
'kamu licik, saya lebih licik lagi." batin Faisal seraya tersenyum remeh pada wanita di depannya itu.
"A-pa..maksud dokter Faisal?" tanya wanita itu sedikit gugup.
"Lebih baik anda akui saja sekarang, daripada nanti anda menyesal," timpal Faisal.
Faisal mengira wanita itu suruhan pak Darul untuk menutup rumah sakit yang ia kelola saat ini. Tapi dia belum punya bukti untuk mengatakan langsung pada Veronica. Dia hanya memancing, agar Veronika mau mengakuinya.
"Saya bekerja disini memang saya membutuhkan pekerjaan ini. Setelah saya di berhentikan di rumah sakit Zahra Medica," jelas Veronika membuat Faisal sedikit terkejut.
"Diberhentikan? Kenapa?"
"Rumah sakit Zahra Medica melakukan pengurangan karyawan, dan dokter disana. Karena menurunnya omsite pemasukan di rumah sakit itu. Apalagi saya baru disana. Baru dua bulan bekerja di sana." Perkataan wanita itu mematahkan dugaannya. Kalau dalang dibalik kasus itu adalah mantan bosnya dulu.
"Ya sudah. Anda boleh keluar sekarang! Tapi saya ingatkan, untuk tidak melakukan kesalahan lagi. Atau saya bisa memberhentikan anda secara tidak hormat," titahnya pada wanita itu. Veronica kemudian keluar dari ruangan itu.
Faisal sekarang menjadi ragu, kalau insiden itu ada hubungannya dengan pak Darul. Sekarang dia sudah tidak memilik kandidat tersangka lagi. Pria itu tampak memegangi pelipisnya dan sesekali mengumpat kesal.
Selang beberapa saat Hanif dan Sisi masuk ke ruangannya setelah beberapa kali mengetuk pintu namun tidak mendapat respon dari dirinya.
"Ayah!" sapa putrinya menghambur kepelukan Faisal.
"Sayang, maaf Ayah tadi tidak menunggu kamu. Dan langsung pergi ke rumah sakit," ucapannya membuat putrinya menggeleng kepalanya seraya berkata.
"Nggak apa, kok. Kan ada Hanif yang jemput Sisi." Pandangan Faisal beralih pada pria yang duduk di seberang kursinya.
"Terimakasih Dokter Hanif."
"Sama-sama Dok, sudah menjadi kewajiban saya untuk menjemput Sisi." Pria itu tampak mengangguk.
"Bagaimana perkembangan kasus itu, Dok?" tanya Hanif pada Faisal. Sisi yang mulai lelah berdiri disamping ayahnya, kemudian duduk di samping kekasihnya.
"Belum ada perkembangan yang menguntungkan kita. Yang saya dengar polisi akan melakukan olah TKP hari ini," jelas Faisal.
"Saya sudah bicara langsung dengan dokter Veronika, terkait masalah ini. Tapi, sepertinya saya ragu kalau dia pelakunya," lanjutnya lagi.
__ADS_1
Faisal tidak lantas percaya begitu saja dengan Veronika. Mungkin sampai orang suruhannya memberi informasi mengenai wanita itu.
Pembicaraan mereka terhenti saat salah seorang pegawai Faisal mengabarkan kalau ada polisi yang sedang melakukan olah TKP di tempat kejadian. Faisal dan yang ada diruangan itu pergi menemui Polisi-polisi itu.
"Selamat pagi dokter Faisal," sapa salah satu polisi itu.
"Pagi Pak," balas Faisal.
"Kasus ini sudah masuk ke meja hijau. Besok sidang awal dari kasus ini, saya harap ada bisa datang sebagai saksi tergugat di persidangan nanti." Faisal tampak mengerinyitkan keningnya. Secepat ini kasus ini ke ranah hukum.
Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Selain menunggu proses penyidikan dari orang suruhannya dan dari pihak berwajib itu sendiri.
Faisal datang ke ruangan Dino. Mungkin dia satu-satunya orang yang bisa membantu mencari titik terang dari masalahnya. Setelah mengetuk pintu, dan mendengar intruksi dari dalam. Faisal langsung masuk keruangan itu. Dino tampak sibuk dengan labtobnya. Melihat siapa yang datang keruangannya, dia menghentikan aktivitasnya dan beralih menatap kearah sahabatnya.
"Bagaimana, Sal. Apa ada perkembangan?"
"Kasusnya sudah masuk ke meja hijau. Besok sidang perdananya. Aku harap kamu menemaniku untuk hadir ke pengadilan itu," jelas Faisal.
