
"Bilqis!" seru Sisi mendekati wanita yang sedang duduk dihadapan Hanif.
Bilqis yang melihat Sisi begitu terkejut. Dia tidak menyangka kalau Sisi ada di sana juga. Bilqis menatap bingung wanita yang berdiri disampingnya.
"Kak Sisi, kenapa ada disini?" tanyanya dengan sedikit gugup.
"Kalian saling kenal?" timpal Hanif menunjuk Bilqis setelah itu beralih menunjuk Sisi.
"Bilqis ini adalah anak dari dokter Dino. Dokter yang bekerja di sini juga," terang Sisi memperkenalkan Bilqis pada Hanif.
"Bilqis, katakan padaku sekarang. Untuk apa kamu datang kesini? Apa yang terjadi dengan mu?" cecar Sisi yang terlihat sedikit panik.
Bagaimana tidak panik, biasanya orang yang datang menemui Hanif adalah orang yang memiliki keluhan penyakit yang menjurus pada penyakit mematikan itu.
"Bilqis tidak apa kok, Kak! Cuma akhir-akhir ini sering sedikit pusing," kilah Bilqis yang menutupi tujuannya datang kesitu.
Sisi tak lantas mempercayai ucapan Bilqis. Dia tahu betul Bilqis itu seperti apa. Dia tidak akan bisa berkata tidak jujur padanya.
"Kamu jangan bohong, Qis. Katakan pada Kakak, apa yang sebenarnya terjadi sama kamu!" Sisi menatap Bilqis dengan tatapan menyelidik.
"Ya sudah kalau kalian saling kenal, lebih baik kamu konsultasi aja sama dia tentang keluhan kamu tadi," ujar Hanif pada Bilqis kemudian dia beranjak meninggalkan mereka berdua.
Bilqis yang sudah tertangkap basah dengan Sisi akhirnya menceritakan keluhannya pada kakak serta sahabatnya itu. Dia tidak mungkin bisa berbohong lagi. Sisi sedikit khawatir dengan keadaan Bilqis setelah dia mendengar apa yang di keluhkan sahabatnya itu. Semua keluhan itu tertuju pada penyakit yang sangat berbahaya. Sisi hanya menyarankan pada Bilqis untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Bukan cuma itu, dia juga memberikan dukungan yang penuh pada sahabatnya itu.
Usai melakukan konsultasi dengan Sisi, Bilqis kemudian pamit pada Sisi. Dia kemudian keluar dari ruangan. Saat dia melintas ke ruangan UGD, Dino, ayahnya juga kebetulan baru saja keluar dari ruangan itu. Dino begitu terkejut melihat kehadiran Bilqis di sana.
"Sayang, kamu kesini?" Dino kemudian menghampiri putri semata wayangnya itu.
"A-yah!!" Bilqis pun tak kalah kagetnya saat Dino menyapanya.
"Kamu kenapa sayang, kok pucat begini." Dino memperhatikan gelagat putrinya itu.
"Nggak Yah, tadi Sisi kesini mau...mau nyari kak Sisi.. i-ya nyari kak Sisi."
__ADS_1
Di tempat yang sama tampak Hanif yang sedang berjalan menuju keruangannya. Dia melihat percakapan ayah dan anak itu. Dino yang menyadari Hanif sedang melintas, membuat Dino memanggil dokter tampan berperawakan tinggi itu.
"Dokter Hanif!" seru Dino, membuat yang punya nama menghentikan langkahnya.
"I-ya Dok, ada yang bisa saya bantu," ujar Hanif tersenyum ramah pada Dino.
Sisi yang melihat ayahnya memanggil Hanif menjadi sangat gugup. Dia takut kalau Hanif akan mengatakan pada ayahnya perihal kedatangannya disana.
"Yah, Ayah ikut Sisi dulu ya...?" Sisi langsung menarik ayahnya untuk ikut bersamanya. Dia ingin menjauhkan Dino dari Hanif.
"Mau kemana sayang?" Dino hanya menuruti kemana putrinya akan membawa dia pergi. Bilqis adalah putri satu-satunya yang dimiliki Dino dan Felisa. Sampai sekarang mereka belum mempunyai anak lagi. Tidak tahu kenapa? Padahal semuanya tidak ada masalah. Felisa dan Dino sama-sama sehat. Tapi sepertinya tuhan belum mempercayakan lagi pada mereka untuk mempunyai momongan.
