Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Berita mengejutkan!!


__ADS_3

Di sebuah kamar berukuran empat kali lima meter terlihat seorang pria sedang berdiri mematung menatap ke arah jendela. Dilihat dari raut wajahnya, pria itu menatap sendu kearah depan. Sesekali, hembusan nafasnya terdengar parau. Pria itu sedang merenungi nasibnya. Semenjak putus dari wanita yang di cintainya, Hanif jarang sekali tersenyum. Rasa sesak di dadanya, membuat pria itu menjatuhkan air matanya.


"Kenapa Engkau hukum hambamu seperti ini, ya Allah!" keluhnya mengusap mukanya kasar. Kini tatapannya beralih pada bingkai foto yang terpajang di meja samping ranjang. Foto wanita yang dia cintai, bahkan masih terpajang di sana.


Hanif berjalan mendekat kearah meja, setelah berada tepat di depan meja itu, Hanif memilih untuk mengambil bingkai foto itu, setelah itu dia duduk di tepi ranjang yang terletak tidak jauh dari tempat dia berdiri. Di usapnya lembut foto itu, tanpa terasa bulir air matanya jatuh membasahi kaca bingkai foto itu. "Maafkan aku, sayang. Harusnya aku percaya dengan kata-katamu. Tapi, aku terlalu bodoh dengan mempercayai asumsi ku sendiri." Hanif masih mengusap-usap foto itu.


"Dan sekarang, saat aku ingin melupakan mu. Allah tunjukkan kebenaran itu, apakah aku masih pantas untuk mendapatkan maaf dari kamu, Si. Aku nggak bisa seperti ini terus," gumamnya dengan suara parau. "Aku harus bicara dengan kamu, Si. Kita harus bertemu!" ucapnya dengan penuh keyakinan.


Hanif meletakkan bingkai foto itu kembali di atas meja itu, dan mengambil kontak mobil yang tergeletak di atas meja itu juga. Setelah itu, dia mengambil jaketnya yang di gantung di dinding kamar itu. Lalu memakainya dan Hanif langsung keluar dari kamarnya.


Dengan langkah terburu-buru, dia berjalan menuju keluar rumah. Namun langkahnya terhenti sejenak, saat Bu Tari menegurnya, "Nif kamu mau kemana?"


Pria itu menatap kearah Bundanya, setelah itu dia mendekat kearah Bundanya. "Hanif ingin bertemu dengan Sisi, Bun. Hanif harus meminta maaf dengan dia, Bun!" jawab Hanif menggebu-gebu. Bu Tari menghela nafasnya di udara, setelah itu dia memegang pundak anaknya.


"Nif, kamu nggak berniat akan minta kembali dengan Sisi, kan?" tanyanya, dan Hanif membisu. Pria itu seketika menunduk. Dia sendiri tidak tahu, dengan perasaannya saat ini. Yang jelas, dia masih tidak rela jika dia berpisah dengan Sisi. Meskipun semua kesalahannya ada dalam dirinya. Namun tidak bisa di pungkiri, cintanya pada Sisi masih begitu kuat. "Nif, ingat sayang! Sekarang status kamu berbeda sayang!" ujar Bu Tari mengingatkan anaknya.


"Iya Bun, Hanif tahu. Hanif tidak akan meminta Sisi untuk kembali dengan Hanif!" ucap Hanif tidak ikhlas. Bu Tari tersenyum lega, meskipun dalam hatinya sakit karya putranya tidak jadi menikah dengan Sisi. Tapi, dia juga tidak mau kalau anaknya menjadi pria yang tidak tanggung jawab dengan apa yang sudah dia perbuat. Hanif sudah memberi harapan pada Veronika, dengan berjanji akan menikahinya. Karena itu, Hanif harus konsisten dengan ucapannya. Dsn cukup satu wanita yang disakiti oleh Hanif, jangan sampai ada wanita lain yang tersakiti hatinya.

__ADS_1


"Pergilah, selesaikan kesalahpahaman ini Nak. Meskipun kamu sudah tidak bisa lagi bersatu dengan Sisi. Setidaknya kamu, harus meminta maaf padanya karena kamu sudah menyakiti hati Sisi." Hanif mengangguk patuh, dan mulai melanjutkan langkah kakinya setelah berpamitan dengan Bundanya.


"Andai waktu itu kamu mau mendengar kata-kata Bunda, pasti kamu tidak akan menderita seperti ini, sayang!" lirih Bu Tari, yang merasa kasihan dengan nasib putranya.


