
"Angga! kamu di Jogja sekarang?" tanya Yulia, saat Angga menyapanya.
"Ya Allah, cobaan apa lagi ini. Baru aja selesai masalahnya, ini malah mau ada masalah lagi," gerutu Faisal menatap sinis Angga.
"Aku kebetulan ada seminar di sini. Jadi, sekalian aku cari alamat rumah kamu. Aku dapat kabar dari Bulek mu yang ada di Lampung, katanya kamu masih hidup. Jujur, aku seneng banget Yul, karena bisa melihat kamu lagi," terang Angga tujuannya ada di Jogja.
"Kalau sudah tidak ada kepentingan lain, biarkan kami pergi sekarang!" ucap Faisal ketus.
"Mas...." Yulia memberi kode pada suaminya, agar tidak bersikap gak sopan pada Angga.
"Sayang, kita udah telat. Ayo kita berangkat sekarang ya!" Faisal merangkul pundak Yulia, seraya tersenyum datar.
"Masih ada waktu satu setengah jam lagi, mas" jawab Yulia. Yulia tahu Faisal tidak terlalu suka pada Angga. Semenjak kejadian di Lampung itu, Faisal sering bertanya pada Yulia tentang hubungannya dengan Angga.
"Ya sudah Yul, kalau kalian mau pergi. Aku pamit dulu ya!" Angga beranjak dari tempatnya, seketika berhenti untuk menyampaikan sesuatu pada Faisal.
"Gak usah paranoid gitu dong dokter Faisal!" Angga tertawa saat mendapat respon pelototan dari Faisal.
Angga untuk beberapa bulan ke depan, memang akan menetap di Jogja. Angga dapat tawaran untuk menjadi dosen, di salah satu universitas di Jogja. Tapi, Angga masih ragu-ragu untuk menerimanya. Angga lebih tertarik untuk membuka usaha baru di kota ini. Angga memang sosok yang tidak mudah di tebak. Kedua orangtuanya sebenarnya menginginkan Angga untuk tetap menjadi dosen di Lampung. Tapi, Angga memilih untuk mengembangkan ilmunya dengan cara mempraktekkan nya sendiri.
Angga adalah dosen jurusan pemasaran. Dia ingin sekali menjadi pengusaha yang sukses. Berbekal ilmu yang ia peroleh, Angga ingin membuka sebuah usaha. Kalau di Lampung, mungkin tiidak seramai di Jogja. Jadi dia memutuskan untuk mencoba peruntungannya di Jogja.
Faisal dan Yulia berangkat di antar oleh Pak Sukur menuju bandara. Pak Sukur, adalah sopir pribadi Faisal dan Yulia. Faisal tidak mau mengambil resiko lagi, dengan membiarkan Yulia mengendarai motornya lagi. Karena itu, Faisal lebih memilih untuk mempekerjakan satu orang supir, untuk mengantar kemanapun Yulia pergi.
Faisal dan Yulia sudah sampai di Bali. Mereka berdua menuju ke hotel tempat mereka menginap. Sebuah hotel yang tak jauh dari pantai Kuta Bali. Faisal meletakkan kopernya di samping ranjang, dan merebahkan tubuhnya di kasur. Sementara Yulia, dia memilih mengganti pakaiannya, karena udara panas kota Bali membuat dia sedikit gerah, dengan pakaian yang ia kenakan sekarang.
"Sayang mau kemana?" tanya Faisal bangun dari rebahannya.
"Ke kamar mandi Mas! kenapa, mau ikut?"
__ADS_1
"Beneran nih, boleh ikut?"
"Mas ahh!' Yulia segera berlari sebelum suaminya semakin menggodanya.
Yulia keluar dari kamar mandi dengan menggunakan dress panjang, dan hijab rumahan. Faisal yang menyadari istrinya sudah kembali dari kamar mandi, langsung memeluknya dari belakang.
"Yul, Mas kangen banget sama kamu.' Faisal mencium punggung Yulia, membuat bulu kuduk Yulia merinding.
"Masih siang Mas, nanti malam aja ya?"
"Tapi Mas udah gak tahan Yul, pengen ea...EA.. an Ama kamu."Faisal membalikkan tubuhnya Yulia, dan kini mereka saling berhadapan.
"Mas, jangan tatap Yulia seperti itu. Yulia malu, mas" Yuia tertunduk saat Faisal menatap Yulia.
