluan. Pria itu hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Sisi.


Sisi berjalan mencari ruangan Ayahnya. Dia memang sering kesini. Dulu, dua tahun yang lalu. Saat Sisi PKL di sana. Setelah itu dia memang tidak pernah ke rumah sakit itu lagi.


Di lantai lima ruangan Faisal berada. Setelah menemukan ruangan ayahnya Sisi langsung masuk kedalam tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Namun saat dia sudah ada di dalam, bukan ayahnya yang ia lihat. Tapi cowok yang menyrempetnya dia tadi.


"Astaghfirullahalladzim, kamu lagi. Kenapa sih harus ketemu lagi sama kamu!" Sisi langsung duduk di sofa yang tak jauh dari dari tempat pria itu duduk.


"Orang nih, kalau mau masuk keruangan orang salam dulu. Orang tua kamu gak pernah ngajarin kamu apa?" Pria itu melirik sini kearah Sisi.


"Lagian ngapain kamu ada disini?" Saat mereka sedang berdebat Faisal masuk keruangan nya. Dia juga melihat perdebatan yang dilakukan putrinya pada laki-laki yang bernama Hanif.


"Nggak," jawab mereka kompak. Sikap mereka membuat Faisal tersenyum geli. Faisal kemudian ikut bergabung dengan putrinya dan Dokter Hanif.


"Maaf sebelumnya, dokter Hanif. Ini putri saya, Sisi." Faisal memperkenalkan Sisi pada Hanif. Mereka berdua hanya saling berpandangan.


"Oh, dia ini putrinya dokter Faisal?" Hanif mengulang ucapan Faisal, untuk menyakinkan dirinya. Faisal hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Hanif. Dia tahu betul apa yang ada di dalam pikiran Hanif.


"Beda sekali ya dengan dokter Faisal," gumam Hanif namun masih dapat di dengar oleh keduanya.


"Sisi, dokter Hanif ini adalah senior kamu. Beliau juga dokter spesialis kanker di rumah sakit ini. Beliau sudah empat tahun bergabung di sini," terang Faisal pada putrinya mengenai Hanif.

__ADS_1


"Jadi nanti kamu akan Ayah tempatkan satu team dengan beliau. Mengingat banyaknya pasien yang menderita penyakit kangker akhir-akhir ini," sambungnya lagi.


"Apa Yah? satu team dengan dia? Please deh Yah, Sisi gak mau satu team dengan pria yang gak bertanggung jawab Seperti dia," keluh Sisi yang tidak setuju dengan rencana Faisal.


"Maksud kamu apa Si? bertanggungjawab gimana maksudnya?" cecar Faisal yang bingung dengan perkataan putrinya itu. Hanif yang merasa tidak nyaman karena dipojokkan oleh Sisi, segera memberi kode pada Sisi dengan mengedipkan matanya.


"Nggak Yah, udah lah lupakan saja!" ujar Sisi yang tidak mengatakan kejadian yang dialami oleh dirinya dan Hanif. Karena kalau sampai ayahnya tahu dia jatuh dari motor. Sudah pasti Faisal akan melarang putrinya itu untuk mengendarai motornya lagi.


Usai perkenalan tadi Hanif diminta oleh Faisal untuk mengantar Sisi keruangannya. Mereka ternyata satu ruangan. Hanya dibatasi oleh selambu saja. Sisi semakin tidak nyaman karena harus satu ruangan dengan orang yang sangat di bencinya. Tapi mau bagaimana lagi, dia harus profesional dalam pekerjaannya. Meskipun dia putri dari direktur utama di rumah sakit itu, tak lantas membuat dia ingin diperlakukan istimewa disana.


Saat itu banyak pasien yang datang untuk sekedar konsultasi dan ada juga beberapa yang sedang menjalani pengobatan disana. Mereka berdua berbagi tugas, Sisi menangani pasien yang sekedar konsultasi mengenai penyakit kanker. Sementara Hanif dia bertugas memeriksa pasien yang sedang berobat disana.


Usai makan siang, Hanif mengajak Sisi untuk bertemu dengan salah satu pasiennya yang sedang di rawat di rumah sakit itu.


Seorang wanita berparas cantik sedang terbaring lemah di bangkar rumah sakit. Beberapa alat medis menempel di tubuh gadis itu. Gadis itu sudah dua Minggu di rawat disana. Kangker yang di deritanya sudah stadium akhir. Sehingga kemungkinan untuk sembuh sangatlah minim. Sisi merasa iba melihat gadis itu yang tetap tersenyum ramah padanya. Meskipun di balik senyumannya itu menyimpan rasa sakit yang teramat sangat. Kangker getah bening stadium akhir melekat di diri gadis itu selama dua tahun belakangan ini.


Setelah memeriksa pasiennya, mereka berdua kembali keruangannya. Saat sudah ada di ruangannya. Tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar. Seorang wanita berambut ikal masuk dari balik pintu. Wanita itu berjalan mendekati meja Hanif. Kemudian dia duduk di depan Hanif.


"Ada yang bisa saya bantu Mbak?" tanya Hanif pada pasiennya yang baru datang itu.


"Akhir-akhir ini saya sering mimisan Dok, kepala saya tiba-tiba terasa sakit. Saya juga sering merasa kedinginan yang berlebihan," keluh wanita itu pada Hanif.


"Sudah berapa lama, keluhan itu Mbak rasakan?"


"Sudah dua bulanan belakangan ini." Sisi yang merasa mengenali suara pasiennya Hanif mengintip dari balik selambu pembatas mereka. Benar saja dugaannya, pasien yang baru saja berkonsultasi dengan Hanif adalah orang yang sangat dekat dengannya.

__ADS_1


to be continued


Siapa ya kira-kira


__ADS_2