
Flashback on
Delia berencana akan menunjukkan di mana tempat tinggalnya. Delia memang sedang ada masalah dengan orang tua angkatnya. Awalnya, dia tidak tahu kalau dia punya saudara kembar. Delia mengetahui dari orangtuanya sendiri. Delia mendengar ucapan Ayah angkatnya, yang menyatakan dia bukan anak kandungnya. Mendengar hal itu, sontak membuat Delia meminta penjelasan pada mereka. Dan Akhirnya, mereka menceritakan semuanya. Delia memang di bawa oleh mereka, karena takut, Delia akan kembali pada orang tua kandungnya.
Delia memutuskan secara diam-diam untuk mencari tahu keberadaan orang tua kandungnya dan saudara kembarnya. Berbekal dari alamat yang ia dapatkan dari lemari ibu angkatnya. Delia menemui pak Sukamto dan Bu Sari.
Pak Sukamto dan bu Sari awalnya mengira, yang datang adalah Yulia. Beliau tidak tahu bahwa yang berada di dalam rumahnya adalah saudara kembarnya Yulia. Selama dua puluh delapan tahun, Mereka kehilangan kontak dengan Delia. Kebetulan, Yulia memberi kabar, kalau dia sudah kembali ke rumahnya. Pak Sukamto dan istri ingin mempertemukan mereka berdua.
Waktu akan ke rumah orang tua angkatnya Delia. Delia bersikukuh ingin mengendarai motor Yulia. Pengalaman yang belum pernah ia dapatkan selama ini, yaitu mengendarai motor di jalanan seorang diri. Dengan berat hati Yulia memberi izin pada saudara kembarnya.
Yulia naik mobil Delia, dan Delia naik motor Yulia. Mereka bertukar tempat. Supir Delia kebingungan, saat dia melihat mereka berdua. Delia kemudian menceritakan semuanya pada supirnya, termasuk rencananya.
Takdir berkata lain, alih-alih ingin mengerjai Faisal dan orang tua angkatnya. Malahan, Delia mendapat musibah. Motor yang di kendarai olehnya, harus bertabrakan dengan mobilnya, dan mobil truk pengangkut barang. Dan terjadilah kecelakaan itu.
Flashback off
Faisal sampai ke rumah sakit dengan membopong Yulia masuk ke dalam rumah sakit. Beberapa perawat menolong Faisal, dengan memberikan ranjang dorong untuk meletakkan tubuh Yulia. Ranjang dorong itu menuju ruang UGD, untuk segera mendapatkan pertolongan. Faisal bersikukuh ingin ikut masuk ke dalamnya. Dia ingin ikut membantu menolong Yulia, apa boleh buat Dokter yang menangani Yulia akhirnya memperbolehkan Faisal untuk ikut masuk ke dalam.
Setelah sesaat Yulia sudah mendapatkan pertolongan. Beberapa perawat dengan buru-buru mendorong ranjang dorong menuju ke UGD. Disisi kamar lainnya, Delia di beri perawatan.
Di ruangan Yulia,
Dengan berbagai cara telah di lakukan oleh dokrer yang menangani Yulia. Dimulai dengan, memancing detak jantung Yulia agar mau berdegup lagi. Namun usaha mereka sia-sia Yulia sudah tak bernyawa, saat masih dalam perjalanan menuju rumah sakit.
__ADS_1
"Tidakkk," teriak Faisal tak sanggup menerima kenyataan.
"Bangun Yul, bangun.. jangan pergi, aku mohon, huhuhu" tangis Faisal pilu.
Dengan menggoyang-goyang kan tubuh Yulia, Faisal berusaha membuat Yulia bangun lagi. Sekuat tenaga Faisal membuat Yulia hidup, namun takdir berkata lain. Yulia istrinya sudah tak bernyawa lagi. Dokter menutup seluruh tubuh Yulia, dan segera membawanya ke kamar jenazah. Faisal terkulai lemas, menyesali apa yang terjadi. Istrinya, harus meregang nyawa di hari ulang tahun pernikahannya. Faisal hanya bisa menangisi kepergian Yulia, sang istri.
Jenazah Yulia dibawa ke kediaman Faisal, setelah mengikuti prosedur rumah sakit. Para pelayat berdatangan, orang tua Faisal, bulek dan paklek Yulia juga datang melayat. Mereka tak menyangka, pertemuannya dengan Yulia tempo hari, adalah pertemuan terakhir mereka.
Orang tua Yulia hanya bisa menangisi kepergian anaknya. Mereka tidak pernah tahu kalau mayat yang ada di depannya adalah mayat saudara kembarnya Yulia. Yang mereka tahu, mayat itu adalah Yulia.
