
Setelah sampai ke rumah Hanif. Sisi memapah Hanif untuk masuk ke dalam. Bundanya Hanif yang sedari tadi menunggunya pulang, bergegas ke depan saat bel rumahnya berbunyi. Bu tari membukakan pintunya, dia begitu terkejut melihat anaknya babak belur dipapah oleh seorang wanita.
"Astaghfirullahalladzim Nif, kamu kenapa?" Bu tari ikut membantu
memapah Hanif kedalam. Di dudukannya Hanif di sofa ruang tamu. Sesekali Hanif mengerang kesakitan sembari memegangi perutnya.
"Apa yang terjadi dengan mu, Nak!" Sisi pun terlihat bingung dengan pertanyaan Bu tari. Dia kemudian menatap Hanif, meminta perlindungan untuk menjawabnya.
"Bunda ambilkan air hangat untuk mengompres bekas lukanya Hanif dulu Bun!" pinta Hanif pada bundanya. Bergegas Bu tari pergi ke dapur untuk mengambil benda-benda itu.
"Makasih ya sudah nolongin saya." Hanif pun tersenyum mendengar ucapan terimakasih tulus dari hati Sisi. Wanita yang dianggapnya bar-bar itu berubah menjadi melankolis. Membuat Hanif menjadi gemas.
"Aduh sakit," erangnya sembari melirik Sisi. Wanita disampingnya itu menjadi khawatir melihat Hanif mengerang kesakitan.
"Mana yang sakit, biar aku pegangin," kata Sisi meminta di tunjukkan pada Hanif bagian tubuh mana yang sakit.
"Disini!" Tangan Hanif meraih tangannya Sisi, kemudian meletakkannya di dadanya. Seketika jantung Sisi menjadi berdegup kencang saat Hanif menatapnya lekat. Begitupun dengan Hanif. Pria berkacamata itu benar-benar tidak bisa mengontrol dirinya. Dia melakukan itu diluar batas kesadarannya.
"Ehemmm" deheman Bu Tari membuat mereka salah tingkah. Tangannya Sisi yang dipegang Hanif pun langsung ia lemparkan sembarangan. Mereka seperti seorang maling yang sedang tertangkap basah.
Bu tari meletakkan baskom dan lab bersih ke meja. Pandangannya beralih pada gadis yang masih memakai jas dokternya. Seulas senyum terpancar dari wajah Bu Tari. Selama dua tahun belakangan ini, Hanif tidak pernah membawa atau menceritakan seorang wanita padanya. Tapi hari ini, dia pulang diantar seorang wanita. Membuat Bu tari sedikit lega. Apalagi dilihat dari gelagat keduanya. Mereka saling memiliki perasaan.
"Oh iya, siapa nama kamu Nak?" tanya Bu tari memandang kearah Sisi.
"Oh iya Tante maaf, sampai lupa berkenalan. Saya Sisi Tante. Teman kerjanya dokter Hanif." Sisi memperkenalkan dirinya pada Bu tari.
"Tunggu ya, bunda mau bikinin minum untuk Sisi. Nak Sisi tolong kamu kompreskan dulu bekas lukanya Hanif." Bu tari kembali lagi ke dapur untuk membuatkan minuman. Tinggallah mereka berdua.
Suasana canggung meliputi keduanya. Setelah kejadian konyol tadi. Mereka hanya saling dia. Hingga Sisi mulai melaksanakan permintaan Bu tari tadi.
"Biar saya kompreskan dulu ya! Tahan, agak sedikit sakit." Sisi mulai mengompres sudut bibir Hanif. Dengan pelan ia melakukannya. Agar Hanif tidak kesakitan.
"Pelan-pelan dong," cetusnya sembari melirik Sisi.
"Ini udah pelan dok, cengeng amat sih jadi cowok." Hanif menatap tajam wajah Sisi, Sisi pun tersenyum mengejek.
__ADS_1
"Santai, jangan galak-galak gitu dong. Ntar gantengnya ilang Lo," celetuk Sisi sembari mengelap bekas darah yang ada di tangan Hanif.
"Oh berarti kamu sadar. Kalau aku ini ganteng!"
"Astaghfirullahalladzim dok, gitu aja dah kepedean. Semua laki-laki kan ganteng. Masa iya cantik." Ucapan Sisi membuat Hanif hampir tertawa. Namun tertahan dengan rasa sakit di sudut bibirnya.
"Auwww"
"Kamu pulangnya gimana?"
"Biar saya telpon Ayah minta dijemput disini." Sisi pun menelpon Faisal untuk minta di jemput di rumah Hanif. Sementara motornya, dia tinggal begitu saja di tempat kejadian tadi.
Setelah ngobrol-ngobrol dengan Bu tari. Mobil Faisal pun tiba di rumah Hanif. Sisi pun pamit undur diri pada Hanif dan Bu tari.
