
Saat mereka sedang menikmati makan siang nya, tiba-tiba salah satu mahasiswi itu tersedak. Jiwa kepedulian Ilham pun meronta, secara tak sadar dia mengulurkan es teh manis pada mahasiswinya.
Sisi yang melihat itu, sontak menghentikan makannya. Di tatapnya lekat kejadian itu, hatinya terasa sakit melihat suaminya begitu perhatian pada wanita lain. Tak terasa air mata yang sudah memupuk di maniknya, perlahan-lahan mulai menetes.
Tak ingin di lihat oleh yang lain, Sisi berlari menjauh dari tempat itu. Ilham yang tak mengerti dengan istrinya, pun ikut mengejar Sisi.
"Sayang!!!! Tunggu!!?!" teriaknya, pun ikut berlari.
Sementara para mahasiswi itu merasa tak enak hati, karena ulah mereka pasangan suami itu menjadi salah paham.
"Kamu, sih!" salak wanita berambut kriwil menyenggol lengan rekannya yang duduk di sebelahnya.
"Kan, aku gak minta! Mr Ilham sendiri yang mau ngasih gelasnya ke aku," bela wanita yang mempunyai lesung di pipinya.
"Kayaknya Sisi marah deh, dengan Mr Ilham!" timpal rekannya satunya lagi.
Meninggalkan mereka bertiga, Sisi terus berlari. Dan langkahnya berhenti di toilet wanita. Dia masuk ke salah satunya, dengan Isak tangisnya, Sisi meremas-remas ujung jilbabnya.
"Dasar ganjen, ada istrinya masih aja perhatian dengan cewek lain," racaunya dengan air mata yang terus mengalir.
"Gimana kalau aku gak ada? Dasar semua pria sama saja!" lanjutnya, mulai menyeka air matanya.
Sementara Ilham yang kehilangan jejak istrinya, kebingungan harus mencari kemana. Dia berjalan dari koridor kampus, ke koridor lainnya. Namun jejak Sisi pun tidak tampak. Dengan wajah panik, takut, dia terus mencari.
Hingga beberapa mahasiswa yang berpapasan dengannya, ditanyai oleh Ilham.
"Em..lihat Sisi gak?" tanya Ilham penuh harap pada mahasiswa yang baru saja lewat di depannya.
"Nggak Mr!" jawab mahasiswa itu, Ilham pun mulai frustasi. Hingga tak kepikiran untuk menelponnya.
"Coba, di telpon saja, Mr!" saran mahasiswa itu.
Tidak menunggu lama, Ilham langsung mengambil ponselnya di saku celananya. Dan bergegas menghubungi nomor istrinya. Nada panggilannya nyambung, namun tak mendapat jawaban.
"Angkat dong, sayang!" racaunya dengan suara parau.
__ADS_1
Dia mencobanya lagi dan lagi. Hingga dia sudah menyerah, dan kembali mencarinya. Hingga, dia bertemu dengan seorang mahasiswa yang baru saja keluar dari arah toilet.
"Ehmmm, lihat Sisi nggak?" Ilham pun menanyai wanita itu.
"Sisi ada di toilet, Mr!" jawab wanita itu jujur.
"Makasih, ya!" ujar Ilham langsung meninggalkan wanita itu untuk menuju ke toilet wanita.
Namun langkahnya terhenti, saat dari kejauhan Sisi yang sudah keluar dari toilet dengan wajah dan mata yang memerah. Ilham langsung mendekatinya. "Kamu kenapa, sayang!" tanyanya dengan wajah khawatir.
"Kenapa tiba-tiba pergi!!!" lanjutnya menatap lekat wajah istrinya. "Kamu nangis, sayang?" Kini maniknya memperhatikan iris milik Sisi yang terlihat memerah.
Tak cepat mendapat Jawaban dari istrinya, dua bertanya lagi. "Apa aku melakukan kesalahan padamu, atau ada sikapku yang menyakitimu?" Sisi masih diam.
"Sayang, maafkan jika aku bersalah padamu. Tapi, aku mohon! Jangan diamkan aku begini!" Ilham sudah terlihat frustasi, karena istrinya masih tak mau bicara.
"Kamu boleh hukum apa saja, diriku. Tapi, kamu jawab pertanyaan ku, sayang!" Dengan wajah memelas, Ilham mengusap sisa-sisa air mata Sisi.
Melihat perhatian suaminya, wanita itu pun luluh. Dengan suara berat, wanita itu berkata, "jangan keganjenan dengan cewek lain!" Seketika Ilham melongo, dia menerka maksud dari perkataan istrinya itu.
