
Keesokan harinya, hari ini adalah hari Senin. Hari yang ditunggu-tunggu oleh mereka tiba. Pagi itu seperti biasa, sebelum melakukan aktivitasnya di luar. Keluarga Faisal terlebih dulu berada di meja makan untuk sarapan pagi. Tapi tidak dengan Sisi. Wanita itu dari semalam tidak keluar kamar. Mengurung diri di kamar. Tepatnya setelah kepulangannya dari rumah Hanif. Saat ditanya ayah dan bundanya pun dia tidak menjawabnya. Alhasil membuat mereka panik.
"Than, apa yang terjadi dengan kakakmu? Kenapa kakakmu gak mau keluar lagi dari semalam?" tanya Faisal pada Fatan. Pria itu sedikit bingung dengan pertanyaan ayahnya, karena semalam kakaknya melarang dia untuk memberitahu ayah dan bundanya perihal kedatangannya di rumah Hanif. "Than," ulang Faisal, pria itu hanya nyengir.
"Itu..eh.. kakak semalem ke rumah Kak Hanif, yah!" jawabnya ragu-ragu.
"Astaghfirullah, terus ngapain kakakmu kesana, Than?" sahut Yulia sedikit terkejut. Dipikirannya Sisi mengemis-ngemis cinta pada Hanif.
"Ngembaliin cincin tunangannya dengan Kak Hanif. Ya gitu Bun, ada drama disana. Tante Tari gak terima kalau mereka membatalkan pernikahannya. Sepertinya Tante Tari dah sayang Kakak, deh. Sampe mohon-mohon ke Kakak, untuk tetap mempertahankan hubungannya dengan anaknya. Ya Tapi mau gimana lagi, pria egois itu cuma diem, gak nglakui apapun!" terang Fatan panjang lebar.
"Ya Allah! Sisi pasti sedih melihat Mbak Tari sedih, Mas! Kasihan Sisi!" keluh Yulia mengelus dadanya. "Yulia lihat dia dulu, ya Mas!" Faisal mengangguk. Faisal prihatin melihat kondisi anaknya sekarang.
Belum Yulia beranjak dari tempat duduknya. Orang yang disebut-sebut sudah datang. Dengan gamis berwarna putih abu-abu sepadan dengan hijab syar'i nya, Sisi keluar dari ruang tengah. "Pagi Bun, Yah, adik-adik Kakak!" sapanya satu persatu orang yang ada di meja makan.
"Pagi, Sayang!" balas Faisal dan Yulia.
Kelihatan di wajah Sisi sudah terlihat Segeran, meski di bagian matanya masih terlihat sembab akibat menangis semalaman.
"Dek, antar Kakak ke klinik Bunda ya. Kita ambil hasil tesnya hari ini!" seru Sisi beralih kearah Fatan, pria itu mengangguk seraya menyatukan ibu jari dan telunjuknya.
"Ok!"
Mereka melanjutkan sarapannya. Yulia dan Faisal senang karena melihat putrinya sudah ceria lagi. Meskipun masih sedikit melow, setidaknya dia tidak depresi menghadapi masalah yang sedang dihadapi.
"Sayang, apa rencana kamu setelah masalah ini selesai?" tanya Faisal di sela sarapannya.
"Sisi mau lanjutin S3 Sisi di Singapura, Yah!" jawab Sisi setelah itu menyuapkan nasi gorengnya kedalam mulutnya.
"Ayah gak keberatan, Kan!" lanjutnya masih mengunyah makanannya.
"Nggak Sayang, ayah malah seneng kalau kamu punya tekstur seperti itu." Ucapan mereka terhenti saat bi Imah datang terpogoh-pogoh dari ruang tamu.
"Maaf Tuan, Nyonya ada tamu di luar!" ucapnya pada Yulia dan Faisal. Seketika mereka menghentikan makannya.
"Siapa, Bi?" tanya Yulia heran. Pagi-pagi sudah ada orang yang bertamu.
"Itu loh, Nya. Yang waktu itu mengantar Mbak Sisi sama temennya yang pagi-pagi itu. Tapi mereka berlima. Bibik gak tahu siapa lagi yang lainnya." Faisal menghela nafasnya panjang. Dia tahu siapa yang dimaksud oleh assiten rumah tangganya itu. Mereka adalah dua orang warga yang mengantar Sisi saat mereka terjebak di rumah kosong itu. Tapi mereka seakan tidak punya waktu untuk datang kerumahnya. Itu terlalu pagi untuk mereka datang.
Akhirnya Faisal beranjak dari tempat duduknya dan bergegas menemui mereka. "Ini masih terlalu pagi, untuk membahas masalah itu," gerutunya.
