Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Rencana Allah


__ADS_3

"Kenapa sesakit ini, Ya Allah. Lalu, aku harus berbuat apa sekarang!" lirih Hanif saat berada di kamarnya.


Dia duduk di balkon rumahnya, menatap hampa langit malam itu. Walau langit begitu cerah, bertabur bintang dan biasan cahaya bulan. Tapi tidak bagi pria berkacamata itu, hatinya kosong tak berpenghuni. Di tambah, sakit yang di rasakan nya membuat pria itu meneteskan air matanya.


Andai waktu bisa di putar kembali, mungkin hanya satu yang menjadi keinginannya. Yaitu, dia ingin bersama Sisi.


Beberapa kali panggilan dari ponselnya, tak satu pun yang ia jawab. Dalam perihnya, tiba-tiba sosok wanita yang hampir ia tabrak tadi muncul. Semakin membuat hatinya terluka, bahkan kekalutan hatinya hampir saja melukai seseorang.


Bu Tari yang datang dengan teh hangat dan beberapa makanan, mendekat. Di letakkan nampan itu di atas meja, disamping Hanif.


"Sayang, ini Bunda buatin teh madu buat kamu. Biar badan kamu gak drope, dari kemarin kamu belum makan apa-apa!" Bu Tari mengambil secangkir teh itu dari nampan dan langsung di berikannya pada putranya.


Hanif mengambil cangkir teh itu dari tangan bundanya, namun tak segera ia minum. Dia justru menatap lekat cangkir itu, gumpalan asap yang masih terlihat dari teh itu mampu menarik perhatiannya. Lama, hanya di pandang saja, tak berniat untuk meminumnya.


Bu Tari begitu prihatin melihat kondisi putranya yang sekarang. Badannya bahkan terlihat kurusan sekarang, di tambah lagi tumbuh bulu-bulu halus di sekitar dagu dan di atas bibirnya. Mukanya kusut, seperti seorang yang tak terurus.


"Nif, percayalah sayang! Kamu akan dapat pengganti dari Sisi, wanita yang baik-baik juga. Jodoh adalah cerminan diri sendiri, sayang. Kamu harus ikhlaskan Sisi bahagia bersama dengan yang lain." Entah berapa kali kalimat itu keluar dari mulut Bu Tari, namun Hanif masih saja terpuruk.


Apalagi semenjak pernikahan Sisi, tempo hari. Hanif bahkan tidak keluar dari rumah dan mengurung diri di kamarnya. Pekerjaannya terbengkalai, beberapa pasien yang ia tangani pun sering menghubungi dia. Tapi, pria itu tak pernah menjawabnya. Jika sudah merasa terusik, ponselnya di non-aktifkan olehnya.


"Bun!" seru Hanif dengan lembut, kini wajahnya menatap lekat wajah wanita paruh baya yang memakai gamis berwarna maroon itu. "Apa ini hukuman untuk Hanif?" Kini matanya berkaca-kaca.


"Sayang, kamu nggak boleh ngomong seperti itu. Jodoh yang menentukan adalah Allah. Banyak di luaran sana yang menjalin hubungan lama, tapi kandas di tengah jalan. Itu karena mereka tidak berjodoh, sayang. Sama halnya dengan Hanif dan Sisi." Bu Tari menggenggam tangan Hanif erat.


"Tapi sakit, Bun. Sakit!" Air mata yang sudah menumpuk di kelopak matanya, kini perlahan jatuh. "Hanif hanya mencintai Sisi, hanya dia Bun!" Tangisnya pecah.


Malam semakin larut, udara dingin menyeruak menusuk tulang. Hanif meminta Bundanya untuk masuk kedalam. Sementara dia masih duduk termenung di tempat itu. Tak ada niatan untuk dia memejamkan matanya, karena bayangan Sisi selalu hadir saat matanya terpejam. Dia memilih tetap di sana.


Pagi harinya, Hanif yang baru saja tidur beberapa jam harus terusik dengan suara adzan subuh. Pria itu bangun dari tidurnya dan segera melaksanakan kewajibannya.


Usai sholat, dia memilih berbaring kembali di ranjangnya. Namun, dia tidak terlelap.


"Nif, boleh bunda masuk?" teriak Bu Tari dari balik pintu kamarnya.

__ADS_1


"Iya Bun, masuklah," sahutnya.


Bu Tari tersenyum simpul kearah Hanif, tujuannya datang ke kamar Hanif karena ada sesuatu yang ingin di bicarakan oleh beliau.


"Ada apa, Bun?" tanya Hanif dengan nada datar.


"Bunda mau pamit, hari ini Bunda mau pergi ke rumah pamanmu di Surabaya. Kamu gak apa, Kan? Jika bunda tinggal."


Hanif mengerinyitkan keningnya, dia bingung kenapa bundanya mendadak ingin menemui adiknya. "Ada keperluan apa Bunda kesana?" tanyanya dengan heran.


"Gak ada kok, Bunda hanya kangen Ama mereka," jawab Bu Tari jujur.


