Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Deg-degan


__ADS_3

"Bismillah, Ham!" Umi Qoniah tersenyum memandang putranya yang terlihat gugup.


"Ya udah, ayo kita masuk!" seru pak Zakri melanjutkan mobilnya untuk masuk ke halaman rumah Faisal.


Setelah memarkirkan mobilnya, mereka keluar dari dalam. Jantung Ilham semakin berdetak kencang, namun tak mengurungkan niatnya untuk tetap melangkah ke depan.


Mereka berjalan menuju ke pintu utama. Sepertinya pemilik rumah memang sudah menunggu kedatangan mereka. Terlihat pintu rumah itu terbuka lebar. Tak lama setelah itu, Faisal datang dari dalam. Faisal yang melihat tamunya sudah datang menghampiri keluarga Ilham.


"Assalamualaikum." Abi Abdullah mengucapkan salam dan tersenyum ramah saat Faisal menghampirinya.


"Waalaikumussalam, mari silahkan masuk Kyai Abdulloh dan keluarga." Mereka akhirnya masuk kedalam menuju ke sofa ruang tamu. Setelah itu mencari tempat duduk mereka masing-masing. Umi Qoniah duduk di samping Ilham, sementara Kyai Abdullah duduk di samping adiknya. Dan Faisal sendiri duduk di seberang Ilham.


"Perkenalkan saya Abi nya Ilham, ini adik saya Zakri. Dan itu istri saya, Qoniah. Yang sebelahnya itu Muhammad Ilham." Kyai Abdullah memperkenalkan satu persatu keluarganya pada Faisal. Dan di tanggapi senyuman dan anggukan dari Faisal.


"Senang bisa bersilaturahmi dengan keluarga Kyai, dan semoga silaturahmi ini bisa berjalan baik, kedepannya." Mereka tersenyum lebar.


Tak lama setelah itu, Yulia dan Bi Imah datang dari dalam. Yulia menyalami umi Qoniah, dan mengatupkan kedua tangannya pada tamu laki-lakinya. Sementara bi Imah, dia menyuguhkan minuman dan cemilan sebagai pelengkap obrolan mereka.


"Mari di minum!" tawar Faisal mempersilahkan tamunya untuk minum teh hangat yang sudah tersuguh di meja.


Sebelum masuk ke obrolan serius, mereka terlebih dulu ngobrol-ngobrol ringan agar terlihat lebih akrab dan tidak canggung lagi. Sementara Ilham, pria itu masih terlihat gugup dan tidak percaya. Terbukti saat di singgung-singgung namanya atau di tanya oleh Faisal. Semuanya di jawab singkat oleh Ilham. Berbeda sekali dengan kesehariannya yang terlihat berwibawa di depan orang.


"Ustadz Ilham, sebelumnya sudah pernah bertemu dengan Putri saya?" tanya Faisal di tengah-tengah obrolan mereka.


"Sudah, Dok. Kebetulan Sisi adalah salah satu mahasiswi saya, tempat saya mengajar," jawab Ilham yang mulai sedikit tenang.


"Oh, begitu. Tapi, Sisi kok gak pernah cerita ya Bun, sama kita!" Faisal beralih menatap istrinya.

__ADS_1


"Karena Nak Sisi maupun putra saya belum tahu tentang perjodohan ini." Pertanyaan yang di tujukan pada Yulia, di jawab oleh Umi Qoniah. Faisal dan Yulia hanya mengangguk.


"Kalau begitu saya panggilkan putri saya sebentar." Yulia kembali masuk kedalam untuk memanggil Sisi kedepan.


Dia berjalan menuju ke lantai atas, setelah itu melewati kamar si kembar dan sampai di kamar Sisi. Pintu kamarnya tidak tertutup, Yulia langsung masuk kedalam.


Sisi yang sedang duduk di tepi ranjangnya, menarik diri saat bundanya datang. Perasaannya dari pagi tadi di liputi dengan kegelisahan, cemas dan bingung.


"Bun!" serunya singkat. Yulia tersenyum lebar dan merengkuh pundak putrinya.


Sisi terlihat cantik dengan gamis berwarna peach dan jilbab yang senada dengan gamisnya. Wanita itu menatap wajah bundanya. Meminta dukungan atas kegalauannya.


"Sayang, ayo kita kedepan. Pria yang akan melamar kamu sudah datang," ajak Yulia pada Sisi. Namun wanita itu masih mematung, dengan wajah memelas. "Kamu kenapa, sayang?"


