
Satu Minggu yang lalu, Hanif mengendarai mobilnya menuju ke rumah sakit, tiba-tiba mobilnya di hadang oleh seorang wanita berambut ikal yang berdiri di pinggir jalan. Sebelumnya, wanita itu sudah mengirim pesan di nomor Hanif, namun tak mendapat balasan. Akhirnya dia menunggu pria yang bergelar dokter itu di tepi jalan, dekat dengan rumah sakit tempat Hanif bekerja.
Wanita itu, sudah lama tidak berkomunikasi dengan pria itu. Semenjak mereka menyelesaikan studinya di Singapura, lima tahun yang lalu. Dan kedatangannya mencari Hanif, ada hak penting yang akan dia tanyakan pada temannya itu. Kebetulan, mereka satu kampus dan beda jurusan. Jadi, Arlita sangat mengenal sosok Hanif yang terbilang dingin di kampus.
Hanif pun menghampiri wanita itu, dan mereka mencari tempat yang tepat untuk ngobrol. Dan di sebuah coffe shop, menjadi pilihan mereka. Selain tempatnya strategis, juga tidak jauh dari rumah sakit.
"Ada apa, Ta?" tanya Hanif penasaran.
"Aku mau memperlihatkan seseorang padamu, apa kamu kenal mereka?" Arlita membuka handphonenya, setelah itu menunjukkannya pada Hanif. "Ini dia, kamu kenal mereka?"
Hanif mengerinyitkan keningnya, menatap heran dengan dia orang wanita yang berada di foto tersebut. "Kenal, mereka adalah bibi dan nenek tiri ku," jawab Hanif jujur. Seketika Arlita membulatkan matanya sempurna.
"Jadi, mereka keluargamu?" Hanif pun mengangguk.
Hening sesaat, mereka menikmati coffe yang mereka pesan.
"Miris! ternyata mereka orang terdekat kamu, Nif! Apa kamu tahu, mereka punya niat jahat padamu?"
"Apa!!!!" Hanif pun semakin terkejut. "Maksud kamu apa, Ta? Kalau ngomong jangan setengah-setengah, donk!"
Arlita memberitahu rencana busuk yang sudah di susun oleh Bu Sarah dan Veronika. Mereka berdua datang ke rumah Arlita, karena memang ibunya berteman baik dengan Bu Sarah. Niatnya mereka datang ke sana adalah, untuk mengajak kerjasama Arlita dan ibunya menguasai harta Hanif, dengan cara menjodohkan dirinya dengan temannya itu.
"Apa!!!! Kurang ajar sekali mereka!!!?" ucap Hanif dengan mengeratkan kedua rahangnya. "Brengsek, aku kira mereka sudah berubah. Ternyata, ujar betina seperti mereka tidak akan pernah berubah."
Arlita pun menyunggingkan sebelah bibirnya, "tahan brow!!! Aku belum selesai ceritanya, dan yang akan aku ceritakan ini pasti buat kamu semakin terkejut lagi!!!"
"Maksud kamu?"
__ADS_1
"Hahaha...kamu udah gak sabar, ya!" Arlita pun tergelak. Hanif membuang muka.
"Apa kamu tahu, kalau mereka juga yang menggagalkan rencana pernikahan kamu dengan mantan tunangan mu!"
Semua sudah di ceritakan oleh Arlita, dan Hanif meminta bantuan pada temannya untuk tetap menjalankan permintaan Bu Sarah dan Veronika. Hingga, Hanif memiliki bukti untuk menjebloskan mereka ke penjara. Dan kini saatnya, hal itu terjadi. Mereka berdua harus menebus kesalahan mereka dengan menekam di penjara. Karena Hanif sudah punya bukti itu.
Mendengar satu persatu kalimat dari Hanif membuat mereka berdua klimpengan, wajahnya seketika memucat. Karena Hanif tidak main-main dengan ancamannya. Terlihat, dia sudah menghubungi polisi, agar menangkap dua wanita itu.
"Nif, kamu percaya dengan cerita Arlita? Kamu lebih percaya dengan wanita itu daripada kami, keluargamu sendiri?" kilah Bu Sarah, tak mengakui kesalahannya. "Lagian kamu gak punya bukti, kan?"
Hanif tersenyum mengejek kearah mereka berdua. Bisa-bisanya sesudah tertangkap basah masih tak mau mengakuinya.
"Bukti!!? Kalian mau bukti?" ujar Hanif menunjukkan video di handphonenya pada Bu Sarah.
Video itu adalah rekaman CCTV di rumah Hanif. Di sana, Bu Sarah berhasil mengambil beberapa dokumen penting yang di miliki oleh Hanif, salah satunya sertifikat rumah yang ia tempat saat ini. Bukan cuma itu, Hanif juga memutar video saat Bu Sarah mengingatkan kembali rencananya pada Arlita.
