
"Aku tidak membunuhnya.....! Aku tidak membunuhnya!" racau Aliran dengan wajah pucat dan tubuh gemetar.
Sementara para bodyguard Prayoga menolong tubuh majikannya, Alira keluar dari rumah itu. Dengan langkah gamang, dia berjalan hingga ke jalan raya, dengan mulut berucap, "aku tidak membunuhnya...aku tidak membunuhnya..." Dia terus berjalan menyusuri jalanan siang itu, tak ada tujuan.
Sementara Prayoga, tubuhnya yang tak bergerak sedikitpun dan bersimbah darah di bagian kepalanya, segera di larikan ke rumah sakit terdekat.
Tubuh kekar nan atletis itu kini terbaring lemah di ruang UGD, beberapa dokter ikut menangani pria itu. Berbagai cara di lakukan agar pria itu tak meregang nyawa, tindakan medis sudah di lakukan semua oleh para dokter yang menanganinya. Namun, nasib naas tak berpihak padanya. Tubuhnya seketika menjadi kaku, dan denyut nadinya pun tak lagi ada. Darahnya seketika berhenti.
Helaan nafas penyesalan menyelimuti kepergian Prayoga menyusul Hanum, adiknya. Kini tubuhnya ditutupi kain putih hingga kewajahnya, dan beberapa perawat membawa jenazahnya ke ruang mayat. Bodyguard nya beberapa kali menghubungi seseorang untuk mengurus, rumah terakhirnya.
Tak lama setelah itu, Bu Yuni datang dengan nafas tersengal-sengal. Dia sedang ada di rumah temannya, saat kejadian meregang nyawa yang dialami putranya. Tangisnya pun pecah, tubuhnya seketika melemas saat mendengar dari salah satu bodyguard anaknya, kalau Prayoga sudah pergi meninggalkannya.
"Apa yang terjadi dengan anakku? Katakan!!!!!!" teriaknya dengan menggoyang-goyangkan tubuh pria di hadapannya.
"Katakan!!!!" racaunya lagi.
Pria itu memberitahu kronologi kejadian yang ia tahu, hingga bosnya jatuh dari lantai dua. Seketika wajah penuh dendam terlihat di diri Bu Yani.
"Dimana Alira?? Dimana wanita itu!!!! Dia harus bertanggungjawab dengan apa yang terjadi dengan anakku!!!!!" Tak, ada satupun dari mereka menjawabnya, karena mereka sendiri sampai lupa memperhatikan istri dari bosnya, karena panik.
"Kenapa kalian diam!!! Katakan!!!! Dimana Alira???"
"Kami..kami tidak tahu, Nyonya!" jawab salah satu dari mereka dengan gugup.
"Cari wanita itu sampai ketemu!!!!" perintah Bu Yuni dengan tegas.
__ADS_1
Beberapa dari mereka pergi dari tempat itu, untuk menjalankan perintah dari majikannya. Dan sisanya mengurus jenazah Prayoga untuk di bawa pulang ke rumah.
Di tempat lain, dengan pandangan kosong seorang wanita tertatih di bahu jalanan siang itu. Dengan rambut yang acak-acakan, wajah kusut, dan mata sembab dua terus berjalan menyusuri sudut kota Jogja.
Tubuhnya gemetar, seakan ada ketakutan yang besar melanda dirinya. Dengan air mata yang terus merembes, wanita itu menggerakkan bibirnya seakan ada yang ingin ia katakan. Orang-orang yang melihatnya, bahkan menyangka kalau dia wanita gila yang kabur dari rumah sakit jiwa. Mereka memandangnya dengan tatapan jijik, dan tak sedikit yang takut jika berpapasan dengannya.
Dia terus berjalan tak tahu arah tujuannya. Hingga seorang pria bertubuh berotot, menangkapnya dan membawa masuk kedalam mobilnya. Wanita itu terus berontak, hingga obat bius yang menghentikan pergerakannya.
Pria itu membawa Alira ke suatu tempat, sesuai yang di perintahkan oleh Bu Yuni. Di sebuah kamar yang terdapat di rumahnya, wanita itu di baringkan di ranjang. Kedua tangannya diikat, dan kakinya pun juga diikat. Setelah itu ditinggal pergi oleh para pria itu.
*********************
Seorang pria sedang duduk di ruang prakteknya, tatapannya kosong kearah depan. Seraya memijit pelipisnya, pria itu mengingat kejadian yang menimpanya tadi pagi. Bukan dirinya yang ia pikirkan, tapi Alira. Wanita itu yang menjadi pusat pikirannya. Ada perasaan aneh, di dalam hatinya mengenai wanita itu.
