
Rio sampai di bandara pukul 11.00, dia langsung menuju kerumah sakit "Zahra Medika", tempat dimana istrinya dirawat. Perjalanan dari bandara menuju rumah sakit memakan waktu satu jam. Akhirnya dia sampai di rumah sakit tepat pukul 12.00, Rio langsung menuju keruangan Weli. Berbekal dari chat papanya, Rio mencari-cari ruangan Weli dirawat. Papanya Rio masih mengurus jenazah anak Rio dan Weli, sehingga belum bisa menunggu Weli. Beliau juga berpesan pada Rio untuk langsung keruangan Weli dirawat saja.
Rio menemukan ruangan isolasi, ruangan dimana istrinya dirawat. Sayup-sayup dia mendengar, ada orang yang berbincang di sana. Tanpa menunggu lama Rio langsung masuk keruangan itu, dilihatnya Faisal dan Dino berdiri disamping ranjang istrinya. Sementara Weli, istrinya, masih terbaring lemas di ranjang rumah sakit.
"Apa yang terjadi huhuhu.." Tanya Rio langsung mendekati istrinya,
"Sayang bangunn... aku sudah pulang...sayang..." Rio menciumi tangan Weli sembari terus menangis. Faisal merasa sesak hatinya, melihat Rio yang begitu mencintai Weli. Dia jadi ingat kata-kata Dino waktu itu, kalau Rio dan Weli memang saling cinta.
"Yo.. kamu yang sabar ya.." ucap Dino menguatkan sahabatnya. Rio menoleh ke arah Faisal dan Dino..
"Sall.. tolong ceritakan apa yang terjadi, kenapa Weli sampai kecelakaan..." Dino mengguncang-guncang tubuh Faisal, meminta penjelasan tentang kejadian tadi pagi..
"Bodoh.. kenapa kamu meninggalkan dia, disaat usia kandungannya yang sudah tua. Harusnya kamu tidak meninggalkan dia sendiri. " Faisal kesal karena Rio tidak bisa menjaga Weli dengan baik..
"Iya memang aku yang salah..." Dino menyesal meninggalkan Weli untuk pergi keluar kota.
"Sal lebih baik kita keluar.. alangkah tidak baiknya kalian ribut disini.. Kasihan Weli.. ayo..." Dino melerai keributan Faisal dan Rio. Tampak jelas dari wajah keduanya, mereka saling tak suka.
Faisal dan Dino kemudian keluar ruangan Weli, meninggalkan Rio sendiri menjaga Weli. Ada rasa iri dari hati Faisal, andai dia yang ada disamping Weli saat ini. Namun akal sehatnya mulai bekerja, dia teringat Yulia, isterinya.
"Gue cari Yulia dulu ya Din, " ucapnya pada Dino. Faisal berjalan ke arah toilet dimana istrinya berada saat ini. Namun ternyata Yulia sudah berjalan ke arah mereka. Senyum mengembang dari bibir Yulia , kala dia melihat sosok yang dia cari..
" Mas.." Yulia mencium punggung tangan Faisal, Faisal hanya tertunduk menyesali perbuatannya yang mematikan ponselnya.
"Siapa yang kecelakaan mas...?" tanya Yulia membuat Dino dan Faisal saling pandang.
"Weli Yul... dua kecelakaan tadi pagi pas mas mau berangkat ke rumah sakit.. " Faisal berkata jujur pada Yulia, sontak membuat Yulia sedih dan prihatin.
"Pantas mas Faisal ikut menunggu mbak Weli.. Terus sekarang gimana keadaannya mas.." Yulia ikut sedih atas apa yang menimpa Weli, sahabat suaminya. Yulia juga sudah tidak curiga lagi, setelah mengetahui siapa wanita korban kecelakaan yang ditolong Faisal.
__ADS_1
"Iya yul.. keadaannya masih koma, belum melewati masa kritis nya.." jelas Faisal yang mendapat lirikan tak bersahabat dari Dino.
"Terus apa bayinya sudah dimakamkan.." Yulia mengelus-elus perut nya, seakan ada ketakutan tersendiri menyelinap dalam hatinya. Dia tidak bisa membayangkan jika harus kehilangan bayinya, yang selama sembilan bulan dalam kandungan nya.
"Belum Yul, pak Andrian masih mengurus jenazah nya.." jawab Faisal.
Dino yang cuma diam tidak ikut ngobrol dengan Pasangan suami istri yang ada didepannya, sesekali merasa kesal dengan Faisal. Faisal tidak pernah mengerti apa yang dirasakannya Yulia, saat dia tidak bisa dihubungi.