Bu Tari langsung syok mendengar semua itu, dadanya menjadi sakit lagi. Dan seketika kepalanya pun berkunang-kunang. Dan hampir saja terjatuh.
"Bun, Bunda gak apa!" ucap Hanif dengan sigap menangkap bundanya. Dan itu di gunakan untuk dua wanita itu kabur dari rumah Hanif. Mereka berdua lari, tanpa membawa apapun benda yang mereka miliki.
"Brengsek!!! Mau kemana kalian!" Hanif tak bisa berbuat apa-apa lagi, yang utama baginya adalah kesehatan bundanya. Hanif langsung membopong tubuh bundanya ke kamar.
Setelah di baringkan di ranjang, Hanif mengambil stestoskop miliknya dan segera memeriksa bundanya. Beruntung, keadaan Bu Tari tidak terlalu parah. Jadi tidak perlu di bawa ke rumah sakit.
"Bun, Bunda tunggu di sini ya! Hanif harus menghubungi polisi sekarang!" Bu Tari hanya mengangguk pasrah. Karena keputusannya, hampir saja dia kehilangan harta benda peninggalan suaminya.
Hanif segera menelpon polisi, perihal dua wanita itu kabur dari rumahnya. Dan dengan sigap, polisi itu mengejar buronannya, berbekal GPS dari nomor ponsel Veronika.
__ADS_1
Hanif bersyukur, karena rencana jahat nenek dan bibi tirinya itu bisa di gagalkan. Beruntung juga, Hanif memasang CCTV itu, setelah dia mendengar kejahatan mereka berdua melalui Arlita tanpa sepengetahuan mereka. Dan keberuntungannya berpihak lagi padanya, saat semalam dia mengecek CCTV melalui ruang kerjanya. Dan di situlah, Hanif memiliki bukti, atas kejahatan dua wanita licik itu.
Sekarang, semuanya ia serahkan pada pihak berwajib untuk mengejar Veronika dan Bu Sarah. Tidak mungkin dia bisa membantu mengejar, karena sekarang dua harus menjaga dua wanita yang berarti dalam hidupnya. Bundanya dan Alira.
Sirene mobil polisi terdengar di jalanan sekitar rumah Hanif. Beberapa anggota kepolisian, mengejar buronan yang kabur dari rumah Hanif.
"Ma, kita harus kemana sekarang!!!" cetuk Veronika mengumpat kesal.
"Mana juga gak tahu, Ver. Kita sudah di kepung. Mana gak mau membusuk di penjara!!!!"
"Jangan bergerak!???" todong salah satu polisi, mengacungkan senjata api kearah mereka. "Angkat tangan!!! Kalian sudah di kepung!!?!" ucapnya lagi.
Bu Sarah dan Veronika menghentikan langkahnya. Sesuai perintah dari polis itu, mereka mengangkat kedua tangannya. Sebagai tanda, mereka sudah menyerah. Dua orang polisi lainnya mendekati mereka. Setelah itu memborgol kedua tangan mereka dan segera di bawa ke kantor polisi.
Tak ada perlawanan dari mereka berdua. Mungkin, sudah pasrah dengan takdir yang menimpa mereka. Sesuai apa yang mereka tanam, dan kini mereka harus nenuainya. Mereka harus mempertanggung jawabkan perbuatan mereka di ranah hukum.
Raut penyesalan pun terlihat jelas di wajah keduanya, saat petugas tahanan menggiring mereka kedalam sel. Mereka terlihat tertunduk lemah, hingga mereka terkurung di sana. Dan petugas itu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Ma....Vero gak mau berada di sini!!!! Hiks...hiks!" racaunya menjambak rambutnya sendiri. "Vero mau keluar Ma!!!!"
Bu Sarah, mendekati putrinya yang terlihat rapuh. Itu semua kesalahannya, kalau saja dia tidak salah mendidik putrinya, tentu mereka tidak akan di tempat itu, saat ini.
Bu Sarah teringat semua dosa-dosanya yang telah lalu. Di mulai dari jadi pelakor, hingga mengusir Almarhum nek Puspita dari rumahnya sendiri. Dan yang paling parah, dia juga yang mengakibatkan suaminya meninggal. Karena obat yang harusnya bisa menyembuhkan suaminya, diganti dengan racun yang perlahan meregang nyawa suaminya.
Mungkin, penjara adalah tempat yang pantas untuk menebus kesalahannya. Penyesalan tinggal penyesalan, harusnya dia belajar dari kegagalan mereka. Tapi, bukannya bertaubat, mereka semakin menjadi. Hingga tempat terakhir yang pantas untuk mereka adalah, buih.
To be continued
__ADS_1