Proses pemakaman dilakukan malam itu juga. Pukul dua belas dini hari, jenazah Yulia di kebumikan. Sisi yang di beritahu, kalau bundanya sudah meninggal, tak percayai itu. Anak kecil berusia lima tahun itu, menangis di atas nisan bundanya. Dia ingin ikut bundanya pergi, untuk bertemu Allah.
Faisal dan keluarga pulang ke rumah, setelah usai proses pemakaman Yulia. Dia tidak pernah menyangka, kalau istrinya akan pergi secepat itu. Faisal hanya diam dan menangis.
Saat Faisal sedang duduk di ranjangnya, pegawai cafe menelponnya. Mereka menanyakan rencana Faisal, karena sudah lewat dari jam yang dijanjikan oleh Faisal. Namun, Faisal tak kunjung datang.
Dengan suara berat Faisal menjawabnya, "saya tidak akan datang kesana, untuk sisa pembayaran besok saya urus." Faisal menutup kembali telponnya.
"Yul, kenapa kamu hukum aku seperti ini? aku tahu aku salah, aku tahu aku bodoh. Tapi, kenapa kamu setega itu kamu menghukum ku." Faisal mengusap air matanya.
"Sisi mau ikut Bunda, sisi mau ikut huahuaa..." racau Sisi memberontak.
"Sayang, Bunda sudah di surga. Kamu yang sabar ya sayang!" Bu Sari berusaha menenangkan Sisi.
__ADS_1
Faisal yang mendengar putrinya menangis, kemudian beranjak menghampirinya.
"Sayang, Sisi mau lihat Bunda, nak?" tanya Faisal saat sudah ada dihadapan Sisi. Sisi mengangguk menanggapi pertanyaan Faisal.
"Sisi ikut Ayah ya sayang!" Faisal mengajak Sisi ke luar rumah. Di teras rumahnya, Faisal dan Sisi berhenti.
"Sayang, coba Sisi lihat bintang yang paling terang di sana." Faisal menunjuk sebuah bintang di langit.
"Dia Bunda sayang, dia Bundanya Sisi. Bunda sudah tenang di surganya Allah. Sisi harus ikhlas melepas Bunda. Agar bunda bahagia di sana." Faisal mencoba menguatkan putrinya. Dia tidak ingin jika Sisi terus menangis. Dia sendiri sebenarnya belum ikhlas melepas kepergian Yulia. Tapi Faisal berusaha tegar di depan putrinya.
"Kalau Sisi rindu Bunda, Sisi bisa lihat bintang itu. Dan mendoakan Bunda selalu." Imbuh Faisal tersenyum ke arah putrinya.
"Bunda, kenapa Bunda tinggalin Sisi? Sisi janji gak akan nakal lagi, Sisi janji mau makan sendiri. Sisi janji akan membuat Bunda bahagia." Anak itu berbicara pada bintang disana, dia menyebutkan kenakalannya selama ini.
Sisi sudah mulai tenang, Faisal membawa masuk lagi ke dalam. Sisi tak ingin kau dari Faisal, dia maunya di gendong Faisal. Dengan telaten, Faisal mengikuti kemauan putrinya. Setelah Sisi terlelap, dibaringkan nya tubuh Sisi di ranjang.
Faisal memandangi anaknya, Faisal merasa kasihan pada Sisi. Di usianya yang masih kecil, yang masih butuh belaian dari bundanya, kini harus di tinggal pergi oleh Bundanya. Faisal beralih ke lemari, di bukanya laci lemari itu. Faisal mengambil kalung yang akan dihadiahkannya pada Yulia, kalung itu di simpannya lagi. Faisal tak sanggup, tak sanggup melihat benda-benda yang belum sempat ia berikan pada Yulia. Faisal hanya bisa memandangi foto Yulia yang sekarang sudah menjadi wallpaper di handphone nya. Foto itu di buat Faisal, saat Yulia terlelap dari tidurnya.
To be continued..
Maaf sebelumnya kalau cerita saya masih kurang berkenan di hati para readers. Saya ingat lagi, saya baru pertama kalinya menulis novel di sini. Jadi jika masih banyak kekurangannya mohon dimaklumi.
Satu lagi, kenapa harus menghadirkan Delia di novel ini. Karena saya bingung, caranya agar Yulia bisa tetap hidup, dan sesuai dengan sipnosisnya.
__ADS_1
Awalnya saya buat novel ini gak sebanyak ini, mungkin cuma sampai empat puluh bab saja. Karena saya ragu tidak akan banyak yang membacanya. Tapi ternyata dugaan saya salah, yang membaca novel saya banyak. Jadi alur ceritanya agak saya melencengkan dari rencana awalnya. Saya juga gak tega, jika buat Yulia meninggal disini.
Terimakasih yang sebesar-besarnya untuk para readers yang sudah setia menunggu kelanjutan cerita saya.