
"Saya mohon, Dok! Jangan laporkan ini pada dokter Faisal! Saya gak mau kehilangan pekerjaan ini!" mohon suster yang bekerjasama dengan Veronika.
"Ini sudah menjadi tindakan kriminal. Saya bisa saja langsung laporkan kalian ke kantor polisi. Tapi saya tidak setega itu. Tapi kalian harus menerima akibat dari kejahatan kalian!" Hanif kemudian pergi dari tempat itu menuju ke parkiran.
"Sial!" umpat Veronika. Namun setelah itu dia tersenyum licik. "Gue harus bertindak cepat. Sebelum Faisal pulang dari Singapure." Wanita yang disebelahnya itu menatap curiga pada Veronika. Rencana jahat apa lagi yang akan dilakukan oleh wanita yang bertubuh langsing itu.
"Kamu gak usah khawatir. Saya akan mencarikan kamu pekerjaan lagi kalau kamu di pecat dari rumah sakit ini. Tapi dengan satu syarat!" seru wanita itu pada perawat yang terlihat pucat itu.
Hanif masih kesal dengan perlakukan dia orang wanita yang baru saja ia marahi. Dia bahkan tidak menyangka kalau Veronika akan berbuat senekat itu pada anak direktur utama rumah sakit ini. Mengingat dia baru tiga hari bekerja disini. Saat sudah sampai di mobilnya, dia langsung masuk dan menutup pintu mobilnya dengan kencang. Membuat wanita disebelahnya, menjadi terkejut.
"Kamu kenapa, sih! Datang-datang main banting pintu, gitu?" Hanif mengurungkan niatnya untuk menancapkan gas pada mobilnya mendengar pertanyaan wanita disampingnya.
"Kamu benar sayang. Ternyata yang menyekapmu di toilet itu Veronika," jawab Hanif, membuat Sisi tersenyum puas.
"Kamu sih! kalau aku ngomong gak pernah percaya. Kamu tahu darimana soal itu?" Wanita itu kembali bertanya.
"Aku mendengarnya sendiri. Dia dibantu oleh perawat, yang kerja disini juga!" jelas Hanif mengumpat kesal.
"Kita harus laporkan ini pada Ayahmu, sayang. Biar mereka diberi pelajaran yang setimpal," lanjut Hanif yang terlihat sedikit emosi.
"Aku rasa tidak usah deh, sayang! Mungkin mereka khilaf, yang penting aku gak apa, kan!" tolak sisi yang tidak setuju jika masalah itu sampai terdengar ditelinga ayahnya.
"Tapi itu tindakan kriminal sayang. Kamu harus ingat itu. Untuk OB tadi cepat menolong mu. Kalau tidak. Ahgg. Aku gak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan mu." Hanif mengacak rambutnya, membayangkan jika terjadi sesuatu dengan kekasihnya itu.
__ADS_1
"Ciee...yang khawatir." Sisi tersenyum mengejek pria disampingnya itu. Yang terlihat emosi. "Ya udah ihh... Ayo pulang. Aku capek ini, mau istirahat. Sisi mengingatkan pria itu untuk cepat menghidupkan mobilnya. Mengingat hari semakin malam. Hanif langsung mengendarai mobilnya dengan cepat. Agar bisa cepat sampai tujuan.
"Ya udah. Aku masuk dulu, ya! Besok jadi kan jemput aku?' tanya Sisi saat mereka sudah sampai di rumah Faisal.
"Jadi, sayang. Kamu istirahat. See you tomorrow." Hanif tersenyum manis pada kekasihnya itu. Rasanya, dia sudah tak sabar menunggu hari esok. Baginya kebersamaan dengan wanita itu menjadi candu dalam dirinya. Betapa tidak, hari-hari yang ia lewati bersama wanita itu terlihat lebih seru dibandingkan saat dia sendiri. Sebisa mungkin, Hanif menjaga hubungannya dengan Sisi. Agar tidak pernah putus ditengah jalan.
Keesokan harinya. Pagi-pagi sekali Sisi sudah bangun. Biasanya kalau weekend begini. Dia tidur lagi selepas shalat subuh. Tapi hari ini tidak. Karena dia ada janji mau bertemu calon mertuanya. Dia tidak mau membuat kecewa kekasihnya. Karena itu dia mempersiapkan dirinya. Dari habis subuh tadi, sampai sekarang belum selesai juga.
