Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Subhanallah...sungguh indah ciptaan mu


__ADS_3

Suara adzan subuh samar-samar terdengar, hingga mengusik telinga seorang gadis yang masih meringkuk di dalam selimutnya. Udara dingin pagi itu, membuat nyaman untuk bermalas-malasan beranjak dari tempat tidur. Tapi tidak dengan wanita itu, setelah mendengar adzan berkumandang. Dia langsung beranjak dari ranjangnya menuju ke kamar mandinya. Usai mandi dan bersuci, Sisi keluar dari kamar mandi dan mencari peralatan sholatnya yang ia sampaikan di gantungan baju yang berbahan stainless. Segera ia melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslimah yang taat pada-Nya.


Selepas sholat subuh, Sisi meluangkan waktunya untuk mengaji satu, dua ayat di dalam Al-Qur'an yang ia bawa. Hatinya menjadi damai, sekarang. Dia sudah lebih bisa menerima takdir hidup yang harus ia jalani. Usai mengaji, Sisi berencana membantu neneknya membuat sarapan di dapur. Dan sekarang dia sudah berjalan keluar kamarnya menuju ke dapur. Tapi, Neneknya yang juga baru keluar dari kamar memanggilnya.


"Sayang!!!" Sisi menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang.


"Nenek, Sisi bantuin masak ya!" seru Sisi saat neneknya sudah berada di hadapannya. "Nenek mau olahraga, ya?" Lanjutnya yang melihat neneknya sudah memakai pakaian olahraganya.


"Iya, sayang. Nenek mau jalan pagi. Ayo ikut Nenek! Biar kamu tahu daerah sini, Kakekmu udah nunggu di luar." Mereka berjalan beriringan menuju ke teras. Sisi memang belum paham betul daerah di situ. Jadi, tidak ada salahnya menemani olahraga kakek dan neneknya.


"Udah siap, Ma?" tanya Pak Erlangga saat mereka berdua keluar dari pintu utama.


"Iya, Pa! Ayok!" Mereka bertiga mulai berlari-lari kecil menuju ke jalan.


Suasana pagi itu masih sedikit gelap. Matahari belum muncul dari peredarannya. Hawa dingin pun masih menyapu ke kulit tubuh mereka. Walau begitu, tak menyurutkan niat mereka untuk berolahraga. Saat mereka baru saja keluar dari pintu gerbang. Sayu-sayu terdengar suara orang mengaji. Suaranya begitu indah, dan bacaan Alquran nya pun sangat baik. Suara itu mampu menarik tubuh Sisi untuk menghentikan langkah kakinya, mencari sumber suara itu. Suara itu berasal dari salah satu ruangan di cafe, seberang rumah neneknya.


"Shodaqqallahuladzim." Seiring suara itu ia dengar, Sisi bergegas pergi dari tempat ia berdiri tadi. Dia tidak mau ketahuan, orang yang sedang mengaji tadi. Betapa tertegun nya dia, dengan suara fasih pria itu. Hingga terngiang-ngiang di telinganya. Nenek dan kakeknya sudah lebih dulu lari ke depan, meninggalkan dia.


"Ma, mana cucumu?" tanya pak Erlangga saat tidak menoleh ke belakang, dan tidak ada cucunya di sana.


"Loh, iya dimana dia?" Bu Sundari balik bertanya. Mereka berdua sempat merasa khawatir dengan Sisi. Tapi kekhawatiran itu berhenti saat melihat seorang gadis berjalan kearah mereka dengan anggunnya.


"Nah, itu dia!" seru Pak Erlangga menunjuk kearah Sisi. Wanita itu tersenyum tipis, saat dua orang menatapnya penuh curiga.


"Sayang, kamu darimana?" tanya Pak Erlangga.

__ADS_1


"Itu, Kek. Eh..." Sisi bahkan bingung menjawab pertanyaan simple dari kakeknya.


"Hmmm, pasti dia terkesima mendengar suara Ilham mengaji, tadi. Iya, kan sayang?" Wanita itu tak dapat menyembunyikan ranum merah di wajahnya akibat malu di pergoki oleh Neneknya.


"Ilham, nama yang bagus!" gumam Sisi, seraya menggigit kecil bibir bawahnya.


"Ya ampun, sayang. Kamu sampai tersipu malu gitu. Kamu belum bertemu dengan orangnya saja, udah kelihatan suka. Apalagi kalau kamu udah bertemu orangnya," goda neneknya semakin membuat Sisi tersipu malu.