"Tadi apa, Kak. Pake kasih perhatian ke Jesyi. Ambilin dia minuman segala," sungut Sisi cemberut.
Mendengar ucapan istrinya, kini Ilham paham. Berarti sikapnya terhadap mahasiswi tadi, membuat istrinya tidak nyaman. Dengan menyunggingkan senyumnya, Ilham menggenggam erat tangan istrinya.
"Sayang, maafin suamimu ini ya. Tapi, aku gak bermaksud untuk cari perhatian pada Jessie. Aku berniat untuk membantu, gak lebih! Tapi, jika itu membuat dirimu tidak nyaman, aku janji! Gak akan ngilangin lagi perbuatan itu." Sisi menatap lekat wajah suaminya, dia bisa menangkap kejujuran dari manik mata suaminya. Dia pun ikut tersenyum.
"Iya, maafin Sisi juga ya, Kak. Jika terlalu posesif. Sisi hanya takut, sikap Kakak disalah artikan oleh orang lain!" Mereka saling melempar senyum, hingga akhirnya, Ilham menempelkan kepala istrinya di bidang dadanya.
Mahasiswa dan mahasiswi yang melihat adegan itu, ikut tersenyum geli melihat keromantisan pasangan suami istri itu.
Tepat pukul 14.00 waktu Singapura. Ilham dan Sisi keluar dari gedung kampus itu secara bersamaan. Terik matahari siang itu menyengat kulit, hingga membuat Ilham sedikit ragu untuk membawa istrinya pulang dengan menggunakan motornya. Namun, Sisi selalu bilang 'dia tak apa'. Hingga Ilham dengan terpaksa menuruti keinginan istrinya.
"Kamu beneran gak takut kepanasan, sayang! Ini panas banget, loh!" ujarnya sambil melirik keatas.
"Nggak, apa kok Kak. Sisi dah biasa, Ayuk ah. Kita jalan sekarang!"
__ADS_1
Ilham menyaksikan helm untuk istrinya terlebih dahulu, baru setelah itu dia menggunakan helmnya sendiri. Udah siap dengan helm mereka, motor yang di kendarai Ilham mulai bergerak meninggalkan wilayah kampus itu. Seperti saat berangkat tadi, tangan Sisi tak henti-hentinya mengalung di pinggang suaminya. Dengan pipi yang di tempelkan di bahu Ilham.
Nyaman, sangat nyaman. Mungkin itu yang di rasakan oleh wanita yang memakai setelan gamis dan hijab berwarna abu-abu itu. Hingga akhirnya mereka sampai di rumah dengan selamat.
"Alhamdulillah!" seru Ilham saat motornya sudah berhenti.
Tak ada pergerakan dari istrinya, hingga memaksa Ilham menoleh ke belakang. Dan ternyata pemilik tubuh berkulit bersih itu tertidur pulas, dengan wajah yang bersender di punggung suaminya.
"Sayang! Kita udah sampai Lo!" panggilnya dengan nada lirih. Jujur Ilham tidak tega membangunkan istrinya yang rider terlelap di bahunya. "Sayang!!!" ulangnya, menepuk pelan pipi Sisi.
"Hmmm, di mana aku?" Perlahan di bukanya mata wanita itu, setelah melihat sekelilingnya dia melonjak kaget.
"Kita udah sampai, ya Kak!" Ilham pun tersenyum mengangguk. Sebagai jawaban atas pertanyaan istrinya.
"Turun yuk!"
*********"*******
Malam harinya,
Saat mereka sedang makan malam bersama. Tiba-tiba, Sisi tidak selera untuk makan. Sehingga makanan yang sudah tersedia di piringnya hanya di lihatnya dan tak berniat untuk memakannya. Itu membuat suaminya mengerinyitkan keningnya, karena bertolak belakang dengan saat makan siang tadi di kantin, kampus.
"Kamu gak suka dengan makanannya, sayang?" Pertanyaan dari Ilham sontak membuat wanita itu beralih menatap Ilham, dan Syifa secara bergantian.
"Rasanya malas untuk makan, padahal perut rasanya lapar!" jawab Sisi mengaduk-aduk makanannya.
"Atau Kakak ingin makan yang lain? Nanti biar Bi Rumi yang masakin!" tawar Syifa memberi solusi.
"Nggak usah, Dek. Ini udah cukup kok!" Sisi mulai menyendokkan makanan itu kedalam mulutnya. Belum juga sampai di ujung tenggorokannya, Sisi sudah memuntahkan kembali makanan itu.
Bergegas ia ke dapur untuk memuntahkan makanan yang ia simpan di mulutnya.
Hoek...hoek....
To be continued
__ADS_1