
Mobil Ilham dan Sisi bergerak menuju ke rumah sakit Zahra Medica. Perasaan mereka di liputi rasa cemas. Karena semenjak Sisi dapat telpon dari Umi Qoniah, nomor Syifa tidak bisa di hubungi.
Setengah perjalanan mereka menuju ke rumah sakit, ponsel Sisi berdering. Segera di ambilnya benda pipih itu dari dalam tasnya. "Syifa," gumamnya sedikit lega.
"Assalamualaikum, Fa. Kamu nggak apa, kan?" cecarnya dengan nada cemas. "Syukurlah, iya ini Kakak udah dalam perjalanan menuju ke situ. Ya udah kalau kamu nggak kenapa-kenapa." Syifa menutup panggilan telponnya. Seulas senyum tipis di perlihatkan pada suaminya.
"Ada apa sayang? Syifa gimana?" tanya Ilham menoleh sekilas kearah istrinya, kemudian fokus menyetir lagi.
"Alhamdulillah Syifa baik-baik saja, Kak. Tadi itu Syifa ketinggalan pesawat karena nolongin Ibu-ibu yang pingsan di bandara," jelas Sisi mengarahkan pandangannya di wajah suaminya.
"Syukurlah, kalau begitu!" ujar Ilham tersenyum tipis.
Mereka melanjutkan perjalanannya lagi, hingga mobil Ilham berhenti tepat di halaman rumah sakit. Mobil Alphard berwarna hitam itu, bergerak mencari tempat parkir yang tepat diarea parkiran rumah sakit. Sekiranya sudah tepat, Ilham menghentikan mobilnya, dan bergegas keluar terlebih dahulu. Ilham berlari kecil mengelilingi mobilnya, membukakan pintu mobil untuk istrinya.
"Makasih ya Kak," ucap Sisi tersenyum hangat pada suaminya. Ilham pun membalasnya.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju ruang rawat Bu Tari. Mereka berjalan lurus dari pintu masuk, saat sampai di ruang Lab, belok kiri. Selang tiga ruangan mereka sampai di ruang rawat bogenvil 206.
Sisi mengetuk pintu ruangan itu, tak lama setelah itu pintu terbuka dari dalam. Dsn ternyata Syifa yang menyambutnya.
"Assalamualaikum," sapa Ilham dan Sisi bersamaan.
"Waalaikumussalam, masuk dulu Kak!" balas Syifa mengajak masuk keduanya.
Tanpa ragu-ragu, mereka pun masuk kedalam. Saat sudah mendekat Bu Tari, Sisi membuka mulutnya sempurna. Dia terkejut, saat mengetahui Bu Tari yang di tolong oleh adik iparnya. Pun dengan Bu Tari, beliau melakukan hal yang sama. "Sisi," lirihnya.
Segera Sisi mendekat, tepat di samping brankar. Sisi menyentuh tangan Bu Tari. "Bunda, apa yang terjadi?" tanyanya dengan wajah sendu.
__ADS_1
Belum di jawab oleh Bu Tari, Syifa memotongnya, "Bunda kenal dengan Kakak ipar Syifa?" Bu Tari semakin membelalakkan matanya, dia begitu terkejut mendengar Sisi sudah menikah.
"Apa! Kakak ipar?" Manik matanya menatap Sisi, kemudian beralih pada Syifa.
Sisi menunduk lemas, dia menyesal tidak memberitahu Bu Tari tentang pernikahannya. "Iya, Bun. Sisi sudah menikah tiga hari yang lalu," lirihnya, sontak membuat Bu Tari berkaca-kaca. "Maafin Sisi!" lanjutnya lagi.
Syifa masih bingung dengan mereka berdua, namun saat dia ingin bertanya lagi pada Sisi. Lengannya di pukul kecil oleh Kakaknya, mengisyaratkan untuk tidak bertanya dulu. Karena keadaan yang tidak memungkinkan. Bu Tari terlihat terpukul mendengar penuturan dari Sisi. Kenyataan yang begitu pahit baginya, dan dia kini tahu, betapa terpuruknya Hanif, putranya.
"Bun, Sisi..." Kalimatnya menguap ke udara, kala Bu Tari memalingkan wajahnya kearah lain, sembari menahan tangisnya.
"Fa, kita tunggu di luar saja. Biarkan Kakakmu bicara dulu dengan Bu Tari!" ujar Ilham menarik pelan adiknya untuk keluar dari ruangan itu, dan Syifa pun patuh.
