Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Teka-teki


__ADS_3

Hanif pulang dengan wajah sedikit sumringah, wajah sendunya yang kelihatan tadi pagi, saat dia berangkat kerja. Kini, perlahan tertutup dengan senyum mengembang, kala mengingat pertemuannya dengan Alira di rumah sakit tadi.


"Assalamualaikum, Bun!"


"Waalaikumussalam, wah anak bunda sekarang dah kelihatan Segeran!" goda Bu Tari saat putranya mencium punggung tangannya.


"Bunda, apaan sih. Hanif langsung ke kamar dulu ya. Udah terlambat soalnya."


Setelah mendapat anggukan dari bundanya, Hanif bergegas ke kamarnya. Mandi, terlebih dulu dia lakukan. Setelahnya, sholat magrib yang sedikit terlambat. Saat semuanya sudah selesai ia lakukan, dia kembali turun ke bawah untuk menikmati makan malam bersama bunda, nenek tiri, dan keponakannya.


Kebetulan mereka bertiga sudah berkumpul di meja makan, Hanif langsung menuju ke kursinya.


"Bu Sarah masak apa hari ini?" tanyanya pada Bu Sarah yang sedang mengambilkan nasi di piringnya.


"Ehmmm, ada gulai kepala ikan kakap plus daun singkong rebus. Terus ada balado telur puyuh," jawab wanita yang rambutnya mulai memutih itu.


"Hmmm sepertinya enak," selorohnya mulai menyendokkan makanannya kedalam mulutnya.


Dua hari di rumah Hanif, sikap Bu Sarah dan Veronika cukup baik. Sehingga tak ada kecurigaan dari dalam diri Hanif, maupun Bu Tari. Mereka pun bersikap baik pula pada mereka berdua. Contohnya seperti malam itu, mereka terlihat akrab dan nyaman saat makan malam bersama.


Makanan yang mereka santap, sudah habis tak tersisa. Sementara Bu Sarah dan Veronika membersihkan meja makan, Hanif dan Bu Tari lebih dulu meninggalkan tempat itu. Mereka memilih duduk santai di depan TV sembari menunggu adzan isya berkumandang.


Usai beberes, dua wanita yang sedang berkutik di dapur itu menghentikan aktivitasnya sejenak. Terlihat dari mimik wajah mereka, kalau sedang kesal.


"Huuhh, kita di jadikan pembantu Ma!!!" salak Veronika berkacak pinggang.


"Udah, kamu gak usah khawatir. Mama sudah punya rencana bagus buat kasih pelajaran ke mereka!" seloroh Bu Sarah tersenyum licik.


Pagi harinya. Masih di rutinitas yang sama sarapan pagi bersama keluarga. Kini mereka sudah berada di meja makan.


"Nif, gimana hubungan mu dengan Sisi?" Veronica bertanya pada Hanif.


"Nggak usah bahas itu di sini!" jawab Hanif dengan ketus.


"Maaf, aku nggak bermaksud seperti itu." Selera makan Hanif seketika menghilang, saat mendengar nama Sisi di sebut oleh Veronika.


Hanif langsung menarik tisyu yang ada di meja itu, kemudian di lapkannya ke mulutnya, dan setelah itu dia beranjak dari tempat duduknya. "Bun, Hanif berangkat dulu! Assalamualaikum!"


Pria itu bergegas meninggalkan meja makan dengan mimik yang tak dapat di tebak. Veronika berusaha mengejarnya.

__ADS_1


"Nif, tunggu!!!!" teriaknya, masih mengejar. "Nif, aku mau nebeng sama kamu, boleh?" lanjutnya, saat dia berhasil mengejar ponakannya.


"Masuklah!" ujar Hanif mengangkat sekilas wajahnya kearah pintu mobil.


Sepeninggal Hanif dan Veronika, kini Bu tari dan Bu Sarah hanya berdua. Dengan rencana liciknya, wanita yang memakai dress selutut itu mulai melancarkan aksinya.


"Aku perhatikan Hanif sering murung, sekarang. Kenapa?" Bu Sarah membuka suara, setelah beberapa saat hening.


"Dia sudah putus dengan Sisi, dan yang paling buat dua menderita, Hanif ditinggal nikah dengan Sisi."


Bu Sarah pura-pura terkejut, "menikah? Kapan?"


"Sudah hampir satu mingguan," jawab Bu Tari.


"Kasihan Hanif, padahal sepertinya dia masih sangat mengharapkan gadis itu. Terus, kamu akan diam saja, melihat putramu menderita?" Bu Sarah pura-pura perduli dengan Hanif.


"Maksud ibu apa?" Bu Tari masih tidak mengerti arah pembicaraan ibu tirinya itu kemana.


