Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Pertemuan Hanif dan Nek Puspita


__ADS_3

"Itu Lo, sayang! Yang pernah aku ceritakan, itu. Nenek-nenek yang mencari anaknya yang di usir, itu." Hanif menatap bingung wanita di depannya itu. Dia semakin tidak mengerti apa yang disampaikan oleh Sisi.


"Terus, apa hubungannya dengan Bunda." Sisi menghela nafas panjang. Sepertinya kekasihnya belum mengerti maksud dirinya bicara seperti itu.


Sisi menceritakan kisah hidup nek Puspita. Dari awal hingga beliau di buang di panti itu. Hanif terlihat sedang berfikir. Setelah itu, dia beranjak dari duduknya.


"Mau kemana?" tanya Sisi bingung. Tiba-tiba Hanif berdiri dan menarik tangannya.


"Ke panti itu. Mau kemana lagi?" jawab Hanif, santai.


"Nggak bisa sekarang, sayang. Aku harus pulang dulu. Nek Siti barusan telpon aku. Katanya sekarang ada di rumah. Sekalian dia mau ngajak aku ke rumah saudaranya yang baru saja datang dari Bandung," jelas Sisi yang harus kembali ke rumahnya.


"Lagian ini udah siang, sayang. Aku takut nanti keburu sore, kesannya. Besok pagi aja, ya!" lanjut Sisi, membuat Hanif hanya bisa pasrah.


"Atau kalau gak. Kamu kesana sendirian, gimana?" Hanif tampak berfikir.


"Ya sudah. Aku kesana aja sendiri." Sisi tampak tidak enak hati karena tidak bisa mengantar kekasihnya itu.


Setelah pamit dengan bundanya. Hanif mengantar kekasihnya terlebih dahulu. Baru setelah itu dia akan menuju ke panti. Untuk menemui nek Asih.


Sekarang Hanif sudah berada di perjalanan menuju ke panti. Dimana nek Puspita tinggal, saat ini. Perjalanannya cukup jauh. Tapi tak menyurutkan niatnya untuk bertemu nenek itu. Apalagi mendengar cerita dari kekasihnya itu. Ada sebuah keyakinan dari dalam dirinya. Kalau nek Puspita adalah neneknya. Nenek yang belum pernah ia temui.


Hanif sampai juga di halaman panti itu. Seorang wanita paruh baya memandang kearahnya. Hanif kemudian turun, setelah itu menghampiri wanita yang sedang membawa sapu dan tempat sampah itu.


"Assalamualaikum, Bu!" sapa Hanif pada wanita itu. Wanita itu menyambutnya dengan senyuman ramah, seraya berkata,


"Waalaikumussalam, Nak. Mau cari siapa?" Kemudian dia bertanya kepada Hanif tujuannya datang ke tempat itu.


"Oh, iya. Perkenalkan nama saya Hanif Saputra. Saya datang kemari, ingin bertemu dengan nek Puspita," jelas Hanif mengenai kedatangannya di panti itu.

__ADS_1


"Oh, Nek Puspita. Ayo mari, masuk!" ajak wanita paruh baya itu pada tamunya untuk masuk kedalam. Mereka kemudian duduk di ruang tamu, di panti itu.


"Saya Bu Mirna. Saya pengurus panti ini. Kalau boleh saya tahu, anda ini siapanya Nek Puspita?" Bu Mirna penasaran dengan laki-laki yang ada di hadapannya itu. Perihal tujuannya mencari salah satu penghuni di panti yang ia kelola.


"Saya kesini mau memastikan, apa benar nek Puspita itu adalah Nenek saya!" jelas Hanif berkata jujur. Bu panti itu tampak berfikir. Karena seingatnya cucunya nek Puspita yang membuang neneknya di tempat itu. Dia menatap bingung laki-laki itu.


"Ibu pasti bingung tentang apa yang saya katakan," imbuh Hanif.


Hanif kemudian menceritakan semuanya kepada Bu panti itu. Setelah mendengar cerita dari laki-laki itu. Bu panti mengantar laki-laki itu menuju ke kamar nek Puspita. Tapi mereka harus terhenti, saat pintu kamar itu tertutup rapat. Tidak biasanya wanita penghuni kamar itu menutup pintu kamarnya, apalagi sampai di kunci. Bu panti kemudian mencoba mengetuk pintu kamar itu.


"Nek, Nek Puspita. Ini ada tamu yang ingin mencari Nenek!" seru Bu panti dari balik pintu kamar itu.