Dengan dijemput supir keluarganya. Sisi bisa pulang dengan nyaman. Karena malam pun sudah semakin larut. Jadi tak membutuhkan waktu yang lama untuk mereka sampai di rumah.
Di tempat lain. Dino yang baru pulang dari rumah sakit. Langsung masuk ke kamar Bilqis, disusul oleh istrinya. Felisa bingung dengan perubahan sikapnya pada dirinya. Tak biasanya Dino cuek pada Felisa, dan langsung mencari putrinya.
Saat sudah ada didalam kamar Bilqis, Dino langsung memeluk putrinya yang sedang duduk di meja belajarnya.
Bilqis mencoba mencari jawaban pada bundanya dengan mengedipkan kedua matanya. Tapi Felisa hanya mengangkat pundaknya. Pertanda ia pun tidak tahu.
"Kenapa kamu sembunyikan pada Ayah, Nak." Dino mengeluarkan amplop berwarna putih dari dalam saku jasnya. Kemudian diberikan nya pada Bilqis.
Tak henti-hentinya Dino meneteskan air matanya. Membuat Felisa tak sabar ingin tahu apa yang terjadi dengan suaminya.
"Kamu kenapa Mas? Kenapa menangis seperti ini? Apa ada masalah? cecarnya menatap Dino. Dino pun beralih pada istrinya.
"Anak kita, anak kita..."
"Astaghfirullahalladzim, ya Allah." Suara Bilqis memotong kata-kata Dino. Bilqis pun langsung terkulai lemas, dan hampir tak sadarkan diri. Membuat Dino dan Felisa panik. Kemudian dipapah nya tubuh Bilqis ke ranjang.
Felisa pun mengambil surat yang dijatuhkan Bilqis, lalu membacanya. Tak kalah terkejutnya, Felisa pun langsung terduduk lemas di bangku belajar milik Bilqis.
"Kenapa kamu sembunyikannya pada kami Nak." Bilqis pun hanya diam menatap kosong ke depan.
__ADS_1
Delia langsung mendekati putrinya, dipeluknya tubuh putrinya erat. Dia ingin menguatkan Bilqis menghadapi cobaan ini.
"Itu baru stadium tiga, sayang. Kamu gak usah takut ya. Kamu pasti sembuh. Ayah akan melakukan apapun, agar kami bisa sembuh. Sehat seperti sediakala." Dino pun sama, memberi kekuatan untuk putrinya. Dia menyakinkan pada Bilqis, kalau dia bisa sembuh lagi.
"Apa Bilqis akan meninggal, Yah!" ucap Bilqis putus asa.
"Stt, kamu gak boleh ngomong begitu sayang. Kamu pasti sembuh sayang." Mereka saling menguatkan untuk menghadapi cobaan hidup keluarga mereka.
Saat sudah sampai di rumah. Sisi pun langsung masuk ke kamar nya. Faisal tak lantas mengintrogasi putrinya. Karena dia tahu, Sisi sangat lelah saat ini.
Usai membersihkan diri dan berpakaian lengkap. Sisi pun ke balkon untuk menikmati udara malam dari atas balkon kamarnya. Seketika pikirannya teralih pada Hanif. Dia ingin tahu keadaannya sekarang. Dia mengambil ponsel dari meja dan kembali duduk di kursi yang terletak di balkon.
Setelah ponselnya ada ditangannya. Tak lantas membuat Sisi segera menghubungi Hanif. Dia ragu untuk menghubungi terlebih dahulu pria itu. Akhirnya diurungkan niatnya untuk menelpon Hanif.
Sesaat kemudian dia ingin menelpon. Dia penasaran dengan keadaan pria yang menolongnya tadi. Akhirnya dengan membuahkan semua gengsinya. Sisi pun menelpon Hanif. Setelah nada tersambung..
"Hai." Kata itu yang bisa keluar dari bibir Sisi.
"Waalaikumussalam." Jawaban dalam dari Hanif membuat Sisi sedikit malu. Seakan menampar dirinya.
"Ada apa? telpon malam-malam begini," ujar Hanif sembari tersenyum senang.
"Nggak kok, kamu gimana keadaannya?" jawab Sisi kemudian balik bertanya pada Hanif.
"Ya seperti yang kami lihat terakhir tadi. Kamu tahu kan?" Hanif semakin geli, saat dirinya diperhatikan oleh Sisi.
"Makasih ya, udah tolongin aku. Maaf juga karena aku kamu celaka."
"Enak aja cuma Terimakasih doang.. gak gratis tahu. Kamu harus membayarnya!"
Sisi langsung membelalakkan matanya mendengar ucapan Hanif. Baru saja dia mengaguminya. Pria itu sudah bikin dia kesel lagi.
"Apa yang harus aku lakukan untuk membayarnya." Hanif pun tertawa sembari menahan rasa sakitnya. Merasa berhasil mengerjai gadis bar-bar nya itu...
"Hmm..."
__ADS_1
To be continued