Kini tinggallah mereka berdua dalam diam. Suara Isak tangis mendominan di ruangan itu. Betapa tidak, kecewa. Untuk apa dia kecewa? Bukankah dia harus tegar menerima kenyataan itu! Seperti halnya yang selalu ia katakan pada putranya. Tapi, entah kenapa rasa tidak rela itu masih ada. Dan harapan untuk menjadikan Sisi sebagai menantunya itu masih ada. Tapi, kini semua harapan itu harus pupus, kalau dia mendengar kenyataan yang mengejutkan dirinya.
Tapi apalah daya, semua itu sudah menjadi kehendaknya. Dia tidak boleh membenci Sisi, karena wanita itu patut mendapat kebahagiaan. Dan kebahagiaannya bukan bersama dengan putranya, melainkan bersama orang lain.
"Terimakasih Bun, Sisi selalu doakan buat kebahagiaan Hanif!" Mereka berdua lalu berpelukan.
"Hanif gak pernah cerita pada Bunda. Yang bunda tahu, kamu akan di jodohkan oleh Kakekmu. Karena itu Hanif mengurung diri, di kamar. Bunda pikir itu alasannya." Bu Tari membelai rambut kepala Sisi.
**********************
Di tempat lain.
Hanif ydng baru saja menebus obat dari apotik berjalan kembali ke ruang rawat bundanya. Dia juga membeli beberapa minuman untuk dirinya dan Syifa. Dia terus melangkahkan kakinya hingga hampir sampai di ruang bogenvil 206, namun sorot matanya menatap tajam kearah Syifa dan Ilham yang sedang duduk di kursi berbahan stainless, depan ruangan tersebut.
Kini dia mempercepat langkah kakinya, dia langsung mendorong tubuh Ilham. "Dasar pecundang, belum puas kamu menikahi Sisi, sekarang kamu berduaan dengan wanita lain di sini!" ucapnya dengan nada meninggi.
__ADS_1
Syifa yang melihat kakaknya terjungkal ke lantai, langsung membantunya untuk berdiri. "Kakak gak apa?" Ilham pun menggeleng seraya mengibas-ngibaskan debu yang menempel di celananya.
"Bisa sopan nggak, kamu. Kenapa juga kamu dorong Kakak aku sampai jatuh, hah?" Setelah itu beralih menatap wajah Hanif yang mulai memerah.
"Kakak?" tanya Hanif tak percaya.
"Iya, Kakak ku!" ulang Syifa melotot.
Mendengar itu Hanif langsung menunduk, "maaf!" lirihnya namun masih bisa di dengar oleh Ilham dan Syifa, Ilham mengangguk seraya tersenyum tipis.
"Kak, jelasin ke Syifa kenapa? Ada hubungan apa sih, antara kalian berdua?"
"Kakak saling kenal?"
"Iya Dek. Hanif ini adik kelas Kakak dulu, kami sempat berteman dulu. Namun...."
"Tapi setelah Kakak mu merebut milikku, jangankan berteman, bertemu saja saya gak Sudi!" pangkas Hanif mulai terbawa emosi.
"Merebut? Siapa yang Kakak rebut?" cecar Syifa tak mendapat jawaban dari Ilham maupun dari Hanif.
"Tanyakan sendiri pada Kakakmu!" Hanif memilih pergi dari tempat itu, untuk masuk kedalam. Saat dia sudah diambang pintu, Sisi membuka pintunya dari dalam dan berjalan keluar. Namun tatapan Mereka bertamu.
Manik mata Hanif penuh kerinduan itu langsung berkaca-kaca melihat Sisi, namun tidak dengan Sisi. Dia langsung menunduk, dan berjalan menjauh dari Hanif. Hanif masih terus memperhatikan punggung wanita itu, hingga Sisi sudah berada di dekat Ilham.
"Kita pulang, Kak!" ajak Sisi pada suaminya. Ilham mengangguk.
"Nif, kita pamit dulu ya. Semoga bunda kamu cepat sembuh dan segera di angkat penyakitnya. Assalamualaikum!" pamitnya pada Hanif, namun tak mendapat respon. Karena Hanif masih saja memperhatikan Sisi mereka bertiga berjalan menjauh dari tempat itu. Saat Hanif sudah memalingkan wajahnya dari Sisi, di situlah Syifa memperhatikan dari jauh. Syifa bisa menangkap ada sesuatu diantara mereka berdua.
__ADS_1
To be continued