
Malam itu Veronika makanan malam bersama keluarga Hanif. Wanita itu sungguh pandai dalam mencari perhatian Bundanya Hanif. Tapi yang dia lakukan itu semua palsu, untuk menutupi tujuannya. Hingga Hanif mengantarnya pulang.
Keramaian kota Jogja malam itu, mengiring mobil yang di tumpangi Hanif dan Veronika. Beberapa pedagang kaki lima, sibuk menjajakan dagangannya. Belum lagi para penikmat kuliner, memadati jalanan pada malam itu. Sepasang kekasih yang berada di dalam mobil MPV berwarna putih, menikmati suasana malam itu. Hingga sebuah percakapan memecah keheningan di dalam mobil itu.
"Sayang, kapan kamu akan melamarnya?" Pertanyaan dari Veronika sontak membuat pria di sebelahnya sedikit terkejut. Pria itu bahkan tidak mempunyai rencana apapun kedepannya bersama Veronika. Dia hanya merasa nyaman, saat bersama dengan wanita itu. Tapi, jika bicara tentang perasaan. Perasaan pria itu masih sama, dia masih mencintai mantan tunangannya. Hanya saja, perasaan itu tertutup dengan keegoisannya selama ini.
"Sayang!" ulang Veronika, karena Hanif tidak bersuara.
Pria itu melirik wanita di sebelahnya, setelah itu dia kembali fokus menyetirnya. Hanif belum menjawab pertanyaan Veronika. Wanita itu tahu, sejatinya perasaan Hanif ke dia seperti apa. Dan itu tidak penting baginya, yang terpenting adalah dia bisa menguasai Hanif dan kekayaannya. Melihat tidak ada respon dari Hanif, Veronika mulai melancarkan aksinya.
"Apa kamu masih belum bisa melupakan dokter Sisi?" Hanif langsung menatap kearah dia. Sorot mata kebencian mulai terlihat disana, kala mendengar nama mantan tunangannya di sebut oleh Veronika. "Aku tahu, kamu pasti belum bisa melupakan dia, kan. Karena itu kami gak mau mengikat aku?" Hanif menghentikan mobilnya secara mendadak. Dia mulai terbakar emosi, karena Veronika masih mengungkit-ungkit nama Sisi.
"Stop! Kamu jangan lagi sebut nama itu di depanku. Aku hanya..." Ucapannya tertahan, kala dia mengingat kejadian itu. Sedikit memupuk trauma karena kegagalannya menikah dengan Sisi. "Aku hanya belum siap, saat ini!" Hanif melanjutkan kata-katanya. Veronica langsung menunduk lesu, di perlihatkan wajah kesedihannya di depan Hanif. Agar pria itu bersimpati padanya dan mengubah keputusannya.
"Aku memang tidak sebaik..."
"Vero..stop..atau aku akan menurunkan kamu disini?" teriak Hanif emosi.
"Terus sampai kapan aku akan menunggu kamu, sampai kapan. Tolong beri kepastian?" salak Veronika yang sedikit meninggikan suaranya. Dari itu Hanif mulai meredam emosinya yang menggebu-gebu. Pria itu justru merasa kasihan pada Veronika, harusnya dia tidak menggantung hubungannya dengan wanita itu. Bukankah itu sudah menjadi prinsipnya, tidak akan berlama-lama menjalin hubungan sebelum menikah. Tapi kenapa, rasanya dia tidak siap jika harus menikahi Veronika.
__ADS_1
"Akan aku pikirkan nanti, kamu sabar ya. Jangan marah lagi, aku butuh sedikit waktu untuk memikirkan itu!" ucapnya mulai lembut pada Veronica. Dan wanita itu tersenyum girang, usahanya sedikit berhasil mempengaruhi Hanif.
"Baiklah, aku akan memberi waktu untuk kamu. Tapi, aku gak suka kalau di gantung lama-lama," ujar Veronica tersenyum penuh kemenangan.
"Iya, aku janji!" Hanif melajukan kembali mobilnya membelah keramaian kota Jogja malam itu, hingga sampai di depan kontrakan Veronika. "Aku gak mampir, ya! Udah malam, salam buat mama!" ucapnya tersenyum simpul pada Veronica dan wanita itu tidak mempermasalahkan Hanif tidak mampir dulu ke rumahnya.
