Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Aku takut kehilanganmu


__ADS_3

Disebuah kamar yang identik dengan warna pink, terdapat seorang gadis sedang menyisir rambutnya yang mulai sedikit rontok. Gadis itu melihat dirinya di cermin. Wajahnya memang terlihat pucat. Terlihat dari kantong matanya pun mulai menghitam seperti mata panda. Beberapa hari ini, keadaannya tidak baik. Selama satu minggu setelah pesta pertunangannya bersama Iqbal, Bilqis sudah tak sadarkan diri selama tiga kali. Dan itu pun secara tiba-tiba.


"Apa aku akan mati?" gumamnya terus memperhatikan dirinya yang terlihat mengerikan di matanya.


"Maafkan aku Iqbal, jika aku tidak bisa bersamamu sampai kita menua. Aku akan lebih dulu, meninggalkan kamu. Bukan karena aku tidak mencintaimu, tapi karena garisan takdir yang akan memisahkan kita," lirihnya, menyapu rambutnya disela-sela sisir ia pegang.


Lama wanita itu berdiri mematung di depan cermin. Hingga suara ketukan pintu membuat dirinya terkejut dan menjatuhkan sebuah bingkai foto yang ada di meja riasnya. Foto itu terjatuh di lantai, pecah hingga kacanya berserakan.


"Sayang, kamu nggak apa?" tanya wanita yang memakai gamis harian menghampiri putrinya yang berdiri di dekat pecahan kaca bingkai.


"Bilqis gak apa, Bun. Foto itu?" Bilqis mendekat ke arah bingkai foto itu.


"Jangan sayang, biar Bunda aja!" cergah Felisa melarang putrinya untuk mengambil foto itu. Foto itu adalah foto pertunangan Bilqis dan Iqbal.


Dengan hati-hati Felisa mengumpulkan pecahan kaca yang berserakan itu dengan sapu yang ada di kamar itu. Setelah terkumpul, dia mengambil sisa bingkai foto itu. Dan yang tersisa rangkaian bingka dan foto itu sendiri. Tapi sebagian fotonya rusak.


"Bunda, itu foto Bilqis dan Iqbal! Bun, kenapa tiba-tiba perasaan Bilqis gak enak begini?" Bilqis mengambil foto itu dari tangan bundanya, setelah itu mendekapnya di dadanya.


Melihat putrinya sedih, membuat Felisa mendekat kearah putrinya, dan mencoba menenangkan Bilqis.


"Kamu tenang, sayang! Gak akan terjadi apa-apa dengan kalian!" ucap Felisa mengelus punggung putrinya.


"Tapi perasaan Bilqis gak enak, Bun!" seru Bilqis mulai terisak.


"Sayang... Kamu gak boleh nangis... Kenapa kamu nangis, sayang?" Felisa mulai panik, saat putrinya menangis. Dia takut Bilqis akan pingsan lagi.


"Bilqis takut...takut kehilangan Iqbal!" ungkap Bilqis menghapus air matanya yang mulai merembes di pipinya.


"Kita telpon Iqbal ya, sayang! Biar kamu bisa pastikan kalau dia baik-baik saja!" Felisa mengambil ponsel Bilqis yang berada di atas meja. Setelah nada tersambung, Felisa memberikan ponsel itu pada Bilqis. Tak berapa lama, Iqbal mengalihkan telponnya ke video call. Sehingga dia bisa melihat keadaan tunangannya.

__ADS_1


"Sayang, kenapa kamu menangis?" tanya Iqbal terlihat cemas melihat Bilqis bersedih.


"Aku takut kehilanganmu," jawab Bilqis membuat Iqbal tersipu. Itu pertama kalinya, Bilqis mengatakan hal itu. Takut kehilangannya, itu lucu menurutnya. Apa wanita itu sedang meragukan cintanya. Hingga punya pikiran semacam itu.


"Hmmm, sayang. Aku gak akan kemana-mana. Aku tidak akan pernah pergi darimu. Apa kamu gak percaya?" Iqbal mulai menggoda Bilqis dengan kata-kata romantis nya.


"Kalau nggak percaya, boleh belah dadaku. Lihat di dalamnya, pasti cuma ada namamu yang tersemat di dalamnya." Bilqis pun melebarkan bibirnya, dan sedikit menampakkan giginya.


"Nah, gitu dong! Senyum. Kan tambah adem liatnya," lanjut Iqbal masih menggoda Bilqis.


"Sayang, makasih. Ya! Untuk semuanya," balas Bilqis yang mulai merasa tenang.