Selama dalam perjalanan menuju ke rumah Faisal. Hanif kepikiran dengan kata-kata Bundanya. Dia harus fokus dengan tujuannya datang ke rumah Faisal, yaitu untuk meminta maaf pada Sisi bukan mengajak wanita itu untuk kembali menjalin hubungan dengannya. Tapi, apa dia bisa mengontrol dirinya, setelah berada di hadapan Sisi. Itu yang mengganjal pikirannya saat ini.


Mobil yang di kendarai Hanif kura lebih setengah jam, sampai juga di depan pagar rumah Faisal. Sama seperti waktu itu, keraguannya kembali menyerang dirinya. Dia takut akan lepas kontrol pada Sisi, dan juga takut jika keluarga Faisal tidak Ndu memaafkan kesalahannya. Dengan sedikit memupuk keyakinan, akhirnya Hanif memanggil satpam, untuk membukakan pintu pagar rumah itu. Setelah pintu terbuka, Hanif kembali menyalakan mobilnya untuk masuk kedalam.


Setelah memarkirkan kendaraannya di halaman, Hanif turun dari mobil dan langsung menuju ke pintu utama rumah itu. Beberapa kali, dia menekan bel rumah itu. Tapi belum juga ada yang merespon, hingga Fatan yang baru saja dari dapur mendengar suara bel rumah berbunyi berinisiatif untuk membukakan pintunya.


Seorang pria yang memakai celana jeans berwarna biru dan berjaket Levis berwarna senada sedang berdiri di ambang pintu dengan wajah yang menunduk kebawah. "Assalamualaikum," sapa Hanif mengucap salam. Pria itu menatap kearah Fatan.


"Wa.. waalaikumussalam, Dokter Hanif. Eh... Silahkan masuk!" jawab Fatan mempersilahkan tamunya untuk masuk kedalam rumahnya.


Hanif mengikuti Fatan dari belakang menuju ke ruang tamu. Setelah itu, Hanif mendaratkan tubuhnya di sofa. "Eh, Dokter Hanif mau bertemu dengan siapa?" tanya Fatan yang masih berdiri di seberang Hanif.


Dengan suara berat Hanif mengatakan tujuannya datang ke rumah itu. "Saya, mau mencari Sisi!" jawab Hanif dengan terbata-bata. Fatan tersenyum menanggapi jawaban dari Hanif.

__ADS_1


Sambil memegangi dagunya, Fatan mengatakan hal yang sebenarnya. "Kak Sisi sudah gak tinggal disini." Satu kalimat yang mampu membuka mulut Hanif, matanya membulat sempurna. Dia begitu terkejut mendengar apa yang di ucapkan oleh Fatan.


"Maksud kamu apa?" tanya Hanif dengan gemetar. Fatan akhirnya ikut duduk di sofa yang berada di belakangnya.


"Kak Sisi sudah pindah dari sini. Dia melaju studinya di luar negeri," terang Fatan, semakin membuat Hanif tercengang.


"Luar Negeri? tolong katakan pada saya, dimana Sisi sekarang berada?" cecar Hanif yang terlihat panik.


"Maaf Dok, kami tidak akan memberi tahu hal itu pada Dokter. Karena Kak Sisi melarang kami," jawab Fatan terlihat santai. Sementara Hanif, wajahnya langsung berubah menjadi merah. Perasaannya kini bercampur aduk menjadi satu. Antara kecewa, marah dan menyesal. "Lagian untuk apa lagi Dokter mencari kak Sisi. Bukankah Dokter sendiri yang menginginkan dia pergi dari kehidupan Dokter!" Kalimat yang di ucapkan semakin membuat Hanif tersudut. "Terus untuk apa lagi, Dokter ingin bertemu dengan Kakak saya."


Pria itu hanya diam, menelaah kata demi kata yang di ucapkan oleh Fatan. Seketika ingatannya kembali terkulik saat dia meminta Sisi untuk pergi menjauh dari kehidupannya. Dia tidak menyangka, kalau wanita itu akan benar-benar pergi meninggalkan dia.


"Saya mohon, beritahu saya dimana Sisi berada? Saya hanya ingin minta maaf padanya! Saya mohon, Than!" seru Hanif memelas. Namun Fatan tidak luluh dengan permohonan dari Hanif. Dia masih teguh dengan pendirian yang merahasiakan keberadaan kakaknya saat ini pada Hanif.


"Maaf Dok. Saya tidak bisa mengatakan dimana kakak saya berada!" Hanif tertunduk lemas.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2