Hanif memutar balik mobilnya untuk kembali ke rumah. Pikirannya saat ini sedang kacau, dia terus saja kepikiran dengan apa yang di katakan oleh Veronica. Apa harus sekarang, dia menutup bukunya dengan Sisi dsn menggantinya dengan Veronika. Apa dia sudah siap? Pertanyaan itu selalu menggerayangi pikirannya. Jujur, dia belum siap. Walaupun dalam dirinya sangat membenci Sisi, tapi hati kecilnya tidak bisa di pungkiri. Dia masih sangat mencintai Sisi. Jahat, memang. Karena dia hanya menjadikan Veronika sebagai pelariannya saja. Bahkan namanya saja tidak pernah terlintas di dalam hatinya.
Hanif benar-benar di pilihkan dengan pilihan yang sulit saat itu. Jika dia menolak Veronika untuk menjadikan pasangannya, itu artinya dia akan melukai satu wanita lagi. Tapi jika dia menerimanya, bagaimana dengan hatinya. Apa dia sanggup menerimanya. "Arrgggghhh." Umpatnya kesal. "Kenapa aku harus dihadapkan dengan situasi seperti ini!!!"
Hingga mobilnya sampai di halaman rumahnya. Hanif turun, dan segera masuk kedalam. Langkahnya gamang, seakan menapaki lantai rumahnya begitu berat. Bu Tari yang melihat wajah putranya murung, dia mendekati Hanif. Untuk menanyakan apa yang terjadi dengannya.
"Nggak, Bun!" jawab Hanif dengan suara berat.
"Terus kenapa kamu murung, begitu?"
"Bun, Veronika minta Hanif melamar dia!" Sudah bisa di tebak oleh Bu Tari, kalau wanita itu akan meminta itu pada putranya. Bu Tari menepuk pelan pundak anaknya.
"Lakukan apa yang menjadi kata hati kamu!" Kemudian dia tersenyum. "Bunda hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu." Hanif memegang tangannya bundanya. Saat ini dia butuh bantuan bundanya untuk menyakinkan pilihannya.
__ADS_1
"Bun, Hanif harus bagaimana?" Mendengar kalimat itu, ingin rasanya Bu Tari memberi tahu hal yang sebenarnya. Tapi, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri agar membiarkan Hanif tahu sendiri kebenaran itu. Kalau pun dia mengatakannya sekarang, apa mungkin Hanif mau mendengarnya.
"Nif, cuma kamu yang tahu jawabannya. Ikuti kata hati kamu. Kamu sendiri yang memilih situasi ini, bukan? Jadi, kamu sendirilah yang harus menyelesaikannya." Hanif termakan omongannya sendiri. Kalau Bu Tari tak boleh lagi mencampuri urusannya. Sekarang, dia harus menanggungnya.
"Bun, sepertinya benar apa yang dikatakan oleh Veronica. Kalau Hanif harus membuka lembaran baru, dan menutup lembaran lama. Hanif akan melamar Veronika." Hanif sudah memutuskan itu, entah kenapa secepat itu dia mengambil keputusan.
"Apa kamu yakin?" Pertanyaan Bu Tari, sedikit menggoyahkan apa yang sudah menjadi keputusannya.
"Yakin, Bun. Mau sampai kapan Hanif, membiarkan hati Hanif terluka. Lagipula Sisi sudah bahagia dengan pria itu," kata Hanif menyakinkan dirinya.
"Kamu salah, Nif. Kamu gak tahu yang sebenarnya. Sisi..."
"Cukup Bun, Hanif tidak mau lagi mendengar nama dia." Bu Tari menghembuskan nafasnya ke udara. Kenapa begitu sulit untuk mengungkapkan kebenaran itu.
"Nif, kali ini kamu dengarkan apa yang akan Bunda katakan. Ini menyangkut masa depan kamu, ini menyangkut pilihan kamu!" Bu Tari sedikit tegas dengan putranya, agar dia tidak salah mengambil keputusan.
"Bun, sudah berapa kali kita bicara tentang ini. Dsn ujung-ujungnya kita bertengkar, kenapa Bunda gak mau ngertiin Hanif, sih. Kenapa Bunda membela Sisi."
"Karena dia tidak salah!!?!" Dia sejenak, hening tak ada suara.
__ADS_1
To be continued,