Jam makan siang sudah hampir selesai, namun pria itu tak kunjung beranjak dari tempat duduknya untuk makan siang. Hingga ponselnya mendapat nontifikasi pesan dari aplikasi WhatsApp nya.
Usai sholat, dia kembali ke ruangannya. Bahkan perutnya tidak merasakan lapar. Jadi, dia melewatkan makan siangnya. Saat dia berjalan menuju ke ruangannya, terdengar dua orang perawat yang sedang berbincang.
'kasihan ya dengan pria tadi, meninggal di tangan istrinya!'
'iya, di dorong dari lantai dua, hingga kepalanya pecah.'
'eh, aku kayak pernah deh lihat ibu-ibu yang menemani pria itu tadi. Kalau gak salah, ibu itu adalah mertua dari pasiennya dokter Mark. Yang tempur hari datang kesini untuk menjemput menantunya yang keguguran itu!'
Hanif seketika menghentikan langkahnya, saat mendengar kalimat terakhir dari dua perawat tadi. Dia bergegas menghampirinya dan menanyakan langsung kejadian yang sebenarnya.
__ADS_1
"Siapa yang kalian maksud?" Dua perawat itu saling melempar pandang hingga Hanif mengulang pernyataannya.
"Katakan, siapa yang kalian maksud tadi?"
"Ehmmm kalau gak salah nama pria itu Prayoga, meninggal karena jatuh dari lantai a..." Belum sempat perawat itu melanjutkan kalimatnya, Hanif sudah dulu pergi dari tempat itu.
Dengan mobil yang ia kendarai, Hanif menuju ke kediaman Prayoga. Dia ingin melihat kejadian yang sesungguhnya.
Tak butuh lama, mobil Hanif sampai. Dan benar, kejadian dua bulan lalu terulang lagi di rumah itu. Bendera kuning yang berkibar di beberapa sudut rumah itu, menandakan telah terjadi kemalangan di rumah itu. Para pelayat pun Ilir mudik ke rumah itu.
Dan benar yang di katakan oleh perawat tadi. Prayoga yang meninggal dunia. Terlihat dari beberapa papan bunga yang menghiasi rumah itu atas nama Prayoga Pratama. Hanif tak berani mendekat, karena beberapa bodyguard itu masih berjaga di sana. Dia memilih melihatnya dari Bali mobil miliknya, hingga jenazah Prayoga di bawa ambulans menuju ke pemakaman.
Terlihat semua penghuni rumah itu, ikut mengiringi jenazah Prayoga hingga peristirahatan terakhirnya. Rumah megah nan mewah itu sekarang sepi. Hanya tinggal assisten rumah tangga dan satpam yang berjaga.
"Ra, kamu pasti di dalam! Aku harus selamatkan kamu dari mereka!!!" gumam Hanif, mencari cara agar bisa membawa Alira pergi dari tempat itu.
Kini pandangan matanya memperhatikan semua sudut rumah itu, untuk mencari celah agar bisa masuk kedalam. Hingga mobilnya sedikit bergerak mengelilingi rumah itu. Dan beruntung, di bagian belakang rumah itu ada sebuah pintu masuk.
Hanif turun, dan mendekat ke pintu itu. Pintu berbahan besi itu di gembok dari dalam. Tentu akan mempersulit, Hanif untuk masuk ke dalam. Namun, ada satu cara, agar dia bisa masuk kedalam. Tapi, cara itu bisa membahayakan nyawanya.
Dia tidak perduli akan kesalahannya saat ini, karena wanita yang ia cintai membutuhkan bantuannya. Ada sebuah pohon besar yang berdiri kokoh di sekitar pagar itu. Dan salah satu dahannya, memasuki area dalam rumah itu.
Hanif melepas sepatu dan kaos kakinya, dia berusaha untuk naik keatas pohon itu. Dia kerahkan kemampuannya manjat pohon itu dengan lihainya, dan saat sudah sampai di atas. Ada sebuah tali yang tidak terpakai tersangkut di pohon itu. Itu dia jadikan alat untuk turun dan masuk kedalam rumah itu. Berhasil, Hanif berhasil turun ke bawah. Namun, saat dia bersiap untuk masuk kedalam, sebuah suara langkah kaki menuju ketempat dua berdiri.
To be continued
__ADS_1
Menuju tamat, rasanya gak semangat mau nulis...ayo dong kasih semangat author nya😔😔😔😔