Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Fatin dan Fathan


__ADS_3

Seorang wanita tak sadarkan diri terbaring di brangkar rumah sakit. Usai berjuang mempertaruhkan hidup dan matinya. Dua bayi laki-laki telah lahir dengan selamat melalui jalan normal.


Disisi lain, usai mengadzani kedua bayinya. Seorang laki-laki mendekat kearah istrinya. Di kecupnya lembut pucuk kepala istrinya.


"Terimakasih sayang, terimakasih," lirihnya sembari mencium punggung tangan istrinya.


"Kamu telah menghadirkan malaikat-malaikat kecil di tengah-tengah keluarga kita," lanjutnya.


Tampak jelas di wajah Faisal, ranum kebahagiaan terpancar. Dengan kehadiran bayi kembar laki-laki, menyempurnakan keluarga Faisal dan Yulia.


Seorang wanita paruh baya menghampiri Faisal yang sedang menunggu Yulia.


"Sal, kamu lebih baik sarapan dulu. Biar Mama yang jaga Yulia," ujar Bu Siti pada menantunya.


"Nggak Ma, Faisal disini aja. Sebelum Yulia sadar, Faisal tidak akan meninggalkannya," tolak Faisal yang bersikukuh untuk menunggu Yulia.


"Tapi kamu belum makan sejak kemarin. Yulia hanya kelelahan, kamu gak usah khawatir." Bu Siti kemudian meletakkan tas berisi pakaian Yulia di meja, yang tak jauh dari Yulia terbaring.


"Iya Ma, tapi Faisal ingin untuk pertama kalinya hanya Faisal yang dilihat oleh Yulia saat sadar nanti," ujar Faisal tersenyum lemah.


Tak dapat dipungkiri setelah kejadian demi kejadian menimpa keluarga mereka. Faisal lebih berhati-hati lagi dalam menjaga Yulia. Dia tidak ingin kecolongan lagi. Peristiwa penyekapan Yulia waktu itu menjadi momok yang menakutkan untuk dirinya.


Rasa khawatir saat Yulia pingsan pasca melahirkan tadi. Masih begitu mengganjal pikiran dan hatinya. Meskipun dokter Monica sudah bilang kalau Yulia baik-baik saja. Tak lantas membuat Faisal bisa tenang. Sebelum Yulia sadar dari pingsannya.


Yulia membuka matanya perlahan, ditatapnya langit-langit rumah sakit sejenak. Sesaat ingatannya mulai kembali, dia melihat ke sisi kiri. Yulia melihat Faisal sedang tersenyum lega menyambut kesadarannya.


"Mas, bayi kita?" Yulia seketika teringat, kalau dia berada di rumah sakit sekarang.


"Sayang, anak kita lahir dengan selamat, sehat tidak ada kurang suatu apapun." Faisal menenangkan istrinya dengan cara memeluknya.


"Anak kita kembar, laki-laki semua!" lanjutnya kemudian mencium kening Yulia.


"Alhamdulillah ya Allah. Terimakasih, terimakasih."


"Yul, susui dulu anak-anak kamu. Tadi kamu kan pingsan, jadi mereka belum sempat mendapat ASI pertama kamu." Bu Siti membawa salah satu bayi Yulia, disusul oleh suster Melsi.


Yulia kemudian menyusui kedua putranya. Satu sebelah kiri, dan yang satunya lagi sebelah kanan. Tentu saja dibantu oleh Faisal.


Saat Yulia sedang menyusui bayi-bayinya. Dino Felisa, Bilqis, dan Sisi masuk kedalam.


"Bunda!!!!" teriak Sisi menghampiri bundanya.


"Anak Bunda sayang, sini!" seru Yulia pada putrinya. Sisi kemudian naik keranjang Yulia.

__ADS_1


"Bunda, adik Sisi laki-laki atau perempuan?" tanya sisi mengamati kedua bayi yang sedang menyusu.


"Laki-laki sayang, Sisi punya adik laki-laki,” jawab guloa tersenyum pada putrinya.


"Bunda, Bilqis juga mau punya adik. Kayak Adiknya kak Sisi!" rengek Bilqis pada Felisa, karena itu melihat Sisi yang sangat antusias dengan adiknya.


"Iya sayang, kita minta sama Allah ya. Supaya Bilqis juga cepat dikasih adik oleh Allah." Felisa mencoba menenangkan putrinya.


"Selamat ya Sal, Yul. Atas kelahiran putra-putra kalian." Dino memberi ucapan selamat pada keluar kecil yang sedang berbahagia itu.


