Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Dia tahu segalanya


__ADS_3

Keesokan harinya. Pagi-pagi sekali Sisi sudah bangun dari tidurnya. Usai sholat subuh dia turun ke bawah untuk membantu bi Imah memasak di dapur. Itu dia lakukan agar terbiasa bangun pagi. Tak hanya itu, dia juga belajar memasak dengan pembantunya.


Sisi punya harapan, setelah menikah nanti dia sendiri yang akan memasak untuk suaminya. Menyiapkan kebutuhan suaminya. Karena itu dia mulai membiasakan diri dari sekarang.


Faisal yang baru saja jalan pagi bersama si kembar. Berjalan ke dapur untuk mengambil minum. Melihat anak gadisnya sedang ada di dapur. Lantas membuat pria itu mendekati putrinya.


"Hmmmm anak Ayah lagi apa, nih?" Sisi pun menoleh ke belakang. Dia tersenyum kala melihat ayahnya ada disana. Sembari mengelap tangannya dengan lab bersih, Sisi menghadap kearah ayahnya.


"Iya, Yah. Sisi kan, sebentar lagi akan jadi istri. Sisi harus belajar memasak, mulai hari ini. Sisi gak mau setelah menikah nanti, suami Sisi lebih memilih di masakin bundanya daripada masakan istrinya." Faisal tersenyum mengangguk. Dia tidak menyangka putrinya akan berubah secepat ini.


"Nanti kalau bundamu pulang, minta ajarin masak bundamu. Dia paling jago, buat suaminya betah makan di rumah," ucap Faisal meletakkan gelas kosong ke meja.


"Oh iya, Yah. Bunda kapan pulangnya, katanya kakek udah baikan. Kok bunda belum pulang?" tanya Sisi, kemudian ikut duduk di meja makan.


"Lusa, bundamu masih gak tega ninggalin kakek dan nenekmu. Kakek aja baru di bolehkah pulang, hari ini," jelas Faisal.


"Kamu mau kemana rencananya hari ini. Kalau gak sibuk, Ayah mau minta tolong sama kamu untuk jemput nek Dari dan kakek Hermawan di bandara. Ayah gak bisa jemput, mau ke rumah sakit," pinta Faisal pada putrinya.


"Bisa kok, Yah."


"Ya udah ayah ke kamar dulu."


Sepeninggal Faisal, Sisi juga ke kamarnya. Karena memasaknya sudah selesai. Dia putuskan untuk mandi terlebih dahulu, sebelum sarapan bersama.


Saat Sisi akan masuk ke kamar mandi, suara pintu kamarnya ada yang mengetuk.


"Masuk!" serunya.


Fatan membuka pintu kamar kakaknya. Kemudian masuk, lalu menghampiri kakaknya.


"Kak, Kakak ditugasi Ayah untuk menjemput kakek dan nenek di bandara ya?" tanya Fatan pada wanita yang menylempangkan handuknya di leher.


"Iya, emang kenapa?"


"Aku ikut, ya. Aku mau ada keperluan di sana," pinta Fatan membujuk kakaknya.


"Mau ngapain?"


"Itu loh, Fatan mau ketemu sama kapten Sofian. Ada urusan dengan beliau. Kebetulan Fatan udah janjian dengan beliau untuk bertemu di sana," jelas Fatan.

__ADS_1


Sisi tampak berfikir sejenak. Setelah itu, dia mengabulkan permintaan adiknya.


"Ya udah. Udah sana mandi!!" usir Sisi, kemudian berjalan ke kamar mandi.


Usai sarapan, Sisi dan Fatan pergi ke bandara. Sementara Faisal, dia pergi ke rumah sakit. Dari rumah Faisal menuju ke bandara memakan waktu kurang lebih satu setengah jam. Mereka sedikit terlambat, karena pesawat mendarat pukul 09.30 WIB. Mereka sampai pukul 09.46 WIB. Sehingga pak Hermawan dan istri memilih menunggu di parkiran bandara.


Mobil yang di kendarai Sisi, berhenti di tempat pak Hermawan dan istri menunggu mereka. Di dekat, parkiran ada dua bangku, di sanalah mereka berada. Sisi dan Fatan pun langsung menghampiri kakek dan neneknya.


"Maaf ya, Kel, Nek! Ini gara-gara bocah ini jadi terlambat," ujar Sisi menunjuk adiknya. Yang di tunjuk hanya cengengesan.


"Gak apa. Ya udah. Ayo kita berangkat sekarang aja. Nenek udah capek banget," balas Bu Sari yang terlihat letih.


"Kak, aku temui pak Sofian dulu ya. Orangnya udah menunggu di ruangannya," pamit Fatan pada kakaknya.


