Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku

Suamiku Tak Pernah Mencintai Ku
Kamu cantik, malam ini


__ADS_3

Faisal dan keluarga sudah sampai di kediaman pak Darul. Rumah mewah yang dihiasi dengan kerlap-kerlip lampu. Para tamu undangan pun sudah berdatangan, Faisal berjalan menghampiri tuan rumahnya. Pak Darul sudah berdiri di sebuah podium, yang di disain oleh pihak WO.


"Selamat ulang tahun Pak Darul, doa yang baik untuk Bapak" ucap Faisal menyalami, sementara Delia mengatupkan kedua tangan nya di dadanya.


"Terimakasih Dokter Faisal, lho ini siapa, kok mirip dengan almarhumah istri anda?" tanya pak Darul memperhatikan secara detail Delia.


"Dia Delia, saudara kembar istri saya Pak." Faisal ragu untuk mengatakan kalau Delia itu istrinya yang masih hidup. Belum saatnya Faisal mempublikasikan kesemua orang. Sebelum dia mendapatkan bukti, atau sebelum ingatan Delia kembali.


"Senang berjumpa dengan anda Mbak Delia, silahkan dinikmati pestanya." Kirana yang menyadari kehadiran Faisal, bergegas menemui Faisal. Tapi saat dia melihat sosok yang mirip Yulia, Kirana berjalan lebih santai sembari mengamati Delia.


"Hai Faiz, hai sayang, hai." Kirana menyapa Faisal, kemudian Sisi, dan juga Delia.


"Hai Ran!" sapa Faisal tersenyum ramah.


"Dia siapa Faiz, gak mungkin istri kamu kan?" tanya Kirana melirik Sinis ke arah Delia.


"Dia kembaran Yulia." Jawab Faisal.


"Hai sayang, ikut aunty yuk!" Kirana mencoba mendekati Sisi.


"Nggak mau, Sisi maunya sama Bunda aja." Sisi bergelayut di lengan Delia.


"Kita cari coklat di sana, ada balon juga Lo" Kirana masih mencoba untuk membujuk Sisi, tapi sepertinya Sisi tak bergeming.

__ADS_1


"Nggak Tante, Sisi gak mau sama Tante." Sisi merengek, karena merasa terganggu oleh Kirana.


"Udah sayang, jangan nangis lagi ya." Kirana mencoba menenangkan Sisi yang mulai menangis. Merasa rencananya gagal, Kirana semakin kesal dengan Delia.


Faisal dan keluarga menjauh dari podium, karena harus bergantian dengan yang lain. Faisal memilih duduk di kursi yang ada di dekat kolam renang. Faisal sengaja memilih tempat yang agak sepi, agar bisa menikmati momen bersama keluarga kecilnya. Faisal meninggalkan Sisi dan Delia, untuk mengambil makanan yang sudah terhidang di meja prasmanan. Delia mengajak Sisi bercanda, saling tertawa bersama.


Faisal datang dengan membawa dua piring makanan untuk Delia dan Sisi. Setelah meletakkan makanan itu, Faisal mengambil lagi untuk dirinya. Mereka bertiga sudah siap dengan makanan mereka masing-masing. Sisi dengan sup ayam dan brokoli, Delia dan Faisal memilih ayam goreng dan sayuran. Faisal sudah mulai makan dengan makanan nya, Sisi masih diam tak menyentuh makanan nya.


"Sayang, kok makanan nya cuma diliatin aja?" tanya Delia pada Sisi yang terlihat mayun.


"Bunda, Sisi mau disiapin!" Sudah lama sekali Sisi tidak disuapin oleh bunda nya. Mungkin anak itu rindu, ingin dimanja oleh Bundanya.


"Dino bunda yang siapin ya" Delia mengambil sendok di piring Sisi, dan mulai menyuapinya.


Faisal yang sudah hampir menghabiskan makanan nya merasa kasihan pada Delia. Makanan di piring Delia sama sekali belum disentuh oleh-nya.


"Sayang, udah Mas biar Delia aja yang siapin Sisi." Delia memaksa ingin tetap menyuapi Sisi. "Bunda, biar Ayah yang suapi Sisi. Bunda makan aja ya" Sisi tau bundanya belum makan dari tadi, dia memilih untuk disuapin sama Faisal.


