
Matahari pagi menerobos ke celah-celah jendela. Menteri yang baru saja bersinar, menghangat kala menyentuh kulit. Seorang wanita muda masih meringkuk dalam selimutnya setelah sholat subuh dia terlelap lagi. Udara dingin pagi hari membuat wanita itu tak kuasa untuk tidak memejamkan matanya. Apalagi, hari ini adalah hari Sabtu. Segala penat selama lima hari yang lalu, tergantikan dengan hari ini. Wanita itu tak kunjung membangunkan dirinya karena ingin menikmati santainya di weekend ini.
Sebuah ketukan pintu pun tak membuat dua bergeming dari sana. Hingga seseorang yang sudah lelah, mengetuk pintu terpaksa masuk kedalam kamar wanita itu. Pria itu langsung menuju ke ranjang dimana wanita itu sedang terlelap.
"Kak, bangun. Itu ada kak Hanif di depan!" seru Fatan membangunkan kakaknya. Suara Fatan sontak membuat Sisi melonjak dari tempat tidurnya kala ia mendengar nama kekasihnya disebut-sebut oleh adiknya.
"Apa? Hanif? Ngapain, dia kesini?" cecarnya pada adiknya yang terlihat cengengesan karena berhasil mengerjai kakaknya.
"Kamu ngerjain, Kakak ya! Dasar kamu, ya!" Sisi tak memberi ampun pada adiknya itu. Satu jeweran mendarat manis di telinga pria yang terlihat macho dengan celana pendeknya dan kaos, tak berlengan.
"Ampun Kak, ampun. Lagian cewek kok pemales. Bangun udah siang bolong gini. Gitu mau nikah. Kasian Kak, suamimu yang tiap hari harus ngebangunin kamu," cibir pria itu mendapat pelototan dari sang Kakak.
Fatan memang lebih dekat dengan kakaknya di banding Fatin, adik kembarnya. Dia cenderung lebih tertutup pada kakaknya. Tidak seperti Fatan, dia selalu terbuka dengan kakaknya. Apalagi soal cara deketin cewek. Dia tak segan bertanya pada kakaknya. Meskipun tidak pernah mendapat saran yang pas dari Sisi. Tapi, dia cukup senang karena kedekatannya dengan Sisi di tengah kesibukannya masih mau meluangkan waktu untuk sekedar bercanda dengannya.
Rencananya hari ini Sisi akan menjenguk Bilqis di rumah sakit. Setelah tiga hari dirawat disana. Meskipun mereka satu rumah sakit, tapi Sisi tidak sempat menjenguk lagi sahabatnya. Bukan tidak mau, tapi dia disibukkan dengan membantu Ayahnya untuk mengembilkan citra baik dari rumah sakit Sejahtera yang beberapa hari ini memburuk akibat kasus itu.
Semenjak Faisal, dia baru ingat omongan putrinya waktu itu yang membahas tentang lamaran. Dia belum bicarakan hal itu pada istrinya. Karena memang lupa, dan jarang menelpon langsung Yulia. Kesibukannya yang membuat dia lupa.
Pagi itu usai sarapan, Faisal menyempatkan menelpon istrinya. Untuk membicarakan niat baik Hanif yang akan datang, dan meminta putrinya. Karena belum bisa meninggalkan Bu Sundari disana sendiri. Yulia memutuskan untuk rencana baik Hanif tetap di jalankan, walau tanpa dia. Yulia juga berfikir, niat baik jangan di tunda-tunda. Apalagi keduanya sudah saling mencintai. Dia juga meminta suaminya untuk menentukan tanggal pernikahan putrinya sekalian. Dan berharap agar pak Erlangga cepat di beri kesembuhan. Supaya dia bisa cepat kembali berkumpul dengan anak-anak dan suaminya. Faisal pun menerima keputusan istrinya itu. Dan rencananya, besok dia akan meluangkan waktu agar bisa bertemu dengan keluarga calon menantunya itu.
Sisi sudah ada di rumah sakit. Wanita itu berjalan menuju ruang inap adik sekaligus sahabatnya itu. Kebetulan Iqbal yang baru mau akan masuk, melihat Sisi menuju kearahnya dia memilih menunggu wanita itu untuk masuk bersama.
"Bal, udah lama disini?" tanya Sisi saat sudah sampai di depan pintu.
"Belum, ini baru mau masuk. Ayo, kita masuk sama-sama!" ajak Iqbal kemudian Sisi pun mengangguk, dan mereka masuk bersama ke ruangan itu.
"Dek, gimana keadaan kamu hari ini?" sapa Sisi yang tidak melihat ada siapapun diruangan itu selain, Bilqis.
__ADS_1
"Alhamdulillah Kak, udah lebih baik. Nanti sore udah di perbolehkan pulang kok!" balas Bilqis yang masih terlihat lemas.