"Udah, Ma. Jangan di goda lagi cucu Kakek. Nanti dia ngambek, lo.!" ujar Pak Erlangga membuat istrinya tergelak.


"Ayo, lanjut!!!" Mereka melanjutkan kembali lari paginya. Hingga mereka sampai di sebuah taman yang terletak di tengah-tengah jalanan raya.


Puas berkeliling taman tersebut. Mereka memutuskan untuk kembali ke rumah. Matahari pun sudah mulai muncul di ufuk timur. Tubuh mereka juga sudah di penuhi keringat. Tidak seperti tadi, waktu mereka berangkat. Sekarang mereka pulang dengan langkah kaki yang sedikit santai. Hingga, mereka berpapasan dengan seorang pemuda yang memakai baju olahraganya berjalan berlawanan dengan mereka. Pria itu tersenyum ramah pada mereka bertiga, setelah itu menyapa.


"Assalamualaikum Nek, Kek!" sapanya ramah kepada sepasang suami istri itu. Setelah itu dia menganggukkan kepalanya sembari tersenyum ramah pada Sisi.


"Waalaikumussalam Nak Ilham. Wah mau lari pagi ya?" balas Bu Sundari kembali bertanya.


"Iya, Nek!" Dan dijawab lembut oleh Ilham.


"Oh, iya ini kenalkan cucu saya yang dari Jogja. Felisya Basri namanya. Tapi cukup panggil dengan Sisi, saja!" goda Bu Sundari memperkenalkan Sisi pada pria itu.


"Ayo, sayang!" Bu Sundari menarik tangan Sisi agar tidak sembunyi dari balik tubuhnya.


"Assalamualaikum," sapa Ilham ramah pada Sisi.

__ADS_1


"Wa.. Waalaikumussalam," jawab Sisi dengan gugup.


Sungguh baru pertama kalinya wanita itu terlihat mati kutu di depan pria. Pesona Ilham sangat berbeda dengan pria-pria lainnya. Senyumannya itu benar-benar mematikan. Hati Sisi berdegup begitu kencang, hanya di pandang oleh pria itu. Hingga kegugupannya mampu di lihat orang di sekitarnya. Termasuk Ilham sendiri, pria itu hanya tersenyum melihat wajah Sisi yang sudah mulai pucat.


"Kalau begitu, saya permisi dulu ya Nek, Kek, Sisi!" seru Ilham sambil membungkuk.


"Oh, iya silahkan."


Ilham mulai melangkahkan kakinya meninggalkan mereka bertiga. Sisi diam-diam melirik tubuh pria itu, hingga pria itu menjauh dari mereka.


Sekarang Sisi sudah berada di kamarnya. Saat dia akan pergi ke kamar mandi, dia mengambil handuk yang terletak di dekat lemari pakaiannya. Karena terburu-buru dia menjatuhkan tas yang tergantung di handle pintu lemari itu. Hingga tasnya jatuh kelantai. Karena tidak di tutup dengan benar. Semua barang-barang yang ada di dalam tas itu bercecer di lantai. Namun yang menarik perhatiannya, sebuah foto yang membuat hatinya kembali terluka. Foto Hanif, masih tersimpan di tas itu. Foto itu di ambil, saat mereka baru awal-awal kenal. Saat Sisi masih belum mengenakan hijabnya. Di dalam foto itu, Hanif sedang menumpangkan tangannya di pundak Sisi. Senyum cerah terpancar dari keduanya.


Sisi mengambil foto itu, dia memperhatikan foto itu hingga ingatannya kembali mengingat Hanif. Pria yang ingin dia lupakan. Pria yang ingin di hapus dari memori hidupnya. Tanpa terasa pelupuk matanya kembali mengeluarkan cairan bening. Dia kira sudah move on dari pria itu. Dia kira, dia sudah bisa menghapus ingatannya tentang pria itu. Tapi ternyata dia salah. Wajah pria itu masih tertata rapi di bagian lain hatinya. Tak bisa di pungkiri olehnya. Cinta pertamanya, begitu sulit di lupakan. Padahal, Hanif sudah melukai hatinya. Dengan menganggap rendah dirinya. Tapi kenapa begitu sulit melupakan pria itu.


To be continued...


Reader setia Suamiku tak pernah mencintaiku...


Author minta tolong ya....


Ramaikan novel kedua author yang judulnya...


Perjuangan cinta sang CEO


Masih sepi...

__ADS_1


Ceritanya juga seru loh!!!!


Please 😍😍😍😍😍


__ADS_2