"Hanif antar ke bandara, ya!" tawar Hanif yang sudah menerima alasan bundanya pergi ke Surabaya.


"Nggak usah, Bunda naik taksi aja!" tolak Bu Tari.


"Beneran Bun, bunda gak mau Hanif antar?" ulang Hanif masih ragu membiarkan bundanya pergi sendiri.


"Hanif malas Bun, Bunda kesana sendiri aja ya!"


"Ya udah kalau gitu, bunda berangkat dulu ya. Kalau mau sarapan udah bunda siapin."


Hanif mengangguk lalu mencium punggung tangan bundanya. "Bunda ambil penerbangan jam berapa?"


"Jam delapan. Bunda mau siap-siap dulu."


************


Jam menunjukkan pukul tujuh pagi, Bu Tari sudah siap menuju ke bandara. Dia memilih berangkat agak lambat, kerena tak ingin terlalu lama menunggu di Bandara. Sesuai kesepakatannya tadi, dia berangkat sendiri dengan taksi online yang mengantarnya.


Di dalam mobilnya, tiba-tiba kepalanya terasa berat. Di bagian tengkuknya pun terasa sakit seperti sedang memikul beban berat. Bu Tari mengambil minyak kayu putih untuk di oleskan di bagian tengkuk dan kepalanya.


Setelah di olesi minyak kayu putih, kepala Bu Tari sedikit mendingan. Awalnya dia akan membatalkan perjalanannya ke Surabaya. Tapi karena dia sudah mengirim pesan pada adik iparnya untuk menjemputnya di bandara, jadi diurungkan niatnya.

__ADS_1


Sesampainya di Bandara, Bu Tari turun dari taksinya. Dia berjalan menuju lobi, namun sakit yang tadinya sudah menghilang. Kini kambuh lagi, sehingga dia menghentikan langkahnya sembari memegangi kepalanya.


"Sttt, ya Allah kenapa ini kepalaku tambah sakit begini. Bu Tari berusaha mencari tempat agar dia bisa mendudukkan dirinya, namun saat baru saja dia melangkah. Tubuhnya tiba-tiba tumbang, dan tak sadarkan diri.


Beberapa orang berkerumun ingin menolongnya. Salah satunya, seorang wanita cantik yang memakai gamis berwarna hijau muda menghampiri Bu Tari. Dia langsung mengangkat kepala Bu Tari.


"Tolong...cepat bawa ibu ini ke mobil saya!" titahnya pada salah satu orang yang berada di sana.


Dan benar saja, seorang pria bertubuh gagah membopong tubuh Bu Tari. Pria itu membawa Bu Tari ke arah mobil milik wanita tadi, di ikuti dengan wanita itu. Setelah sampai wanita itu membukakan pintu mobilnya, dan terlebih dulu dia masuk kedalam. Setelah itu dia menyambut tubuh Bu Tari dari dalam. Setelah masuk sempurna. Dia mengintruksikan pada supirnya untuk mengantarnya ke rumah sakit terdekat.


Mobil wanita itu berhenti tepat di halaman rumah sakit Zahra Medica, rumah sakit yang terdekat dari Bandara.


"Paklek, tolong minta bantuan kedalam ya!" titahnya pada supir yang ia sewa.


"Baik Mbak!"


Sementara supir itu meminta bantuan, wanita itu memijit-mijit kepala Bu Tari, tak hanya itu di oleskannya minyak kayu putih yang ia ambil dari dalam tasnya ke tubuh Bu Tari.


Sekitar lima menit supirnya tanda datang membawa beberapa perawat laki-laki dan brankar dorong. Salah satu dari perawat itu memasukkan setengah tubuhnya untuk meraih tubuh Bu tari yang terkulai lemah, wanita itu pun ikut membantu hingga tubuh Bu Tari berhasil di baringkan di brankar dorong. Perawat-perawat itu membawanya ke ruangan UGD. Sementara wanita itu mengambil tas Bu Tari yang terletak di dalam mobil dan segera menyusul ke dalam.


Sesampainya di ruang UGD perawat menahannya, agar mengisi administrasi terlebih dahulu agar pasien cepat di tangani. Wanita itu pun menurut, dia kembali ke lobi rumah sakit. Di mana ruang receptionis berada tepat sebelah kirinya.


Setelah mengurus administrasi sesuai nama Bu Tari, wanita itu kembali lagi ke ruang UGD dan memilih menunggu di sana.


"Aku harus hubungi pihak keluarganya." Wanita itu mengambil ponsel milik Bu Tari dari dalam tasnya.


Beruntung, tidak memakai kode pengaman. Jadi, dengan mudahnya dia membuka ponsel itu. Di carinya kontak keluarga terdekatnya. Dari historis panggilan, nomor Hanif yang sering di hubungi oleh Bu Tari. Jadi, wanita itu memutuskan untuk menghubungi nomor Hanif.


To be continued


Siapa ya yang nolongin Bu Tari...


Bisa jadi dia wanita yang akan menggantikan posisi Sisi di hati Hanif 😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2