
Veronica langsung masuk kedalam mobil Hanif. Wanita itu merasa senang, karena Hanif tidak menolak permintaannya. Dia sudah tahu apa yang sedang di alami oleh Hanif. Sebisa mungkin itu di manfaatkan oleh wanita itu untuk mengambil simpati dari Hanif. Dalam perjalanan menuju ke rumahnya, pria yang masih fokus mengemudi itu tidak membuka suara. Dia hanya diam dan fokus menyetir. Hingga pertanyaan Veronika, memecah kebisuan itu. "Dok, saya turut prihatin dengan kejadian yang menimpa anda. Saya gak menyangka dokter Sisi akan berbuat seperti itu dengan sahabatnya sendiri. Terus gimana dengan hubungan kalian?"
Hanif masih belum menjawab pertanyaan wanita itu. Hingga satu pertanyaan lagi, keluar dari mulut Veronika. "Apa Dokter Hanif akan memutuskan hubungan dokter dengan Dokter Sisi?" Pria itu merasa tidak nyaman bila privasinya terlalu diikutcampuri oleh orang lain. Apalagi mengingat hubungan mereka berdua sangatlah tidak baik. Hanif tidak terlalu suka dengan wanita itu.
"Itu semua bukan urusan anda." Satu pertanyaan keluar dari dokter tampan itu. Pria itu lebih memilih untuk fokus dengan mobilnya.
Tak sampai di sana, Veronika justru semakin tertantang melihat Hanif yang mulai merasa kesal, jika dia menyinggung nama Sisi. Dia justru semakin tertantang. Ingin mengetahui seberapa jauh Hanif membenci Sisi.
"Saya beberapa kali melihat dokter Sisi jalan berdua dengan pria itu." Ucapan Veronika menyulut gemuruh di dadanya. Namun masih bisa di tahan oleh dokter muda itu. "Saya ngerasa mereka seperti sedang menjalin hubungan. Apalagi waktu kejadian itu, mereka terlihat mesra.. sepertinya mereka saling.." ucapan Veronica terhenti saat Hanif berteriak dan menghentikan mobilnya secara mendadak.
"Stop!!? Jangan bahas itu di sini. Dan kamu, bisa diam atau nggak? Saya musik mendengar ocehan kamu!!!!" Veronica tersenyum puas saat melihat reaksi Hanif yang begitu mengejutkan baginya. Melihat amarah dalam diri pria itu, sudah bisa di pastikan kalau Hanif tidak akan kembali lagi dengan Sisi. Dan itu akan menguntungkan baginya. Dengan begitu dia akan leluasa mendekati pria idamannya itu. Tujuan awal dari Veronika bekerja di rumah sakit sejahtera adalah untuk mendekati Hanif.
Sebelumnya dia pernah bertemu dengan pria itu saat dia baru saja menginjak kakinya di kota jogjakarta. Mereka tidak sengaja bertemu di terminal. Saat itu dia kecopetan, dan Hanif lah yang menolong dia hingga tas yang dicopet itu di temukan. Dari sejak itu, Veronika mengincar pria itu. Apalagi, saat dia tahu kalau profesi Hanif seorang dokter. Itu akan mempermudah dia mendekati Hanif.
Pertemuan kedua mereka di cafe seberang rumah sakit Zahra Medica, tempat kerjanya yang lama. Disaat itulah, Veronika membuntuti Hanif hingga dia tahu dimana pria itu bekerja. Aksinya semakin dia lancarkan saat dia melihat iklan di media sosial miliknya. Bahwasanya rumah sakit, tempat Hanif bekerja sedang membutuhkan seorang dokter anak. Di sanalah dia, berusaha mendekat dengan mengirim lamaran kerja di sana. Dan beruntungnya, wanita itu dengan mudah mendapat pekerjaannya yang sekarang. Dan tujuannya untuk mendekati Hanif semakin lancar. Sekarang hanya tinggal selangkah lagi, wanita itu mendapatkan dokter muda berkarir cemerlang itu.
__ADS_1
Mobil Hanif berhenti di sebuah kompleks perumahan sederhana. Bisa di bilang itu seperti rumah petak yang mungkin warga yang tinggal di sana hanya ngontrak. Bukan pemiliknya asli.
Hanif dan Veronika keluar dari mobil milik Hanif menuju ke sebuah rumah bercat hijau tua yang di depan rumah itu ada dua orang laki-laki bertubuh kekar dan satu orang perempuan paruh baya. Salah seorang laki-laki itu memarahi wanita itu. Sepertinya mereka terlibat adu mulut sehingga membuat semua warga yang melihatnya tidak berani menolong perempuan itu.
"Bayar hutang-hutang kalian!!!" teriak lelaki yang mempunyai brewok yang tebal.
