Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Keputusan sepihak


__ADS_3

Saat itu, Hanif sedang membawa jenazah neneknya dari kamar mayat dari kejauhan dia melihat Sisi bersama Iqbal. Disaat itu juga, dia bersumpah tidak akan pernah mau memaafkan mereka berdua dan mengutuk dirinya tidak akan pernah kembali dengan Sisi.


Jenazah nek Puspita langsung di bawa ke kediaman Hanif. Hanif yang saat itu membawa mobil sendiri. Memisahkan diri dengan ambulans yang membawa jenazah nek Puspita. Sementara bu Tari yang menemaninya.


Berita duka itu langsung di dengar oleh kerabat, sahabat, dan rekan kerjanya. Mereka berbondong-bondong untuk melayat ke rumah Hanif, demi menunjukkan bela sungkawa nya pada keluarga itu. Pun dengan Faisal, dia yang mendengar berita itu pada pihak rumah sakit, saat ini sedang bersiap akan melayat ke rumah Hanif. Bersama dengan istrinya, mereka sudah siap untuk berangkat.


"Mas, apa kita gak nunggu Sisi dulu?" Yulia masih resah, karena putrinya belum mengabarinya.


"Mungkin dia sudah ada disana, sayang! Kita langsung saja datang kesana, ya!" tebak Faisal membuat Yulia mengikuti pendapat suaminya.


"Ya udah, yuk!" ajak Faisal pada istrinya yang masih sedikit ragu. Baru saja mereka keluar dari rumah, mobil yang di tumpangi Sisi berhenti di bagasi. Selang beberapa saat, Sisi keluar dari dalam dengan wajah yang sembab dan penampilannya yang sudah terlihat kusut. Wanita itu langsung menghampiri kedua orangtuanya, dan menghambur di pelukan bundanya sambil menangis sejadi-jadinya.


"Bun, ini bukan salah Sisi! Bukan salah Sisi!!!" Isak Sisi dalam dekapan Yulia. Sontak membuat bundanya mengelus bahu Sisi untuk memberi sedikit kekuatan agar dia bisa kuat menjalani ini semua.


"Sabar, sayang! Sabar!" Yulia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh putrinya.


"Kenapa mereka menyalahkan Sisi, Bun. Kenapa?" Faisal tidak tega melihat putrinya hancur, hingga dia mengajaknya untuk masuk kedalam.


"Sayang, kita bicara di dalam ya!" Sisi melepaskan tubuhnya dari pelukan bundanya dan dengan sigap di apit oleh Faisal yang berada disisi kiri dirinya. Dengan langkah gontai, Sisi di bawa ke kamarnya oleh kedua orangtuanya.


"Sayang, sekarang ceritakan pada Bunda. Apa yang terjadi dengan kamu, kenapa kamu malah pulang, nggak ke rumah Hanif. Apa kamu belum sempat bertemu dengan mereka?" cecar Yulia penuh kecemasan.


"Sisi gak kuat Bunda, gak kuat!!!!" Dia kembali menangis, saat akan menceritakan kejadian yang baru saja ia alami.

__ADS_1


"Istighfar sayang. Kamu gak boleh ngomong seperti itu, jauhkan pikiran itu pada dirimu, sayang. Ya Allah, Mas. Gimana anak kita?" Yulia beralih menatap wajah suaminya. Sama dengan Yulia, Faisal juga merasakan hal yang. Takut jika masalah itu mengguncang jiwa putrinya itu. Apalagi melihat keadaannya yang sekarang. Faisal mendekati putrinya, duduk di samping Sisi. Diusapnya lembut kepala anaknya, disandarkan di dadanya.


"Sayang, Ayah tahu saat ini kamu pasti terluka. Ayah tahu, saat ini kamu merasa kamu orang yang sangat menderita atas cobaan yang menimpa kamu. Coba kamu lihat, diluaran sana. Masih banyak orang yang lebih menderita dari pada kita. Jadi obatnya hanya satu sayang. Ikhlas, kamu harus ikhlas dengan cobaan yang di berikan Allah pada kamu." Kata-kata Faisal sedikit membuat putrinya lebih tenang.


"Biarlah orang menilai kita dengan sesuka mereka. Yang penting kita yang menjalaninya tidak melakukan hal yang dilarang oleh agama. Biarkan mereka berasumsi apa saja sesuka mereka, yang penting kamu tidak melakukan itu. Masih ada orang yang sayang dan percaya dengan kamu, sayang. Jadi, kamu gak boleh ngomong gitu lagi. Istighfar, sayang. Istighfar!"


