
Malam itu Sisi merengek terus, minta bertemu dengan bundanya. Faisal dibuat bingung oleh Sisi. Faisal juga sudah mencoba mengalihkan perhatiannya pada apa saja yang menurutnya bisa membuat Sisi tenang kembali. Lama Sisi merengek, menangis, sampai suaranya serak.
Faisal bingung harus berbuat apa lagi, gak mungkin akan menyuruh Delia untuk ke rumahnya. Hari sudah malam, akhirnya Faisal mengajak Sisi jalan-jalan ke taman bermain yang ada di dekat rumahnya. Faisal sebenarnya enggan membawa Sisi kesana. Karena banyak ibu-ibu yang menunggu anaknya bermain di sana. Faisal tidak ingin menjadi pusat perhatian ibu-ibu yang ada di sana. Karena statusnya yang menduda.
Demi membuat Sisi kembali tenang, Faisal akhirnya ke taman hiburan itu juga. Dan benar dugaan dia, di sana ramai ibu-ibu yang sedang mengawasi anak-anak nya bermain. Faisal mengajak Sisi ke arena bermain kuda-kudaan. Di sana yang dikiranya agak sepi dari kerumunan ibu-ibu. Faisal mengajak Sisi bermain, beberapa putaran sudah mereka lewati. Sisi pun sudah mulai bosan, dia merengek minta bertemu dengan Bundanya.
Akhirnya Faisal menyerah, dia mengajak Sisi pulang kerumahnya. Faisal berjanji, akan menjemput bundanya. Sisi mulai tenang lagi, karena janji dari Faisal. Saat sudah di rumah, Faisal bingung harus berbuat apa. Dia ragu-ragu untuk meminta Delia datang.
Faisal melakukan panggilannya, di telponnya dulu Delia. Dari seberang pun sudah menjawab, awalnya Faisal diam, saat Delia menanyakan siapa.
"Assalamualaikum, maaf ini saya Faisal," ujarnya ragu-ragu.
"Waalaikumussalam iya Mas, ada yang bisa Delia bantu." Sisi yang mendengar suara Delia, merengek ingin bicara dengan Delia.
"Halo Bunda,, Ayah kok ada muka Bunda?" Sisi memberikan kembali ponsel Faisal. Faisal dengan cepat mengalihkan panggilannya dengan video call.
"Bunda...." teriak Sisi saat video call sudah terhubung.
"Hai sayang, gimana kabarnya anak Bunda?" Delia melambaikan tangannya.
"Baik Bunda, Bunda kapan pulang kesini, Sisi kangen Bunda. Sisi ingin bobo ditemani Bunda," adu Sisi matanya mulai berkaca-kaca. Terlihat jelas di wajah Sisi, dia sangat merindukan sosok Ibu, yang selalu memanjakannya. Selama kepergian Yulia, Sisi memang sering terlihat murung. Meskipun begitu, Sisi terlihat tegar di hadapan ayahnya.
"Bunda belum bisa bobok di rumah Sisi, maaf ya sayang." Ucapan Delia membuat wajah Sisi kembali murung. Faisal yang melihat wajah Delia dari layar ponselnya ikut menitikkan air matanya. Dia begitu yakin, wanita yang ada di hadapannya itu adalah Yulia.
__ADS_1
"Bunda, besok Sisi ada acara di sekolah Sisi. Sisi disuruh ibu guru, untuk mengajak Bundanya kesekolah." Sisi menceritakan kegiatannya besok di sekolah.
"Ada acara apa sayang?" tanya Delia yang melihat raut kesedihan dari wajah Sisi.
"Besok Sisi harus bacakan puisi tentang Ibu, di depan kelas. Kata Bu guru, Bundanya harus ikut kesekolah, biar bisa lihat anaknya pentas." Jawab Sisi masih tetap enggan menatap layar ponselnya.
"Ya udah, besok Bunda akan datang ya! Jangan sedih lagi dong, anak Bunda." Setelah mendengar kata-kata Delia, wajah Sisi seketika berubah. Dia melonjak kegirangan.
" Beneran kan Bunda, Sisi tunggu ya.. daaa Bunda." Sisi memberikan ponselnya pada Faisal. Sisi sangat senang karena bundanya akan menemani dia. Sisi juga gak khawatir lagi, kalau teman-teman nya mengejeknya.
Faisal bingung akan ngomong apa pada Delia. Lama mereka saling diam, tak ada yang berani menyapa duluan. Suasana canggung seketika merubah keadaan yang ada.