"Kamu udah makan, sayang?" Iqbal yang melihat makanan kekasihnya masih utuh di nakas, kemudian bertanya pada Bilqis.
"Udah, tapi cuma sedikit. Rasanya hambar," keluh wanita itu dengan mimik tidak suka. Iqbal yang melihat itu, langsung mengambil makanan yang diatasnya meja itu. Kemudian mulai menyuapkan makanan itu ke mulut kekasihnya.
"Ayo makan. Makannya sambil liatin aku. Nanti pasti rasanya enak," goda pria itu membuat Sisi tergelak.
"Ya ampun, pagi-pagi udah ngegombal aja nih bocah," celetuknya kemudian.
"Apaan sih, iri bilang bos," balas Iqbal mencairkan suasana. Dia seneng akhirnya kekasihnya bisa tertawa lepas melihat tingkahnya dengan Sisi.
"Eh, kapan kalian akan meresmikan hubungan kalian?" tiba-tiba Sisi bertanya hal itu pada mereka berdua. Seketika wajah Bilqis menjadi murung. Entah apa yang sedang ia pikirkan.
"Aku sih, kapan aja siap!" jawab Iqbal dengan penuh keyakinan. Pria itu sepertinya memang sudah ingin hidup bersama dengan wanita yang sangat dia cintai itu. Tapi tiap kali dia membahas hal itu, Bilqis tidak pernah menanggapinya. Entah masih ragu atau dia punya alasan tersendiri. Iqbal pun tidak tahu.
"Aku takut, Kak. Takut tidak bisa melayani suamiku dengan baik dengan keadaanku yang seperti ini," jawab Bilqis. Iqbal langsung membungkam mulut kekasihnya itu dengan telunjuknya.
"Sttt kamu gak boleh ngomong seperti itu. Aku bisa melihatmu ada di sampingku setiap saat, itu sudah membuat aku bahagia. Kita berjuang sama-sama melawan penyakit itu, sayang!" ujar Iqbal tulus.
Mendengar hal itu membuat Bilqis menjadi terharu.
"Bukankah aku sudah pernah bilang ke kamu. Untuk menerimamu, apapun keadaan kamu. Aku mencintaimu tidak ada alasan. Aku mencintaimu tulus dari hatiku," lanjutnya lagi.
Air mata haru tak mampu lagi di bendung di mata milik wanita yang sedang menatap kekasihnya sayu. Rasa bahagia pun membuncah dalam hatinya karena memiliki orang yang benar-benar tulus mencintainya.
"Terimakasih, Bal. Aku juga mencintaimu, sekarang, nanti, dan selamanya." Keromantisan mereka berdua membuat iri wanita yang sedang berdiri di samping Iqbal.
__ADS_1
"Ya ampun, kalian ini so sweat banget, sih! Sini peluk-peluk!" Tak terasa mereka pun menghambur dalam satu pelukan. Persahabatan yang berujung menjadi cinta. Bukan cinta segitiga tapi cinta yang indah antara Bilqis dan Iqbal, dan Sisi yang menjadi saksi cinta mereka.
Tak berapa lama orang tuanya Bilqis pun tiba. Dino yang baru saja datang dari rumah untuk mengambil baju ganti istrinya. Sementara Felisa, dia sedang menebus obat yang di minta oleh Hanif kemarin.
Karena orang tuanya sudah ada di sana. Sisi memutuskan untuk pamit pulang pada mereka.
"Kamu pulang dengan siapa, sayang?" tanya Felisa pada Sisi.
"Aku naik taksi ajar, Tan. Tadi supir aku, mengantar Fatan ke perpustakaan kota," jawab sakura itu jujur.
"Ya udah, kamu biar aku saja yang anter. Aku kebetulan akan lewat sana. Kamu sama aku aja," tawar Iqbal.
"Iya, Kak. Lagian cari taksi siang-siang gini susah. Bareng Iqbal aja," sahut Bilqis.
"Nggak usah Dek. Aku naik taksi aja," tolak Sisi.
"Sayang aku pulang, dulu ya. Nanti sore biar aku yang jemput," pamit Iqbal pada kekasihnya.
"Tan, Om, Iqbal pamit ya!" Sekarang gantian dengan orangtua Bilqis.
"Ayok," ajak Iqbal sedikit memaksa pada Sisi. Setelah mendapat anggukan dari Bilqis, Sisi pun akhirnya mau diantar oleh Iqbal.
Saat didalam mobil. Ponsel Sisi berdering. Ternyata Hanif, menelpon dirinya menanyakan keberadaan dirinya.
"Iya, sayang aku pulang dianter Iqbal!"
"Iqbal?" Hanif sedikit kaget saat kekasihnya diantar oleh kekasih sahabatnya itu. Ada terbesit rasa cemburu dalam diri Hanif. Apalagi beberapa kali, dia memergoki Sisi begitu akrab dengan laki-laki itu.
__ADS_1