
Usai menemani Bilqis hingga siang, Iqbal pun pamit pulang. Dia bahkan rela tidak masuk kerja hanya ingin menjemput wanita pujaannya keluar dari rumah sakit. Saat ia hendak keluar rumah, Felisa memanggilnya.
"Nak Iqbal tunggu," sergahnya menghampiri Iqbal yang sudah berhenti di ambang pintu.
"Eh iya tante, ada apa?" Iqbal pun bertanya pada Felisa.
"Boleh kita bicara sebentar, di luar saja," ungkap Felisa kemudian berjalan terlebih dahulu, Iqbal pun mengikutinya.
"Ada apa Tante?" tanya Iqbal penasaran.
"Tante tau, kamu suka kan dengan Bilqis. Tante harap kamu memberitahu dia tentang perasaanmu yang sesungguhnya," ujar Felisa yang membuat Iqbal tertunduk lemas.
"Kamu harus semangati dia. Dia butuh kamu," lanjutnya lagi. Iqbal pun terdiam, masih bingung harus jawab apa.
"Kamu mau kan ngelakuin itu untuk Bilqis?" Karena tidak mendapat tanggapan dari Iqbal, Felisa pun bertanya lagi pada Iqbal.
"Tante, sejujurnya saya mencintai Bilqis sudah lama. Tapi, dia selalu bilang kalau diantara kami tidak ada yang boleh saling jatuh cinta. Saya jadi ragu untuk mengutarakan isi hati saya ke dia. Apalagi Bilqis kan suka dengan dokter Hanif." Iqbal menjelaskan semuanya tentang dia dan Bilqis. Sedih, sudah pasti. Tapi dia tidak mau membuat wanita pujaannya itu kecewa padanya.
"Karena itu Tante minta tolong ke kamu. Bilqis memang mencintai Hanif. Tapi tidak dengan Hanif. Sikap acuhnya tadi pagi membuat Bilqis down. Jadi, Tante mohon buang prinsip kalian. Bilqis buruh seseorang yang mencintainya dengan tulus. Dan hanya kamu orangnya." Felisa terus menyakinkan Iqbal untuk mengutarakan perasaannya pada putrinya. Dia tidak sanggup, jika Bilqis down lagi karena perasaannya tidak terbalas oleh Hanif.
"Iya Tante akan saya coba." Felisa pun tersenyum lega mendengarnya.
Setelah berbincang dengan Felisa. Iqbal pun pamit pulang. Perasaannya sekarang sedikit bahagia karena dia mendapat restu dari bundanya Bilqis. Sekarang dia tinggal mengumpulkan keberaniannya untuk mengutarakan isi hatinya pada wanita pujaannya itu.
Di tempat lain. Sisi yang sedang melayani konsultasi pasiennya. Terlihat lebih lesu, tidak seperti biasanya. Masalah yang ia hadapi saat ini sedikit banyak membuat moodnya jadi jelek. Tapi karena tuntutan pekerjaan dia harus terlihat baik-baik saja.
Sementara Hanif, dia juga sama halnya dengan Sisi. Tapi kalau Hanif cenderung lebih banyak melamun. Apalagi dari bertemu Sisi tadi. Mereka tidak bertegur sapa. Membuat hati dokter tampan itu semakin terpuruk. Saat jam makan siang pun tiba. Sisi terlebih dulu keluar untuk pergi ke cafe. Hanif mengejarnya. Karena dia tidak bisa seperti ini terus. Mereka harus bicara.
"Ikut aku." Hanif menarik tangan Sisi untuk dibawa ke mobil. Hanif sengaja memilih tempat yang lain. Karena dia tidak ingin semua perawat dan karyawan disana tahu masalah mereka.
__ADS_1
"Kenapa Sih! Lepasin nggak!" Sisi berusaha melepaskan tangannya dari Hanif tapi tidak bisa.
"Kita harus bicara," gertak Hanif sedikit kesal. Karena sikap sisi yang selalu menghindar darinya.
Mobil mereka berhenti di cafe yang malam itu tempat Hanif melamar Sisi. Dia sengaja mengajak wanita itu ke situ. Karena momen indah yang waktu itu mereka ukir disana. Bukan cuma menjadi kenangan yang indah untuk mereka nanti. Mereka harus tetap bersama.
"Ngapain kesini?" Sisi seperti enggan untuk masuk kedalam.
"Makanlah, emangnya mau ngapain?" Hanif pun memaksa Sisi untuk masuk kedalam. Hanif memilih duduk, di kursi yang sama ketika dia melamar pujaan hatinya malam itu.
"Kamu sengaja kan, ngajak aku kesini?" Hanif tersenyum remeh.
