Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Kecewa


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, orang yang di utus untuk mengecek mobil Iqbal datang. Dua orang itu langsung memasuki rumah pak lurah, dan menyampaikan apa yang dia lihat.


"Bagaimana? Apa benar yang dikatakan Nak Iqbal, kalau mobilnya kehabisan bahan bakar?" tanya pak lurah.


Dua orang tersangka yang sedang di sidang itu terlihat harap-harap cemas menunggu pengakuan dari para saksi itu. Namun, kecemasan mereka sedikit berkurang kala saksi itu membenarkan apa yang di ucapkan Iqbal.


"Benar Pak Lurah, kering! Saya sudah mengecek sendiri. Dan ini kunci mobilnya," jawab saksi itu menyerahkan kunci mobil pada Iqbal. Di saat bersamaan Iqbal dan Sisi menghela nafas lega.


"Tapi Pak, kita tidak usah percaya begitu saja dengan mereka. Bisa jadi, mereka khilaf dan melakukan hal itu. Pokoknya kita harus nikahkan mereka," timpal saksi yang pertama melihat mereka berdua di rumah kosong itu.


"Betul...saya gak mau desa kita ini terkena dampaknya, karena aib yang mereka tebarkan disini," sahut rekannya yang duduk di sebelah pria itu dengan perasaan menggebu.


"Benar itu. Jangan gara-gara kita melepaskan mereka. Desa kita terkena sial," imbuh saksi itu. Sementara pak RT, dia tidak terlalu banyak bicara. Tapi dia mencoba menghubungkan kejadian demi kejadian yang di ceritakan oleh Iqbal dan Sisi.


"Tenang Bapak-bapak, jangan emosi dulu!" lerai pak lurah yang melihat kedua saksi itu sudah mulai emosi lagi.


"Jangan sampai kita salah mengambil keputusan. Bisa jadi apa yang di katakan mereka itu benar. Kasihan kalau kita menikahkan mereka. Kita menikahkan dua orang yang tidak saling cinta. Dan apa kalian mau menanggung dosanya, kalau tetap ingin menikahkan mereka. Jika suatu saat mereka saling menyakiti. Kita harus bijak mengambil keputusan. Jangan hanya mengikuti ego kita sendiri," lanjut pak lurah dengan bijaknya.


"Saya setuju, hal itu Pak," sahut pak RT.


"Kita harus cari cara agar masalah ini bisa di selesaikan dengan baik. Tidak ada pihak yang di rugikan dari masalah ini. Dan yang paling penting, kita tidak memaksakan kehendak kita," ujar pak lurah lagi.


Mereka semua tampak diam, tidak ada yang membantah ucapan pak lurah.

__ADS_1


"Terus bagaimana caranya agar kita tahu, kalau mereka memang tidak berbuat mesum?" tanya pak RT.


"Iya bagaimana caranya?" timpal taksi yang memakai kaos kuning.


"Ada satu cara agar kita bisa membuktikan itu. Dan saya harap, Nak Sisi tidak keberatan," jawab pak lurah menatap kearah Sisi. Wanita itu membalas tatapan dari pak lurah. Seakan memberi tanda, kalau dia akan setuju dengan hal itu.


"Nak Sisi harus melakukan tes perawan, apakah nak Sisi dan nak Iqbal memang tidak berbuat hal itu disana," usul pak lurah.


"Iya saya setuju, dengan begitu bisa membuktikan kalau mereka tidak berbuat mesum di rumah itu!" timpal pak RT.


Tanpa banyak mikir lagi, Sisi menyetujui usul dari pak Lurah. Tanpa sedikitpun takut, karena dia memang tidak berbuat mesum dengan Iqbal. Pertemuan itu di tutup oleh pak lurah dengan kesepakatan, tiga hari lagi dia akan meminta hasil tes perawan itu pada mereka berdua. Keputusan pak lurah pun, di setujui oleh para warga yang ikut diskusi tadi.


Dengan bantuan warga, akhirnya Iqbal bisa mengisi bahan bakar untuk mobilnya. Dan sekarang mereka di kawal untuk pulang ke rumah mereka. Sengaja, pak lurah memerintahkan salah seorang warganya untuk mengawal mereka agar tahu tempat tinggal Sisi dan Iqbal. Jika tahu alamat tempat tinggal mereka, akan mempermudah mengambil hasil visum itu.