"Makasih ya, udah mau datang ke sekolahan Sisi," ucap Faisal membuka percakapan.
"Iya Mas, Delia senang kalau Sisi bahagia."
"Maksud saya, dia senang jika bisa bersama kamu, besok" ralat Faisal, yang tak ingin membuat Delia bingung.
Mereka menutup telponnya setelah mengucapkan salam. Faisal duduk termenung di sofa ruang keluarga. Dia masih bingung dengan keadaan saat ini. Bagi Faisal sekarang ini adalah bagaimana caranya agar bisa membuktikan bahwa Delia itu istrinya, Dan yang meninggal itu adalah Delia.
Pagi harinya, Sisi sudah berangkat ke sekolah bareng Felisa dan Bilqis. Sementara Faisal masih ada dirumahnya. Hari ini dia ditugaskan oleh pihak rumah sakit, untuk mengikuti penyuluhan tentang penyakit demam berdarah di puskesmas yang ada di salah satu desa, di Jogja. Faisal berangkat sedikit terlambat, soalnya dia harus menunggu kesiapan di puskesmas tersebut.
Kebetulan puskesmas tempat dia menghadiri sosialisasi, gak jauh dari rumahnya. Hanya memakan waktu satu jam, jika Faisal mengendarai motor. Faisal tak mungkin mengendarai mobilnya, karena akses jalan disana sedikit rusak. Dia memilih menggunakan motor istrinya.
__ADS_1
Faisal tiba di puskesmas tersebut, dan disambut oleh para warga dan perangkat desa di sana. Faisal memberikan materi sosialisasi tentang penyakit demam berdarah. Di mulai dari gejala awalnya, cara mengantisipasi nya, dan cara penyembuhannya. Makan waktu sekitar dua setengah jam, untuk memberikan sosialisasi di puskesmas itu.
Setelah selesai, Faisal langsung menuju ke sekolahan Sisi. Dia ingin melihat anaknya tampil. Kebetulan acara di sekolahan Sisi setelah Dzuhur. Jadi, masih ada waktu untuk makan siang dulu. Tadi Faisal cuma sarapan roti bakar, jadi perutnya udah sangat lapar.
Faisal memilih makan di restoran langganannya, restoran yang menjajakan makanan asli kota Jogja. Faisal langsung masuk ke dalam, dan mencari kursi yang kosong. Kebetulan di sana ada Devan, dia sedang bersama Cahaya. Devan yang melihat Faisal, langsung menyapanya.
Akhirnya Faisal bergabung dengan Angga dan Cahaya. Mereka memesan makanan favorit mereka masing-masing. Faisal sempat curiga pada Devan yang bersama seorang wanita. Faisal juga melihat kedekatan mereka berdua. Tapi Faisal tak ingin berburuk sangka, dia belum mengenal betul siapa Devan.
"Kamu dari mana Sal, mana si cantik Sisi kok gak ikut?" tanya Devan sembari menikmati makanannya.
"Dia sedang ada pentas disekolanya, kebetulan saya ada sedikit kerjaan di puskesmas gak jauh dari sini," jawab Faisal.
"Oh iya, salam ya buat Sisi. Anak itu gemesin banget, kapan-kapan boleh lah pinjam dia untuk aku ajak foto prewedding."
"Uhuhggk..foto prewedding?" tanya Faisal, kemudian dia mengambil minumannya.
"Iya, kayaknya seru deh! ngajak Sisi." Devan membayangkan sebuah keluarga kecil yang bahagia.
"Lihat entar aja deh! oh iya, ngomong-ngomong udah lama kenal Delia?" Faisal mulai mengkorek informasi dari Devan. Dia berharap akan mendapat informasi dari Devan.
"Udahlah, kita bersahabat dari kecil. Tapi semenjak Delia hilang ingatan, dia menjadi gadis yang anggun. Padahal dulu, penampilannya seperti preman yang ada di pasar." Mendengar perkataan Devan, jantung Faisal berdegup cepat. Dia semakin yakin, kalau Delia itu istrinya. Sekarang tinggal dia mencari bukti, agar dia bisa kembali lagi ke pelukannya.
To be continued..
__ADS_1
Maaf sebelumnya, jika para readers ada yang kecewa dengan jalan ceritanya. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Kenapa alurnya saya panjangkan di sini, karena saya terlalu sayang bila segera saya tamatkan.
Maaf ya,,,