
Sisi menatap bingung wanita di sampingnya itu. Pertanyaannya tak lantas dijawab oleh wanita itu. Yang ada kesedihan terpancar dari wajah wanita itu. Diam, menatap kosong di depannya. Seolah tak menyadari orang disekelilingnya. Apakah yang terjadi dengan wanita itu? Kenapa dia harus sesedih itu, mendengar pertanyaan sederhana itu. Ataukah memang ada kisah masa lalu yang menyakitkan dari wanita itu. Sesaat kemudian dia menatap sayu wajah Sisi. Seolah memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan.
"Bunda, kenapa Bunda sedih? Maaf jika pertanyaan Sisi membuat bunda sedih." Sisi merengkuh pundak wanita itu. Bu Tari mengeluarkan air matanya, sesaat dia teringat sesuatu yang begitu kelam dalam hidupnya.
"Bunda, tidak apa. Hanya saja, Bunda selalu teringat orang tua Bunda. Bunda..." Wanita itu tidak melanjutkan kata-katanya, kemudian pergi meninggalkan tamunya. Sisi yang merasa aneh dengan sikap Bu tari, ingin mengejarnya. Namun sesaat kemudian, Hanif datang dari dapur.
"Bunda mana?" Pria itu mencari-cari disekeliling ruangan itu. Mencari bundanya yang tidak ada bersama kekasihnya.
"Bunda pergi. Dia menangis," jawab Sisi tak enak hati.
"Menangis? Kenapa?" cecar Hanif khawatir dengan keadaan Bundanya.
"Aku nggak tahu, sayang. Aku hanya tanya pada Bunda, apakah keluarganya ada di kota ini. Itu aja," ucap Sisi jujur. Hanif langsung mengusap wajahnya kasar. Dia tahu betul Bundanya. Kerap kali ditanya seperti itu pasti langsung menangis dan bersedih.
"Maafkan aku sayang. Gara-gara aku bunda sedih," ujar Sisi merasa bersalah. Hanif mendekati kekasihnya, berusaha menenangkan wanita itu.
"Sudah. Itu bukan salah kamu kok, sayang! Bunda memang selalu begitu. Jika ditanya tentang keluarganya. Aku keatas dulu ya, lihat bunda." Sisi pun mengangguk. Setelah itu Hanif pergi menyusul bundanya di kamar.
Seorang wanita paruh baya, sedang sesegukan memandangi sebuah foto. Dia begitu merindukan sosok yang berada di dalam foto itu. Tapi apalah daya. Karena kesalahannya, dia tidak bisa bertemu dengan sosok di foto itu. Suara pintu yang sedang terbuka membunyarkan lamunannya. Dengan cepat, dia sembunyikan foto itu di balik bantalnya. Setelah itu dia menghapus sisa-sisa air matanya. Hanif yang baru saja masuk ke kamar Bundanya, langsung mendekati dan memeluk wanita yang paling ia sayangi itu. Di dalam pelukan anaknya, wanita itu kembali terisak.
"Bunda kenapa? Kenapa nangis?" Lama wanita itu menangis di dalam pelukan anaknya. Bahkan dia tidak menjawab pertanyaan anaknya itu. Seakan dia tidak ingin sebuah rahasia masa lalunya di ketahui anaknya.
__ADS_1
"Bunda, kalau bunda gak cerita sama Hanif. Gimana Hanif bisa tahu, apa yang membuat bunda sedih." Ucapan pria berkacamata itu sedikit membuka hati wanita itu. Benar apa yang di katakan oleh anaknya itu. Masa lalunya bukan sebuah aib yang harus ia sembunyikan dari putranya. Perlahan dia melepaskan diri dari dekapan anaknya. Dia menarik nafasnya panjang. Kemudian dia mulai bercerita.
"Bunda teringat pada Kakek dan Nenek mu. Bunda kangen dengan mereka!" Hanif terkejut mendengar hal itu. Selama ini dia tidak pernah tahu, kalau dia masih mempunyai nenek dan kakek dari ibunya. Karena selama ini dia belum pernah bertemu dengan mereka. Bahkan jika dirinya bertanya, tak pernah dijawab oleh bunda dan almarhum ayahnya.
"Kenapa kita tidak temui mereka, Bun?" Bu tari terdiam sejenak. Dia bingung harus menjawab apa. Dan akhirnya dia mengatakan yang sejujurnya.
"Karena kakek mu tidak menginginkan Bunda!" Bu tari kembali terisak, dengan telaten Hanif menenangkan Bundanya. Setelah tenang, Bu Tari melanjutkan ceritanya.
