
Tepat dua bulan setelah kematian Hanum, Hanif tak lagi pernah menemui Alira. Hatinya bagai tersayat sembilu, saat mengetahui kenyataan itu. Alira, cinta pertamanya ternyata sudah memiliki suami. Dan yang membuat hatinya lebih terluka, rumah tangga Alira tidak sehat. Hidup wanita itu, tak kalah menyedihkannya dengan hidupnya.
Hanif lebih sekarang lebih pendiam, ngomong pun jarang. Seperti pagi itu, di rumahnya kedatangan tamu. Seorang wanita berparas cantik, seksi sedang berkunjung di rumahnya. Wanita itu adalah anak teman Bu Sarah, yang rencananya akan di kenalkan pada Hanif.
"Selamat pagi, Tante!" sapanya ranah, pada penghuni rumah itu.
"Pagi, Arlita. Makasih ya, kamu udah mampir ke rumah ini!!!" balas Bu Sarah pada wanita yang berambut sebahu itu. "Oh, iya Tari, Nif. Kenalkan, Arlita ini adalah putri teman aku!" Kemudian memperkenalkan tamunya pada Hanif dan Bu Tari.
Senyum mengembang, terpancar di wajah wanita muda itu, Kaka bersalaman dengan Bu Tari. Pun, dengan Bu Tari. Beliau juga melakukan hal yang sama. Namun, saat dia mengulurkan tangannya pada Hanif. Hanif justru menahannya.
"Kita tidak muhrim," salak nya Hanif sedikit ketus. Arlita pun mengurungkan niatnya, dan tersenyum getir menghadapi sikap dinginnya Hanif.
"Oh, iya. Silahkan duduk, Nak Arlita." Kini Bu Tari mempersilahkan Arlita untuk duduk, dan wanita itu pun duduk di samping Bu Tari.
Mereka sarapan bersama, sesekali mereka berbincang. Dan Bu Tari sudah mulai dekat dengan tamu yang di kenalkan ibu tirinya. Sontak, membuat dua wanita berhati licik itu tersenyum puas. Namun, tidak dengan Hanif. Pria itu justru merasa risih, karena memergoki Arlita yang sering mencuri pandang kearahnya.
"Ehemmm...Bun, Hanif berangkat dulu!" Merasa sudah tidak nyaman, pria berkacamata itu menarik diri. "Nanti, Hanif pulang terlambat. Karena harus menjemput teman Hanif yang baru datang dari Singapura!" lanjutnya, menyalami bundanya, Bu Sarah.
"Nif, Arlita Sepertinya mau pulang. Gimana kalau, kamu antar dulu dia. Lagian kalian searah, kok!" ujar Bu Sarah menahan Hanif.
Dengan tegas, "maaf Nek, Hanif tidak bisa. Hanif buru-buru!" tolak Hanif melanjutkan langkahnya.
Bu Sarah dan Arlita saling pandang, setelah itu Bu Sarah memberi kode, agar bersabar menghadapi Hanif.
"Maaf ya Nak Arlita, Hanif memang begitu orangnya. Kalau baru kenal!" ucap Bu Tari tak enak hati dengan penolakan putranya.
"Nggak apa, Kok Bun. Oh, iya saya permisi dulu. Terimakasih sarapannya!" Arlita juga beranjak dari tempat duduknya.
Setelah bersalaman dan pamit dengan Bu Tari, Arlita diantar keluar oleh Bu Sarah dan Veronika sampai di teras. Sebelum wanita itu pergi, mereka bertiga lebih dulu berbincang. Sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu. Dilihat dari raut wajah mereka, yang sesekali tersenyum tipis.
__ADS_1
Mobil yang di kendarai Hanif sampai juga di rumah sakit Zahra Medica. Dia berjalan melewati beberapa lorong, hingga akhirnya sampai di ruangannya. Namun, langkahnya terhenti saat dia melihat ada seorang wanita yang mirip sekali dengan Alira, baru saja keluar dari ruangan dokter Mark. Dengan sedikit berlari, Hanif menghampiri wanita itu. Namun, sosok wanita itu hilang di lobi, tertutup dengan beberapa orang yang hilir mudik di sana. Dan Hanif pun kehilangan jejak wanita itu.
Merasa tidak menemukan jejak wanita itu, Hanif berinisiatif menemui dokter Mark. Dia akan bertanya langsung dengan dokter itu. Apa benar wanita itu adalah Alira.
Di sebuah ruangan yang berukuran tiga kali empat meter itu, Hanif mulai memijakkan kakinya di sana. Ruangan yang banyak tempelan gambar wanita hamil, dan bayi itu Hanif menemui dokter Mark. Dokter Mark adalah dokter spesialis kandungan.