"Kamu harus berbuat sesuatu, agar Hanif kembali bahagia." Bu Tari masih mencerna kalimat yang di lontarkan Bu Tari padanya.


"Kamu harus mengenalkan seorang wanita pada Hanif. Siapa tahu, dia bisa membuka hati dengan wanita pilihan kamu," lanjut Bu Tari dengan mimik antusias.


"Apa kamu gak kasihan melihat anakmu seperti itu?" bujuk Bu Sarah, dan sepertinya Bu Tari mulai masuk ke perangkapnya.


"Kamu coba dulu, siapa tahu mereka berjodoh!" desak Bu Sarah, semakin gencar mempengaruhi Bu Tari.


"Tapi, Tari gak ada kandidat yang tepat untuk Hanif, Bu."seulas senyum kepuasan terpancar dari wajah Bu Sarah.


"Ibu punya kenalan wanita yang cocok untuk Hanif, dia dari keluarga yang berada. Kalau soal agamanya, jangan di ragukan lagi. Pokoknya terbaik, deh! Gimana, kalau kita kenalkan Hanif dengan wanita itu," saran Bu Sarah.


Bu Tari tampak berfikir sejenak, setelah itu dia mengangguk setuju. "Gak ada salahnya kita coba, Bu. Yang terpenting kita jangan sampai memaksakan kehendak kita. Kalau Hanif tidak suka, jangan di paksa!" ujar Bu Tari.


Bu Sarah terlihat tersenyum penuh kemenangan. Karena Bu Tari sudah mulai masuk ke perangkapnya.


***************


Usai mengantarkan Veronika, Hanif langsung menuju ke tempat kerjanya. Hari ini dia lebih bersemangat di bandingkan hari-hari yang lain. Karena harapannya, bisa bertemu lagi dengan Alira.


Dan benar saja, saat dia memasuki lobi rumah sakit, di saat itu juga Alira datang datang dari arah lain. Mereka saling melempar senyum dan setelah itu.

__ADS_1


"Ra, kamu sendirian aja. Ibumu gak ikut?" Hanif membuka percakapan di antara mereka.


"Kebetulan ibu udah pulang, baru saja!" jawab Alira dengan senyum mengembang di bibirnya. "Kamu udah lama kerja disini?" Alira bertanya pada Hanif.


Mereka melangkahkan kakinya secara beriringan, kebetulan tujuan mereka sama. "Baru enam bulanan, kenapa!" jawab Hanif, kembali bertanya.


"Nggak, soalnya aku kan sering berobat di rumah sakit ini. Belum pernah bertemu denganmu, sebelumnya." Kening Hanif langsung mengkerut.


"Berobat? Kamu sakit?" Kemudian mencecarnya dengan rasa khawatir dalam diri Hanif.


"Bukan aku, tapi..." Ucapan Alira menggantung saat dokter Mark memanggilnya.


"Nyonya Alira!!!" Seketika wajahnya menoleh ke arah dokter Mark.


"Aku kesana dulu, ya!" Alira pergi meninggalkan Hanif, dia mendekati dokter Mark. Sepertinya memang ada hal yang penting yang akan di sampaikan oleh dokter Mark.


Hanif hanya menatap Sakura dari belakang, hingga wanita itu masuk ke sebuah ruangan bersama dokter Mark.


Hanif masih di buat penasaran dengan wanita yang baru saja bersamanya. Banyak sekali teka-teki yang harus dia cari tahu sendiri jawabnya.


Hanif pun melanjutkan langkahnya menuju ke ruangannya. Tak berapa lama, suster Diana datang. Wajahnya terlihat pucat pasi, seperti sedang mengalami ketakutan.


"Hanum? Hanum Anfal.." ucapnya dengan tergesa-gesa.


Hanif langsung berlari menuju ruangan Hanum, diikuti dengan Diana. Beberapa organ tubuhnya tak lagi merespon alat medis yang di pasangkan di bagian tubuh gadis itu. Wajahnya seketika berubah menjadi pucat, detak jantungnya pun tak lagi bergerak. Hingga sebuah garis lurus terlihat di monitor yang terhubung dengan tubuh gadis itu.


"Innalilahi wa innailaihi roji'un." Seketika Hanif melemas, karena dia tidak bisa menyelamatkan pasiennya, tepatnya adik dari Alira.


Teriakan histeris tiba-tiba terdengar saat pintu ruangan itu terbuka. "Hanum!!!!"


To be continued


Disinilah.. teka-teki hidup Alira di mulai...


Mungkinkah dia berjodoh dengan Hanif?


Hanya Tuhanlah yang tahu...ehh salah...salah...hanya author yang tahu...


Dan itu artinya, novel ini akan segera tamat

__ADS_1


__ADS_2