"Makasih ya, Brow. Kapan nih mau nyusul kita berdua. Kasian tuh si Bilqis udah kepingin punya adik," ujar Faisal mendapat lirikan dari istrinya.


"Mas!" Yulia memberi kode pada Faisal, untuk tidak membahas adik di depan Bilqis.


"Maaf!"


"Ma, tolong dong, kayaknya mereka udah kenyang!" Yulia meminta bantuan mamanya untuk meletakkan kembali bayinya di boks bayi.


"Apa udah keluar Yul, ASI nya?" tanya Bu Siti mengambil salah satu bayi ditangan Yulia.


"Sudah Ma, ASI nya sudah keluar saat mereka belum lahir," jawab Yulia.


"Sini biar aku bantu." Felisa mengambil anak Yulia yang satunya dari tangan Yulia.


"Dia mirip banget Ama Bapak nya, deh Yul!" Felisa mengamati bayi mungil yang ada di gendongan nya.


"Hmmm kayaknya, Bundanya cuma numpang bawanya aja," lanjut Dino lagi.


"Iya lah, mirip Ayah nya yang ganteng ini," ujar Faisal menyombongkan dirinya.


"Hmmm emang Yulia gak cantik Mas?" celetuk Yulia ngambek.


"Cantik sayang, kamu wanita paling cantik seluruh dunia yang aku kenal," sahut Faisal.


"Bunda cantik kayak Sisi!" ujar Sisi mengundang gelak tawa semuanya.


"Iya sayang."


"Oh iya, aku punya kabar gembira juga Lo buat kalian." Ucapan Dino membuat semua memperhatikannya.


"Anaknya Rio dan Weli lahir juga hari ini," sambungnya membuat Yulia dan Felisa terkejut.


"Beneran Mas," ucap Mereka bersamaan.

__ADS_1


"Iya, sekarang ada di ruang rawat VIP," jawab Dino.


"Syukur deh, Yuli ikut seneng dengernya!"


Lelah berbincang-bincang, tidak terasa hari sudah sore. Dino beserta anak dan istrinya pamit pulang. Kebetulan Bilqis rewel karena melewatkan tidur siangnya.


Sementara Sisi, dia ikut pulang bersama Bu Siti. Setelah dibujuk oleh Faisal dan Bu Siti. Kini hanya tinggal Faisal dan Yulia yang berada di sana. Faisal memerintah Yulia untuk tidur terlebih dahulu. Dia tahu, istrinya pasti sangat lelah setelah berjuang melahirkan tadi.


Faisal mendekati boks bayi yang berada tak jauh dari ranjang Yulia. Di perhatikan bayi-bayinya disana. Faisal jadi ingat Bebe kisah masa lalunya yang sudah menyia-nyiakan ketulusan istrinya. Tapi sekarang, yang paling penting baginya adalah hidup bahagia bersama keluarga kecilnya. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang di berikan tuhan untuknya. Mencintai Yulia dengan sepenuh hati. Faisal akhirnya ikut terlelap di kursi yang ada disamping boks bayi.


"Oe....oe..." suara tangisan salah satu bayinya membangunkan Faisal.


"Cup cup cup, sayang kamu lapar ya?" Faisal mencoba menggendong bayinya yang sedang menangis tersebut.


"Mas, baby nya nangis ya?" Yulia pun ikut terjaga.


"Iya Yul," jawab Faisal berjalan mendekati istrinya.


"Mungkin dia lapar," sambungnya.


"Kayaknya dia pup deh Mas." Yulia meraba bagian bawah bayinya.


"Sini biar, Mas yang gantiin popoknya." Faisal meletakkan bayinya disisi ranjang Yulia. Kemudian membuka popoknya.


"Bisa Mas?" tanya Yulia sedikit ragu.


"Bisa dong, udah biar aku aja yang urus. Kamu istirahat aja ya!" Faisal menggantinya dengan popok yang baru. Meskipun masih sedikit kaku, tapi Faisal akhirnya berhasil mengganti popok anaknya. Faisal tersenyum lega, saat pekerjaan telah selesai.


"Selesai," ujarnya.


"Mas, apa Mas Faisal udah siapin nama yang cocok untuk anak kita?"


"Sudah Yul."


"Siapa Mas?"


"Mas akan kasih nama mereka. Muhammad Fatin, dan Muhammad Fathan."


"Nama yang bagus Mas, Yulia suka. Jadi manggilnya Fatin dan Fathan."


"Iya sayang, kamu suka?"


To be continued....

__ADS_1


Masih mau lanjut gak nih...


Rencananya aku mau buat kisah Sisi dan Bilqis disini. Setuju gak ya?


__ADS_2