Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Selangkah lagi


__ADS_3

"Kamu kenapa, kok tinggalin aku?" Sisi mendekati Hanif, sembari menahan sakit di kakinya.


"Kamu kenapa, sih sayang! Aku salah apa. Apa cuma karena aku di bantu Iqbal, kamu sampai marah begini?" Sisi terus bertanya pada Hanif, karena lelaki itu hanya diam.


"Dia cuma sahabatku, gak lebih, sayang!" lanjutnya lagi. Tapi Hanif masih tak bersuara. Hingga akhirnya Sisi lelah, dan memilih menjauh dari lelaki itu dengan cara berjalan menuju ke meja kerjanya.


Tapi belum sempat dia melangkahkan kakinya, Hanif lebih dulu menahannya dengan mengatakan.


"Aku tidak bisa melihat laki-laki lain mendekatimu." Seketika tubuh Sisi mematung. Dia baru sadar, kalau tunangannya itu sedang cemburu.


Sisi berbalik arah, dan menghadap ke wajah Hanif. Di tatapnya wajah Hanif yang sedang melankolis, menahan kecemburuannya.


"Sayang, dia hanya menolongku. Gak lebih. Masa gitu aja, kamu cemburu. Sayang, dia milik adik ku, gak mungkin aku akan merebutnya dari adikku. Lagian, bagi aku. Gak ada laki-laki yang menarik di mataku, selain kamu." Sisi mengeluarkan gombalnya, hingga membuat laki-laki di depannya menahan senyum nya.


"Cie... Mau senyum aja, pake ditahan!!" goda Sisi, Hanif pun semakin tersipu.


"Aku gak akan sanggup, jika kamu dekat dengan laki-laki lain." Hanif terbawa suasana, sehingga dia maju selangkah untuk memeluk wanita di depannya itu.


"Ets...stop...halalin dulu, adek bang!" Hanif pun mengurungkan niatnya untuk memeluk Sisi. Sebagai pelampiasannya dia menoel hidungnya sendiri seraya menahan malunya.


"Kit pulang aja, yuk. Udah gak ada pasien, kan. Aku pengen ajak kamu, fitting baju pengantin." Hanif melihat jam yang melingkar ditangannya. Saat mengetahui baru jam 14.00 WIB, dia menaikkan alisnya sebelah.


"Baru jam dua siang. Aku pikir udah sore," ujarnya lagi.


"Kita makan siang aja dulu, yuk! Aku laper, tadi belum sempat makan!" ajak Sisi. Hanif pun menyetujuinya.


Mereka akhirnya makan siang bersama di cafe rumah sakit. Mereka memilih duduk di pojokan cafe sembari melihat ke arah luar. Tak lama setelah itu, pegawai cafe menawarkan apa yang akan di pesan mereka.


"Aku mau bakso sama es teh aja! Kalau kamu apa, sayang?"


"Samain aja!"


Setelah mencatat pesanan mereka, pelayan itu pergi meninggalkan mereka berdua untuk menyiapkan pesanan mereka.

__ADS_1


Di tempat yang sama, Dino dan Faisal berjalan kearah masuk cafe itu. Sepertinya mereka berdua juga baru sempat makan siang. Karena sibuk dengan pekerjaannya. Melihat anak, dan calon menantunya ada di sana. Mereka berdua ikut gabung dengan pasangan kekasih itu.


"Sayang, kalian baru mau makan juga?" tanya Faisal mendaratkan tubuhnya di samping putrinya. Sementara Dino, duduk di samping Hanif.


"Iya, yah."


"Dokter Hanif, apa kabar?" sapa Faisal melihat kearah Hanif.


"Alhamdulillah baik, Dok!" Jawab Hanif singkat.


"Om, Bilqis gimana?" Sekarang Sisi yang berdaya pada Dino.


"Alhamdulillah sudah lebih baik."


Tak berapa lama pesanan Sisi dan Hanif datang. Melihat semangkok bakso yang ada dihadapan putrinya, membuat Faisal menekan Slavinanya. Dia jadi ingin juga makan baksonya.


"Aku juga pesen baksonya, ya Mbak!" Pinta Faisal pada pelayan cafe.


"Kamu, gak sekalian Din?" Kini Faisal beralih bertanya ke sahabatnya.


Pelayan itu kembali membuatkan pesanan Faisal dan Dino. Sisi begitu menikmati baksonya, sampai-sampai keringat mulai bermunculan di wajahnya. Sama halnya dengan kekasihnya. Hanif pun begitu menikmati makan siangnya kali ini.


"Terus kapan kalian akan meresmikan hubungan kalian berdua. Om dengar kalian udah tunangan." Pertanyaan Dino tertuju pada dua insan yang sedang menikmati semangkok baksonya.