"Sayang, terima kasih sudah mau bertahan dengan Mas. Terimakasih sudah menjadi istri Solehah nya Mas, terimakasih sudah sabar Mencintai Mas, dan terimakasih karena sudah menghadirkan putri kecil ditengah-tengah keluarga kecil kita. Sekarang, waktunya kita buatkan Sisi adik yang banyak." Faisal memegang kepala Yulia, untuk tetap menghadap ke wajahnya.
Saat sedang asyik menciumi jenjang leher istrinya. Tiba-tiba perut Yulia berbunyi, pertanda cacing di perutnya minta jatah duluan.
"Kamu lapar ya, Sayang?" tanya Faisal saat dia sudah menghentikan aksinya tadi. Yulia hanya mengangguk, sebenarnya Yulia memang sudah sangat lapar. Sebelum berangkat tadi, dia hanya makan roti dan segelas susu. Jam makan siang pun, sudah terlewat satu jam yang lalu. Wajar saja, kalau Yulia merasa lapar, dan tidak bisa lagi ditahan.
"Ya sudah, kita ke bawah aja ya, cari makanan," tawar Faisal tersenyum kesal, karena harus menunda EA, EA nya.
"Mas aja ya, Yulia tunggu disini saja. Yulia sudah ganti baju, malas mas ganti baju lagi." ujarnya sambil duduk di tepi ranjang.
"Ya sudah, kamu tunggu di sini dulu ya, Mas ke bawah sebentar. Ingat, jangan kemana-mana!" Faisal pergi ke bawah untuk mencari makanan.
Sementara Faisal mencari makanan, Yulia mengambil ponselnya. Dia ingin menelpon Sisi, Yulia sudah kangen dengan putrinya. Belum sehari meninggalkan Sisi, tapi Yulia sudah di liputi rasa rindunya pada Sisi.
Saat sambungan telpon sudah terhubung, Yulia mengalihkannya panggilan nya dengan video call. Yulia bisa melihat dengan jelas, wajah putrinya yang dirindukan itu.
__ADS_1
"Bunda!!!!!!" teriak Sisi kegirangan.
"Iya sayang, Bunda disini. Sisi sedang apa, Nak?" Yulia melambaikan tangan nya pada Sisi.
"Sisi mau bobo Siang Bun, Ante Felisa masih buatin susu Dede Bilqis."
"Sisi gak boleh nakal ya Nak! harus nurut sama Ante Felisa. Nanti Bunda pulang mau di beliin oleh-oleh apa?" tanya Yulis pada Sisi, sejenak Sisi tampak berfikir.
"Adek Bayi Bun, kayak Adeknya micel," jawab Sisi polos. Sebelum Faisal diizinkan oleh Sisi untuk membawanya pergi, dia memang menjanjikan akan membuatkan adik untuk Sisi. Jadi, wajar kalau Sisi, meminta itu sebagai oleh-olehnya.
"Ya ampun sayang, Adel bayi itu gak bisa cepet-cepet di dapat oleh Sisi. Nanti kalau udah waktunya di kasih Adek bayi, pasti di kasih sama Allah." Yulia berusaha menjelas tentang permintaannya Sisi.
"Kok Allah sih Bun! yang mau kasih kan Ayah. Ayah, Bun yang mau kasih adek bayi pada Sisi." Ucapan Sisi membuat Yulia mengerutkan keningnya. Yulia bingung cara menjelaskan pada Sisi, proses pembuatan Adek bayi itu bagaimana.
"Ante Felisa nya udah selesai belum sayang? Bunda mau ngomong sebentar sama Ante Felisa nya!" Yulia akhirnya mengalihkan topik pembicaraan nya pada Sisi, dengan cara mencari Felisa.
"Bentar ya Bunda, Antee, ini Bunda mau ngomong." Sisi memberikan ponselnya pada Felisa.
"Hai Yul, gimana udah gool belum?" goda Felisa saat melihat wajah Yulia melalui ponselnya.
"Ya Allah Sha, ada anak-anak jangan ngomong yang enggak-enggak deh." Yulia memberi peringatan pada Felisa untuk tidak bicara sembarangan. Dia sudah pusing dengan pertanyaan Sisi, ditambah lagi kebanyolan Felisa. Bisa-bisa gak jadi bulan madu, karena Tensinya naik.
to be continued...
Maaf telat up ya...
Hari ini tuh bikin kesel, nulis kehapus terus. Jadi harus ngulang lagi...
Gimana nih, pada setuju nggak jika author bikin Faisal cemburu pada Angga. Soalnya kan kemarin dikit banget tuh, bikin Faisal ya cemburu... hehehehe
__ADS_1