
Di rumah sakit Hanif menuju keruangan Bilqis. Kebetulan hari ini Bilqis sudah bisa pulang. Mengingat ada banyak peningkatan dalam kondisinya. Biasanya Hanif selalu membawa setangkai bunga mawar. Tapi pagi itu, Hanif tidak membawanya. Dia langsung masuk kedalam. Kebetulan ada Dino dan Felisa yang menunggu Bilqis disana.
"Pagi, Bilqis, dokter Dino, dan Bu Felisa," sapa Hanif pada semua yang ada disana.
"Pagi dokter Hanif," balas Bilqis tersenyum lebar pada Hanif. Hanif langsung memeriksa keadaan Bilqis.
Bilqis melihat perubahan sikap Hanif, seketika berubah menjadi murung. Dia sedih, tidak seperti biasanya. Hanif selalu memberikan semangat untuk dirinya. Tapi kali ini sikapnya berubah menjadi jadi dingin.
"Semuanya sudah makin membaik. Hari ini Bilqis sudah bisa dibawa pulang Dok," jelas Hanif pada Dino setelah memeriksa kondisi Bilqis.
"Tapi, tetep harus dijaga pola makannya dan yang paling penting dia jangan terlalu banyak pikiran. Buat dia selalu happy," lanjutnya melirik sekilas Bilqis.
"Terimakasih dok, berkat semangat dokter. Bilqis kembali mempunyai semangat hidupnya kembali." Mereka berdua berjabat tangan. Setelah itu Hanif permisi keluar.
Bilqis hanya bisa memandang punggung Hanif yang semakin tak terlihat. Seketika hatinya menjadi sakit. Karena diabaikan oleh lelaki pujaannya. Dino Felisa untuk mengemas pakaian putrinya. Setelah itu beralih pada Bilqis yang terlihat murung.
"Kamu kenapa sayang, kok jadi sedih gini. Kamu udah boleh pulang Lo!" ujar Felisa menepuk pelan pundak putrinya.
"Hari ini sikap dokter Hanif kok beda ya Bun. Gak seperti biasanya. Apa bentuk perhatiannya selama ini cuma untuk menyemangati Bilqis saja," balas Bilqis menatap bundanya. Dino yang mendengar percakapan Bilqis dan istrinya ikut membuka suara.
"Sayang, mungkin dokter Hanif sedang banyak kerjaan. Jadi pikirannya lagi gak konsen. Udah ah, gak boleh sensi gitu. Anak ayah harus semangat." Dino bisa melihat kekecewaan dari wajah putrinya karena perubahan sikap Hanif tadi. Dia juga sempat berfikir sama dengan Bilqis. Dan kalau sampai benar itu terjadi, dia harus berbuat apa.
Putrinya sudah terlanjur jatuh hati pada dokter muda itu. Apakah dia tidak akan kecewa jika benar dokter muda itu hanya menyemangati anaknya saja. Bilqis pasti sangat kecewa. Dino takut, akan berakibat fatal untuk kesehatan putrinya itu.
Setelah semuanya selesai. Mereka bertiga keluar dari ruangan itu dan menuju di lobi. Tapi langkah mereka terhenti saat segerombol perawat sedang berbincang disana.
__ADS_1
"Eh tahu gak, dokter Hanif tuh kayaknya lagi suka Ama putrinya dokter Dino deh," ujar Mirna, salah satu perawat itu.
"Kata siapa?" Tanya Rani, perawat satunya lagi.
"Ya aku tuh lihat, dokter Hanif itu perhatian banget Ama anaknya dokter Dino. Siapa itu namanya," jawab Mirna sembari mengingat-ingat namanya Bilqis.
"Bilqis," balas Rani.
"Iya, aku pernah lihat dokter Hanif menyuapi Bilqis waktu lagi meriksa dia," sambung Mirna lagi.
"Hahahaha. Dokter Hanif itu emang begitu dengan pasien yang sedang ia tangani. Bukan cuma dengan Bilqis saja," timpal Dewi membuat dia rekannya melongo.
Obrolan para perawat itu membuat hatinya Bilqis teriris sakit. Dia tidak menyangka kaldu Hanif melakukan hal yang sama dengan pasien-pasien lainnya. Felisa langsung memeluk putrinya, dia tahu apa yang dirasakan putrinya saat ini.
"Kamu jangan pikirin omongan mereka ya sayang," ujar Felisa menguatkan putrinya.