Pertanyaan Dino, membuat Sisi menghentikan makannya. Dia mengambil tissue yang ada di atas meja dan mengelapkan di wajahnya.


"Besok baru akan aku rundingkan dengan kakek dan neneknya Sisi, Din. Oh iya, Bilqis kapan nyusul mereka?" jawab Faisal, kemudian bertanya pada Dino. Pesanan mereka berdua datang. Dua mangkok bakso dan dua gelas es teh manis.


"Semalam Iqbal dan orang tuanya juga datang kerumah. Rencananya, Minggu depan aku akan resmikan pertunangan mereka. Untuk menikah, Bilqis belum siap. Dia ingin fokus dulu dengan pengobatannya. Dan Alhamdulillah, Iqbal pun tidak keberatan." Dino mulai menambahkan kecap dan saus ke mangkok baksonya.


"Syukurlah kalau begitu. Aku ikut seneng, Din. Putri kita bisa dicintai laki-laki hebat seperti mereka." Hanif pun tersipu saat di puji Faisal.


"Hahahaha.. gak kebalik Sal. Mereka yang beruntung, bisa mendapatkan putri-putri kita." Ucapan Dino mengundang tawa dari Hanif dan Faisal.

__ADS_1


"Om Dino, mah suka gitu!"


Siang itu mereka habiskan dengan makan siang bersama yang tidak di sengaja. Usai makan mereka kembali ke pekerjaan mereka hingga selesai kerjaan hari ini.


Makam harinya, sesuai dengan yang dikatakan Faisal. Yulia kembali dari Singapura. Dengan di jemput oleh suaminya, kini Yulia sudah ada di rumahnya. Bu Siti dan pak Sukamto pun ada di sana. Semua anggota keluarga Faisal sedang berkumpul disana.


Rencananya akan mencari tanggal pernikahan Sisi dan Hanif besok malam. Mereka majukan, karena sudah kumpul semua.


Mereka sepakat untuk hari dan tanggal pernikahan Sisi dan Hanif adalah hari Kamis tanggal 03-01-2020. Hari itu sudah disepakati oleh pihak keluarga Faisal. Itu artinya hanya tinggal menunggu kurang lebih satu bulan lagi Hanif dan Sisi resmi menjadi suami istri.


Sisi langsung memberi tahu tunangannya perihal keputusan keluarganya. Hanif sangat antusias mendengarnya. Berita itu langsung disampaikan pada nenek dan bundanya.


Itu artinya keluarga Faisal akan sibuk mempersiapkan semuanya. Rencananya akad nikah dan resepsi akan diadakan di rumah Faisal. Mengingat halaman belakang rumah Faisal sangatlah luas. Mereka akan mengangkat konsep garden wedding. Secara otomatis, tempatnya pun di outdoor. Sisi sangat setuju dengan konsep itu.


Usai membahas itu mereka membubarkan diri. Pak Sukamto dan istri pulang di antar oleh supirnya Faisal. Sementara Pak Hermawan dan istri, mereka memilih nonton TV di ruang tengah. Fatin dan Fatan pun ikut masuk ke kamar.


Sekarang giliran Yulia dan Faisal. Yulia yang sudah dulu masuk kamar dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Karena perjalanan jauh, belum lagi selama di Singapura dia tidak bisa tidur dengan baik. Sebab harus menjaga pak Erlangga, bergantian dengan Bu Sundari.


Faisal menyusul istrinya ke kamar dan menghampiri istrinya.


"Udah mau tidur, sayang?" tanya Faisal pun ikut membaringkan tubuhnya di samping istrinya.


"Belum, Mas. Yulia capek, pengen rebahan aja," jawab wanita yang memakai hijab harian itu.


"Sini, aku yang pijitin. Kasian istri dokter Faisal kecapekan, ya!" tawar Faisal pada Yulia. Wanita itu mengangkat sebelah bibirnya, dia tahu betul apa yang ada di dalam pikiran suaminya.


"Hmmm, pasti ada maunya, nih!" goda Yulia, Faisal pun tergelak.


"Ya ampun sayang, kok seudzon gitu, sih! Suamimu ini tulus, loh."


"Ya udah, itu yang kaki kiri pegel banget. Di pijit, ya!"


Faisal melakukan perintah istrinya dengan baik. Dengan telaten dia memijat kaki istrinya, berharap mendapat imbalan dari Yulia. Sekitar seperempat jam, jari-jari Faisal berkutat di kaki Yulia. Sembari mengajak ngobrol istrinya. Merasa tidak menyahut lagi saat ditanya. Faisal pun menolehkan kepalanya ke arah istrinya. Ternyata Yulia sudah benar-benar terlelap.

__ADS_1


"Ya ampun, sayang. Kamu tidur beneran!"


__ADS_2