Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Rumit


__ADS_3

Mendengar kabar buruk itu, Faisal langsung kembali ke Indonesia malam itu juga. Tapi dia tidak pulang bersama istrinya, karena Yulia masih harus menemani Bu Sundari di sana. Pak Erlangga belum membaik keadaannya. Dia juga tidak memberitahu masalahnya pada istri dan Bu Sundari. Karena tak ingin, menambah kepanikan untuk keduanya. Dan untuk menjaga agar Pak Erlangga tidak mendengar kabar buruk itu.


Direktur utama rumah sakit sejahtera itu, sampai juga di Jogja. Dia langsung menuju ke rumah sakit milik Pak Erlangga. Karena semua jajaran direksi dan pegawai rumah sakit masih menunggu kedatangannya. Para wartawan pun masih setia menunggu berita terbaru dari kasus itu.


Faisal memilih lewat pintu alternatif yang berada di belakang gedung rumah sakit itu. Karena dia ingin menghindar dulu dari awak media yang tentu saja menunggu kedatangannya. Dengan di kawal beberapa petugas keamanan, Faisal bisa masuk juga ke dalam. Dia langsung menuju ke ruang rapat.


Kasus itu sudah dilaporkan ke pihak yang berwajib. Sebab itu, untuk memperlancar penyelidikan tempat itu di beri line police oleh pihak kepolisian. Berbagai media cetak dan elektronik gencar memberitakan kabar ini. Secara tidak langsung masyarakat tahu bahwa rumah sakit itu sedang ada masalah. Dan mau tidak mau akan mengurangi omsite pemasukan rumah sakit itu sendiri. Karena pemberitaan itu, beberapa pasien yang sedang dirawat disana. Mereka lebih memilih untuk keluar, dan berobat di rumah sakit lain.


Faisal langsung masuk kedalam ruangan rapat. Setelah itu dia duduk di tempat duduknya. Dan rapat pun langsung di mulai.


"Gara-gara keteledoran dokter Monica, rumah sakit ini terkena imbasnya!" celetuk salah satu peserta rapat.


"Sebaiknya kita tidak saling menyalahkan. Karena saya yakin ada yang sengaja menukar simple darah itu," timpal Hanif menengahi.


"Untuk sementara lebih baik kita tutup saja dulu rumah sakit ini," imbuh Soraya, selaku ketua dokter di tempat itu.


"Saya tidak setujui," tolak Dino.


"Sebelum polisi mencabut izin operasi rumah sakit ini, kenapa harus ditutup," lanjutnya lagi. Semua menatap kearah wanita yang terkenal judes itu.


"Ada hal yang ingin saya sampaikan disini. Mungkin ini bisa jadi petunjuk dalam kasus ini," timpal Hanif lagi, sekarang dia menjadi pusat perhatian para peserta rapat.


"Katakan! Dokter Hanif," ujar Dino lagi.


"Jadi begini. Dua hari yang lalu ada insiden di rumah sakit ini. Dokter Sisi disekap di kamar mandi, hingga dia pingsan."

__ADS_1


"Apa!!" potong Faisal. Dia sangat terkejut mendengar berita itu. Karena putrinya tidak memberitahu hal itu padanya. Pandangan Faisal kemudian beralih menatap putrinya. Sedangkan orang yang di tatap terlihat canggung. Karena merahasiakan hal itu pada ayahnya.


"Saya lanjutkan lagi. Dan ada yang tahu siapa yang melakukan itu?" Tidak ada yang bersuara di tempat itu. Menandakan tidak ada yang tahu.


"Dokter Veronika," lanjut Hanif membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut, terlebih lagi Faisal. Veronica adalah recomdasi dari orang kepercayaan pak Erlangga. Tapi kenapa dia tega melakukan hal itu pada putrinya.


"Bisa jadi, dia orang yang sama dengan pelaku yang menukar simple darah itu," sambung Dino.


"Saya setuju dengan Dokter Dino," timpal Hanif.


"Tapi kita belum punya bukti untuk itu. Kita harus mengumpulkan bukti itu, baru bisa melaporkan dia ke kantor polisi dan menanyakan apa tujuan dia melakukan hal itu." Ucapan dari Dino membuat semua orang yang ada diruangan itu ikut berfikir untuk mencari bukti-bukti itu.


"Kita cek CCTV Lab, dokter Dino tolong hubungi pak Bisma. Operator di rumah sakit ini," pinta Faisal pada sahabatnya. Laki-laki yang disebut namanya oleh atasannya itu langsung mengambil ponselnya dan menghubungi pria yang diminta oleh Faisal.