Mereka akhirnya pergi dari situ dan langsung menuju ke lobi. Sebuah mobil berhenti di depan mereka bertiga. Seorang pemuda berkulit sawo matang, turun dari mobil itu dan menghampiri Dino dan yang lainnya.
"Pagi Bilqis, pagi dokter Dino, pagi Tante Felisa," siapanya pada mereka bertiga.
"Iqbal, kamu sama siapa kesini?" tanya Bilqis sedikit memaksakan senyumnya.
"Sendiri, oh iya. Biar saya yang antar ya Dok." Dino memandang kearah parkiran seperti sedang mencari sesuatu.
"Oh boleh, sepertinya supir saya belum dstsng.!" Jawab Dino membuat hatinya Iqbal bahagia.
__ADS_1
Iqbal membukakan pintu mobil untuk Bilqis. Bilqis duduk di bangku depan. Sementara kedua orangtuanya duduk di bangku belakang. Perhatian Iqbal membuat Felisa terharu. Dia bisa melihat ketulusan dari pria yang mempunyai lesung Pipit itu. Setelah semuanya sudah berada didalam mobil. Iqbal melajukan mobilnya menuju kerumah Dino.
Tidak butuh waktu lama, mereka sampai juga di rumah mewah berlantai dua. Iqbal menghentikan mobilnya, untuk menunggu pintu pagar terbuka. Seorang satpam dengan sigap membuka pintu gerbangnya. Iqbal pun melajukan mobilnya kembali untuk masuk ke halaman rumah Dino.
Tanpa menunggu diminta, Iqbal pun langsung membukakan pintunya Bilqis. Dengan sigap dia menuntun wanita yang dicintainya itu. Mereka masuk kedalam rumahnya Dino.
"Bu tolong buatkan minum untuk tamu kita," perintah Felisa membawa masuk barang-barang Bilqis.
Bilqis duduk di teras samping rumah. Disana juga terdapat kolam renang yang tidak terlalu besar. Di sekelilingnya terdapat bunga-bunga hiasan terbuat dari atom. Tak jauh dari kolam itu terdapat taman kecil biasa keluarga Dino menghabiskan weekend kalau sedang malas keluar.
Sengaja Bilqis memilih duduk disana. Karena dia ingin menetralkan perasaan nya yang sedang kacau. Iqbal bisa melihat kalau wanita di depannya itu sedang bersedih. Tapi, dia tidak tahu apa yang membuat wanita itu sedih.
"Kamu kenapa? Kok murung, harusnya bahagia dong. Kan udah keluar dari rumah sakit?" Akhirnya kata-kata itu keluar dari mulut Iqbal, setelah dia memikirkannya.
"Dunia tidak adil untukku. Kenapa aku harus mempunyai penyakit ini? Kenapa?" racau Bilqis menatap kosong ke depan.
"Kamu sedang di uji, seberapa kuat iman kamu dalam menghadapi ujian ini. Sabar, banyak orang yang sayang padamu!" Iqbal kemudian duduk jongkok di depan Bilqis.
"Sayang, bukan sayang. Tapi kasihan. Mereka yang perhatian padaku hanya kasian melihat keadaan ku yang seperti ini." Bilqis mengingat saat-saat Hanif memperhatikan dia selama dia ada dirumah sakit.
"Aku tulus menyayangi mu," ucap Iqbal tidak sadar. Bilqis menatap serius pria didepannya itu. Dia tidak melihat kebohongan dari mata pria itu.
"Maksudku, aku sayang kamu sebagai sahabat. Bukankah kamu selalu bilang, kita sahabat," ralat Iqbal memandang kearah lain. Dia tidak sanggup jika berlama-lama saling bertatapan dengan Bilqis. Dia takut kalau Bilqis akan tahu perasaannya yang sesungguhnya. Karena Bilqis pernah berkata padanya untuk tidak saling jatuh cinta diantara mereka bertiga. Kalau sampai itu terjadi, persahabatan mereka akan berakhir saat itu juga. Dan kesepakatan itu juga di iya kan oleh Sisi.
Tapi Sisi tahu perasaan Iqbal yang mencintai Bilqis. Awalnya dia begitu kecewa dengan itu. Tapi Sisi sadar kalau cinta itu tidak tahu kapan akan datang, pada siapa akan bersarang. Jadi dia merestui jika Bilqis dan Iqbal jadian. Tapi sayang Iqbal sampai sekarang belum berani mengungkapkan perasaannya pada Biqis. Kalau dia jatuh cinta dengan sahabatnya sendiri.
__ADS_1
To be continued