"Bun, Sisi gugup. Sisi takut, takut kalau keputusan Sisi ini salah." Yulia menatap lekat sorot matanya Sisi. Terlihat jelas di sana, rasa ketakutan itu.


Yulia merangkul pundak Sisi, setelah itu mereka berjalan beriringan menuju ke ruang tamu. Perasaan gugup masih menyerang Sisi, saat itu. Namun saat sorot matanya menangkap sosok yang ia kenal, seketika jantungnya berdegup hebat. Dia menatap bingung dengan sosok itu. "Kak Ilham, Umi!" lirihnya.


Sementara Umi Qoniah, wanita itu tersenyum ramah menyambut kehadiran Sisi di ruangan itu. Begitupun juga dengan Abu Abdullah, dan Pak Zakri. Tapi tidak dengan Ilham, pria itu terlihat gugup saat dihadapkan lagi dengan Sisi. Namun dia masih tetap memaksakan untuk tersenyum kearah wanita itu, agar tidak terlihat sedang gugup.


"Sayang!" sapa Umi Qoniah. Sisi menoleh kearah bundanya, dia minta penjelasan pada wanita di sampingnya itu. Yulia mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban atas pertanyaan yang di benak Sisi.


Dengan perlahan Sisi melangkahkan kakinya kearah Umi Qoniah, wanita itu tersenyum ramah menyambutnya dan langsung memeluk Sisi saat sudah ada di hadapannya. "Sayang, maafin Umi yang tidak cerita langsung padamu."


"Nggak apa, Umi." Mereka saling melepaskan pelukan. Sekarang iris mata Sisi beralih pada dua sosok pria yang memakai baju batik seragam yang duduk di sisi kiri Umi Qoniah.


"Assalamualaikum, Abi. Assalamualaikum Paman!" Sisi menyapa satu persatu dua pria itu.

__ADS_1


"Waalaikumussalam, cantik aslinya ya Ham!" goda pak Zakri mereka semua tergelak, namun tidak dengan Sisi dsn Ilham. Mereka justru terlihat lebih canggung lagi.


"Sayang, sini duduk di samping Ayah!" titah Faisal menepuk sofa di sebelahnya. Tak menunggu lama lagi, Sisi berjalan kearah Ayah dan bundanya setelah itu mendaratkan bokongnya di sofa yang tadi tunjuk oleh Faisal.


Suasana serius sudah mulai tampak di sana. Abi Abdullah menyerahkan maksud kedatangannya ke rumah Faisal pada adiknya.


"Jadi begini Pak Faisal sekeluarga." Pak Zakri menjeda kalimatnya. "Maksud kedatangan kami kesini adalah ingin meng-khitbah putri Bapak, Sisi untuk anak kami Muhammad Ilham fahrizi. Kami berharap sangat, Pak Faisal mau menerima khitbah-an putra kami ini."


"Saya selaku orangtua dari Sisi, menerima niat baik keluarga kyai Abdullah. Untuk keputusan di terima atau tidaknya saya serahkan langsung pada putri saya!"


Sekarang iris mata mereka yang berada di sana beralih memandang kearah Sisi. Sementara, Sisi dia memandang kearah Ilham. Di tatapnya lekat wajah pria yang beberapa hari ini mengusik hati dan pikirannya. Setelah hatinya yakin untuk mengatakan 'iya' di saat itu juga suara salam mengagetkan mereka semua.


"Assalamualaikum!" Suara seorang pria dan seorang wanita bersamaan.


"Waalaikumussalam!" jawab semuanya.


Mereka berdua kemudian masuk kedalam. Pandangan Sisi beralih pada dua orang tamunya yang baru saja datang. Pun dengan Faisal dan yang lainnya. Yang menjadi pusat perhatian dari mereka adalah Ilham, pria itu seolah tidak asing dengan sosok pria yang masih berdiri di depannya itu.


Faisal beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil kursi yang berada di ruang tengah. Setelah dapat dan di bawa ke ruang tamu. Faisal mempersilahkan tamunya untuk duduk.


"Silahkan duduk!" Mereka berdua duduk di kursi itu. Hanif memperhatikan satu persatu orang yang ada di ruangan itu. Saat sorot matanya menangkap Ilham, Hanif mengerinyitkan keningnya.


"Ilham," lirihnya, namun masih di dengar oleh yang punya nama.


"Hanif," balas Ilham tersenyum ramah. Namun tidak dengan Hanif, pria itu justru merasa kesal dengan Ilham. Mereka seperti ada masalalu yang kurang baik sebelumnya.


To be continued

__ADS_1


Apa yang terjadi selanjutnya ya😁😁😁😁


__ADS_2