
Setelah kesalahanpahaman itu, hubungan Hanif dan Sisi semakin membaik. Sisi menjelaskan kalau dia tidak memiliki perasaan apapun pada Iqbal. Dia bisa menyakinkan kekasihnya kalau tidak ada hubungan apapun diantara dia dan sahabatnya itu. Kecuali hubungan persahabatan. Hanif pun berusaha mempercayai hal itu. Dan meminta untuk wanita itu menjaga jarak dengan pria yang di duga Hanif memiliki perasaan lebih pada wanita yang ia cintai.
Ada satu hal yang ditakutkan oleh pria berkacamata itu. Iqbal orang yang humoris, romantis, dan bisa meluluhkan hati para wanita dengan suara dan permainan gitarnya. Sementara dia, dia bukan tipe orang seperti itu. Meskipun demikian, tak ada niatan Hanif untuk menjadi orang lain. Dia ingin mencintai wanita itu dengan caranya sendiri.
Hari ini tepat dimana Sisi ikut seminar di sebuah hotel terkenal di Jogjakarta. Seminar itu tak hanya diikuti oleh ikatan Dokter spesialis kanker seluruh Indonesia tapi akan dihadirkan mentornya dari negara tetangga.
Hanif sudah menawarkan akan mengantar jemput kekasihnya itu. Tapi wanita itu menolak dengan alasan tidak ingin merepotkan pria itu. Alasan itu pun bisa di mengerti oleh Hanif. Secara jarak antara rumah Sisi dan hotel itu lumayan jauh juga. Apalagi dia harus bekerja. Wanita itu memilih untuk berangkat sendiri, tanpa supir juga.
"Sayang, kamu yakin akan berangkat sendiri. Tidak di temani dengan pakde Yaya," tanya Faisal pada putrinya perihal keberangkatannya.
"Nggak Yah. Kasihan pakde Yahya harus nunggu lama disana. Paling nggak, Sisi akan seharian di sana!" jawab Sisi bersikukuh untuk berangkat sendirian.
Tak berapa lama, orang yang disebut-sebut mereka berdua datang dari arah belakang. Pak Yahya adalah supir Faisal yang baru menggantikan Mang Darma yang harus pulang ke Bandung karena istrinya sakit-sakitan.
"Biar saya siapkan mobilnya, Non!" ucap pria yang memakai blangkon di kepalanya.
"Nggak usah, Pakde. Sisi berangkat sendiri aja. Oh iya, Pakde jangan panggil Sisi dengan sebutan Non lagi, ya. Samain aja kayak mang Darma manggil Sisi, Mbak!" seru wanita yang mempunyai senyum manis itu. Pria disebelahnya tersenyum menunduk, menandakan dia akan mengikuti perintahnya.
Sementara Faisal, dia sangat senang putrinya tumbuh menjadi wanita yang menghargai semua orang. Tidak membeda-bedakan dari status sosialnya.
"Yah, Sisi berangkat dulu ya! Assalamualaikum!" pamit wanita itu masuk ke dalam mobilnya dan mulai menyalakan mesin mobil itu.
"Sayang, hati-hati ya," balas lelaki yang mulai mengenakan kacamata. Karena akhir-akhir ini, matanya terasa panas dan pedih. Sepertinya faktor usia yang mengharuskan laki-laki itu berkacamata sekarang.
Saat akan melangkahkan kakinya menuju mobilnya. Suara istrinya menghentikan niatnya.
"Mas!!" panggil Yulia setengah berlari menuju ke arah laki-laki itu.
"Iya sayang! Ada yang ketinggalan?" Faisal menautkan kedua alisnya.
"Nggak, antar Yulia kerumah Papa. Mama tiba-tiba pingsan," jawab Yulia dengan nada khawatir.
"Astaghfirullah, ya udah ayo cepat kita kesana!" Mereka segera masuk ke mobilnya. Menuju ke rumah pak Sukamto.
"Pa...apa yang terjadi dengan Mama!" seru Yulia panik saat mereka sudah sampai di rumah Pak Sukamto.
__ADS_1
"Nggak tau, Yul. Mama mu tiba-tiba pingsan. Kecapekan kali!" Faisal langsung memeriksa Bu Siti yang berbaring di ranjang, kamarnya.
"Mama, dibawa ke rumah sakit aja. Sepertinya tensi nya tinggi," jelas Faisal.
Sesaat kemudian, Bu Siti sadar dari pingsannya. Melihat di sekelilingnya ada putri dan menantunya. Wanita itu sedikit terkejut.
"Kalian disini?" tanyanya dengan nada lemas.
