
Seorang wanita dengan memakai setelan rok pisket warna hitam dan setelan atasan lengan panjang di balut jas berwarna putih berdiri di depan kaca sembari memakai jilbab pashmina nya. Wajah ayu dengan polesan make up sederhana menyempurnakan penampilan harinya.
Untuk pertama kalinya wanita itu menampakkan dirinya di tempat kerjanya dengan penampilan barunya. Dia semakin cantik dengan penampilannya yang sekarang. Baginya, sesuatu yang baik harus diawali dengan niat yang baik. Dan niat berhijab semakin mantap di hati wanita itu.
Usai berdandan dia turun kebawah untuk bergabung dengan adik-adiknya dan ayahnya yang sudah menunggunya di meja makan.
"Pagi semua," sapanya pada suatu orang yang ada di sana.
"Pagi, sayang. Ayo duduk, kita sarapan bersama. Nanti bareng aja sama Ayah, ke rumah sakitnya," balas Faisal.
Sisi kemudian mendaratkan bokongnya disalah satu kursi yang masih kosong. Dia mengambil dua helai roti tawar yang ada di depannya. Setelah itu mengoleskan selai di salah satu rotinya dan menangkapnya menjadi satu kemudian mulai menyantapnya.
"Nanti malam Yulia pulang. Besok malam kita bisa merundingkan tanggal yang tepat untuk pernikahan Hanif dan Sisi," ungkap Faisal.
"Bapak mah manut aja, terserah kalian baiknya kapan," sambung pak Hermawan.
Usai sarapan, mereka semua memisahkan diri. Faisal dan Sisi berangkat ke rumah sakit. Sementara Fatan dan Fatin, mereka juga berangkat ke kampus mereka masing-masing. Sementara pak Hermawan dan Bu sari, mereka duduk di teras depan sembari melihat pemandangan pagi hari di jalanan.
"Sayang, gimana keadaan Bilqis?" tanya Faisal pada putrinya.
Dia memang belum menengok putri sahabatnya itu. Bukan tanpa alasan, saat Bilqis baru di rawat di rumah sakit Faisal harus disibukkan dengan kasus itu. Saat sekarang dia sedikit senggang, Bilqis sudah di perbolehkan pulang.
"Udah mulai stabil, Yah. Yang penting harus minum obat secara rutin, dan check up tiap Minggu. Inshaa Allah, keadaannya akan stabil. Tapi, kita udah jadwalkan kemoterapi buat dia, Yah." jelas Sisi panjang lebar.
"Hmm, semoga misi kalian berhasil. Bisa menyembuhkan Bilqis." Sisi pun meng-aamiin-kan doa ayahnya. Tidak terasa mobil mereka sampai di halaman parkir rumah sakit. Faisal turun dari mobilnya, diikuti oleh putrinya.
Mereka berjalan beriringan menuju kedalam. Semua pandangan orang-orang di sekitar sana tertuju pada wanita berhijab pasmina warna peach. Mereka menaruh kagum pada wanita itu. Faisal dan Sisi memisahkan diri di lobi. Faisal berjalan ke arah basecamp lift menuju keruangannya. Sementara Sisi berjalan' mengikuti pintu masuk dari rumah sakit.
__ADS_1
Sesampainya di ruangannya. Sisi belum melihat kekasihnya ada di sana. Dia sedikit heran, tidak bisanya Hanif datang terlambat. Dia berinisiatif untuk menelpon kekasihnya itu. Tapi kegiatannya terhenti saat dia mendengar suara pintu terbuka. Ternyata benar, Hanif sudah berdiri di ambang pintu. Seulas senyuman di pancarkan dari wajah Sisi.
"Sayang, akhirnya kamu datang juga. Tumben telat," ujar Sisi melihat kearah Hanif.
"Iya, macet tadi. Ada orang tabrakan, di ujung persimpangan arah ke rumah," jawab Hanif menghampiri Sisi.
"Innalilahi, terus korbannya gimana?
"Aku gak tahu sayang, aku gak turun. Udah banyak yang menolong." Hanif Kemudian tersenyum melihat penampilan Sisi.
"Kamu cantik, hari ini!" godanya. Wajah Sisi langsung memerah. Tak ingin kelihatan, dia pun membalasnya.
"Emangnya cantiknya cuma hari ini aja. Yang kemarin-kemarin gak cantik, gitu?" ucap Sisi sambil memonyongkan bibirnya.
"Bukan begitu sayang. Kamu lebih kelihatan cantik kalau pakai hijab begitu," jelas Hanif.
