Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Ibadah pertama berdua denganmu


__ADS_3

Hanif tak kuasa menahan tangisnya, harapannya pupus untuk memiliki Sisi lagi. Mobil yang ia bawa melaju cepat tak tahu dimana lagi dia harus bertujuan. Beberapa kali hampir saja ia menabrak pengendara lainnya. Umpatan demi umpatan membanjiri perjalanannya. Tak hanya itu, suara klakson dari mobil lainnya pun memekakkan telinganya. Namun pria itu tak memperdulikan itu semua, dia tetap mengendarai mobilnya dengan kencang. Bahkan nyawanya pun tak lagi ia pedulikan. Yang ada di benaknya adalah amarah, kepedihan, hancur saat ini.


Hingga saat mobilnya melintasi bandara mobilnya berhenti mendadak, karena hampir saja dia menabrak seseorang yang sedang menyebrang di sana.


"Astaghfirullah!!!!" tuturnya seraya mengelap wajahnya dengan kedua tangannya. Sesaat kemudian dia turun dari mobilnya untuk melihat keadaan orang tersebut.


Tampak dari pintu kemudi, seorang wanita tersungkur di aspal. Wanita itu meringis kesakitan dengan tangan satunya memegangi sikunya. Hanif segera menghampiri wanita tersebut. Pun dengan pengendara lainnya yang melihat kejadian tersebut.


"Mas, bisa nggak kalau nyetir hati-hati! Kasihan mbaknya," maki seorang pria berkumis tebal pada Hanif.


"Maaf, Pak. Saya terburu-buru." Kini perhatian Hanif tertuju pada wanita berparas cantik dengan hijab pasminanya yang memegangi sikunya yang terluka.


"Maafkan saya, Mbak. Saya antar ke rumah sakit, ya!" tawar Hanif pada wanita itu.


Wanita itu berusaha untuk berdiri, dengan di bantu seorang ibu-ibu. Seraya mengisis menahan perih wanita itu berucap, "gak usah Mas, saya gak apa kok! Cuma lecet sedikit."


Hanif mengerutkan keningnya, dia merasa tak enak hati pada wanita itu. "Ehmmm, kalau boleh saya tahu. Mbaknya mau kemana, ya?" tanyanya pada wanita itu.


"Oh, iya maaf ya. Saya buru-buru! Saya harus menghadiri pernikahan kakak saya, saya permisi dulu!" ucap wanita itu menjauh dari Hanif dan orang-orang yang menolongnya.


Wanita itu tampak berjalan menepi, setelah itu dia berhenti di tepi jalan untuk menunggu taksi lewat. Sejak tadi, dia menunggu taksi di sana. Karena jenuh kelamaan menunggu di lobi bandara. Wanita itu memutuskan untuk mencari taksi di pinggir jalan. Berharap akan segera dapat, justru nasib malang yang ia dapatkan.


Hanif pun berjalan mendekat kemobilnya, saat dia akan masuk kedalam. Sorot matanya menangkap gadis yang ia tabrak tadi sedang gelisah menunggu taksinya yang tak kunjung tiba. Akhirnya, Hanif menghampiri gadis itu. Itung-itung menawarkan diri untuk mengantarnya sebagai penebus kesalahannya tadi.


"Taksinya belum datang ya, Mbak?" tanya Hanif dengan ragu-ragu.


"Iya nih, disini susah banget sih, cari taksi!" keluh wanita itu memegangi dahinya.


"Ehmmm, biar saya yang antar Mbaknya aja. Itung-itung sebagai permohonan maaf saya ke Mbak," tawar Hanif, dan wanita itu tampak berfikir.


Sejurus kemudian, dia mengangguk. "Boleh, deh! Lagian kayaknya bentar lagi magrib, kan!" Hanif tersenyum lega, paling tidak dia bisa menebus kesalahannya pada wanita itu dengan cara mengantarnya sampai tujuan.

__ADS_1


Hening di dalam mobil Avanza berwarna putih. Baik Hanif maupun wanita itu tak ada yang bersuara. Yang terdengar hanyalah suara mesin mobil di sana. Mereka terlarut dalam pikiran mereka masing-masing. Terlebih Hanif, pria itu masih tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini. Dia kehilangan kesempatan untuk kembali dengan Sisi untuk selamanya. Tapi, hati kecilnya pun masih belum ikhlas menerimanya.


"Oh iya, saya harus antar kemana?" tanya Hanif memecah keheningan.


Gadis itu menyebutkan alamat tujuannya pada Hanif. Dan entah kebetulan atau takdir, Hanif harus mengantar wanita itu ke rumah Sisi. Hanif sempat syok, saat mendengar itu dari bibir wanita itu.


Kini di dalam benak Hanif hanya bisa menerka-nerka, gadis di sampingnya itu apanya keluarga Faisal. Ataukah kerabatnya Ilham. Dia tak berani bertanya. Suasana kembali hening, hingga suara adzan magrib pun berkumandang.