"Kamu sudah tahu jawabannya. Aku sudah mengambil sikap pada Bilqis. Mungkin aku akan bertukar dengan dokter Louis untuk menangani Bilqis. Jadi aku gak perlu lagi bertemu dengan dia." Hanif memang sudah memikirkan hal itu dari semalam. Berharap ini adalah jalan terbaik agar tidak ada kesalahpahaman lagi diantara mereka.
"Kamu jangan gila dong Nif. Main tuker tempat segala. Bilqis sudah nyaman dengan penanganan kamu. Kamu harus profesional dong, jangan seperti ini." Sisi tidak setuju dengan rencana Hanif.
"Aku gak mau hubungan kita berakhir Si. Hanya dengan cara itu, kita bisa tetap bersama." Sisi terdiam sejenak. Tapi terlintas dalam pikirannya ketika Bilqis begitu memuji Hanif. Sahabatnya itu sangat mengharapkan Hanif kekasihnya.
"Beneran sayang. Kamu terima aku lagi?" Sisi mengangguk.
"Terimakasih sayang. Aku benar-benar frustasi saat kamu kembalikan cincin ini padaku." Hanif menunjukkan cincin itu pada Sisi. Dengan perlahan, dia sematkan lagi ke jari manisnya Sisi. Setelah terpasang, dikecupnya punggung tangan wanita itu. Wanita yang menguraikan rambutnya itu tersenyum manis saat diperlakukan dengan romantis pria di depannya itu.
"Jangan pernah lepaskan lagi cincin ini dari jarimu ya!" Mereka menikmati makanan yang sudah mereka pesan. Kebahagiaan yang saat ini terlihat dari keduanya. Mereka bisa melewati ujian cinta mereka saat ini.
Usai makan siang bersama mereka kembali ke rumah sakit. Untuk melanjutkan pekerjaannya mereka masing-masing. Rasanya sudah lega melihat mereka sudah baikan lagi. Faisal yang melihat putrinya tersenyum lagi. Ikut senang melihatnya. Dia sempat merasa bersalah atas apa yang menimpa putrinya adalah karma dimasa lalunya.
"Sayang aku pulang duluan ya. Aku mau mampir ke rumah Bilqis," pamit Sisi saat jam pulang kerja sudah tiba.
"Beneran gak diantar?" Hanif pun sedang bersiap-siap.
__ADS_1
"Nggak sayang. Atau kamu udah kangen pengen ketemu Bilqis," godanya seraya memajukan bibirnya.
"Mungkin," balas Hanif.
"Sayang ih!!!" Sisi mengepak-ngepakan kakinya di lantai, membuat Hanif tersenyum melihat tingkah tunangannya itu.
"Canda sayang. Ya udah kamu hati-hati ya. Kalau udah pulang jangan lupa kabarin aku." Sisi pun langsung keluar dari ruangannya.
Dengan diantar mang Darma, Sisi sampai di rumah Dino. Dia langsung masuk kedalam. Kebetulan Felisa baru selesai memasak, Sisi pun langsung menghampiri tantenya itu. "Tante," sapanya setelah itu mencium punggung tangan tantenya.
"Si, sendirian kamu sayang?" Sisi pun mengangguk.
"Bilqis dimana Tan?" Sisi seperti sedang mencari-cari sesuatu.
"Di kamar, kamu langsung aja masuk." Sesuai perintah Felisa, Sisi pun langsung masuk ke kamar.
Bilqis sedang berdiri di depan jendela kamarnya. Sehingga tidak menyadari kehadiran sahabatnya. Sisi pun langsung memeluknya dari belakang. "Dek, nglamunin apa?" Bilqis sedikit terkejut melihat kehadiran kakaknya itu.
"Kak Sisi! Udah lama?"
"Belum aku baru aja masuk. Kamu lagi mikirin apa. Kok ngelamun gitu?" Bilqis pun tak bersuara setelah itu mengajak kakaknya untuk duduk di ranjangnya.
"Bilqis lagi mikirin dokter Hanif. Tadi pagi, dia cuekin Bilqis Kak." Sisi merasa bersalah dengan apa yang menimpa sahabatnya itu. Tapi dia teringat kata-kata bundanya. Kalau sampai Sisi memaksakan kehendaknya untuk menyatukan Bilqis dan Hanif. Bukan cuma dia yang sakit. Tapi mereka berdua akan sakit. Pernikahan mereka tidak akan sehat. Pasti akan banyak kebohongan nantinya.
"Dek, Kakak tahu perasaan mu seperti apa? Kamu gak boleh nyerah, gak boleh patah semangat hanya karena Hanif bersikap cuek padamu. Karena ada laki-laki yang tulus mencintaimu." Bilqis menatap bingung wajah Sisi. Dia masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan kakaknya.
"Siapa Kak?"
"Iqbal."
__ADS_1
To be continued