Di dalam kamar. Seorang wanita tua sedang menatap kosong disekelilingnya. Terlihat jelas dari raut wajahnya. Sedih bercampur menyesal. Wanita itu sengaja menutup pintu kamarnya, karena tidak ingin ada orang yang tahu. Kalau dia sedang menangisi nasibnya. Kini dia baru sadar. Kalau materi bukan segalanya. Sebuah keluarga yang utuh adalah sumber kebahagiaan setiap insan manusia. Apalagi diusianya yang sudah senja, sekarang ini. Dia rindu kebersamaannya dengan putrinya itu.


Mendengar ada yang mengetuk pintu kamarnya. Wanita tua itu mendekat kearah pintu. Dia mendengar dari Bu panti, kalau ada seseorang yang ingin bertemu dengannya. Beliau mengira itu adalah keluarga dari istri muda mendiang suaminya.


"Tidak!!! Aku tidak mau bertemu dengan dia!!!! Pergi!" Teriaknya histeris.


Hanif sempat menyiut nyalinya saat mendengar teriakkan nek Puspita. Neneknya tidak mau melihatnya. Tapi akal sehatnya mulai beraksi. Bagaimana mungkin nenek itu tahu, kalau dia adalah cucu yang di benci nek Puspita. Sedangkan dia belum bertemu langsung dengannya.


"Suruh dia pergi dari sini!!!" Tubuh wanita tua itu tampak gemetar karena ketakutan. Dia tidak tahu kalau yang datang adalah cucunya dari Lestari. Anak yang selalu dia cari.


"Nek, ini saya Hanif. Saya ingin bertemu Nenek!!" teriak Hanif dari luar. Dia mencoba bersuara, berharap nenek itu mau membukakan pintunya.


Nek Puspita yang mendengar dari balik pintu itu adalah suara seorang laki-laki. Ketakutannya mulai menghilang. Dia mempertajam lagi pendengarannya. Kalau-kalau dia yang salah dengar.


"Nek... Buka pintunya, ya!" Lama tidak ada Jawaban membuat Hanif putus asa.


"Sepertinya beliau memang tidak ingin bertemu dengan saya. Lebih baik saya pamit saja, Bu!" Ujar Hanif pada Bu panti.

__ADS_1


"Mungkin beliau trauma. Karena seingat saya. Beliau di buang kesini oleh cucunya." Hanif menggagguk pasrah. Kemudian mereka mulai meninggalkan tempat itu.


Sekitar sepuluh langkah Hanif pergi dari tempat itu. Sebuah teriakan menghentikan langkahnya.


"Cucuku!!" Nek Puspita yang menaruh harap pada orang yang ingin bertemu dengannya. Kalau orang itu benar cucunya. Akhirnya beliau membuka pintunya dan memanggil laki-laki itu.


Hanif pun menoleh kearah nek Puspita. Setelah membalikkan badannya, saat dia melihat wanita tua yang berjarak dua meter itu adalah benar orang yang sama dengan di foto yang bundanya tunjukkan padanya. Hanya kulit wajah wanita itu sudah mengriput. Hanif berjalan mendekat ke arah nek Puspita. Setelah tepat berada di hadapannya. Hanif langsung memeluknya.


"Nek, ini Hanif!" Mereka saling berpelukan. Nek Puspita melihat sekilas wajah laki-laki yang memeluknya mirip dengan almarhum suaminya.


"Apa kamu anak dari Sri Lestari, putriku?" Hanif melepaskan pelukannya dan mengangguk pelan. Nek Puspita kembali memeluk cucunya itu. Suasana haru terjadi di panti itu.


Setelah saling melepas rindu antara nenek dan cucu. Mereka duduk di ranjang, kamar nek Puspita. Beliau terus-menerus menitikkan air mata. Seakan tidak percaya hari itu akan tiba. Hari dimana, dia bisa bertemu dengan putri yang sudah diusirnya dulu.


"Nek, Nenek ikut Hanif pulang, ya! Nenek gak pantes ada disini?" Nek Puspita tampak diam. Ada sebuah keraguan terpancar dari wajahnya.


"Nenek malu. Nenek jahat! Nenek tidak pantas ikut bersamamu!" Nek Asih kembali terisak. Dengan lembut Hanif menyeka air mata nek Puspita. Dia sungguh tidak tega melihat neneknya terus-terusan menyalahkan dirinya sendiri.


"Nenek! Apa nenek tidak ingin bertemu dengan Bunda?" Bujuk Hanif, "Nenek, Bunda rindu Nenek. Nenek temui Bunda, ya?"


Nek Asih memandang wajah cucunya. Dia seolah Ingan meng- iya-kan permintaan cucunya itu. Tapi dia juga takut, kalau putrinya masih membencinya.


"Nenek ikut, Hanif!"


Nek Puspita masih diam mematung. Saat Hanif sudah mulai beranjak dari tempat duduknya. Dan mulai memasukkan pakaiannya kedalam sebuah tas.


"Nenek tidak bisa ikut!"


To be continued

__ADS_1


__ADS_2