Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Empat puluh sembilan.


__ADS_3

"Dokter...dok..." teriak suster Melsi panik..


Dokter Monica langsung berjalan ke arah suster Melsi.


"Iya kenapa sus.." Dokter Monica ikut panik.. Faisal dan Dino mengikuti dari belakang dokter Monica.


"Detak jantung bayi dokter Faisal berhenti berdetak dok.." Ucap suster Melsi..


Dokter Monica langsung masuk ke ruang ingkubator untuk memeriksa kondisi bayinya Faisal. Faisal hanya bisa menunggu hasil pemeriksaan dokter Monica, beberapa kali dia dia mengusap wajahnya kasar. Faisal tidak tahu harus berbuat apa kalau sampai anaknya meninggal. Belum lagi Yulia, dia pasti akan terpukul kalau sampai itu terjadi.


Bayi Faisal tidak bisa diselamatkan, setelah hasil periksaan dokter Monica, ternyata bayi berjenis kelamin laki-laki itu memiliki kelainan jantung. Sehingga akan sulit bertahan dalam kondisi lahir prematur. Dengan penuh penyesalan, dokter Monica mengatakan pada Faisal, kalau anaknya tidak bisa diselamatkan.


"Tolong selamatkan anak saya dok.. huhuhu..." Faisal bersimpuh dikali dokter Monica, memohon agar bayinya bisa diselamatkan.


"Maaf dokter Faisal kami sudah melakukan hal yang terbaik untuk bayi dokter. Mungkin Allah lebih sayang pada bayi dokter.." Dokter Monica berusaha memberi pengertian pada Faisal.


Saat itu juga ibu Siti dan pak Sukamto datang, mereka dikabari Faisal. Mereka berdua begitu syok mendengar kecelakaan yang menimpa anaknya sehingga cucunya meninggal dunia.


Dino menatap Faisal dengan tatapan kebencian. Harusnya Faisal tidak egois dan memintingkan pekerjaan dibanding menjaga Yulia. Weli tidak menyangka nasib Yulia akan sama dengan nya. Kehilangan bayi yang selama sembilan bulan dia kandung. Weli tahu betul perasaan Yulia saat ini, pasti akan terpukul.

__ADS_1


Sementara Yulia, dia sudah dipindahkan ke ruang rawat. Kondisi nya sudah stabil semua, hanya Tinggal menunggu dia siuman. Ibu Siti dan Weli yang menemani Yulia saat ini, sementara Faisal dia melihat anaknya untuk pertama dan terakhir kalinya. Dia menyesal, sangat menyesal atas apa yang menimpa Yulia dan bayinya. Dia berfikiran, kalau selama ini dia gagal menjadi suami dan ayah yang siaga untuk Yulia dan bayinya. Dia jadi ingat waktu dia menyalahkan Rio atas apa yang menimpa Weli, dan sekarang, apa bedanya dia dengan Rio. Sama-sama gagal menjadi suami siaga.


Yulia membuka matanya perlahan, kesadaran mulai muncul..


"Maa..." ucapnya pertama kali di saat dia sadar, karena yang dia lihat cuma ada mamanya disana.


"Sayang... maafin mama ya.. gak bisa jaga kamu..kalau saja mama gak pulang... ini semua gak akan terjadi.. huhuhu..." Ibu Siti merasa bersalah, kalau saja dia tidak pulang.. pasti anak dan cucunya tidak akan seperti ini..


"Maaa... dimana anakku..." Yulia sadar bahwa perutnya sudah rata, tanda bayi dalam kandungan nya sudah tidak ada disana.


"Kamu yang sabar ya nak... anakmu..." belum sempat ibu Siti melanjutkan kata-katanya, Yulia berteriak histeris..


"Anakmu... anakmu... sudah tidak ada nak huhuhu..."


"NGGAK MUNGKIN...ini semua gak mungkin... huhuhu...sayang kenapa kamu tinggalkan bunda nak... sayang....huhuhu" Yulia terus berteriak, sehingga tubuhnya lemah dan hilang kesadaran nya, Yulia pingsan.


"Yul... bangun sayang....Yul.... " Mama menggerakkan tubuh Yulia...


"Nak Weli tolong panggilkan dokter sekarang.." Weli yang cuma bisa berdiri mematung, ikut merasa apa yang saat ini Yulia rasakan..

__ADS_1


"Iya Bu..." Weli keluar untuk memanggil dokter Feri, dokter yang menangani Yulia saat ini..


Weli membawa dokter Feri keruangan Yulia, kemudian dokter Feri memeriksa lagi kondisi pasien nya.


"Tolong ya Bu... jangan buat pasien stress.. akan berakibat fatal Dengan keselamatan nya.. sekarang biarkan dulu pasien istirahat. Ibu tolong tunggu diluar saja.. " ujar dokter Feri memberi saran agar Yulia tidak stress.


Sesuai saran dokter Feri, ibu Siti dan Weli keluar dari ruangan Yulia. Dan diluar sudah ada Dino dan pak Sukamto. mereka duduk diruang tunggu, memastikan tidak akan terjadi apa-apa dengan Yulia. Dokter Feri sudah memberikan obat penenang pada Yulia, beliau tahu betul apa yang sedang dialami Yulia saat ini. Terpukul, sedih, marah itu sudah jelas terjadi. Beliau berharap Yulia tidak berlarut dalam kesedihan nya, kalau sampai itu terjadi, akan mengganggu jiwanya.


Besok dilanjut lagi ya


author nya wes ngantuk, kemarin bergadang nyelessiin tugas. Tadi gak sempet tidur siang..


Author udah penuhin janjinya..


up tiga bab sekaligus dalam satu hari..


semoga para readers gak bosen ya baca novel


suamiku tak pernah mencintaiku 😭😭

__ADS_1


salam hangat dari author....


__ADS_2