"Astaghfirullahalladzim, maafin Sisi Bun, Yah." Sisi sudah bisa berfikir dengan body, sedikit demi sedikit hatinya sudah tidak sakit lagi. Kini, dia mulai menata hatinya untuk berjalan kedepan dan yakin masalah yang dia hadapi akan segera berakhir.


"Sayang, Ayah dan Bunda mau melayat dulu ya, Nak!" pamit Faisal pada putrinya yang sudah terlihat tenang.


"Iya, Yah. Sampaikan belasungkawa Sisi pada bunda Tari. Sisi juga minta maaf," lirih Sisi memandang wajah ayahnya.


"Kamu gak mau ikut, sayang?" tanya Faisal lagi. Sisi menggeleng. "Ya udah ya, sayang. Kita berangkat dulu." Yulia mencium kening Sisi sembari tersenyum manis di depan anaknya.


Faisal sampai di tempat pemakaman. Suasana duka masih sangat terasa di sana. Jenazah nek Puspita langsung di makamkan malam itu juga. Tanpa harus menunggu siapapun. Acara pemakaman berjalan dengan lancar, hingga ditutup dengan doa oleh ustadz yang memimpin pemakaman itu. Satu persatu pelayat meninggalkan tempat itu, hingga tersisa Faisal dan Yulia. Mereka mendekat kearah Bu Tari yang masih terisak di pusaran ibunya. Bu Tari masih tidak percaya, kalau ibunya akan secepat ini pergi meninggalkan dia untuk selamanya.


"Bu Tari, Nak Hanif, kami turut berdukacita ya atas meninggalnya nek Puspita," tutur Faisal tulus, Bu Tari berdiri dari tempat itu.


"Terimakasih, dokter Faisal dan Mbak Yulia," balas Bu Tari.


Bu Tari bersikap biasa pada mereka berdua. Tapi tidak dengan Hanif, pria itu terlihat dingin pada Yulia dan Faisal. Hingga mereka berdua pamit, tapi Hanif tak bergeming dari tempat berdirinya.


Saat Faisal akan pergi dari tempat itu, Hanif memanggilnya. "Dokter Faisal!" seru Hanif, Faisal pun menoleh.

__ADS_1


"Ada apa Dokter Hanif?" Pria itu mendekat kearah mereka berdua.


"Saya mau sampaikan hal penting dengan dokter. Mumpung anda ada di sini. Saya mau membatalkan pernikahan saya dengan putri dokter, Sisi!" ucap Hanif pada Faisal. Pria itu kemudian membuang pandangannya melihat kearah sebuah Nisan. Tersirat dihatinya, merutuki kebodohannya. Tapi perasaan itu terhapus dengan kebenciannya terhadap Sisi.


Mendengar hal itu, Bu Tari langsung mendekat kearah mereka. Beliau langsung menegur Hanif yang tidak punya sopan santun terhadap Faisal dan Yulia. Memutuskan hubungan di tempat yang tidak tepat.


"Hanif, apa-apaan kamu! Kenapa kamu bersikap seperti itu pada mereka, sejak kapan kamu tidak punya etika terhadap orang yang lebih tua darimu." Hanif menoleh kearah Bundanya.


"Sejak Sisi mengkhianati Hanif Bun. Sakit hati Hanif Bun, sakit," ucapnya Mukti tersulut emosi.


"Sudah Bu Tari, sudah! Tidak apa Bu, Hanif memutuskan pertunangan dengan Sisi, kami tidak apa. Mungkin dia butuh waktu untuk menyesali keputusannya," lerai Faisal yang membuat Hanif semakin emosi.


"Kita permisi dulu, Bu. Assalamualaikum!"


Dengan langkah pasti Faisal dan Yulia meninggalkan mereka berdua yang masih terlihat adu mulut. Faisal menyanyangkan keputusan Hanif, terlebih lagi sikapnya yang tidak menunjukkan seorang yang dewasa. Yulia sangat sedih mendengar kata-kata Hanif, pria itu seperti sudah tidak memiliki penilaian yang baik terhadap putrinya.


"Sayang, sudah. Jangan terlalu di pikirkan masalah ini. Nanti jika Sisi mengetahuinya, dia akan sedih." Faisal tahu, apa yang membuat wajah istrinya terlihat murung.


"Kasihan Sisi, Mas. Kenapa cobaannya begitu berat," ujar Yulia menatap wajah suaminya.


"Sayang, Allah punya cara lain untuk membuat hambanya menemukan cinta sejatinya. Mungkin, Hanif bukan pria yang tepat untuk anak kita. Allah sudah menyiapkan jodoh yang terbaik untuk Sisi."


To be continued

__ADS_1


__ADS_2