
"Dok...dok... kenapa dengan istri saya.." teriak Faisal panik.
Dokter Monica mengecek kondisi Yulia, setelah memeriksa kondisi Yulia dokter Monica menghampiri Faisal yang masih memegang tangan istrinya.
"Tenang dokter Faisal, istri anda tidak apa-apa, hanya sedikit kelelahan..Oh iya, selamat ya putri anda lahir dengan selamat, tidak ada kekurangan suatu apapun.."Dokter Monica memegang bahu Faisal, beliau sedikit banyak tahu, kisah hidup Faisal dan Yulia. Jadi, dokter Monica mencoba menenangkan Faisal.
"Alhamdulillah ya Allah.. terimakasih Dok sudah membantu persalinan istri saya.." Faisal mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, pertanda syukur nya.
"Dokter Faisal, ini putrinya, silahkan di azanin dulu.." Suster Melsi menyerahkan bayi Faisal padanya, bayi itu sudah dibersihkan, terlihat lebih cantik.
Dengan gugup Faisal menerima bayi itu, kemudian mulai mengadzani bayinya. Perasaan haru, bahagia, bercampur jadi satu dibenaknya. Kini rumah tangga nya disempurnakan dengan kehadiran buah hati mereka. Bayi cantik yang dominan miring dengan istrinya. Faisal tak henti-hentinya menatap putrinya, tersenyum seraya membelai pipi mungil bayinya. Usai mengadzani bayinya, Faisal menyerahkan kembali pada suster Melsi untuk di letakkan di box bayi yang ada di ruangan itu. Faisal mendekati istrinya yang masih belum sadar, diusapnya kepala Yulia dengan lembut..
"Sayang... bangun...apa kamu gak ingin melihat anak kita..." Faisal berusaha membangunkan Yulia yang tak sadarkan diri.
"Sayang...cup..cup..."Dua ciuman mendarat di kening Yulia. Perlahan mata Yulia terbuka, ciuman Faisal sepertinya sangat mempengaruhi untuk kesadaran Yulia. Dilihatnya Faisal yang tersenyum melihat Yulia mulai sadar.
"Mas,,," Lirih Yulia..
"Yul.. kamu udah bangun sayang..."
"Dimana anakku mas...?" Yang ditanyakan pertama kali oleh Yulia adalah anaknya, Yulia takut jika kejadian satu tahun yang lalu terulang kembali. Saat ia sadar, anaknya sudah tak bernyawa.
"Tenang sayang, anak kita selamat kok, dia cantik, seperti kamu..." Ujar Faisal menyakinkan Yulia.
"Benarkah mas.." Yulia merasa lega, penantiannya sembilan bulan ini terbayar lunas, saat mendengar putrinya lahir dengan selamat.
__ADS_1
"Mas, bolehkah Yulia melihat nya.."Suster Melsi yang mendengar percakapan Yulia dan Faisal, lantas membawa bayi mereka.
"Bu... Yulia selamat ya.. atas kelahiran putri kecilnya..Ini Bu disusui dulu.." Suster Melsi lalu menyerahkan putrinya, dengan hati-hati Yulia menggendong nya.
Bayi mungil itupun disusui oleh Yulia, dilumatnya punting susu Yulia, menandakan ia sangat lapar. Selesai menyusui anaknya, Yulia menyerahkan kembali ke Suster Melsi. Putri kecilnya sudah tertidur pulas, setelah kenyang minum ASI nya.
"Mas, apa mas, sudah siapkan nama untuk anak kita..?"
"Udah sayang,, mas akan kasih nama Putri kita, Fellisya Basri.., biarlah semua wajahnya mirip dengan kamu, tapi paling tidak nama belakang nya, ada nama mas.." Faisal sudah menyiapkan nama putrinya sejak Yulia memberi tahu kalau dia sedang hamil..
"Yulia...sayang... selamat ya nak..." Ibu Siti dan Pak Sukamto masuk keruang rawat Yulia.
"Maa, terimakasih ya Maa, berkat doa Mama semua berjalan dengan lancar.."Yulia memeluk Mamanya, Yulia sadar, selama ini sering membuat sedih Mamanya. Seorang wanita yang melahirkan mempertaruhkan nyawanya.
