Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Insiden


__ADS_3

"Selamat Pagi Pak Faisal, Sisi!" sapa seseorang yang berdiri di depan pintu gerbang rumah Faisal.


Faisal yang menyadari kedatangan Hanif, langsung menghampiri pria yang berkemeja kotak-kotak itu. Pun dengan Sisi yang sedikit terkejut melihat kedatangan Hanif kerumahnya.


"Pagi Dokter Hanif," balas Faisal tersenyum ramah pada tamunya.


"Ngapain pagi-pagi udah ada disini. Atau mau ngambil jas kamu yang kemarin aku bawa." Ucapan Sisi membuat keduanya saling tatap. Faisal kemudian mengedipkan matanya pada Sisi. Hanif pun hanya bisa tergelak.


"Saya datang kesini mau memberitahu Sisi. Kalau hari ini ada sosialisasi mengenai bahayanya penyakit kanker dan cara pencegahannya di kampus ***." Faisal baru ingat tentang agenda kunjungan dokter Hanif dan dokter Bizal di universitas tersebut.


"Bukannya dengan dokter Bizal ya?" tanya Faisal bingung.


"Jadi begini Pak. Dokter Bizal hari berhalangan hadir. Karena adiknya meninggal dunia."


"Inalillahi wa illahi roji'un."


"Ya sudah kamu langsung aja berangkat sama dokter Hanif, ya sayang!" ujar Faisal menatap kearah Sisi.


"Kenapa harus dengan saya, sih!" celetuk Sisi mendapat tatapan tajam dari pria yang di hadapannya. Sementara Faisal sudah lebih dulu masuk ke dalam mobilnya.


Mereka akhirnya berangkat bersama menuju ke kampus, tempat mereka akan mengisi materi.


"Oh iya, saya lupa. Saya belum punya nomor handphone kamu. Sekarang kamu catat ke handphone saya, ya!" seru Hanif sembari memberikan handphone nya pada Sisi.


Sisi tak kunjung mengambilnya dari tangan Hanif. "Ayo, cepat catat nomor kamu disini," ulang Hanif karena wanita disampingnya itu terlihat santai tak segera mengambil handphonenya.


"Buat apa?" tanya Sisi tanpa beban. Kelakuan Sisi membuat Hanif mengerutkan kedua alisnya. "Buat apa kamu bilang?" Hanif mulai sedikit kesal pada wanita itu.


"Kita sekarang satu team. Mau gak mau, suka tidak suka kita bakal ada projek bersama. Jadi biar saya gak usah repot-repot menjemput kamu kerumah!" sambung Hanif dengan nada kesal.

__ADS_1


"Heleh, bilang aja kalau mau minta nomor aku. Pake alasan kerjaan segala."


"Terserahlah." Sisi mengambil handphone milik Hanif dan menyimpan nomornya disana.


Mobil Hanif berhenti di sebuah toko bunga, yang berada tak jauh dari tempat pemakaman. Sisi menatap bingung pada laki-laki yang akan turun dari mobilnya. Dia jadi penasaran dengan apa yang akan Hanif disana.


Tak lama kemudian, Hanif membawa setangkai bunga lili putih di tangannya. Sisi yang sudah gatal dengan keingintahuannya, kemudian bertanya "untuk apa bunga itu? jangan-jangan kamu mau tebar pesona ya dengan mahasiswi-mahasiswi disana." Hanif tak menanggapi pertanyaan Sisi dan langsung menyalakan mesin mobilnya lagi.


Merasa di cuekin Sisi menyibukkan diri dengan bersenandung. Suara cempreng nya mengusik Indra pendengaran Hanif. Pria itu kemudian menutup mulut Sisi dengan tangan kirinya. Tindakan Hanif membuat Sisi sedikit sulit bernafas. Setelah berhenti dari senandungnya Hanif melepaskan kembali tangannya.


"Apa-apaan sih, ganggu kesenangan orang aja!"


"Lagian suara udah kayak kaleng rombengan gitu, nyanyi-nyanyi segala," sergah Hanif mendapat lirikan sinis dari Sisi. Hanif hanya terkekeh.


"Kenapa berhenti disini?" Hanif menghentikan mobilnya di sebuah pemakaman. "Ayo turun!" ajaknya pada Sisi. Sisi yang gak mau di dalam mobil sendirian, akhirnya mengikuti Hanif yang mulai berjalan menapaki ke jalanan kecil menuju ke dalam.


Sampai saatnya Hanif meluapkan perasaannya pada batu nisan tersebut. Cairan bening lolos dari pelupuk mata Hanif, tak ingin di ketahui oleh Sisi ia segera mengusap air matanya.


Dirasa perasaannya sudah membaik, Hanif pergi meninggalkan makam itu, pun diikuti oleh Sisi di belakang nya. Sebelum mereka masuk kembali ke mobil. Hanif menghentikan langkahnya.


