
Faisal POV
Menyetir dalam keadaan ngantuk membuat aku menabrak truk container, itu yang ku ingat. Setelah itu, aku tidak ingat apa-apa.
Saat semuanya gelap, tiba-tiba aku melihat seorang wanita duduk disebuah bangku tua, wanita itu menggendong bayi nya sembari menangis. Perlahan aku dekati wanita itu, namun entah kenapa kami tidak bisa bersentuhan. Aku pikir aku sudah mati, kuamati wanita itu dari belakang, sepertinya aku mengenali wanita. dia menoleh ke arahku. Aku bisa lihat wajah wanita itu dengan jelas. Dia adalah Weli, orang yang pernah ada dalam hatiku. Tapi kenapa dia menangis bersama seorang bayi. Dimana Rio?, dan siapa bayi yang digendong Weli?.
Ku panggil-panggil Weli, namun sepertinya dia tidak mendengar ku, sepertinya juga dia tidak bisa melihat ku. Ada apa ini sebenarnya..? Apa benar aku sudah mati..?
Aku meninggalkan Weli dengan bayi yang ia gendong, dia masih saja menangis. Aku ingin melihat istri dan anakku, tapi dimana mereka. Kenapa aku tidak bisa menemukan mereka?. Aku terus berjalan, sampai aku melihat Yulia, ya dia istriku. Aku mendekatinya, aku bisa menuentuhnya.. Tapi Yulia hanya diam saja, sesaat setelah itu, dia menangis.. Kenapa Yulia menangis..? Apa yang membuat dia terluka..?
"Mas, maafkan Yulia...Yulia harus pergi....!" Serunya, Yulia semakin jauh, jauh dariku..
Aku manggil-manggil namanya pun, tetap dia pergi. "Yulia...Yul...Aku mencintai mu...Yulia... jangan tinggalkan aku... Yul...Yulia aku mencintaimu..
mencintaimu..."
Author POV...
Faisal memanggil-manggil nama Yulia, Weli yang sadar kalau Faisal sudah siuman menghapus sisa air matanya.
"Yulia...aku mencintaimu...Yulia...jangan tinggalkan aku..." Lirih Faisal, Weli yang mendengar Faisal mengucapkan sesuatu, tersenyum lega. Weli kemudian keluar untuk memanggil Yulia, namun dia tidak menemukan Yulia diluar ruangan Faisal. Weli berusaha menghubungi Yulia lewat ponselnya, namun sayangnya ponsel Yulia tidak dibawa. Ada di meja disamping ranjang Faisal. Weli pun mencari dokter yang merawat Faisal.
__ADS_1
Weli dengan dokter Gerald masuk keruangan Faisal, dengan cermat Dokter Gerald memeriksa kondisi Faisal. Tampaknya Faisal memang sudah sadar.
Usai memeriksa Faisal, Dokter Gerald mendekati Weli.
"Dimana Istri Dokter Faisal, mbak?" Dokter Gerald mencari keberadaan Yulia.
"Saya tidak tahu dok, tadi saya juga mencarinya..." Jawab Weli jujur.
"Apa ada hal yang mengkhawatirkan Dokter..?" Tanya Weli menengok ke arah Faisal, Faisal hanya diam.
"Alhamdulillah semuanya Norman, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.. Kekuatan doa seorang istri yang tulus mampu membawa dokter Faisal bangun...lagi.." Ucap dokter Gerald, mengingat beliaulah yang tahu perjuangan Yulia.
Yulia memang wanita yang luar biasa, dia merawat Faisal dengan sangat baik. Bukan cuma merawat saja yang ia lakukan, tapi doanya tak pernah putus. Tiap malam, Yulia berdoa, memohon untuk kesembuhan Faisal.
"Aku seneng kamu sudah sadar Sal...?
"Dima...na.. Yu..Lia...? Tanya Faisal yang masih belum terlihat jelas dengan ucapannya.
"Aku gak tahu Sal... tadi dia diluar.. tapi sekarang dia kemana, aku juga gak tahu..."
"Ke..na..pa... ka...mu.. di..sini...?" Ada raut kekecewaan di wajah Faisal. Kenapa Weli yang pertama ia lihat, bukannya Yulia, istrinya.
__ADS_1
"Yulia yang memintaku untuk datang menemui mu, aku seneng ternyata kamu sudah bisa mencintai Yulia.. mencintai istrimu..." Weli memandang ke arah lain, dia masih tidak sanggup untuk menatap wajah Faisal dalam keadaan sadar.
"Yulia, wanita yang luar biasa.. Kamu sangat bersyukur bisa menikahi gadis setulus Yulia.. Kamu harus pertahanin Yulia..." Air mata Weli mulai menetes, segera diusapnya, agar tidak terlihat oleh Faisal.
"Begitupun juga dengan aku, aku sudah bahagia dengan Rio. Dia sangat baik, meskipun keadaan ku yang sekarang ini, namun tak membuat dia berpaling dariku.
Kita sudah punya kehidupan masing-masing, aku harap kedepannya kita masih bisa bersahabat, seperti dulu lagi.." Weli mencurahkan isi hatinya pada Faisal. Karena selama ini Faisal selalu menjaga jarak dari dia dan Rio. Sebenarnya Weli masih ingin menjalin persahabatan pada Faisal dan istrinya.
Faisal hanya diam menanggapi ucapan Weli. Mungkin benar saat ini, sudah waktunya dia membuka lembaran baru bersama Yulia, dan menutup lembaran lama dengan Weli.
"Istrimu sangat mencintai mu Sal, dan aku juga tahu, kamu juga sudah mencintai nya.. ia kan...?" Weli tersenyum datar.
"Mungkin setelah ini, kamu yang harus memperjuangkan cinta nya Yulia... kamu jangan pernah menyerah ya... Aku yakin kamu bisa...Semoga kamu lekas sembuh, aku akan mencari Yulia, agar bisa menemui mu..." Weli kemudian pergi meninggalkan Faisal sendiri.
Faisal hanya bingung menanggapi ucapan terakhir Weli. Perasaan Faisal tak menentu saat ini, ternyata benar rasa cintanya terhadap Weli sudah mulai terkikis. Meskipun masih ada bak segelintir debu. Sekarang yang Faisal inginkan adalah hidup bahagia bersama istri dan buah hatinya. Faisal sudah menyadari kalau dia sangat mencintai Yulia, istrinya.
Weli menepati janjinya, dia mencari Yulia. Dia menyusuri koridor rumah sakit, sesat matanya tertuju di mushola rumah sakit. Wanita yang memakai gamis warna abu-abu senada dengan hijabnya, baru keluar dari mushola itu. Weli segera menghampiri Yulia..
"Yul, aku pamit pulang dulu ya... Faisal sudah sadar sekarang.."
Dughh, jantung Yulia seakan berhenti berdetak. Berhari-hari ia merawat Faisal, mendoakan Faisal agar segera sadar. Tapi Suaminya tak kunjung sadar, sekarang setelah kedatangan Weli, Faisal langsung sadar. Yulia meneteskan air matanya, pilu hatinya pilu saat ini. Dia tidak bisa mencerna kata-kata Weli lagi.
__ADS_1
"Terimakasih mbak..." Hanya kata-kata itu yang mampu diucapkan Yulia pada Weli.