Bilqis mengajak papanya ke coffe shop yang ada di rumah sakit itu. Bilqis sengaja mengalihkan ayahnya agar tidak ngobrol dengan Hanif.
Ditempat lain.
Seorang wanita sedang duduk termenung di tempat kerjanya sembari memainkan pulpen ditangannya. Wanita itu adalah Sisi, dia masih memikirkan Bilqis. Sisi masih tidak percaya dengan apa yang menimpa Bilqis. Meskipun belum tentu benar kalau Bilqis menderita penyakit yang berbahaya. Tapi semua yang dikeluhkan Bilqis mengarah ke sana.
Melihat Sisi melamun, timbul keisengan Hanif untuk mengerjai wanita itu. Dia yang baru saja masuk kedalam, menyelinapkan kelambu pembatas ruangan mereka. Jadi dia bisa melihat dengan jelas wajah Sisi yang sedang melamun. Dilemparnya sebuah buku tebal di meja Sisi, sehingga membuat Sisi terkejut.
"Eh-eh jangan dilempar. Awas aja kalau sampai kamu lempar ke-saya," ancam Hanif sembari melindungi dirinya dengan kedua tangannya.
"Lagian jadi orang rese amat, sih!" Sisi mengurungkan niatnya untuk melemparkan buku itu kearah Hanif dan meletakkan buku itu dimejanya.
"Lagian kerja kok ngelamun terus," ujar Hanif tersenyum jahil.
"Lagian kan! gak ada pasien juga, sah-sah aja kan ngelamun. Gak ada yang ngelarang juga," omel Sisi.
"Perawan tuh gak boleh banyak ngelamun. Nanti jodohnya diambil orang!" celetuk Hanif membuat Sisi tercengang.
"Kenapa? Palingan juga jomblo. Mana ada yang mau Ama cewek kayak kamu!" Hanif semakin menjadi menggoda Sisi.
"Emang situ udah punya pasangan?"
__ADS_1
"Kalau saya mah beda. Jomblo berkualitas. Tidak seperti ka..."
Sebelum melanjutkan kata-katanya, Sisi sudah lebih dulu pergi dari situ.
"Hahahaha, dasar cewek aneh!" gumam Hanif seraya tersenyum geli.
Sisi lebih memilih untuk meninggalkan ruangan itu. Dibandingkan harus mendengar ocehan Hanif yang menurutnya tidak jelas. Dia menuju cafe shop untuk membeli minuman segar untuk menghilangkan hausnya karena berdebat dengan pria menyebalkan itu.
Saat Sisi akan masuk ke cafe, dia melihat ada seseorang yang tak asing baginya sedang mengintip di balik pintu. Sisi kemudian menghampiri orang itu.
"Iqbal!!!" terkanya, membuat yang punya nama menoleh kearahnya.
"Sisi."
"Ngapain kesini?" Pandangan Sisi teralih dengan Bilqis dan ayahnya yang ada di dalam coffe shop itu. Sisi bisa menebak apa yang di lakukan Iqbal disana.
"Jangan bilang kamu ada disini, lagi ngintilin Bilqis. Hahaha." Iqbal dengan cepat menutup mulut Sisi dengan salah satu tangannya.
"Kamu bisa gak sih, nggak kencang-kencang ngomongnya." Setelah Sisi diam, dilepaskannya tangannya dari mulut Sisi.
"Ayo ikut aku!" ajak Iqbal menarik tangan Sisi untuk mengikuti kemana dia pergi.
Mereka berhenti di salah satu koridor rumah sakit yang tak jauh dari coffe shop tadi.
"Ngapain ngajak aku kesini?" Sisi melepaskan tangannya dari tangan Iqbal.
"Lagian kamu sih, jadi cowok gak gantle banget!" lanjutnya.
"Apa yang terjadi dengan dia?" Pertanyaan Iqbal membuat Sisi tercengang.
"Kamu tahu kalau Bilqis konsultasi ke dokter spesialis penyakit kanker?" tanya Sisi pada Iqbal, dan ditanggapi anggukan oleh Iqbal.
"Sejak kapan kamu tahu, kalau ada yang gak beres dengan Bilqis?" tanya Sisi lagi.
__ADS_1
"Sudah sejak dua bulan yang lalu. Aku sering melihat Bilqis mimisan. Dia juga sering pingsan di kampus." Iqbal menceritakan kejadian yang dialami Bilqis belakangan ini pada Sisi. Sisi hanya diam mematung. Dia bermain dengan pikirannya.
To be continued....