Tak perlu menunggu lama, pria itu datang dengan Labtob dan beberapa alat ditangannya. Setelah pria itu masuk, seorang dokter yang menjadi peserta rapat itu memberikan kursinya untuk pria itu duduk. Dan dokter itu memilih untuk berdiri disampingnya.


"Iya Dok," jawabannya singkat. Dia mulai membuka labtobnya dan beberapa alat yang ia bawa. Setelah itu dia mulai mengotak-atik mouse maupun papan keyboard. Selang beberapa saat muncul video di ruang Lab itu. Dia mengamati beberapa video itu. Setelah itu salah seorang yang ikut melihat video itu memberi perintah.


"Zoom bagian itu!" perintah Hanif menunjuk Labtob itu. Dengan cepat pria itu menekan tombol mouse nya. Sebuah gambar tersorot dari Labtob itu, seorang perawat yang sedang menukar simple darah itu. Tapi wajah wanita itu benar tidak bisa lihat sama sekali. Selain tertutup masker, perawat itu posisinya membelakangi CCTV. Jadi yang tampak hanya dari belakang.


"Tidak terlihat Dok," ucap pria itu.


"Arghhhh. Sepertinya dia memang sudah merencanakan sedemikian rupa. Hingga dia tahu, letak-letak CCTV nya." Hanif mengusap mukanya kasar.


"Kita tidak punya petunjuk dari CCTV ini," timpal pria itu.

__ADS_1


"Coba cek CCTV, yang menuju ke koridor LAb," perintah Hanif lagi. Pria itu dengan cepat melaksanakan tugas dari pria disampingnya. Tapi beberapa kali di coba, CCTV yang mengarah ke ruangan ruang Lab tidak bisa di buka.


"Tidak bisa Dok. Tapi seingat saya, tiga hari yang lalu masih bisa. Karena saya sempat memutar flashdisk nya, karena ada seseorang yang memintanya." Hanif sempat berfikir dengan apa yang diucapkan pak Bisma.


"Siapa yang memintanya?" Kemudian dia bertanya pada pria itu.


"Kebetulan tiga hari yang lalu, ada seorang anak yang lepas dari orangtuanya. Anak itu kesasar, sampai pihak orangtuanya meminta rekaman CCTV itu pada saya. Dan ternyata anak itu ada di dekat, ruang Lab," jelas pria itu.


"Ya sudah kita lanjutkan rapat ini besok, sembari mencari langkah apa yang akan kita ambil." Faisal menengahi jalannya rapat itu. Karena merasa masih belum menemui titik terang dari kasus itu.


Satu persatu peserta rapat membubarkan diri. Tinggal beberapa orang saja yang masih ada didalam ruangan itu. Mereka adalah Hanif, Sisi, Dino, dan Faisal. Faisal tampak memijat pelipisnya karena pusing memikirkan masalah ini. Ditambah lagi kesehatan mertua angkatnya yang semakin lama semakin menurun.


"Sayang, kenapa kamu gak cerita pada Ayah. Kalau kamu disekap oleh dokter Veronika?" tanya Faisal pada putrinya yang sedari tadi hanya diam tidak ikut bicara dalam rapat tadi.


"Sisi gak mau membuat Ayah khawatir," jawab putrinya lalu mendekat kearah ayahnya.


"Dok, anda harus memberi peringatan yang tegas pada dokter Veronika. Apalagi itu sudah membahayakan nyawa seseorang," saran Hanif pada Faisal.


"Besok saya akan bicara langsung padanya. Sekarang lebih baik kalian berdua pulang dulu. Mengingat hari sudah larut. Terimakasih atas dukungan kalian," ujar Faisal pada dua pria yang ada di ruangan itu.


"Ya sudah, gue pamit ya Sal. Lo yang sabar. Gue yakin kita bakal bisa selesaikan masalah ini." Dino beranjak dari tempat duduknya dan pamit pada sahabatnya itu. Tak lupa dia memberi dukungan untuk Faisal.


"Makasih ya, Din. Hati-hati dijalan," ucap Faisal menepuk pelan bahu sahabatnya.


Hanif pun demikian, dia menarik dirinya dari kursi yang ia duduki. Dia juga pamit pada Faisal dan kekasihnya. Hanif sempat menawarkan untuk mengantar kekasihnya itu, tapi dilarang oleh Faisal. Dan hilang pada tunangan anaknya kalau Sisi akan pulang bersamanya. Faisal tahu, pria itu sangat lelah terlihat dari raut wajahnya yang terlihat kusut.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2