"Hmm iya sayang. Udah ya jangan mikir yang aneh-aneh. Kamu segalanya bagiku. Oh iya, sayang. Aku nanti gak bisa ke rumah. Aku ada kerjaan dikit. Kamu gak marah, kan?" ungkap Iqbal sembari meminta izin.


"Nggak, sayang. Ya udah, ya. Aku tutup telponnya dulu. Kamu hati-hati, ya. Assalamualaikum." Setelah dijawab salamnya oleh Iqbal, Bilqis menutup telponnya dan meletakkan kembali ponselnya di atas meja.


Setelah selesai membereskan bekas pecahan kaca itu. Felisa menghampiri putrinya yang sudah duduk di ranjang. Meskipun sudah mengetahui kalau Iqbal baik-baik saja. Tak lantas membuat putrinya ceria lagi. Dia masih terlihat murung.


"Bun, gimana kalau umur Bilqis gak akan lama, lagi?" Mendengar ucapan putrinya membuat Felisa sedih. Pertanyaan itu pun seleksi terlintas di pikirannya. Dia pun sama, takut jika putrinya akan pergi dengan cepat. Tapi sebagai seorang ibu, dia harus bisa membuat Bilqis. Yakin kalau Bilqis bisa sembuh. Dan hidup normal lagi, seperti teman-temannya.


"Sayang, kamu nggak boleh ngomong gitu. Kamu sembuh, pasti sembuh!" Tanpa terasa bulir bening, jatuh di pipinya. Dadanya menjadi sesak. Tak bisa di pungkiri. Ketakutan itu ada. Mereka berdua saling berpelukan. Saling menguatkan.


Di tempat lain.


Hanif yang disibukkan dengan aktivitasnya di rumah sakit, sesekali dia memikirkan keadaan kekasihnya. Sejak semalam, wanita itu tidak memberi kabar. Sekedar mengirim pesan saja, tidak. Itu yang membuat pria itu konsentratnya terpecah.


Saat jam makan siang, Hanif menyempatkan diri untuk menelpon Sisi. Perasaannya dari semalam tidak enak. Rasa cemas meliputi dirinya. Beberapa kali menghubungi Sisi, tapi tidak ada jawaban dari wanita itu.


"Kemana, kamu sayang. Kok gak angkat telpon dariku," gumamnya.

__ADS_1


Hanif kemudian menuju ke mushola untuk sholat Dzuhur terlebih dulu. Mungkin dengan sholat, bisa sedikit menghilangkan kecemasannya.


Usai sholat, Hanif kembali menghubungi nomor Sisi. Tapi masih belum ada jawaban. Akhirnya, dia memilih untuk makan siang terlebih dulu. Dia berjalan menuju ke cafe untuk mengisi perutnya yang sudah mulai lapar.


Semangkok rawon dengan segelas teh hangat mampu membuat laki-laki berkacamata itu sejenak melupakan kegundahannya. Mungkin karena efek lapar, sehingga membuat Hanif lahap menyantap makanannya.


"Dokter Hanif, boleh saya duduk di sini?" sapa Veronika menunjuk bangku kosong di seberang Hanif.


Hanif sekilas melihat ke arah wajah wanita yang sedang berbicara padanya. Setelah tahu siapa orangnya. Hanif menatap maka, wanita itu.


"Silahkan, tidak ada yang melarangnya!" cetus Hanif tak mau menatap wajah Veronika. Wanita itu langsung duduk di seberang Hanif.


Sambil mencuri-curi pandang pria di depannya, Veronika mulai menyantap makanannya. Sementara Hanif, dia menghabiskan makanannya dengan cepat. Tak ingin berlama-lama berada di dekat Veronika.


"Saya sudah selesai, saya duluan!" seru Hanif mengangkat tubuhnya dari kursor yang ia duduki.


"Tunggu, Dok!" cergah Veronika.


"Apalagi, saya sudah tidak ada urusan dengan anda." Hanif mulai melangkahkan kakinya, tapi di tahan oleh Veronika.


"Saya lihat, dokter Sisi akrab dengan tunangan sahabatnya." Ucapan Veronika mengurungkan niatnya untuk pergi dari tempat itu.


"Itu bukan urusan kamu!"


"Jangan mengusik urusan pribadi saya!" Hanif pergi meninggalkan Veronika dengan kekesalan. Kesal karena ucapan Veronika, kesal karena Sisi tidak menjawab teleponnya.


To be continued...


Puncak konflik akan segera di mulai...

__ADS_1


Siap-siap dengan kejutan author di part selanjutnya 😁


__ADS_2