
Dino mengejar Felisa, dia yakin apa yang ia katakan itu adalah benar adanya. Kedekatan nya dengan Felisa, akhir-akhir ini memang membuat perasaan menjadi aneh. Ditambah penampilan Felisa yang sekarang, Dini semakin yakin kalau dia benar-benar sudah jatuh cinta pada sahabat Yulia, orang yang pernah ada dalam hati Dino.
"Shaa... percaya dengan ucapan ku Sha..."Dino menghalangi langkah Felisa.
"Ok, kalau kamu perlu bukti, aku bakal tunjukkin ke kamu..."Dino berlari ke tengah jalan, Untuk menunjukkan bukti cintanya pada Felisa. Felisa mengejar Dino, dia khawatir dengan aksi nekat Dino, yang berdiri di tengah jalanan..
"Sha...Aku cinta kamu....." Dino merentangkan tangannya, seakan pasrah jika mobil didepan nya menabrak dia. Felisa menarik tangan Dino, hingga dia kehilangan keseimbangan. Mereka terjatuh di bahu jalan, dengan posisi Dino di atas tubuh Felisa. Mata mereka terkunci, terlihat jelas diantara keduanya. Mereka memang benar-benar saling mencintai.
"Woy mas... kalau mau mati jangan disini.."Teriak salah satupengendara mobil yang melihat aksi Dino tadi.
Teriakan orang tersebut menyadarkan mereka, Dino kemudian berdiri. Dia membantu Felisa untuk berdiri, namun Felisa menolak nya.
"Saya bisa sendiri mas.."Tolak Felisa, yang mencoba untuk berdiri sendiri.
"Kenapa kamu tarik aku tadi,, harusnya kamu biarin aku mati.. biar kamu tahu, kalau aku gak main-main dengan ucapan ku.." Dini berusaha merayu Felisa lagi.
"Sudah lah mas"
"Sha.. kenapa kamu belum percaya juga, kalau aku beneran cinta sama kamu..." Dino mengejar Felisa yang berjalan pergi meninggalkan Dino.
__ADS_1
"Sha...Sha..."Panggil Dino, Felisa terus berjalan tanpa menoleh ke belakang.
"Sha ...Aku...cinta...kamu..." Teriak Dino, membuat orang disekitar mereka melihat ke arah Dino dan Felisa. Felisa menoleh ke belakang, setelah mendengarkan teriakan Dino. Tanpa membuang waktu lagi, Dino menghampiri Felisa..
"Sekarang kamu percaya kan sama aku.."Dino menatap mata Felisa.
"Iya mas, aku percaya sama kamu.."
"Jadi,,itu artinya kamu mau menerima aku Sha.."
"Iya mas,," Jawab Felisa mengangguk.
"Terimakasih Sha...Aku janji, aku tidak akan membiarkan nasibmu sama seperti Yulia. Aku janji hanya kamu yang aku cintai, aku janji..." Dino tersenyum bahagia.
Faisal dan Yulia kini sudah akur lagi, Faisal berhasil menyakinkan Yulia, kalau foto yang terbakar itu, hanya foto usang yang sudah tidak jelas gambarnya. Semenjak kejadian malam itu, Faisal lebih memberi perhatian lagi ke Yulia. Faisal juga sering memberi kejutan-kejutan kecil, untuk menyenangkan hati istrinya.
Empat bulan sudah berlalu, perut Yulia pun sudah semakin besar, usia kandungan nya sudah memasuki bulan ke delapan. Yulia masih sering ke butik nya, hanya sekedar menemani Felisa membimbing karyawan nya. Yulia juga masih bisa sedikit-sedikit mendisain gambar, untuk dijadikan produk di butiknya. Hasil karyanya memang sangat baik, terbukti para pelanggan puas dengan busana yang didisain oleh Yulia. Jumlah pelanggan pun mulai bertambah, apalagi Yulia dan Felisa mempromosikan baju-bajunya lewat media sosial mereka. Jadi bukan hanya yang tinggal di kota mereka saja yang bisa menikmati hasil karya mereka, diluar kota pun bisa menikmatinya.
Siang itu Yulia sedang istirahat di sofa ruang kerjanya, dia kelihatan lelah sekali. Faisal selalu mengecek keadaan istrinya melalui telepon, setiap satu jam sekali Faisal menghubungi Yulia untuk menanyakan keadaannya. Sepertinya pengalaman pahit yang pernah ia lalui, menjadi pelajaran untuk Faisal lebih peduli lagi terhadap Yulia. Yulia keluar ruangan nya untuk membeli makanan di cafe samping butiknya, saat ia sedang berjalan menuju ke pintu utama butik itu, Yulia mengenali pelanggan yang sedang memilih-milih baju yang akan dibeli. Yulia menghampiri pelanggan itu..
__ADS_1
"Mbak Weli..."
"Yul..kamu disini .."
"Iya mbak, ini butik aku dan Felisa.."
"Wah,, jadi wanita karir rupanya.."
Weli memperhatikan Yulia, dia tertegun saat melihat ke arah perut Yulia yang sudah membuncit. Dia iri terhadap Yulia, padahal Weli yang lebih dulu melahirkan, dan kehilangan bayinya. Tapi Yulia lah yang lebih dulu hamil, dibandingkan dia.
"Kamu sudah hamil lagi.."
"Iya mbak sudah hampir lahiran..."
"Wah, selamat ya Yul,, semoga aku cepat menyusul kamu..." Weli berharap, dia akan segera menyusul Yulia. Weli sangat menantikan kehamilan keduanya, namun Allah belum mempercayai nya. Weli memang belum tahu, kalau dokter memvonis dia, akan susah memiliki keturunan. Rio memang tidak memberi tahunya, dengan alasan, ia tak mau melihat Weli bersedih. Karena Rio yakin, suatu saat nanti, dia akan memiliki anak dari rahim Weli.
Weli dan Yulia, memang sudah lama tidak bertemu. Terakhir ketemu, saat Yulia keserempet motor bersama Felisa. Weli memang sudah berjanji, untuk tidak menemui Faisal lagi. Dia menghargai perasaan Rio. Weli pun sedang belajar mencintai Rio. Mereka berdua sekarang terlihat semakin mesra, mereka memiliki nama kesayangan masing-masing. Perlahan tapi pasti, Rio sedikit demi sedikit sudah mulai bisa masuk ke dalam hati Weli.
To be continued...
__ADS_1
Like, komen, dan vote nya jangan lupa ya..
Salam hangat dari author 😍😍😍