Sunyi, tak ada suara diantara mereka. Hingga ponsel Faisal berdering. Faisal langsung mengangkat ponselnya.
"Baik!"
Mendengar itu Dino langsung bertanya pada Faisal.
"Siapa, Sal?" tanya Dino menelisik.
"Orang suruhan ku, aku pinjam dulu labtob kamu." Dino menyerahkan benda yang diminta sahabatnya itu.
Faisal mulai membuka Labtob milik Dino. Dialihkan alamat email nya dengan miliknya, setelah melihat beberapa email masuk dia langsung membukanya.
Beberapa pesan dari orang suruhannya. Tentang riwayat Veronika. Wanita itu berasal dari Jakarta, dan baru tinggal di Jogja empat bulan yang lalu. Dia tinggal hanya dengan ibunya. Dan benar apa yang dikatakan oleh wanita itu, dia di keluarkan dari rumah sakit Zahra Medica.
Namun ada yang menarik perhatiannya. Beberapa foto yang dikirim oleh orang itu. Salah satunya adalah seorang yang tidak asing baginya sedang berbincang dengan pak Darul. Pikiran Faisal kemudian menelisik ke orang tersebut.
"Din, tolong kamu ambil simple kantong darah itu. Dan bawa ke kantor forensik, agar bisa diketahui sidik jari siapa saja yang ada di dalam kantong itu. Dengan begitu kita bisa tahu siapa pelaku yang sebenarnya," titah Faisal pada sahabatnya. Tanpa menunggu lama lagi, Dino mengerjakan apa yang ditugaskan oleh atasannya itu.
__ADS_1
Faisal tidak menyangka, orang yang selama ini dekat dengannya. Ternyata menjadi duri dalam daging.
"Saya siap menghadiri persidangan besok. Dan saya pastikan, itu akan menjadi persidangan terakhir dari kasus ini," gumamnya tersenyum penuh kemenangan.
Disisi lain.
Yulia yang sedang sibuk dengan ponselnya untuk melihat berita terkini dibuat kaget dengan berita yang beredar di sana. Dia begitu syok mendengar kabar itu.
"Astaghfirullahalladzim," teriaknya mengundang perhatian Bu Sundari.
"Ada apa sayang?" tanya Bu Sundari penasaran.
"Gak, apa kok Ma. Ma, Yulia pamit ke toilet dulu, ya!" kilahnya sembari menarik dirinya dari tempat duduknya.
"Iya sayang." Yulia langsung keluar dari ruang perawatan papa angkatnya. Dia mencari tempat yang cocok untuk menghubungi seseorang. Dia benar-benar kaget dengan kasus yang menimpa rumah sakit sejahtera. Dan yang membuat dia heran kenapa suaminya menutupi hal itu darinya.
Kiranya sudah merasa aman di tempat itu. Yulia mengambil ponselnya untuk menghubungi suaminya. Tapi beberapa panggilan ia lakukan. Tapi tak mendapat jawaban dari suaminya. Kini perasaannya diliputi kecemasan. Sampai dia tidak bisa berfikir secara normal.
Selang beberapa saat, handphone nya berbunyi. Tenyata suaminya yang menelponnya. Dengan cepat dia mengangkatnya.
"Assalamualaikum, sayang." Suara Faisal terlihat sedikit gugup disana.
"Waalaikumussalam, Mas. Mas Yuli barusan lihat di Facebook, rumah sakit sejaktera sedang ada masalah. Apa itu benar?" Yulia langsung menanyakan hal itu pada suaminya.
Faisal menghela nafasnya berat. Sebenarnya dia tidak mau menambah beban pikiran untuk istrinya itu. Tapi, Yulia sudah lebih dulu tahu tentang berita itu. Mau tidak mau, dia harus memberitahu kebenarannya.
"Mas, Mas masih disitu kan!" Merasa tidak mendapat jawaban Yulia bicara lagi.
"Iya sayang. Tapi kamu gak usah khawatir semuanya sudah beres kok. Kamu gak usah pikiran itu, ya!" Yulia tidak percaya begitu saja dengan Suaminya. Dia tahu Faisal pasti mengatakan itu karena tidak ingin membuat dirinya cemas.
"Beneran? Mas gak bohong, kan!"
"Nggak sayang, Mas sudah tahu siapa pelakunya. Sayang, tolong sembunyikan ini dari Mama. Mas gak mau, mama ikut cemas memikirkan hal ini."
"Iya, Mas." Yulia bisa bernafas lega.
__ADS_1