Tapi jika dalam tiga hari mereka belum bisa menyerahkan hasil tesnya. Warga akan mendatangi mereka lagi untuk dinikahkan paksa. Dan itu menjadi kesepakatan kedua belah pihak.


"Brengsek." Satu pukulan mendarat di wajah Iqbal. Melihat kejadian itu, mereka yang ada disana melerainya. Hanif ditarik oleh Faisal, dan si kembar. Sedangkan Iqbal yang sudah tersungkur di lantai, dibantu oleh dua orang warga yang mengawalnya. Sisi, gadis itu hanya bisa terisak di rengkuhan bundanya.


"Tenang, Dok. Kita bisa tanyakan mereka baik-baik," ujar Faisal menenangkan calon menantunya yang terbakar emosi.


Setelah tenang. Mereka di bawa masuk ke ruang tamu oleh Faisal. Salah satu warga menceritakan kejadian yang menimpa Sisi dan Iqbal. Mendengar penjelasan dari warga, semakin membuat Hanif emosi. Pria itu langsung pergi meninggalkan rumah Faisal. Sisi yang melihat Hanif akan meninggalkan tempat itu, langsung mengejarnya.


"Sayang tunggu!!" teriaknya setengah berlari. Namun Hanif tak mengindahkan panggilan dari calon istrinya itu. Dia sudah terlanjur emosi, cemburu, kecewa, dan marah. Sehingga tidak bisa berfikir dengan normal.

__ADS_1


Bagaimana tidak merasa cemburu jika melihat calon istrinya berduaan dengan laki-laki lain, sampai menginap satu rumah. Dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pelupuk matanya rasanya penuh dengan air mata. Dengan sekali kedipan, air mata itu akan jatuh. Dadanya terasa sesak, seakan tidak ada oksigen di dalamnya. Kepercayaannya seakan runtuh pada calon istrinya. Padahal, dia belum mendengarkan semua cerita dari warga itu. Dia sudah dulu pergi dari rumah Faisal.


Yulia menyusul putrinya yang sudah terduduk di teras dengan terisak. Yulia membantu berdiri Sisi, dan membawanya ke kamar.


"Sayang, biarkan dulu Hanif pergi. Bunda tahu perasaannya, dia pasti sedang kecewa saat ini." Yulia berusaha memberi pengertian pada putrinya.


"Tapi, Bun. Sisi gak ngelakuin itu dengan Iqbal. Sisi hanya berteduh di rumah itu," lirih Sisi, menatap nanar kearah jendela.


"Iya sayang. Bunda percaya denganmu. Kita kasih kesempatan untuk Hanif meredam emosinya dulu. Setelah itu, baru kita jelaskan apa yang terjadi," ujar Yulia.


"Sekarang kamu istirahat, ya! Bunda ke depan dulu!" Yulia meninggalkan putrinya di kamar. Kemudian pergi ke ruang tamu untuk menemui Iqbal dan juga suaminya.


Sementara warga sudah pulang. Di sana hanya tinggal Iqbal dan suaminya. Yulia, duduk di samping Faisal. Mereka masih membahas tentang kejadian itu.


"Kasihan Sisi, dia pasti sangat sedih!" ucap Faisal.


"Sekali lagi saya minta maaf atas kejadian ini, Dokter Faisal. Saya benar-benar tidak menyangka akan menjadi seperti ini," kata Iqbal dengan nada penyesalan.


"Iya Nak Iqbal. Musibah, kita tidak ada yang tahu. Mungkin ini adalah ujian cinta kalian," ujar Faisal menatap melas laki-laki yang berada di depannya.


Kejadian itu bukan cuma akan membuat masalah dalam hubungan Sisi dan Hanif. Tapi juga akan membuat masalah dengan hubungan Iqbal dan Bilqis. Dan kalau sampai Bilqis dan orangtuanya tahu masalah ini. Jelas akan membuat masalah baru lagi. Akankah Bilqis bisa menerima itu, dan apakah dia akan sekuat itu menghadapi masalah itu. Faisal memijat pelipisnya, kepalanya tiba-tiba terasa berat. Padahal, baru saja selesai masalah Soraya, sekarang ada masalah baru lagi.


"Maaf, Dok. Kalau boleh saya minta tolong pada dokter. Tolong rahasiakan masalah ini pada Om Dino," pinta Iqbal pada Faisal. Namun tiba-tiba datang dan mendengar ucapan Iqbal.

__ADS_1


"Kalian merahasiakan apa dari, saya?"


To be continued


__ADS_2