
Veronika mendekat kearah Sisi. Perlahan dia mengulurkan tangannya sembari berkata,"saya minta maaf atas kejadian, waktu itu. Saya menyesal telah melakukan itu padamu, Dok."
Dengan sedikit keraguan Sisi membalas uluran tangan wanita yang memiliki tahi lalat di dekat hidupnya. Sebentar dia menatap kedua netra wanita itu. Mencari kebohongan di dalamnya. Namun Sisi tak menemukannya. Setelah itu dia pun membalas ucapan maaf dari wanita itu.
"Saya sudah memaafkan anda, Dok." Mendengar kata itu, Veronika tampak tersenyum senang.
"Jadi, kita teman sekarang!" Veronika mengeratkan genggaman tangannya.
"Teman." Disambut hentakan oleh Sisi. Kedua wanita itu tergelak bersamaan.
"Ya udah, aku masuk dulu, ya!" lanjut Sisi kemudian masuk ke toilet setelah mendapat persetujuan dari Veronika.
Di dalam toilet, Sisi tak henti-hentinya berfikir mengenai wanita yang baru saja ia temui itu. Dia berfikir, ada angin apa wanita itu tiba-tiba meminta maaf padanya. Sisi tahu, Veronika bukan tipe orang yang bersahabat dengan orang-orang disekelilingnya. Terlihat semua perawat disana sering membicarakan wanita itu. Yang katanya tidak pernah menyapa orang lain, bahkan tersenyum pun jarang. Tapi Sisi tak Ndu ambil pusing dengan masalah itu. Baginya, jika orang lain berbuat baik dengannya. Maka dia pun akan membalas dengan berbuat baik pula. Tapi jika orang ingin berbuat jahat padanya, dia pun bisa lebih jahat dari orang itu.
Usai menyelesaikan aktivitasnya di toilet, Sisi bergegas menuju keruangannya. Karena masih ada beberapa pasien yang akan dia tangani.
Aktivitas Sisi di dalam ruangannya begitu sibuk sama halnya dengan kekasihnya. Tak hanya menangani pasien-pasiennya. Tapi mereka juga sedang sibuk membuat beberapa artikel yang akan diunggah di medsos mereka terkait bahayanya penyakit itu. Dan cara menanggulangi secara dini penyakit itu. Itu pun dia lakukan karena meningkatnya pasien yang menderita penyakit mematikan itu.
"Sayang, lusa akan ada seminar dengan lembaga penanggulangan penyakit kanker seluruh Indonesia. Apa kamu mau menjadi salah satu pengisi materinya. Soalnya dari rumah sakit kita, belum ada perwakilannya. Dan cuma di mintai satu perwakilan dari setiap rumah sakit," jelas Hanif saat mereka sedang membereskan perlengkapan mereka. Mengingat sudah waktunya pulang.
"Kenapa nggak kamu saja, sayang. Kamu kan, udah lebih berpengalaman daripada aku," tolak Sisi yang merasa tidak percaya diri menghadiri seminar itu.
"Sayang, kamu juga harus belajar dong. Kan sebelumnya kamu udah pernah aku ajak ke kampusnya Bilqis untuk seminar disana. Kamu juga cukup lihai dengan menyampaikan materinya. Jadi kamu aja ya, sebagai perwakilannya," saran Hanif juga memuji kekasihnya.
"Nanti biar aku yang daftarkan ke panitianya," lanjutnya lagi. Jika seperti itu, Sisi tidak bisa lagi menolaknya.
"Iya-iya. Ya udah yuk, pulang!" ajak Sisi, disusul Hanif yang menarik diri dari tempat duduknya. Setelah itu mereka pulang bersama.
"Sayang, kamu udah ngomong sama papa mu, apa yang aku bicara tadi siang?" tanya Hanif saat mereka sudah dalam perjalanan pulang.
__ADS_1
"Sudah sayang, tapi Ayah bilang mau ngomong dulu aja Bunda. Nanti kalau bunda dah kasih keputusan, ayah ngomong kok sama aku," jawab Sisi.
Seulas senyum terpancar dari keduanya.
"Oh iya, aku sampai belum sempat ketemu nenek Puspita. Karena kemarin ikut sibuk dengan kasus itu." Hanif pun menoleh kearah Sisi. Memang benar apa yang di katakan kekasihnya itu. Semenjak itu, Sisi belum di kenalkan dengan neneknya. Padahal berkat wanita itu. Hanif bisa bertemu dengan neneknya lagi.
"Apa mau kesana, sekarang. Mumpung belum terlalu dekat ke rumah kamu. Nanti kita ambil aja jalan lintas, di ujung sana," ujar Hanif. Tampak wanita disebelahnya sedang berfikir.