Berbagai model baju ia coba kenakan. Tapi selalu saja ada yang cacat dimatanya. Dia ingin tampil sempurna di depan mertuanya. Meskipun itu bukan pertemuan mereka yang pertama kali. Tapi entah kenapa, dia merasa gugup. Karena mungkin dulu dua belum menjalin hubungan dengan Hanif saat bertemu dengan Bu Tari. Tapi sekarang, untuk pertama kalinya dia akan di kenalkan pada bundanya Hanif sebagai kekasihnya. Mungkin itu yang membuat wanita itu terlihat gugup.
Dress lengan panjang selutut berwarna pink menjadi pilihannya. Dia bahkan tidak tahu, bundanya Hanif mengajak bertemu untuk apa. Tapi dia tidak mau, terlihat kusut di depan calon mertuanya. Dengan tatanan rambut terurai dengan sedikit hiasan di bagian depan rambutnya. Menjadi penyempurna penampilan Sisi.
Wanita itu keluar dari kamarnya menuju ke bawah. Kebetulan adik-adiknya sedang ada di meja makan. Untuk sarapan pagi. Melihat kakaknya pagi-pagi sudah dandan secantik itu. Membuat jiwa kekepoan adik-adiknya meronta.
"Iya dong! Emang kalian jomblo. Hahahaha," jawab Sisi terbahak mengejek kedua adiknya.
"Enak aja. Fatan jomblo bukan karena gak laku. Tapi Fatan masih menunggu wanita terbaik yang dipilihkan untuk menjadi jodohnya Fatan," balas Fatan membuat gelak tawa kembaran dan kakaknya.
"Kok ketawa sih, Kak!" lanjutnya kesal karena ditertawakan adik dan kakaknya.
"Mau sampai kapan, kamu nunggu. Sampai ubanan gak bakal nemu. Kalau cuma diam menunggu. Usaha dong!" sahut Sisi masih tergelak melihat wajah adiknya.
"Tuh contoh di Fatin. Diam-diam dah punya doi, dia!" goda Sisi beralih menatap adiknya yang lain.
__ADS_1
"Apaan sih, Kak. Siapa yang bilang. Kalau Fatin punya pacar?" Sisi memonyongkan bibirnya kearah Fatan. Setelah tahu, Fatin melempar kembarannya dengan sepotong roti ditangannya.
"Emang bener, kan! Pake ngeles segala, Lo!" Merasa tersudut akhirnya Fatan membuka rahasia Fatin di depan Fatin langsung.
"Udah ah. Kakak mau nunggu di depan aja. Males disini. Rempong kalian." Sisi berjalan menuju kedepan. Belum sampai ke teras. Satpam memanggilnya.
"Mbak Sisi. Udah di tunggu den Hanif di depan," ujar mang Koko pada juragannya.
"Makasih ya Mang," balas Sisi.
Sisi mempercepat langkahnya setelah mengetahui kekasihnya sudah menunggu di depan. Saat sudah di depan, Hanif sudah siap membukakan pintunya untuk wanita cantik itu.
"Silahkan tuan putri." Sisi tersenyum sejenak kearah Hanif. Setelah memastikan kekasihnya masuk kedalam. Hanif langsung naik kemobilnya dan melajukan kendaraannya itu.
Di dalam mobil Hanif tak henti-hentinya melirik wanita disampingnya itu. Wanita itu memang terlihat cantik dari biasanya. Sisi yang menyadari itu, dia hanya tersenyum-senyum. Tak butuh waktu lama. Mereka sampai di rumah Hanif. Mereka turun dan langsung masuk kedalam. Bu Tari sudah menunggunya di ruang tengah. Saat mengetahui yang ditunggu sudah datang. Dia langsung beranjak dari duduknya dan segera memberi pelukan pada calon menantunya.
"Kamu cantik sekali. Hanif memang pintar memilih calon istri," puji Bu Tari membuat Sisi tersipu malu. Wajahnya menjadi merah merona.
"Sini sayang. Duduk!" Bu Tari mengajak Sisi untuk duduk bersebelahan dengannya.
Mereka terlihat sangat akrab. Sisi memang pintar mengakrabkan dirinya pada wanita paruh baya itu. Saling bertukar cerita. Saat Sisi menceritakan tentang silsilah keluarganya. Raut wajah Bu tari berubah sendu. Seakan ada yang membuat dia bersedih.
"Bun, apa keluarga Bunda ada di kota ini?" Pertanyaan Sisi membuat Bu tari tercengang.
__ADS_1