Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Positif


__ADS_3

Melihat istrinya muntah-muntah Ilham menarik dirinya dari tempat duduknya, dan mengikuti Sisi sampai ke dapur. Wanita itu sudah terlihat pucat, dia masih terus memuntahkan apa yang ia makan hingga mengeluarkan cairan berwarna hijau muda. Dan rasa pahit di dalam lidahnya menyudahi, muntahannya.


Ilham memijit tengkuk istrinya, saat Sisi sudah tak lagi muntah. Ilham langsung mengambil air hangat di dalam dispenser dan langsung di berikannya pada Sisi.


"Ini, minum dulu sayang!" titahnya memberikan segelas air hangat itu pada Sisi. "Ini pasti gara-gara kepanasan siang tadi," ujarnya menggosok-gosok punggung istrinya.


"Kita ke rumah sakit, ya?" saran Ilham, namun Sisi menggeleng. "Kenapa? Aku gak mau terjadi apa-apa dengan kamu, sayang!" ucap Ilham yang terlihat khawatir.


Dari arah meja makan, Syifa pun menyusul Ilham dan Sisi di dapur. Dia juga ikut panik melihat kakak iparnya yang tiba-tiba muntah-muntah.


"Kak Sisi kenapa?" tanyanya seraya memegang pundak kakak iparnya.


"Ntahlah, Dek. Kok tiba-tiba kepala Kakak pusing gini, ya! Perutnya juga masih mual!" keluh Sisi mengerutkan keningnya.


"Kita ke dokter aja, sayang!" timpal Ilham, dengan wajah panik.


"Iya, Kak. Takutnya Kakak salah makan, atau keracunan gitu!" imbuh Syifa mendapat anggukan dari kakaknya.


"Ya, kita ke dokter!" Ilham masih membujuk Sisi, agar mau di antar ke dokter.


"Jangan sekarang, deh Kak. Tunggu besok aja! Kalau besok masih pusing, Sisi mau di Anyer ke dokternya!" lirih Sisi terlihat lemas.


Ilham mengantarnya ke kamar. Jujur, dia masih sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya. Dia takut terjadi sesuatu pada Sisi. Ilham membantu merebahkan tubuh istrinya di bed, kamarnya. Di selimuti, tubuh Sisi hingga batas perutnya. Dengan telaten dia menunggu Sisi di sampingnya, bahkan dia tak menghabiskan makan malamnya. Dan langsung di beresin oleh Syifa.


"Apa kamu ingin sesuatu, sayang?" Melihat wajah istrinya yang terlihat pucat, Ilham berinisiatif untuk menanyakan yang di inginkan oleh istrinya.


"Nggak, Kak. Sisi ingin tidur saja!" tolak Sisi mulai memejamkan matanya.


Ilham pun ikut berbaring di samping istrinya, di usapnya lembut pucuk kepala istrinya seraya melafazkan sholawat. Sholawat ini, di percaya oleh Ilham penghilang rasa sakit.

__ADS_1


Allohumm sholli 'ala sayyidina Muhammadin, tibbil quluubi wa dawaa-iha, wa 'aafiyatil abdaani wa syifa-iha, wa nuuril abshoori wa dliyaa-iha, wa 'ala aalihi wa shahbihi wa sallim.


“Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada baginda kami Nabi Muhammad yang menjadi obat dan penyembuhan hati, penyehat dan penyelamat badan, cahaya dan sinar penglihatan, dan limpahkan kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya, dan berilah kesejahteraan."


Hingga istrinya terlelap. Ilham masih bersholawat. Kemudian dia melihat ke arah jam weker yang terletak di atas meja dekat bed nya. Jam menunjukkan pukul 20.30 waktu Singapura. Matanya belum bisa di pejamkan, hingga akhirnya dia mengambil ponselnya.


Dia browsing di internet, akibat muntah-muntah. Iris miliknya membulat sempurna saat dia membaca sebuah artikel yang menyebutkan 'wanita hamil dan tanda-tandanya' di sana terdapat beberapa wanita yang sedang hamil muda. Salah satunya yang dialami oleh istrinya.


Sejenak ia mengingat-ingat, tanggal pernikahannya dan malam di mana dia melakukan hal itu dengan Sisi. Seulas senyum terpancar dari wajahnya yang terlihat teduh itu kala dia membayangkan ada calon malaikat kecil di dalam perut istrinya.


"Ya Allah, mudah-mudahan engkau memang sudah memberikan kami amanah," gumamnya, langsung mendekat ke perut istrinya. Di usapnya lembut perut Sisi yang masih terlelap, seraya melafazkan beberapa doa di sana. Dia sungguh tidak sabar menunggu hari esok untuk memastikan hal itu terjadi atau tidaknya. Dia harus bisa membujuk istrinya untuk di ajak ke dokter, besok pagi.


