
Satu Minggu kemudian. Hasil tes kesehatan Bilqis sudah keluar. Hanif sudah mendapatkannya dari petugas lab. Sesuai dugaannya, kalau terjadi sesuatu pada gadis itu. Kangker darah stadium 3 telah menggerogoti tubuh Bilqis.
"Dok, apa hasilnya sudah keluar?" tanya Sisi, kemudian mendekat kearah Hanif. Hanif pun diam sesaat. Dia tahu. Sisi pasti akan sedih, jika mengetahui sahabatnya terkena penyakit kanker darah. "Dok!" Sisi pun melambaikan tangannya, berharap Hanif tersadar dari lamunannya.
"Iya sudah keluar hasilnya." Dengan wajah penuh ketegangan, Sisi pun bertanya lagi.
"Terus, bagaimana hasilnya!" Pria dihadapannya itu lagi-lagi diam. Membuat Sisi mengerinyitkan dahinya. "Dokter Hanif, bagaimana hasilnya."
"Hasilnya..... Bilqis menderita penyakit kanker darah stadium tiga." Sisi seketika menjadi lemas mendengar hasil pemeriksaan medisnya Bilqis. Hatinya ikut hancur, mengetahui kenyataan buruk yang menimpa adik sekaligus sahabatnya itu.
"Kamu gak usah khawatir ya, saya pasti bisa menyembuhkan Bilqis. Saya janji padamu, saya akan berusaha semampu saya untuk membuat Bilqis sehat lagi." Kata-katanya itu sebenarnya untuk menyakinkan dirinya. Kalau dia bisa menyembuhkan Bilqis.
Hanif menjadi ingat kejadian dua tahun yang lalu. Pasien yang sangat dekat dengannya tidak bisa ia selamatkan. Karena dialah, wanita itu meninggal.
Sisi pun beranjak dari tempatnya menuju ke cafetaria rumah sakit. Dia bingung, bagaimana nanti cara dia menyampaikan kabar buruk ini pada Bilqis. Bilqis itu orangnya sangat sensitif. Mudah sekali menangis. Apalagi menyangkut hal itu, dia pasti akan hancur.
Teh hijau hangat yang berada di atas meja. Menjadi dingin, karena tak kunjung diminum oleh pemiliknya. Sisi masih melamun. Hingga tak menyadari ada seseorang berdiri disampingnya.
"Sayang, kamu kok kelihatan sedih!!" Sisi pun terkejut mendengar suara Faisal yang berada disampingnya.
"Ayah!! Ayah sejak kapan ada disitu?" Faisal pun langsung duduk di seberangnya Sisi.
"Sudah hampir lima menit, ayah berdiri disitu. Apa yang membuat anak Ayah jadi sedih begini?" Sisi pun menghela nafas berat. Dia bingung mau ngomong apa pada ayahnya.
"Yah! Bilqis Yah, Bilqis." Sisi kembali diam. Faisal yang mendengar kata-kata Sisi yang sepotong-sepotong itu ikut bingung dan khawatir.
"Bilqis kenapa?" tanya Faisal lagi.
"Dia... Bilqis mendengar penyakit kanker darah stadium tiga." Faisal pun ikut terkejut mendengar berita itu dari Sisi. Dia sempat tak percaya akan hal itu.
"Apa benar yang kamu katakan itu, sayang." Sisi pun mengangguk.
"Inalillahi. Apa om Dino tahu soal hal ini?" Sisi hanya menggeleng.
__ADS_1
"Ayah jangan kasih tahu om Dino dulu Yah. Bilqis sendiri yang bilang dia tidak mau membuat Ayahnya khawatir." Faisal tahu apa yang dirasakan anak sahabatnya itu. Dia adalah putri semata dari Dino. Tentu saja Dino akan khawatir jika tahu putrinya menderita penyakit yang mematikan itu.
"Tapi sayang, kita gak bisa terus-terusan menyembunyikan hal ini pada Om Dino."
"Apa yang kalian sembunyikan dari saya." Faisal dan Sisi hanya saling pandang. Mereka tidak menyadari kehadiran Dino disitu.
"Sal, Si. Kok kalian diem?" Faisal pun memberikan isyarat pada putrinya untuk mengatakan sebenarnya pada Dino.
"Bilqis Om...dia menderita penyakit kanker darah stadium tiga...."
"Apa!!!!" Dino terkejut mendengar ucapan Sisi. Seketika hatinya remuk.
Sisi pun menceritakan awal mula Bilqis melakukan tes medisnya pada Hanif. Dino menjadi teringat saat Bilqis yang pulang dalam keadaan pucat. Dia tidak tahu kalau selama ini putrinya sering pingsan di kampus. Dino takut bagaimana menyampaikan hal itu pada istrinya. Istrinya pasti sangat sedih jika tahu.
Matahari sudah hilang dari peredarannya. Hari pun sudah menjadi gelap. Hanif dan Sisi belum pulang ke rumah. Karena hari ini banyak pasien mereka. Faisal pun sudah pulang terlebih dahulu.