Hubungannya dengan suaminya di tentang kedua orangtuanya. Karena suaminya bukan orang berada. Bahkan dia diusir oleh bapaknya karena baginya itu sebuah aib keluarganya. Orangtuanya adalah orang terpandang di daerahnya. Selain pengusaha batu bara yang sukses di Kalimantan. Beliau juga penanaman saham terkenal di Jakarta. Bagi dirinya memiliki menantu anak seorang pedagang gorengan di pinggir jalan itu aib di keluarganya.
Karena dia sangat mencintai suaminya, dia rela meninggalkan kedua orangtuanya. Sempat dia dan suaminya berkunjung ke rumah orangtuanya. Tapi bapaknya justru bilang kalau dia tidak punya anak. Dari saat itulah, dia memutuskan untuk tidak datang lagi ke rumah orangtuanya. Sedikit rasa sakit hati, ada padanya. Bahkan sampai suaminya meninggal pun, dia tidak berani bertemu dengan kedua orangtuanya. Keadaan nya bagaimana. Dia juga tidak tahu. Sudah hampir 30 tahun, dia terpisah dari orangtuanya.
Mendengar hal itu, Hanif pun ikut sedih. Dia bingung harus bagaimana. Mempertemukan kembali bundanya dengan kakek dan neneknya. Apa mungkin?
"Bun, boleh Hanif tahu foto nenek dan kakek Hanif." Sesaat Bu Tari diam, tapi setelah itu dia mengambil foto yang ia simpan di balik bantalnya tadi. Kemudian foto itu diserahkan kepada putranya.
"Ini! Mereka adalah nenek dan kakek kamu." Hanif mengambil foto itu dari tangan bundanya, setelah itu di pandangnya foto itu. Dia merasa, ada kemiripan dirinya dengan kakeknya. Sama-sama memiliki lesung Pipit. Puas memandang foto itu, Hanif mengembalikan kembali foto itu pada Bundanya. Dia teringat, sudah terlalu lama Membuat Sisi menunggu di depan.
"Bun, Hanif tinggal dulu ya! Kasian Sisi nunggu kelamaan di depan." Bu Tari baru ingat kalau dia sudah membuat calon menantunya itu khawatir.
"Astaghfirullahalladzim Nif, Bunda sampai lupa. Temui Sisi, bilang padanya. Bunda minta maaf, bunda tidak bermaksud untuk meninggalkan dia." Hanif pun tersenyum melihat kepanikan pada bundanya.
__ADS_1
Hanif keluar dari kamar bundanya menuju ke ruang tengah. Dia menghampiri kekasihnya yang terlihat gelisah menunggu dia kembali. Saat mengetahui Hanif berjalan kearahnya. Sisi langsung mendekat.
"Gimana Bunda?" tanyanya panik.
"Tenang sayang. Bunda gak apa, kok." Sisi pun langsung bernafas lega mendengar jawaban Hanif.
"Tadi Bunda juga bilang ke aku. Dia minta maaf padamu, karena udah ninggalin kamu," lanjut Hanif lagi.
"Aku gak apa, kok. Yang penting bunda baik-baik saja. Itu udah cukup bagiku, sayang. Emangnya bunda Kenapa?" Sisi bertanya pada Hanif alasan bundanya menjadi sedih.
"Kita katakan aja, ya! Biar enak ngobrolnya." Mereka berdua pergi menuju ke taman samping rumah Hanif.
Di taman itu ada sebuah patung besar, yang memang sengaja di letakkan di sana. Dulu almarhum ayahnya selalu menghabiskan waktu weekend nya disana dengan membaca buku-buku favoritnya. Dengan setia Bundanya menemani ayahnya. Tapi semenjak kepergian ayahnya. Tidak ada lagi yang duduk-duduk di sana. Sisi duduk di bangku yang melingkar di batang penyangga payung itu.
Hanif mulai menceritakan kisah masa lalu bundanya pada Sisi. Mendengar cerita itu Sisi menjadi teringat sesuatu. Teringat pada Nek Puspita yang tinggal di panti sosial itu. Dia berfikir apakah Bu Tari orang yang sama dengan anak yang dicari nek Puspita.
"Sayang, kalau aku boleh tahu. Siapa nama nenek kamu?" Pertanyaan Sisi sedikit membuat Hanif terkejut.
"Hmmm aku belum tanya sama Bunda," jawab Hanif.
"Gini-gini, soalnya kisah yang kamu ceritakan itu sama dengan cerita yang diceritakan nek Puspita padaku."
__ADS_1
"Nek Puspita? Siapa dia?"
To be continued