
Sebuah mobil Avanza berwarna putih melaju cepat membelah jalanan kota Jogja, siang itu. Mobil itu baru saja keluar dari halaman rumah Faisal. Mobil yang di kendarai oleh seorang pria berkacamata tak tanggung-tanggung menjadi pusat perhatian pengendara lain. Beberapa kali mobil itu hampir menabrak pengguna jalan lainnya. Suara klakson berentet memekakkan telinga pria itu. Beberapa umpatan dan makian pun masih terdengar di telinga pria itu. Namun itu semua tak menyurutkan emosi Hanif yang menggebu, setelah dia melihat Sisi menikah dengan Iqbal. Sesak di dadanya masih begitu terasa, hingga beberapa kali dia memukul-mukul stir pengemudi. Mobil itu melaju kencang itu berhenti mendadak saat seorang penyebrangan jalan hampir saja tertabrak oleh mobil itu. Beruntung rem mobilnya masih bekerja dengan normal, sehingga mobil itu bisa berhenti tepat waktu dan tidak melukai orang itu. Hanya saja, karena terkejut. Wanita itu terjungkal ke belakang.
"Astaghfirullah," ucapnya sembari mengelap mukanya kasar. Hanif langsung keluar dari dalam mobilnya dan melihat orang yang hampir ia tabrak.
Seorang wanita berambut panjang dengan jas berwarna putih dan rok berwarna hitam sebatas lutut mengerang kesakitan memegangi tangannya yang sedikit tergores aspal. Wanita itu hampir mengumpat pengendara mobil itu. Namun dia urungkan niatnya saat dia melihat Hanif baru saja keluar dari dalam mobilnya. "Dokter Hanif," lirihnya seraya meringis kesakitan meniup tangannya.
"Dokter Veronika, anda gak apa!!!" seru Hanif membantu wanita itu berdiri.
"Nggak, Dok. Hanya saja, kaki saya sedikit terlilit!" balas Veronika memandang wajah Hanif.
"Ya sudah, naik ke mobil saya saja!" kata Hanif memapah tubuh wanita itu. Dengan sedikit pincang, Veronika berjalan menuju ke mobil Hanif. Dan pria itu membantunya agar bisa masuk ke dalam. Setelah siap. Hanif pun ikut naik ke mobil dan langsung tancap gas.
"Saya antar anda ke rumah sakit aja, ya!" usul Hanif tanpa menoleh kearah Veronika.
"Nggak usah, Dok. Antarkan saya pulang saja. Lukanya gak terlalu parah, kok! Cuma lecet-lecet dikit," tolak wanita itu.
"Ehmmm, ya sudahlah. Saya antar anda ke rumah. Sekali lagi saya minta maaf, ya! Saya nggak sengaja!" seru Hanif penuh penyesalan. Karena amarahnya hampir saja dia membuat seseorang kehilangan nyawanya.
"Nggak apa, kok Dok. Oh iya, kok Dokter Hanif gak masuk ke rumah sakit hati ini?" tanya wanita itu mulai mengulik masalah Hanif.
"Saya sudah risaign dari rumah sakit Sejahtera," jawab Hanif sedikit melow.
__ADS_1
"Kenapa? Apa karena masalah itu?" cecar Veronika tak mau membuang kesempatan.
"Hmmm, sudahlah. Ini privasi saya, anda tidak perlu tahu!" Hanif masih fokus menyetir. Veronica seperti mendapat angin segar dari pria itu. Betapa tidak, sudah lama dia mengincar Hanif dan harus patah hati saat pria yang dicintainya tunangan dengan Sisi. Dan sekarang, pria di sampingnya itu sudah memutuskan pertunangannya dengan wanita itu. Sehingga mempermudah untuk dia mendekati Hanif. Apalagi, Hanif sudah keluar dari rumah sakit itu. Artinya tidak ada kesempatan untuk Hanif kembali lagi dengan Sisi.
Di tempat lain.
Iqbal yang tidak jadi menikah dengan Sisi langsung menyusul Dino dan Felisa di rumah sakit. Hari ini, Bilqis akan di bawa berobat di luar negeri. Dan hanya tinggal menunggu berangkat saja. Iqbal sudah tidak sabar untuk memberi bukti itu pada calon ibu mertuanya itu. Dan setelah ini, Dia akan langsung menikahi Bilqis.