Pak Andrian dan istrinya berjalan menghampiri mereka bertiga, beliau merangkul istrinya. Memberi kekuatan kepada istrinya, atas apa yang menimpa menantu dan cucunya. Rio pun keluar dari ruangan Weli, dilihatnya semua berkumpul didepan.
"Yo.. Kamu lihat dulu anakmu, sebelum papa menguburkan jenazah nya.." Perintah pak Andrian pada Rio, anaknya..
"Iya pah.." Rio langsung berjalan menuju kamar jenazah. Dia benar-benar merasa kehilangan putra nya, apalagi keadaan Weli yang masih kritis. Membuat Rio tak henti-hentinya meneteskan air matanya. Kalau saja waktu itu dia tidak menghandle sendiri proyek yang ada di Malang, kemungkinan dia masih bisa melihat anaknya lahir dengan selamat.
Dibukanya pintu ruang jenazah, Rio masuk dengan langkah lemah, dia tidak sanggup melihat putranya yang sudah tak bernyawa karena keteledoran nya. Rio berjalan menuju box bayi yang tertutup kain putih. Dibukanya perlahan,, Tangis Rio kemudian pecah..
Bayi mungil dengan pipi tembem, putih bersih terkapar tak bernyawa.
Rio sudah kembali didepan ruangan Weli, semua orang sedang menunggu disana.
"Papa akan membawa jenazah anakmu pulang dan segera menguburkannya. Kamu disini saja temani istri dan mamamu.." ucap pak Andrian lalu pergi meninggalkan mereka.
"Yul mas antar kamu pulang ya,, setelah itu mas akan ke makam anak Weli dan Rio.." Faisal tidak ingin istrinya kelelahan, jadi dia memutuskan untuk mengantar Yulia pulang. Yulia menuruti perintah suaminya, dia tahu suaminya melakukan hal yang terbaik untuk dia dan bayi yang ada dalam kandungannya.
Acara periksa kandungan akhirnya gagal, karena kejadian kecelakaan yang menimpa Weli.
Selepas kepergian Faisal, Yulia, Dino, dan pak Andrian. Kini tinggal Rio yang duduk sembari memeluk mamanya, dia tahu mamanya lah yang sangat menginginkan cucu dari dia dan Weli. Dan sekarang beliau tidak bisa menimang cucu nya.
Rio dan mamanya hanya bisa berdoa untuk kesembuhan Weli. Mereka saling menguatkan, mama Sindi tahu, putranya saat ini dalam keterpurukan. Disela-sela keheningan didepan ruangan Weli, suster Melsi datang menemui Rio.
__ADS_1
"Maaf pak Rio, anda diminta untuk datang keruangan dokter monica. Ada yang ingin disampaikan oleh beliau.." Ucapnya pada Rio.
"Baik sus.." jawab Rio dengan nada lemah..
"Mama disini dulu, Rio temui dokter Monica dulu.." Rio beralih pada mama Sindi yang masih terlihat sedih. Mama Sindi hanya mengangguk.
Rio bergegas keruangan dokter Monica, seperti yang disampaikan oleh suster Melsi. sesampainya diruang dokter Monica, Rio langsung masuk, dan disambut senyum ramah oleh dokter Melsi..
"Selamat siang pak Rio.." Sapa dokter Monica.
"Siang dok.." balas Rio..
"Saya harus menyampaikan kabar ini kepada bapak..." Dokter Monica berhenti sejenak, dan mengambil nafas dalam-dalam.
"Akibat kecelakaan yang menimpa istri bapak, rahim ibu Weli rusak, besar kemungkinan akan susah memiliki anak.." Dokter Monica dengan berat hati menyampaikan hasil pemeriksaan medis Weli. Rio hanya menunduk setelah mendengar ucapan dokter Monica, Rio semakin merasa bersalah.
"Berapa persen Istri saya akan memiliki anak dok.." Tanya Rio menatap harap pada dokter Monica.
"Lima persen.." jawab dokter Monica singkat, Rio menarik nafas nya dalam-dalam dan membuangnya cepat. Rasa sesak di dadanya, sehingga tidak bisa berpikir positif. Yang ada hanya penyesalan dan rasa bersalah.
Sepasang mata mendengar percakapan Rio dan dokter Monica...
Happy reading 😍😍
Waduh siapa ya yang denger percakapan Rio...mau tau kelanjutannya.. Like rate, komen nya serta vot3 nya.. Ojo lali..
Author akan update setiap hari ya...
Tapi jangan lupa dukungan nya biar tambah semangat nulisnya...
__ADS_1
Jika jumlah vote dan rate-nya nambah..
malam ini author bakal up lagi 🙏🙏😘😘😘