"Saya belum punya uang. Tapi saya janji akan segera membayar hutang-hutang saya!" ucap perempuan itu menundukkan wajahnya di depan dua orang laki-laki itu.
Veronica dan Hanif mendekat kearah mereka. Salah satu laki-laki itu akan menyakiti perempuan itu. Sehingga membuat Hanif mencegahnya.
"Wah-wah mau ada pahlawan yang mau bayarkan hutang-hutang mereka," ucapnya setelah itu terbahak. Sementara wanita paruh baya itu lari dan menghambur ke pelukan Veronika. "Sekarang cepetan bayar hutang mereka!!!" lanjut pria itu mengangkat kerah baju Hanif.
"Lepaskan dia!!! saya akan bayar hutang-hutang ibu saya. Tapi kalian lepaskan dulu, pria itu!!" teriak Veronika. Setelah mendengar ucapan Veronika, pria itu menghempaskan tubuh Hanif kebelakang. Tapi tidak sampai terjatuh.
Veronica mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya, setelah itu menyerahkan uang itu pada salah satu pria itu. Sebelum pergi meninggalkan tempat itu. Pria itu menghitung uang yang di berikan Veronika. "Ini kurang!!!" teriaknya menunjukkan uang itu ke wajah Veronika.
__ADS_1
"Sisanya akan saya bayar Minggu depan!!" seru Veronika. Dan kedua pria itu menerimanya, dan berjanji akan datang ke rumah itu kalau dalam seminggu Veronika tidak melunasi hutang-hutangnya. Setelah itu mereka berdua pergi meninggalkan tempat itu.
Sepeninggal mereka, Hanif menghampiri Veronika dan ibunya untuk sekedar pamitan pada mereka berdua, "saya pamit dulu, ya! Ibu gak apa, kan?" Wanita yang merengkuh dalam pelukan Veronica itu perlahan menarik diri dari tubuh anaknya. Apalagi yang berdiri di depannya adalah dokter muda, ganteng, dan tajir. Membuat jiwa matre nya melompat kegirangan. Dia sangat antusias mencegah Hanif pergi dari tempat itu.
"Ibu gak apa. Ayo masuk dulu, Nak. Minum-minum dulu di dalam," ucapnya sembari tersenyum ramah pada Hanif.
"Maaf Bu, saya buru-buru. Lain kali aja!" tolak Hanif. Tapi ibunya Veronika tidak begitu saja menyerah demi membuat pria itu singgah ke rumahnya.
"Ayolah, Nak. Mampir dulu, anggap saja sebagai ucapan terimakasih kami padamu," bujuk nya lagi. Veronica tidak Ndu menyia-nyiakan kesempatan ini agar bisa lebih dekat lagi dengan Hanif, dia juga berusaha membujuk agar Hanif mau masuk kedalam.
"Dokter Hanif, kali ini saja. Singgahlah di rumah kami." Hanif menjadi tak enak hati menolak permintaan mereka berdua. Dengan terpaksa dia menerima tawaran mereka. Dan itu membuat Veronika melonjak senang dalam hatinya.
Hanif kedalam rumah Veronika. Bu Rosa, ibunya Veronika membuatkan minuman untuk tamunya itu. Sementara Hanif dan Veronika duduk di kursi ruang tamu rumah itu. Tapi tangan jahil Veronika, membidik kamera ponselnya kearah Hanif yang sedang duduk di sisi kirinya. Sayangnya Hanif tidak menyadari kaldu wanita itu diam-diam mengambil gambarnya. Meskipun gambarnya diambil dari depan, tapi saat itu dia sedang fokus dengan ponselnya sehingga tidak menyadari hal itu. Foto itu menggambarkan mereka sedang foto bersama, tinggal di edit sedikit maka akan terlihat kalau mereka sedang foto berdua dengan gaya Veronika di depan Hanif. Sempurna, tak selang berapa lama wanita itu mengunggahnya di status WhatsApp nya. Dengan caption 'kedatangan tamu agung. Gak nyangka banget, deh' ditambah emoticon gambar love di sana. Tujuannya cuma satu, untuk memanas-manasi Sisi. Kalau Hanif tidak terpuruk, seperti apa yang ia pikirkan.
Usai berbincang dan ngobrol bersama Bu Rosa dan Veronika, akhirnya Hanif undur diri untuk pulang. Mengingat hari juga sudah semakin sore. Satu jam kemudian, dia sampai di rumahnya. Menyadari putranya baru saja pulang, Bu Tari menghampiri Hanif. "Kamu mandi dulu, ya sayang. Ibu mau bicara dengan kamu!" perintah Bu Tari pada putranya semata wayangnya itu.
__ADS_1
to be continued