
Faisal kembali ke kamar hotel, setelah membeli beberapa makanan. Saat sudah masuk di kamarnya, Faisal mendapati Yulia sudah terlelap. Faisal lalu meletakkan makanannya di atas meja. Faisal menyusul Yulia yang sudah tidur duluan. Faisal berada disamping Yulia, dia menghadap ke arah Yulia, sembari menikmati kecantikan istrinya yang sedang tidur. Di usapnya lembut pipi Yulia, berharap Yulia akan terbangun.
"Ya ampun Yul, Yul, kok malah tidur sih!" seru Faisal lirih. Faisal jadi tidak tega untuk membangunkan Yulia. Akhirnya Faisal ikut tidur, disamping Yulia.
Sore harinya, Yulia sudah bangun dari tidurnya. Yulia kesulitan bernapas karena tangan Faisal berada di atas tubuhnya.
"Mas, Mas Faisal, bangun yuk! mandi dulu." Yulia membangunkan Faisal dengan cara menggoyang-goyangkan tubuh Faisal.
Faisal pun perlahan membuka matanya, "Yul, udah sore ya?" tanya Faisal mengucek matanya. "Udah Mas, kita mandi dulu yuk! setelah itu sholat ashar" Yulia beranjak dari tempat tidurnya, tapi Faisal mencegahnya. "Yul, nanti dulu ya, sebentar aja.." Faisal malah memeluk Yulia. "Mas, keburu abis waktunya. Nanti malam kan bisa Mas, ayo kita sholat dulu." Faisal akhirnya pasrah, dan membiarkan istrinya pergi ke kamar mandi.
"Gini amat ya, pengen minta jatah aja, kok sudah bener" Faisal menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Usai mandi keduanya sholat ashar berjamaah, dilanjut makan siang yang tertunda. Kebetulan hotel mereka dekat dengan pantai, jadi pemandangan di saat senja, sayang untuk dilewatkan. Yulia mengajak Faisal untuk jalan-jalan dulu, disekitaran pantai, sembari menunggu waktu magrib tiba. Banyak para wisatawan asing, yang ikut menikmati keindahan matahari terbenam. Mereka kesana untuk sekedar berfoto-foto ria. Yulia dan Faisal pun tak ingin melewatkan momen indah itu. Mereka mengabadikan di ponselnya Faisal.
"Sayang ya, Sisi gak ikut sama kita. Kasihan Sisi, gak bisa lihat matahari terbenam." Yulia teringat pada Sisi. Dia merasa ada yang kurang dari kebahagiaan yang sekarang ini, dia rasakan bersama Faisal.
"Mas janji, lain kali kita akan kesini bertiga, bersama Sisi." Faisal pun merasakan hal yang sama. Tapi, dia juga ingin memiliki quality time bersama Yulia, setelah berbagai masalah menghantam rumah tangganya.
Malam harinya, usai sholat isya, Faisal mendekati Yulia yang sedang menyisir rambutnya. "Yul, apa kita sudah bisa mulai," ucapnya ragu-ragu. Yulia hanya tersenyum, karena dia juga malu.
Faisal mengajak Yulia keranjangnya, dan merebahkan tubuh Yulia diatasi kasur. Faisal menatap wajah Yulia dengan penuh damba. "Sekarang ya?" Faisal meminta izin pada Yulia untuk melakukannya. Faisal membelai rambut Yulia, kemudian pipi Yulia. Faisal menyentuh bibir indah milik Yulia, kemudian mengecupnya, tak puas hanya dengan mengecup. Faisal mulai menjelajahi bibir indah milik istrinya, nafas keduanya saling memburu. Puas bermain-main dengan bibir istrinya, Faisal mulai membuka dres yang dikenakan oleh Yulia. Dijelajahi seluruh tubuh Yulia, dengan cumbuan dari Faisal. Gejolak dalam dadanya sudah tak bisa lagi dikendalikan, Faisal dengan lembut menyatukan tubuhnya dengan tubuh Yulia setelah semua pakaian mereka sudah terbuka. Mereka berdua menutupi dirinya dengan selimut, erangan nikmat yang tersisa di kamar itu.
__ADS_1
Dikediaman Rio.