*****************


Sebelum sang fajar muncul di permukaan bumi, sepasang suami istri itu selesai melaksanakan sholat subuh berjamaah. Ilham melarang istrinya untuk menyiapkan sarapan. Alih-alih masih terlihat pucat. Padahal istrinya sudah jauh lebih baik di banding malam tadi.


"Kamu harus sarapan duluan, sayang. Karena kamu semalam kamu gak makan apapun!" titah Ilham menyuapkan roti itu ke dalam mulut istrinya.


"Aku dah gak apa, Kak. Kak Ilham gak perlu lakuin ini untuk Sisi. Sisi bisa sendiri, kok!" ucap Sisi tak enak hati, karena harus di layani oleh suaminya.


"Gak, sayang. Kamu harus banyak istirahat, sekarang. Gak boleh capek-capek! Karena bisa jadi, tumbuh malaikat kecil di sini!" ujar Ilham mengelus perut istrinya.


"Apaan, sih Kak! Sisi gak sedang hamil!" cetus Sisi merengut.


"Tapi, tanda-tanda yang kamu alami itu seperti wanita yang sedang hamil muda, sayang!" timpal Ilham, dengan yakin. "Karena itu, untuk memastikannya, kita harus ke dokter!" imbuh Ilham menyarangai.


Setelah di bujuk dan di rayu oleh suaminya, Sisi akhirnya sepakat untuk memeriksakan kondisinya di klinik terdekat di rumahnya.


Di sebuah klinik Bunda dan Anak, tujuan mereka. Klinik itu hanya berjarak satu kilometer dari rumah Ilham. Mereka turun dari mobilnya, dan langsung masuk kedalam. Sebelumnya mereka harus mendaftar dulu, untuk bisa berobat di sana. Ilham dan Sisi mendapat nomor urut 09, itu artinya mereka masih harus menunggu pasien lainnya selesai di periksa.

__ADS_1


Perasaan keduanya kini bercampur aduk jadi satu. Antara cemas, harap, dan takut. Hingga seorang perawat menyebutkan nomor urut mereka. Ilham dan Sisi langsung masuk kedalam. Ternyata, klinik itu memang di peruntukan wanita hamil, dan melahirkan.


Jadi ketika mereka sudah duduk berhadapan dengan dokter yang akan memeriksa Sisi, mereka di suguhkan pertanyaan-pertanyaan seputar kehamilan. "Sudah berapa Minggu telat datang bulan?" Salah satunya itu.


"Baru satu Minggu, dok!" jawab Sisi sedikit gugup.


"Baiklah. Mari ikut saya!" titah dokter itu membawa Sisi mendekat ke brankar. Sisi kemudian berbaring di sana.


Dokter itu meminta Sisi untuk mengangkat gamisnya agar perut Sisi bisa dilihat olehnya. Setelah terbuka, dokter itu mengoleskan gel di perut Sisi dan menggerak-gerakkan suatu benda di perutnya. Tak lama setelah itu, pandangan dokter itu beralih ke monitor yang terhubung dengan alat yang ia pegang. Tampak jelas di sana, sebuah titik sebesar biji kacang bergerak-gerak di monitor itu. Seulas senyum terpancar dari dokter itu.


"Usia kandungannya sudah memasuki ke lima Minggu, janinnya sehat. Namun, tekanan darahnya sangat rendah. Saran saya, ibu harus hindari begadang dan makan-makanan yang mengandung protein tinggi. Seperti telur rebus, daging dan lain-lain!" jelas dokter itu di sambut senyum sumringah dari keduanya.


"Jadi, istri saya beneran positif hamil, dok?" ulang Ilham sangat antusias.


"Iya, Pak. Di jaga istrinya, jangan terlalu capek!" jawab dokter itu tersenyum ramah pada Ilham.


Kabar bahagia yang di sampaikan oleh dokter itu, sontak membuat Ilham memeluk istrinya. "Kita akan jadi orangtua! Kamu hamil!" ujarnya dengan wajah haru. Tanpa terasa bulir bening jatuh dari sudut mata Sisi. Dia sangat terharu, melihat janinnya yang tampak sehat di sana.


Tangis haru, menyelimuti pasangan suami istri itu. Pernikahan mereka akan di sempurnakan dengan hadirnya calon anak mereka.


To be continued


Masih dengan kisah Sisi dan Ilham ya....


Gimana sulitnya menghadapi istri yang ngidam nya aneh-aneh....


Yang dah kangen dengan Hanif...


Sabar, author masih mau siapkan jodoh terbaik untuk Hanif....

__ADS_1


__ADS_2