__ADS_1
Sementara Yulia dan Sisi, mereka mengekor di belakang. Sudah bisa dipastikan oleh mereka berdua pasti akan ada drama lagi. Setelah berada di ruang tamu, ternyata apa yang mereka lihat benar. Dua orang warga, beserta Lurah dan pak RT dari desa itu sudah duduk di ruang tamu rumah Faisal. Satu yang menjadi pusat perhatian mereka, seorang pria dari rombongan mereka mengenakan kopiah dan sorban putih yang mengapung di lehernya. Jika di lihat-lihat, orang itu adalah seorang ustadz. Tapi untuk apa mereka membawa ustadz ke rumahnya.
"Selamat pagi, Pak Faisal!" sapa Pak RT pada Faisal.
"Pagi!" balas Faisal, kemudian duduk di kursi yang masih kosong.
"Kedatangan kami kesini adalah untuk menagih janji pada saudara Sisi dan Iqbal terkait bukti yang kita sudah sepakati." Psk RT mengutarakan maksud kedatangannya ke rumah Faisal. Faisal hanya mengangguk.
"Apa kami sudah bisa menerima hasil tes itu, Mbak Sisi?" Sekarang pertanyaan pak RT tertuju pada Sisi yang duduk bersebelahan dengan bundanya.
"Hari ini baru keluar Pak, hasil tesnya," jawab Sisi yang mulai terlihat gugup.
"Lagian ini masih terlalu pagi, untuk membahas masalah itu!" sahut Faisal dengan nada sedikit meninggi dan membuat dua orang warga itu sedikit terpancing.
"Kita sudah memberikan waktu tiga hari, Pak. Gak ada alasan untuk kalian mengelak, lagi!" ujar salah satu dari warga itu.
"Saya tahu, Pak. Tapi ini masih terlalu pagi. Dan hasilnya belum kami ambil di klinik," pangkas Faisal yang juga ikut terpancing.
"Baiklah, kami akan beri waktu untuk Mbak Sisi mengambil hasilnya itu. Kami akan tunggu disini. Saya rasa dua jam cukup untuk mengambil hasil tesnya itu!" tawar pak Lurah yang masih terlihat berwibawa.
"Jarak dari klinik ke rumah saya saja dua jam lebih Pak. Bagaimana mungkin anda memberi waktu segitu. Asal Bapak tahu saja, tes keperawanan tidak bisa dilakukan sembarangan di negri kita ini. Melanggar hukum., Jadi kita lewat jalur belakang alias elegal. Dan tempatnya jauh, beri kami waktu lima jam," usul Faisal.
"Baik!" Akhirnya mereka memberi waktu lima jam untuk Sisi mengambil hasil tes itu dari klinik.
Di lain tempat, Hanif yang pagi-pagi sekali sudah datang ke rumah sakit sejahtera bergegas menuju ke ruangan Faisal. Tujuannya cuma satu, yaitu mengantar surat pengunduran dirinya untuk Faisal. Tapi saat dia sampai di ruangan itu, Faisal tidak ada di tempat. Menyisakan sekertarisnya yang menghandle pekerjaan Faisal.
"Kemana dokter Faisal? Kenapa beliau tidak hadir?" cecar Hanif pada Winda, sekretaris Faisal.
"Dokter Faisal sedang ada urusan mendadak di rumahnya. Jadi beliau tidak bisa hadir pagi ini. Ada apa, dokter Hanif? Ada yang bisa saya bantu?" jawab Winda.
"Tidak perlu, saya hanya akan menyerahkan surat ini pada beliau. Kalau gitu, saya permisi dulu!" Hanif menyerahkan surat itu ke tangan Winda dan pergi meninggalkan tempat itu.
Dalam perjalanannya pulang kerumahnya pikiran Hanif diliputi dengan rasa penasarannya. Setelah mendengar informasi dari Winda tadi, dia jadi penasaran. Apa yang membuat Faisal tidak hadir di rumah sakit. Dia kembali teringat dengan ucapan Sisi yang akan memberikan bukti, kalau dia tidak bersalah ditambah dengan video yang ia tonton di YouTube terkait masalahnya Sisi dan Iqbal. Akhirnya, pria itu memutar balik dan memilih melihat keadaan di rumah Faisal.
Bilqis tiba-tiba tidak merespon obat yang diberikan melalui infusnya. Tubuhnya tiba-tiba kejang-kejang. Membuat semua dokter yang menanganinya merasa khawatir. Entah apa yang menyebabkan tubuh Bilqis seperti itu. Yang jelas Bilqis dalam keadaan kritis dan harus segera ditangani. Bilqis harus segera dibawa ke Singapura untuk menjalankan pengobatan dari dokter di Singapura. Harusnya jika menurut jadwal, Bilqis akan dibawa kesana besok. Tapi melihat kondisinya yang tiba-tiba kritis, mereka tidak Ndu mengambil resiko. Sekarang hanya tinggal menyiapkan semuanya setelah itu terbang ke Singapura.