"Pagi, Dok!" sapanya tersenyum ramah pada dokter Mark.
Dokter muda itu pun membalas senyuman darinya, kedatangannya di rasa aneh oleh dokter itu. Mereka sebelumnya tidak pernah tegur sapa, walaupun sering bertemu secara langsung. "Pagi, dokter Hanif. Ada yang bisa saya bantu? Silahkan duduk!"
Segera Hanif mendaratkan tubuhnya di kursi, seberang dokter Mark. Sebelum dia mengutarakan niatnya menemui rekan kerjanya itu, terlebih dulu dia membetulkan posisi duduknya. Sejujurnya dia tak enak hati, menanyakan masalah itu. Tapi, dia juga tidak bisa di buat penasaran dengan wanita tadi.
"Ehmmm, maaf Dok. Ada yang ingin saya tanyakan kepada dokter?" Kening dokter seketika mengkerut, "siapa wanita yang tadi baru saja keluar dari ruangan dokter?"
Dokter Mark semakin mengerutkan keningnya, tiba-tiba seorang dokter dingin seperti Hanif bertanya seorang wanita padanya. Lebih tepatnya, pasiennya.
"Ehmmm, seingat saya yang baru saja keluar dari ruangan ini adalah pasien saya yang bernama Alira cahyawangsa." Hanif sedikit lega, karena wanita itu masih ada di kota ini. "Apa dokter Hanif dengan wanita itu?" Kini dokter Mark yang terlihat penasaran.
"Sayang, wanita secantik dia harus menderita tekanan batin," seloroh dokter Mark, membuat wajah pria itu berubah menjadi sendu. "Dia, baru saja mengalami keguguran." Hanif pun terperangah.
"Keguguran?" tanya Hanif, membelalakkan matanya.
"Iya, janin yang baru berumur lima Minggu itu harus keluar dari rahim wanita itu!" jelas Dokter Mark.
Hanif terdiam, dia mencoba menelaah kata demi kata yang keluar dari ikut dokter Mark.
'janin lima Minggu?' satu pertanyaan di benaknya.
'itu artinya setelah kejadian di pemakaman itu, suami Alira meminta haknya.'
__ADS_1
Pikiran Hanif mulai berkelana kemana-mana membayangkan penderitaan yang Alira alami.
"Karena penyakitnya, Alira tidak bisa mempertahankan janin itu," lanjut Dokter Mark, Hanif pun tersadar dari lamunannya.
"Kista, yang ia derita belum bisa di angkat untuk saat ini. Harus menunggu beberapa bulan lagi, bentuknya masih sangat kecil. Nyaris tak terlihat!" Hanif mengelap wajahnya kasar. Kenyataan demi kenyataan yang begitu mengejutkan dirinya, membuat pria itu tak bersemangat untuk melanjutkan pekerjaannya.
"Sebenarnya bukan cuma itu yang membuat wanita keguguran. Tapi, tekanan batin yang berpengaruh besar dia mengalami stres yang hebat. Sehingga tak ada raut kebahagiaan dari wajah wanita itu!" Hanif semakin lemas mendengarnya, hingga ucapan terakhir dari dokter Mark membuatnya menatap lekat wajah dokter muda itu.
"Dia akan pergi meninggalkan tempat ini! Meninggalkan suaminya untuk selamanya!"
"Apa maksud dokter?" Hanif takut, Alira berbuat macam-macam hingga membahayakan nyawanya.
"Dia akan menggugat cerai suaminya, dan pergi jauh dari kota ini!"
**************
Mendengar penjelasan dokter Mark tadi, Hanif bergegas menemui Alira. Kini dia sudah berada di dalam mobilnya yang ia lajukan menuju ke kediaman Prayoga, dimana Alira tinggal saat itu.
Tak membutuhkan waktu yang lama, Hanif sampai di rumah itu. Ada yang aneh dengan rumah mewah itu, beberapa orang tinggi besar sedang berjaga di sana. Hanif turun dari mobilnya, dan menghampiri para pria itu.
"Mau apa anda datang kemari?" Hanif lebih dulu di hadang oleh dua orang diantara mereka.
"Saya ingin bertemu Alira!"
"Hahaha...ada keperluan apa anda mencari istri bos kami?!!!"
"Itu bukan urusan kalian!!!"
Bughhhh... Satu pukulan mendarat di sudut bibir pria yang menggunakan jas berwarna putih itu. Tak lama setelah itu, keluar cairan berwarna merah dari dalam mulutnya.
__ADS_1
"Jangan macam-macam anda!!? Kalau tidak ingin, nyawa anda melayang!!!" Salah satu pria itu mendekati Hanif, di tariknya dengan kasar kerah bajunya.
To be continued