Saat ini Sisi sudah ada di parkiran. Dia sudah bersiap untuk pulang ke rumah. Hanif sebenarnya tidak tega, membiarkan gadis itu pulang sendirian. Apalagi hari sudah malam begini. Hanif sempat menawari akan mengantarnya pulang. Tapi Sisi tidak mau. Dengan alasan sudah terbiasa.
Sisi pun mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Dia tidak mau membahayakan keselamatan. Kalau melajukan motornya kencang-kencang. Sisi lebih memilih lewat jalan pintas agar bisa lebih cepat sampai rumah. Memang jalannya sebuah sepi dari pada jalan yang biasanya ia lewati.
"Mau kemana cewek cantik malam-malam begini?" Tanya salah satu preman itu.
"Sini sama Abang aja!!!" Sisi menjadi ketakutan melihat dua pria dihadapannya itu. Pria itu terus mendekatinya.
"Kalian pergi dari sini!!!"
"Pergi, ayo kita pergi dari sini... Untuk bersenang-senang...." Racau preman itu lagi. Salah satu preman itu memegang pipinya Sisi dengan cepat ditepis oleh Sisi.
"Jangan galak-galak dong sayang .. tapi saya malah suka dengan yang begini." Preman itu kemudian memegang tangan Sisi dengan kuat. Membuat Sisi meringis kesakitan.
"Lepaskan saya!!! Lepas!!!" Teriaknya sembari berusaha melepaskan tangannya dari preman itu.
"Ayo ikut kita berdua. Kita akan membawamu kesurga dunia... hahahaha." Preman itu menarik sisi menjauh dari situ. Tapi sebuah suara menghentikan langkah mereka.
__ADS_1
"Lepaskan wanita itu!!!!" Dengan tegas dan lantang seorang pria berkemeja garis-garis memperingati preman-preman itu.
"Oh, ada yang mau jadi pahlawan rupanya!!!" Salah satu preman itu melepaskan tangannya dari Sisi.
Hanif mendekat preman-preman itu. Preman itu menatap tajam ke arah Hanif. "Lepaskan wanita itu!!" Bughh, sebuah pukulan melayang ke sudut bibir Hanif.
"Banyak omong!!!" Hanif mengelap sudut bibirnya yang mulai mengeluarkan darah segar. "Masih mau jadi pahlawan!!!" Salah satu preman itu terlihat bahu hantam dengan Hanif. Beberapa kali perutnya Hanif terkena pukulan preman itu.
Sisi pun tak tinggal diam, melihat Hanif yang dipukuli oleh preman itu. Dia menginjak kakinya preman yang masih memegangi tangannya. Membuat preman itu kesakitan, dan tak sadar melepaskan tangan Sisi. Sisi langsung mencari benda yang sekiranya bisa untuk memukul para preman itu.
Sebuah kayu besar yang tak jauh dari tempatnya menjadi pusat perhatian Sisi. Dengan cepat dia mengambil kayu itu dan memukulkan kayu itu ditengkuk preman yang masih memegangi kalinya. Preman itu langsung tak sadarkan diri.
Tinggal satu lagi yang menjadi sasaran Sisi. Preman yang kini sedang menghajar Hanif, menjadi pusat perhatiannya. Sisi pun langsung mendekati preman itu, dan memukulnya dari belakang. Karena pukulan Sisi, preman itu mengerang kesakitan.
Dengan cepat Sisi membantu Hanif untuk berdiri. Sebelum preman itu membalasnya, Sisi membawa Hanif kedalam mobilnya. Setelah Hanif masuk, Sisi pun ikut masuk ke bangku pengemudi. Dia yang mengambil alih menyetir mobilnya Hanif. Mereka pun akhirnya bisa lolos dari preman-preman itu.
"Kenapa Dokter ada disana tadi?" tanya Sisi kebingungan karena tiba-tiba Hanif datang. Padahal itu bukan arah jalan kerumahnya.
"Dasar bodoh, apa saya akan membiarkan mu pulang sendirian malam-malam begini. Sttt," jawabnya sembari mengerang kesakitan akibat pukulan preman-preman itu.
Sisi pun tercengang mendengar perkataan Hanif. Pria yang berada disampingnya itu bahkan rela membuat dirinya terluka. Demi menolong dirinya. Sisi pun menjadi terkesima dengan Hanif....
To be continued...
Masih hambar ya ..
Sekarang belum kelihatan greget nya.
Tapi lihat aja di part-part berikutnya...
Ceritanya tak kalah mengharukan dari kisah orang tua Sisi...
Bahkan disinilah bisa kita petik pelajaran tentang kehidupan ini...
__ADS_1
Tak selamanya apa yang kita harapkan bisa diwujudkan oleh Allah. Tapi Allah lebih tahu mana yang terbaik untuk hambanya....
Hehehehe 😍😍😍😍😍