"Sudah sayang, kamu jangan nangis ya..kamu sudah menjadi anak Mama yang baik.."Mama Siti mengelus bahu Yulia. Yulia memang selalu menurut, tak sekalipun pernah menyakiti hati kedua orang tuanya.
Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh semua keluarga Faisal dan Yulia, setelah pulang dari rumah sakit, keadaan Yulia pun sudah mulai pulih. Mereka menggelar acara aqiqah putri Faisal dan Yulia. Semua teman dan kerabat nya diundang dalam acara tersebut. Dino hadir bersama Felisa, Rio dan Weli pun ikut hadir. Awalnya Faisal menolak jika harus mengundang Weli dan Rio. Namun ketika ditanya Yulia penyebab tidak dibolehkan nya Weli dan Rio diundang, namun Faisal tidak bisa menjawab. Akhirnya Faisal menuruti kemauan istrinya, dengan mengundang Weli dan Rio.
Rio dan Weli datang bersamaan, Weli awalnya tidak yakin akan datang ke acara aqiqah an putri Faisal. Namun, Rio dengan besar hati, mengajak Weli untuk menghadiri acara Faisal. Mungkin dengan begitu, Weli sedikit bersimpati pada nya. Ada raut kesedihan tampak jelas di wajah Weli dan Rio. Mereka tak seberuntung pasangan, Faisal dan Yulia. Yang cepat dikaruniai anak kembali oleh yang maha kuasa. Namun hati kecil mereka ikut bahagia, karena melihat kebahagiaan Yulia dan Faisal.
Kini Fellisya berada di gendongan Faisal, Yulia berada di samping Faisal. Setelah selesai acara marhaban an, sekarang giliran para tamu undangan menikmati hidangan yang mereka siapkan. Weli dan Rio mendekati Faisal dan Yulis. Disana juga ada Dino dan Felisa.
"Selamat ya Yul, Sal..." Weli memeluk tubuh Yulia, air mata nya lolos dari pelupuk matanya. Weli merasa sedih, kenapa Allah belum menitipkan anak didalam rahimnya.
"Makasih ya mbak Weli..." Yulia tahu apa yang dirasakan Weli. Dengan ikhlas Yulia menguatkan Weli..
__ADS_1
"Semoga mbak Weli segera menyusul ya.. Bakal ada dedek bayinya didalam sini.." Yulia memegang perut Weli. Weli hanya tersenyum penuh arti..
"Selamat ya Sal... Lo udah jadi bapak sekarang.." Giliran Rio yang mengucapkan selamat pada Faisal, Faisal hanya menanggapi nya dengan senyuman. Tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan.
"Heyy brow kapan kalian akan nyusul..." Kini Rio beralih pada Dino yang terus saja nempel pada Felisa.
"Ditunggu aja undangan nya..." Timpal Dino..
"Wah, ini calon pengantin baru ya..." Fida Weli membuat Felisa tersipu malu.
"Doain aja ya mbak..." Felisa kini bisa lebih bersahabat lagi dengan Weli. Dia dapat melihat ketulusan dari mata Weli.
Saat mereka berenam sedang berbincang, Kirana datang dengan membawa bingkisan ditangannya menghampiri mereka berenam.
"Selamat ya Yul... Faiz..." Kirana pun ikut mengungkapkan selamat' pada Yulia dan Faisal, saat sudah berada di sana.
"Makasih Ran..." Hanya Faisal yang menjawabnya, sementara Yulia hanya tersenyum manis ke arah Kirana.
"Wah bayinya cantik seperti mamanya..." Puji Kirana, namun tak membuat Yulia bahagia. Entah kenapa Yulia merasa, Kirana tidak benar-benar tulis ikut bahagia melihat Yulia dan Faisal bahagia.
"Eh.. Kayak pernah lihat mbak.. Tapi... dimana ya..?" Cetus Felisa, yang membuat Kirana menjadi salah tingkah.
To be continued...
Like, komen, votenya ya... jangan lupa..
__ADS_1
Makasih...