"Dia adalah wanita yang pertama kali yang mengajarkan ku tentang mencintai," ujarnya dengan tatapan kosong. Sisi yang mendengarnya sedikit terobati karena pertanyaan yang dari tadi mengganjal di hatinya sudah di jawab oleh Hanif.


"Kamu pasti sangat mencintainya?" Kata-kata itu lolos dari mulut Sisi.


"Dia wanita yang terbaik, yang pernah aku kenal. Tapi karena keegoisan ku, dia menyerah dengan penyakitnya."


Sisi tidak begitu mengerti dengan perkataan Hanif. Tapi dia juga tidak mungkin menanyakannya di waktu hati Hanif sedang kacau. Dia cukup menyimpan rasa penasarannya di dalam hati.


Empat puluh menit kemudian, mereka sampai di kampus. Mereka sudah di sambut oleh beberapa mahasiswa yang menjadi panitia acara tersebut. Ternyata acara sosialisasi nya tidak di lakukan di dalam gedung. Melainkan di ruang terbuka.

__ADS_1


Mereka berhenti di salah satu ruang terbuka tak jauh dari danau buatan yang ada di kampus itu. Acara pun segera di mulai. Sang MC yang memandu acara tersebut mulai membacanya susunan acaranya. Dan kini tiba saatnya, penyampai materi yang berbicara di depan.


Hanif lah yang maju ke depan untuk menyampaikan materi yang ia ketahui dan pelajari. Dari mengenalkan beberapa jenis penyakit kanker, Gejala-gejalanya, dan cara penanganannya. Yang paling penting ia menyampaikan cara mencegah penyakit kanker dan cara mengetahui Gejala-gejalanya.


Para peserta sosialisasi itu sangat berantusias dengan materi yang disampaikan oleh Hanif. Sesekali mereka melempar pertanyaan yang belum mereka mengerti. Dengan senang hati Hanif pun menjawab semua pertanyaan para peserta.


Kini tiba saatnya waktu istirahat. Hanif mengajak Sisi untuk pergi ke mushola untuk melaksanakan sholat Dzuhur terlebih dahulu. Usai melaksanakan sholat Dzuhur berjamaah dengan para dosen dan mahasiswa disana. Mereka berdua menikmati makanan yang disediakan oleh panitia.


Mereka memilih menikmati makanannya di aula tempat mereka mengisi materi tadi. Mereka menyantap makanan itu dengan hikmat. Tak ada suara dari keduanya. Selesai menyelesaikan makanan nya, mereka mendekat kearah danau. Menikmati pemandangan danau buatan yang disediakan kampus tersebut.


"Tempatnya bagus ya! Adem," ujar Hanif menatap kearah danau. Angin yang berhembus sangat kencang. Menyibak-nyibakkan rambut Sisi. Dia jadi ingat kenangannya dulu. Dia sering menyendiri disini saat perasaan nya sedang kacau.


"Awas jangan mendekat ke situ, ntar jatuh ke sana!" ujar Hanif memperingati Sisi yang berjalan di bibir danau itu. Tapi tetap saja Sisi berjalan disana sembari merentangkan tangannya. Berteriak sekencang-kencangnya seakan ingin melepas penatnya. Tiba-tiba saja kaki Sisi menyandung akar pohon mengakibatkan dia terjatuh ke danau itu.


"Tolong!!!" Teriaknya sembari melambaikan tangannya. Hanif yang mendengar Sisi minta tolong, kemudian ikut menyeburkan dirinya ke danau. Dia berusaha menolong Sisi. Sisi semakin menjauh dari pandangan Hanif, dengan sekuat tenaga dia berusaha menolong wanita yang tak pandai berenang itu.


Dengan kemampuan nya berenang, akhirnya Hanif bisa membawa Sisi ketepi. Dibantu oleh para mahasiswa yang melihat kejadian itu. Tapi sepertinya Sisi sudah tak sadarkan diri.


Hanif berusaha memberikan pertolongan pertama. Ditekannya dengan kuat dada Sisi agar air yang masuk kedalam tubuhnya bisa keluar. Perlahan air keluar dari mulutnya, tapi tak membuat wanita itu sadar. "Kasih nafas buatan aja, dok!" Celetuk salah satu mahasiswa yang ada di sana.


Hanif menatap bingung wanita yang terbaring lemah dihadapan nya. Dia ragu untuk memberikan nafas buatan pada Sisi. "Ayo dok, kasih nafas buatan. Atau biar saya saja yang melakukannya," sahut seorang mahasiswa yang berambut gondrong. Dan pada akhirnya Hanif melakukannya. Saat dia mulai mendekat kan wajahnya ke wajah Sisi tiba-tiba Hanif dikagetkan oleh sesuatu.


To be continued


Ayo dong beri dukungan untuk author...


supaya lebih semangat lagi nulisnya...


maaf ya telat lagi kurang enak badan...

__ADS_1


__ADS_2