"Iya, Ma. Mama pingsan, kita ke rumah sakit sekarang, ya!" ucap Yulia merengkuh pundak Mamanya.
"Nggak usah. Mama gak kenapa-kenapa kok. Cuma sedikit pusing, minum obat, nanti juga sembuh!" tolak Bu Siti.
"Tapi tensi Mama tinggi. Mama harus di rawat di rumah sakit, Ma!" sahut Faisal.
"Iya Ma. Yulia gak mau Mama tambah sakit!!" timpal Yulia.
Dengan sedikit paksaan dari anak dan menantunya, di tambah bujukan dari suaminya. Akhirnya Bu Siti setuju untuk di bawa ke rumah sakit.
Bu Siti di bawa di IGD. Dan langsung ditangani oleh dokter yang bertugas pagi itu. Usai di periksa Bu Siti di perbolehkan untuk pulang. Beberapa resep obat di berikan oleh dokter itu pada Yulia. Mereka keluar dari ruangan itu. Faisal dan pak Sukamto langsung menghampiri mereka.
"Nggak sayang. Mama di perbolehkan pulang. Tapi kita tebus dulu obatnya, ya!" jelas Yulia.
Mereka berempat pergi dari tempat itu dan berjalan menuju ke apotik. Kebetulan di apotik itu ada Nek Puspita dan Bu Tadi yang sedang menebus obat juga. Kemudian mereka saling menyapa.
"Bu Tari, Nek Puspita!" terka Faisal yang punya nama menoleh.
"Dokter Faisal." Pandangan mereka beralih pada wanita berhijab hijau botol itu.
"Ini.." Bu Tari menunjuk kearah wanita itu.
"Ini istri saya, dan mereka berdua mertua saya." Jawaban Faisal membuat Bu Tari dan Nek Puspita mendekati Yulia untuk bersalaman.
"Sayang, mereka ini Bunda dan Neneknya Hanif. Kamu kan belum pernah bertemu!" Faisal memperkenalkan ibu dan neneknya Hanif pada istri dan kedua mertuanya.
"Senang bisa bertemu disini," kata Bu Tari usai bersalaman.
__ADS_1
Bu Tari sudah mendapatkan obat untuk ibunya. Mereka berdua kemudian pamitan pada keluarga calon besannya itu. Dan siap untuk kembali ke rumah.
Bu Tari sengaja tidak memberitahu putranya untuk pulang. Takut mengganggu pekerjaannya. Mereka memilih untuk pulang naik taksi.
Saat mereka sedang berjalan menuju lobi. Tiba-tiba seorang wanita muda yang memakai pakaian dokter menabrak Bu Tari. Hingga membuat wanita itu hampir jatuh.
"Maaf!" tutur Bu Tari. Tapi wanita itu tak mengindahkan permintaan maafnya Bu Tari dan begitu saja meninggalkan mereka berdua. Nek Puspita seperti tidak asing dengan wanita yang menabrak anaknya tadi.
Dia yakin itu adalah putri tirinya. Nek Puspita berusaha mengejar wanita itu.
"Ika!!!" Pergerakan nek Puspita membuat Bu Tari mengejar wanita tua itu.
"Siapa, Bu?" tanyanya saat berhasil merengkuh bahu ibunya.
"Ika, saudara tirimu!" jawab Nek Puspita.
"Dia tinggal di kota ini?" tanya Bu Tari lagi.
"Iya, sepertinya begitu!"
"Ibu salah orang kali! Udah kita pulang aja!"
Bu Tari mengajak ibunya untuk segera pulang. Setelah taksi yang mereka pesan tiba. Dalam perjalanan nek Puspita masih saja memikirkan wanita yang menabrak putrinya tadi. Dari perawakannya mirip sekali dengan anak tirinya. Yang membuang dia di panti sosial itu.
"Bu, ibu masih kepikiran dengan wanita tadi." Melihat ibunya melamun, Bu Tadi bisa menyimpulkan sedang ada yang mengganjal pikirannya.
"Dia mirip sekali dengan, saudara tirimu!" ujar Nek Puspita.
"Mungkin hanya mirip. Apalagi, Ibu kan gak lihat langsung orangnya. Cuma dari belakang. Udah gak usah dipikirin." Bu tari menenangkan ibunya yang tampak gelisah itu.
"Ibu hanya takut. Kalau dia ada disini, mereka akan mengusik kehidupan kalian," ucap Nek Puspita sedikit gusar.
"Udah, Ibu gak usah mikirin itu. Tari gak akan biarkan itu terjadi. Ibu tenang, ya!"
"Ika, kamu disini?"
__ADS_1
To be continued