"Kita cari masjid di dekat sini, ya! Kita sholat magrib dulu!" ujar gadis itu pada Hanif.


Hanif mengangguk, "ok!"


Tak jauh dari tempat itu ada masjid yang terletak di kiri jalan, Hanif melajukan mobilnya kearah masjid itu. Mereka akhirnya sholat berjamaah.


********************


Di kediaman Faisal.


Dua keluarga itu kini sedang melakukan sholat magrib berjamaah di mushola rumah Faisal. Namun tidak dengan Ilham dan Sisi. Mereka sekarang ada di kamar Sisi.


"Em..Si..sayang kamu gak mau sholat berjamaah dengan suamimu ini!" seloroh Ilham dengan nada gugup.


Sisi yang sedang duduk di tepi ranjang, menepuk keningnya. Dia hampir lupa, kalau dia sekarang ini sudah menjadi seorang istri.


"I-ya Kak, Sisi bersuci dulu ya!" jawabnya langsung masuk ke kamar mandi.


Sementara Ilham, dia menyiapkan sajadah untuk dirinya dan istrinya. Setelah itu, sembari menunggu dia melafazkan zikir yang tak pernah lepas dari bibirnya kala ada waktu senggang.


Sisi keluar dari kamar mandi, melihat sajadahnya sudah terbentang di lantai, dia langsung memakai mukenanya dan berdiri di belakang Ilham. "Udah sayang?" Sisi mengangguk.


Ilham memulai ibadah pertama kalinya dengan istrinya. Dengan kefasihannya Ilham mengimami Sisi. Setelah salam dan berzikir, Ilham melantunkan doa-doanya. Terutama dia meminta agar rumah tangganya di Berkahi oleh Allah. Dan mereka segera dititipkan malaikat kecil sebagai pelengkap kelurga kecil mereka.

__ADS_1


Setelah meng-aamiin-kan doa-doa mereka, Ilham menoleh kebelakang. Dengan sigap, Sisi mencium punggung tangan suaminya diikuti kecupan kecil diatas kepala Sisi yang di berikan oleh Ilham. Seulas senyuman terpancar dari keduanya.


Mereka saling pandang, seolah memupuk rindu yang begitu hebatnya ingin segera tersalurkan, tanpa disadari oleh keduanya jarang mereka hanya tinggal beberapa senti lagi, namun mereka segera menuduh saat pintu kamar mereka di ketuk dari luar.


"Sayang, ajak suami kamu turun ke bawah untuk makan malam. Udah di tunggu di meja makan, sayang!" teriak Yulia dari balik pintu.


"Iya, Bun! Kami akan keluar," sahut Sisi tersipu malu pada Ilham.


Yulia kemudian pergi dari sana, segera Sisi membuka mukenanya dan menggantikannya dengan hijab rumahan dan gamis rumahan juga. Sementara Ilham, dia merapihkan sajadahnya dan di letakkan kembali di tempatnya tadi.


"Ayo, sayang!" ajak Ilham menggandeng tangan Sisi.


"Iya Kak!" jawab Sisi malu-malu.


Mereka keluar dari kamar dan menuju ke ruang tamu tanpa melepaskan gandengan tangan mereka. Hingga di meja makan, barulah Sisi melepaskan nya. Semua orang yang melihat kehadiran mereka berdua, hanya bisa tersenyum bahagia dan tentunya besar harapan mereka kemesraan antara Ilham dan Sisi bukan hanya di awal-awal pernikahan mereka saja, dan berlanjut hingga maut yang memisahkan mereka.


Tak cuma itu saja, kemesraan mereka. Ilham dengan cekatan menyiapkan kursi untuk di duduki oleh istrinya, setelah itu barulah dia duduk di sebelahnya.


"Hmmm, Kak Ilham so sweet banget!" puji Bilqis mengundang gelak tawa dari semuanya.


"Hmmm, kamu juga pengen di gituin sayang?" seloroh Iqbal, membuat mereka tergelak.


"Ya iyalah sayang. Tengok tuh, Kak Ilham bikin klepek-klepek Kak Sisi, hehehehe." Sontak Sisi membulatkan matanya sempurna kearah Bilqis.


"Udah, dek! Jangan godain Kakak lagi, ah!!!" salak Sisi manyun. Mereka kembali tergelak. Sungguh pemandangan yang sangat indah di meja makan, malam itu. Kebahagiaan terpancar dari semua orang yang berada di sana.


Tak lama setelah itu seorang wanita muda bergamis abu-abu dengan hijab senada di bawa oleh Bi Imah ke meja makan. Manik mereka tertuju pada wanita itu.


"Kak Ilham, Kak Sisi jahat...ihhhhhhhh!"


To be continued

__ADS_1


Besok crazy up ya...


Berhubung bulan ramadhan, author akan siasati dan tidak terlalu fulgar. Tapi tetap tak mengurangi arti di dalamnya 😁😁😁


__ADS_2