Rio baru saja pulang dari kantor, dia mendapati Weli yang sedang duduk melamun di kamarnya. Rio mendekati Weli, dan iku duduk di sebelahnya. "Kamu kenapa sayang?" tanya Rio. "Sayang, lebih baik kamu terima aja, tawaran Papa untuk kamu menikah lagi," ucapnya putus asa.
"Kenapa kamu ngomong gitu, sudah berapa kali aku bilang, aku tidak akan melakukannya," sungut Rio kesal. "Tapi sampai kapan kita akan menunggu?" Weli sudah benar-benar putus asa. Berbagai cara, sudah dia coba, usaha, pengobatan sudah dia lakukan. Tapi lagi, lagi, dan lagi masih belum hamil juga.
"Sayang, bukankah sudah aku katakan, kita tunggu sampai dikasihnya oleh Allah,"
"Tapi kalau masih gak di kasih, gimana?" terka Weli pesimis.
"Aku yakin, pasti dikasih oleh Allah. Kita hanya sedang diuji saja, sebatas mana kesetiaan yang kita punya." Rio memeluk Weli. "Kamu harus tetap optimis sayang, jangan memikirkan hal-hal yang tidak-tidak ya" imbuh Rio menyakinkan Weli.
"Aku mandi dulu ya, setelah itu kita makan malam sama-sama." Rio meninggalkan Weli, untuk mandi.
"Sayang, besok kita honeymoon yuk!" Seru Rio yang sudah ada di belakang Weli.
"Honeymoon?" ulang Weli.
"Iya, mungkin kita butuh suasana baru, agar bisa lebih fresh. Sepertinya, kita juga butuh quality time supaya bisa cepat di kasih momongan." Rio duduk di kursi yang sudah disiapkan oleh Weli.
"Terus kerjaan kamu gimana, sayang?"
__ADS_1
"Biar Ibnu yang handle, dia sudah tahu agenda aku untuk satu Minggu ke depan. Kamu mau kemana?" Rio mulai menyendok kan makanannya.
"Terserah kamu aja ya sayang, aku msh ngikut aja."
Setelah perbicangan malam itu, Rio langsung membooking tiket pesat dan hotel tempat dia menginap. Mereka akan pergi ke Raja Ampat, tempat yang belum pernah dikunjungi oleh Weli. Weli senang, karena Rio memilih tempat itu untuk bulan madunya yang kedua. Mereka berdua menaruh harapan besar pada bulan madu keduanya kali ini.
Pagi harinya Rio dan Weli sudah bersiap untuk pergi ke bandara. Pak Andrian yang sudah lama, tidak ke rumah Rio, pagi itu beliau datang. Beliau seperti sedang marah, karena Rio memblokir kontak nya, sehingga sulit untuk di hubungi.
"Kalian mau kemana?" tanya nya dengan nada sedikit keras.
"Kita mau pergi bulan madu, Papa ada perlu apa datang kemari?" ketus Rio tak kalah dengan pak Andrian.
"Kamu bisa bersikap lebih sopan pada Papamu, Rio!"
"Sudahlah Pah, Rio sudah tak ingin cari masalah lagi dengan Papa!"
"Kamu memang keras kepala Rio, menikahlah kamu dengan Selia." Rio semakin geram pada papanya, yang selalu memaksa dia untuk menikah dengan putri temanya.
"Sudah berapa kali Rio katakan Pah, Rio tidak mau menikah dengan siapapun. Rio sudah mempunyai istri!"
"Istri yang gak bisa ngasih keturunan."
__ADS_1
"Cukup!!!!!!! lebih baik papah pergi dari sini!!" Rio mengusir papanya, dia sudah tidak tahan lagi, jika terus menjelekan Weli. Weli yang melihat pertengkaran Rio dan papanya, tak kuasa menahan air matanya. Dia juga tak mengerti, kenapa pak Andrian berubah padanya, padahal dulu beliau sangat menyanyangi nya. Apa karena dia tidak bisa ngasih Pak Andrian cucu, sehingga sekarang membencinya.
Pak Andrian pergi dengan emosi yang meluap. Dia tidak pernah menyangka, kalau Rio akan mengusir nya. Pak Andrian punya tujuan lain, dia menikahkan Rio dengan Selia.