"Ya Allah, apa yang terjadi pada Bilqis. Keadaannya kembali kritis," gumam Dino mengusap mukanya kasar.
"Mas, hari ini bukannya mereka akan dinikahkan. Iqbal dan Sisi. Itu yang Felisa lihat di akun medsosnya salah seorang warga yang mengunggahnya di Facebook."
__ADS_1
Dino baru ingat, akhirnya dia pamit sebentar pada istrinya untuk menghubungi Iqbal sekarang. Dia akan menanyakan pada pria itu apa yang sudah terjadi, apa mungkin keadaan Bilqis yang memburuk ada kaitannya dengan Sisi dsn Iqbal. Setelah mengetahui, Dino sedikit cemas. Takut jika, bukti itu tidak cepat di berikan, mereka akan dipaksakan untuk menikah.
"Ya Tuhan, tolong berikan keajaiban itu pada anak-anak kami," lirihnya mengenadahkan tangannya di atas.
Matahari sudah mulai meninggi. Teriknya membakar kulit, itu artinya lima jam itu sudah lewat. Namun belum ada tanda-tanda si kembar datang membawa bukti itu. Hingga perdebatan itu mulai mengusik telinga.
"Ini sudah lima jam, tapi mereka belum juga datang. Gimana Pak Faisal?" gumam pak RT melihat jam tangan yang melingkar di tangannya.
"Kita tunggu sebentar lagi, Pak!" tawar Faisal.
"Tunggu-tunggu! Sampai kapan? Masalah ini harus cepat diselesaikan. Apa kurang cukup kita memberi waktu, hah!!!" teriak salah satu warga.
"Iya betul!!?!" sahut warga satunya lagi.
Sisi sudah mulai diliputi rasa cemas. Keringat dingin pun mulai bermunculan. Tubuhnya gemetar, kenapa sampai sekarang di kembar belum juga datang. Beberapa kali di telpon, handphonenya semua tidak aktif. Dia hanya bisa beristighfar dalam hati. Memohon agar sang pemilik kehidupan memberi keajaiban untuknya.
"Sudah! Nikahkan saja mereka berdua!!!" seru warga itu.
"Iya!!!!"
Suasana mulai mencengkram. Sepertinya pak RT dan pak lurah sudah tidak bisa lagi menunggu. Sisi dsn kenal di dudukkan berdampingan. Setelah itu orang yang berkopiah itu adalah penghulu yang sengaja mereka bawa dari desa mereka pun juga sudah duduk di hadapan mereka Sisi dan Iqbal. Mereka berdua di apit oleh pak RT dan Faisal. Untuk segera di mulai ijab Kabul nya. Faisal, Yulia, dan Sisi hanya bisa pasrah dan masih menunggu keajaiban itu datang.
"Baiklah, kita akan mulai prosesi ijab Kabul nya!" seru penghulu itu.
"Pak Faisal, Bapak sendiri yang akan menikahkan putri bapak atau di wakilkan pada saya?" tanya penghulu itu pada Faisal. Dan Faisal hanya diam, setelah itu menengok kearah putrinya yang tersedu menangisi nasibnya yang diujung tanduk. Terlihat juga wajah Iqbal yang memucat karena keringat dingin juga muncul diarea wajahnya.
"Pak Faisal, tolong jawab saya!" seru Penghulu itu lagi.
"Saya sendiri yang akan menikahkan mereka," jawab Faisal dengan suara bergetar.
"Baiklah Nak Iqbal tolong jabat tangan pak Faisal," titah penghulu itu pada Iqbal. Dengan tangan gemetar, Iqbal pun mengikuti intruksi penghulu.
Setelah mereka saling berjabat tangan, penghulu itu memberi doa-doa terlebih dahulu sebelum ijab qobul di mulai. Kejadian itu tak luput dari pandangan Hanif yang mengeratkan kedua rahangnya. Mengumpat apa yang dia saksikan. Hingga saat Faisal mulai membacakan ijab-nya. Pria itu pergi dari tempat itu dengan mengutuk Sisi.
"Saya nikahkan engkau dengan putri saya Felisya Basri binti Faisal Basri dan Muhammad Iqbal bin Sutomo dengan mas kawin uang sebesar lima ratus ribu dibayar tunai."
"Saya terima...." Ucapan Iqbal terhenti saat mendengar suara lantang dari balik pintu.
"Tunggu!!!??"
__ADS_1
To be continued...
Besok pagi di tunggu ya kelanjutannya gimana?