"Iya udah, nanti pulang naik taksi aja, ya!" seru Sisi. Fatan pun mengangguk.


Setelah berpamitan dan membawakan koper kakek dan neneknya di bagasi. Fatan pergi meninggalkan mereka bertiga. Bu Sari dan pak Hermawan juga sudah ada di dalam mobil. Giliran Sisi yang akan naik, tiba-tiba pundaknya ada yang menepuk.


"Mashaa Allah Sisi!" seru Iqbal yang terperangah melihat penampilan sahabatnya itu.


"Ya ampun, bikin kaget aja. Ngapain ada di sini?" tanya Sisi mengerinyitkan keningnya.


"Jemput Kakek dan Nenek ku. Ya udah aku duluan, ya!"


"Iya, hati-hati!"


Sisi kemudian masuk ke dalam dan mulai melajukan mobilnya. Saat akan keluar dari halaman bandara, dia melihat sosok yang ia kenal. Ia pun menghentikan mobilnya, setelah dekat dengan wanita itu. Tampak dari kaca mobil, seorang wanita berambut ikal berdiri di bahu jalan. Dia tampak sedang menunggu seseorang.


"Veronica!!" teriak Sisi dari dalam mobil. Wanita itu menoleh kearah Sisi.


"Sisi," balasnya.


"Lagi nunggu siapa?" tanya wanita berhijab, hijau botol itu.


"Temen, katanya mau kesini. Eh gak taunya dia masih lama. Aku udah capek nungguin dia dari tadi," jawab Veronika.


"Ya udah, ayo ikut kamu aja!" tawar Sisi memberi tumpangan rekannya itu.


"Nggak apa, nih!"

__ADS_1


"Nggak, ayok masuk!"


Veronica langsung masuk kedalam mobil Sisi. Dia duduk di sebelah Sisi. Sisi pun lanjut jalan nya. Di dalam mobil, mereka mengobrol bersama. Veronica juga berkenalan dengan kakek dan neneknya Sisi.


"Aku lihat di story WA kamu, kamu tunangan dengan dokter Hanif, ya?" tanya wanita itu tiba-tiba pada Sisi.


"Hehehehe, iya."


"Kok gak ngundang-ngundang?"


"Nanti aja, pas nikahannya baru bikin pesta." Jawaban Sisi membuat wanita itu mengangguk mengerti.


"Oh iya, aku perhatikan kamu akrab sekali dengan pasiennya dokter Hanif. Itu yang putrinya dokter Dino?" ulik Veronika ingin tahu.


"Oh, Bilqis. Dia adik sekaligus sahabat ku. Selain kami, orang tua kami pun bersahabat. Jadi kelihatan deket!" jawab Sisi.


"Oh gitu!! Tapi aku denger-denger dari perawat di rumah sakit. Katanya, Bilqis sempat naksir dokter Hanif, ya?" Pertanyaan Veronika kali ini tak langsung di jawab oleh Sisi.


Dia tidak menyangka gosip itu cepat sekali beredarnya. Padahal dia tidak pernah membahasnya di rumah sakit. Bahkan, Sisi juga bisa memastikan tidak ada yang tahu masalah itu di rumah sakit. Tapi kenapa, Veronika tahu soal itu. Berbagai pertanyaan melintas di pikiran Sisi.


"Apa itu, benar?" ulang Veronika yang sedikit tak enak hati.


"Oh itu, cuma gosip aja kok. Lagian Bilqis juga sebentar lagi mau tunangan dengan Iqbal, kekasihnya," elak Sisi.


"Iqbal? Laki-laki yang sering temenin Bilqis itu, ya!"


"Iya. Kok kamu tahu?" Sekarang giliran Sisi yang bertanya pada wanita disampingnya. Sepertinya banyak hal yang ia tahu tentang Sisi.


"Aku kan sering liat, dia ada disana. Tapi, kamu juga kelihatan akrab dengan laki-laki itu?" Sisi sedikit menaruh curiga dengan Veronika. Sepertinya wanita itu sengaja mengulik hubungannya dengan Bilqis dan Iqbal.


"Kami bertiga sahabatan."


"Oh!"


Tidak ada lagi pertanyaan dari Veronika. Seolah dia sudah puas dengan apa yang ingin dia tahu.


Sisi menghentikan mobilnya di depan pagar rumah Veronika. Dan setelah wanita itu turun, Sisi kembali melanjutkan perjalanan menuju ke rumahnya.


Dia masih kepikiran dengan pertanyaan-pertanyaan Veronika tadi. Seolah wanita itu tahu segalanya tentang apa yang ia lakukan di rumah sakit.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2