"Aku kabari dulu, Ayah ya. Takutnya nanti dia nungguin aku." Sisi mengabari Faisal dengan cara menelponnya. Setelah mendapat izin dari ayahnya. Dia memutuskan untuk berkunjung ke rumah calon mertuanya untuk bertemu dengan nek Puspita.
Mereka sampai juga di rumah Hanif. Kemudian turun dari mobil dan langsung masuk kedalam. Kebetulan pintu rumah pun tidak di kunci. Jadi mereka dengan mudah masuk kedalam. Sisi mengekor di belakang Hanif menuju ke ruang keluarga. Di sana, nek Puspita hanya seorang diri. Beliau sedang menonton acara kesukaannya. Dari belakang, Hanif memanggil neneknya.
"Assalamualaikum, Nek." Nek Asih menoleh kearah Hanif sebelum menjawab salamnya, netra nya tertuju pada seorang gadis yang berada di belakang cucunya.
"Waalaikumussalam, kamu bukannya dokter yang waktu itu menolong saya," balas nek Puspita setelah itu menunjuk kearah Sisi. Sisi pun mengeluarkan senyuman dari bibirnya, kala nek Puspita masih mengingat dengan jelas siapa dirinya. Setelah itu dia mendekat, dan duduk di hadapan wanita itu.
"Iya Nek. Saya Sisi, saya.."
Nek Puspita terlihat senang dengan apa yang di katakan cucunya itu. Dan langsung memeluk gadis yang dihadapannya.
"Nenek senang, kamu sudah punya calon. Apalagi, calon kamu, wanita cantik seperti dia." Sisi pun tersipu dengan pujian nek Puspita.
"Oh, iya Nek. Bunda mana? Kok Nenek cuma sendirian aja!" tanya Hanif mengarahkan penglihatan kesana-kemari untuk mencari keberadaan bundanya.
"Bunda kamu lagi keluar sebentar. Katanya mau beli sesuatu di minimarket, ujung jalan sana!" jawab Nek Puspita.
Mereka kemudian berbincang-bincang, sampai Bu Tari pulang dari belanjaannya. Melihat ada calon menantunya, dia langsung menghampirinya.
"Sayang, kamu udah lama disini?" tanyanya sembari memeluk Sisi.
__ADS_1
"Belum Bun, baru aja kok."
"Hanif mana?" Bu tari mencari putranya disekitar tempat itu.
"Masih mandi, Bun!" jawab Sisi.
"Ya udah Bunda kedapur dulu, ya. Mau simpen belanjaan dulu." Bu tari kemudian pergi meninggalkan ibu dan calon menantunya untuk kedapur menyimpan barang belanjaannya, sekaligus membuat minum minuman untuk Sisi.
Bu Tari kembali ke ruang keluarga membawa tiga cangkir teh hangat dan beberapa cemilan. Melihat keakraban dari keduanya. Membuat ibu Tari sedikit heran. Padahal mereka baru pertama kali bertemu, tapi tidak ada kecanggungan diantara keduanya.
"Kok sepertinya Ibu akrab banget Ama kamu sayang, kayak udah kenal lama aja." Bu tari meletakkan minuman dan cemilan itu di atas meja. Tak selang berapa lama, Hanif datang. Kebetulan dia mendengar ucapan Bundanya.
"Sisi lah Bun, yang kasih tahu Hanif tentang keberadaan Nenek di panti," sahut Hanif kemudian ikut gabung dengan mereka.
"Oh gitu. Pantesan akrab banget. Bunda sampai heran," ucap Bu Tari.
"Beruntung kita di pertemukan dengan orang-orang baik disekitar kita, ya sayang. Kalau tidak, entahlah mungkin sekarang kita belum bisa berkumpul seperti ini," lanjutnya lagi.
"Allah sudah mengatur pertemuan kita, Bun. Kita hanya tinggal, menjalankan saja. Dan kebetulan, Sisi yang menjadi perantara dari pertemuan kita dengan Nenek," sahut Hanif mereka pun tergelak.
Mereka seperti sebuah keluarga yang bahagia. Antara menantu dan mertua. Anak dan orang tua. Sungguh orang yang melihatnya akan menjadi iri, melihat keakraban mereka. Tidak ada kecanggungan dari semuanya.
"Nenek dengar, adik dan ibu tirimu ada di kota ini." Ucapan Nek Puspita seketika membuat mereka terdiam.
"Ibu tahu darimana?" tanya Bu Tari pada ibunya.
"Ibu nggak pernah keluar dari rumah, bagaimana ibu bisa tahu?" lanjutnya lagi.
"Ibu tahu dari mantan pembantu yang kerja di rumah. Kebetulan ibu kemarin menelpon dia. Tapi sekarang dia sudah tidak bekerja lagi di tempat itu, karena mereka sudah bangkrut. Beruntung saudara tirimu sudah menyelesaikan S2 nya. Jadi dengan mudah mendapat pekerjaan di sini."
__ADS_1
To be continued