Malam itu setelah menghadiri pesta ulang tahun Pak Darul, Faisal mengantarkan Delia pulang. Sesampainya di rumah Bu Sundari, Faisal menghentikan mobilnya. Mobil Faisal berhenti pas di depan pintu gerbang rumah bu Sundari.


"Makasih ya, sudah mau menemani saya..!"


"Iya Mas sama-sama" saat Delia akan turun dari mobil Faisal memanggilnya.

__ADS_1


"Del, apa kamu yakin kalau kamu adalah istri saya?" tanya Faisal sebelum Delia benar-benar turun dari mobilnya.


"Delia juga gak tahu Mas, tapi setelah Delia bersama dengan Sisi, Delia seperti pernah mengalami kebersamaan bersama dia," ujar Delia jujur.


"Kamu mau kan, kita berjuang sama-sama untuk membuat ingatan mu kembali."


"Iya Mas, Delia akan berusaha untuk bisa mengingat kembali peristiwa yang sudah pernah Delia alami."


"Terimakasih ya Del" Mereka saling menguatkan satu sama lainnya. Delia juga berharap, kalau dia adalah Yulia. Sejak pertemuan nya dengan Faisal di mal itu, bayang-bayang Faisal selalu menarik diingatanya.


"Kamu cantik, malam ini!" seru Faisal membuat Delia tersipu malu.


"Delia masuk dulu ya Mas." Delia turun dari mobil Faisal dan berjalan menuju rumah Bu Sundari. Satpam dengan sigap membuka pintu gerbang setelah melihat Delia yang datang.


"Kamu masih sama seperti dulu, Yul. Malu-malu kucing" Faisal tersenyum sendiri mengingat wajah Delia yang tersipu malu.


Hari yang ditunggu Faisal telah tiba, hari ini adalah hari dimana Faisal akan mengajak Delia ke tempat bulan madu mereka yang dulu. Delia tidak memberi tahu mamanya mengenai kepergiannya bersama Faisal dan Sisi. Delia takut kalau mamanya mengetahui dia pergi bersama Faisal, beliau gak akan mengizinkan Delia pergi. Delia hanya bilang mau pergi bersama Devan. Awalnya Bu Sundari curiga, kalau Delia pergi dengan Devan. Devan tidak pernah tidak menjemput Delia, bila ingin mengajak jalan. Tapi Delia pergi dengan menggunakan taksi.


Delia pergi ke rumah Faisal, mereka janjian disana. Faisal dan Sisi sudah bersiap-siap, dan sedang menunggu Delia di teras. Selang beberapa saat, yang ditunggu telah tiba. Delia dengan menggunakan gamis kesayangannya lengkap dengan jilbabnya, turun dari taksi. Senyum mengembang dari bibir Yulia selalu terpancar saat melihat Sisi. Faisal semakin tertegun dengan sosok yang sedang berjalan mendekat ke arahnya.


"Bunda, Bunda udah datang, yeeeeee" teriak Sisi kegirangan.


"Iya sayang, kesayangan bunda gimana kabarnya?" Delia segera menyapa gadis ciliknya yang kelihatan cantik dengan pakaian yang ia kenakan.

__ADS_1


"Kita berangkat sekarang ya, keburu kesiangan!" Faisal mengajak Sisi dan Delia untuk segera berangkat.


Mereka bertiga sudah siap untuk berangkat, Faisal mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Perjalanan dari rumah Faisal ke pantai itu cukup memakan waktu yang lama. Faisal memilih untuk pergi pagi, karena tidak ingin terjebak macet di sana. Biasanya kalau weekend begini, jalanan menuju pantai itu sangat padat. Masih jelas diingatan Faisal saat itu, saat dia melakukan bulan madu bersama Yulia. Faisal sejujurnya saat itu sedang marah, karena mengetahui kebenaran, kalau Weli tidak pernah mencintai nya. Faisal saat itu masih bersikap dingin pada Yulia. Walaupun bulan madu mereka sukses. Faisal melakukan itu belum atas dasar cinta dengan Yulia. Faisal sangat menyesali itu, harusnya dia tidak pernah menyia-nyiakan kebersamaan nya bersama Yulia. Momentum sepenting itupun tidak diabadikan oleh Faisal. Kini,Faisal akan menebus kesalahannya, dia tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan Allah padanya.


__ADS_2