"Kalau gak cantik, mana mungkin aku bisa tergila-gila sama kamu," sambung Hanif membuat dirinya tergelak.
"Oh, iya nenek dan kakek udah dateng kesini. Rencananya besok mereka akan berunding, cari hari baik buat pernikahan kita," seloroh Sisi memberi tahu kedatangan kakek dan neneknya.
"Syukurlah, semoga bisa secepatnya ya sayang. Aku sudah gak sabar ingin..." Hanif tak memangkas kata-katanya sembari melirik wajah ayu milik kekasihnya itu.
"Ingin apa?"
"Ingin milikmu, apalagi." Sisi pun tergelak mendengarnya.
Sisi kemudian duduk di meja kerjanya begitu juga dengan Hanif. Mereka mempersiapkan perlengkapan kerjanya.
__ADS_1
"Oh iya sayang. Aku baru ingat.. aku udah daftarkan kamu buat jadi peserta seminar. Jadwal seminarnya dua minggu lagi. Di hotel Indonesia. Kalau gak salah pas hari sabtu, deh." Hanif menyampaikan informasi penting pada kekasihnya. Tentang seminar yang akan di hadiri Sisi demi menunjang karirnya lebih baik lagi.
"Iya sayang. Makasih ya, udah di daftarin. Tapi biasanya berapa hari, sih sayang. Aku kan belum pernah ikut?"
"Tergantung penyampai materi nya. Yang aku dengar, akan ada dokter dari Singapura yang akan menjadi mentor nya. Tapi entah jadi atau nggak nya belum ada infonya lagi."
Mereka mengakhiri percakapan mereka, karena perawat datang memanggil Hanif, karena pasiennya darurat. Hanif langsung memeriksanya. Sisi pun tak kalah sibuknya, beberapa pasien kontrol hari ini dia yang tangani. Mereka tidak bertemu sampai jam istirahat pun tiba.
Karena menunggu lama, tapi Hanif tidak kembali ke ruangannya. Sisi memutuskan untuk ke cafe rumah sakit duluan, karena perutnya yang sudah sangat lapar. Sebelum itu, dia tinggalkan pesan lewat ponselnya pada tunangannya.
Saat dia sedang berjalan menuju cafe tiba-tiba pinggulnya tersenggol bangkar yang di dorong cepat dari arah lain. Sehingga membuat keseimbangannya goyah, hingga akhirnya dia akan terjatuh. Beruntung ada pria yang menangkapnya dari belakang. Sisi pun menoleh kan wajahnya kearah orang yang menolongnya. Tapi tatapan mereka terkunci, saat tahu siapa yang tengah menolong dirinya. Lama mereka saling pandang, hingga sebuah tangan menarik tubuhnya dari orang tersebut.
"Puas kalian saling tatapan seperti itu," ketus pria itu melirik sinis Sisi dan Iqbal.
Sisi pun membenarkan hijabnya yang sedikit berantakan. Setelah itu, beralih menatap wajah Hanif.
"Sayang, dia menolongku. Aku mau jatuh." Sisi membela diri.
"Maaf jika sikap saya mengganggu anda, dok?" Iqbal pun kemudian pergi dari tempat itu. Dia tidak mau membuat suasana semakin riuh.
Kedatangannya di rumah sakit yaitu untuk mengantar papanya yang tiba-tiba mengeluh kesakitan pada dadanya. Saat dia akan menuju ke ruang administrasi, tiba-tiba melihat Sisi yang akan jatuh. Tidak mungkin dia membiarkan wanita itu jatuh, sehingga dengan cepat dia menangkapnya. Tapi sepertinya sikapnya membuat kekasih wanita itu cemburu. Sehingga dia tidak ingin lama-lama berada di tempat itu.
"Sayang, kenapa kamu marah? Dia hanya menolongku?" Sisi mengejar Hanif yang melangkahkan kakinya lebih cepat.
"Sayang, tunggu!!!" teriak Sisi merasa tidak sanggup mengejar Hanif, karena kakinya sedikit lecet dengan sepatu high heels nya.
Hanif selalu merasa cemburu jika melihat kedekatan tunangannya itu dengan sahabatnya. Entah kenapa dia memiliki perasaan itu. Seakan dia takut, jika Sisi akan di rebut oleh pria itu. Padahal dia tahu dengan jelas kaldu Iqbal adalah kekasih Bilqis. Tapi dalam hatinya masih belum menerima sepenuhnya.
__ADS_1
bonus visual Sisi dan Hanif