Iqbal datang tepat waktu, Felisa dan Dino sudah bersiap akan naik ke ambulans yang akan membawa mereka ke bandara. Dengan sedikit berlari pria itu menghentikan mereka. "Tunggu!!!" teriaknya.
"Mau apa lagi kamu datang ke sini. Mau menunjukkan pada kami, kalau kamu sudah resmi menjadi menantunya direktur utama rumah sakit ini," pekik Felisa dengan mata melotot.
"Tunggu Tante, Iqbal datang membawa ini!" Pria itu memberikan kertas berisi hasil tes tadi. Sengaja ia minta dari Sisi, agar di berikannya pada Felisa dan setelah itu Felisa akan tahu kebenarannya.
"Sayang, apa isinya?" tanya Dino yang sedikit penasaran dengan isi dari surat itu. Perlahan Felisa memberikan surat itu pada suaminya, bibirnya tak sanggup berkata-kata lagi. Dino langsung membacanya, dan betapa bahagianya karena doanya dikabulkan oleh pemilik kehidupan. Keajaiban itu datang tepat waktu. "Alhamdulillah, berarti kamu gak jadi menikah dengan Sisi?" ucapnya tersenyum bahagia kearah Iqbal.
"Iya, Om. Setelah melihat bukti itu. Warga, Pak RT, dan Pak Lurah bersepakat tidak jadi menikahkan kami. Dan mereka juga berjanji akan membersihkan nama baik kami," jelas Iqbal tersenyum puas.
"Nak Iqbal, Tante minta maaf ya sama kamu. Tante sudah salah menilai kamu dan Sisi! Maafin Tante," ucap Felisa penuh penyesalan. Apalagi dia sudah mengata-ngatai Sisi sebagai wanita murahan.
"Nggak apa Tante, Iqbal bisa ngerti, kok!" balas Iqbal mengangguk pelan.
__ADS_1
"Ya sudah, kita berangkat sekarang. Kamu sudah siap semuanya kan, Iqbal?" ajak Dino masuk kedalam ambulans.
"Sudah, Om!"
Tiga jam lebih mereka sampai di rumah sakit National university hospital di Singapure. Di sebuah ruangan VIP, Kudus penyakit kanker Bilqis di rawat. Beberapa dokter langsung menanganinya. Harapan Dino dan istrinya, Bilqis bisa pulih dari penyakit yang ia derita. Apalagi, sekarang keadaannya yang masih kritis harus mendapat penanganan khusus.
Mereka memilih menunggu di ruang tunggu yang terhubung dengan ruangan Bilqis. Beberapa pesan masuk dari handphone Dino. Pesan itu dari Faisal, Sisi dan juga orang tuanya yang berada di negara itu juga. Satu persatu pesan, di balas oleh Dino.
Setelah beberapa dokter itu keluar dari ruang rawat Bilqis, mereka langsung mendekati dokter-dokter itu. Besar harapan mereka dokter-dokter di rumah sakit itu bisa menyembuhkan Bilqis.
Dengan penemuan terbaru dalam mengobati penderita penyakit kanker, Bilqis sudah mulai di tangani. Tinggal menunggu beberapa jam saja, bekerja atau tidaknya teknik pengobatan itu. Karena menurut dokter-dokter itu tidak semua tubuh mampu menyerap cara pengobatan itu. Hingga perlu di lakukan beberapa test.
"Apa kami sudah bisa melihatnya, Dok?" tanya Iqbal penuh harap.
"Boleh, tapi satu orang saja yang bisa menjenguk!"
Sepeninggal dokter-dokter itu, Iqbal lah yang lebih dulu masuk ke dalam. Saat Iqbal berada di samping tubuh Bilqis, tangannya sedikit bergerak merespon kehadirannya.
"Sayang, kamu bangun ya! Aku janji setelah kamu sadar nanti, aku akan langsung menikahi mu," ucapnya tersedu.
Sepertinya respon yang di berikan oleh Bilqis makin sering. Tak hanya menggerakkan tangannya, wanita itu beberapa kali mengedipkan matanya yang masih terpejam.
__ADS_1
"Sayang, kamu denger aku!!!"