
Di dalam kamarnya, selepas sholat isya. Sisi membaringkan tubuhnya di ranjang tempat tidurnya. Dengan guling di atas tubuhnya, wanita itu tampak tersenyum-senyum sendiri membayangkan pertemuannya dengan Ilham malam ini. Dia masih tidak menyangka, kalau Ilham lah pria yang akan di jodohkan dengan dirinya.
"Ya Allah, ampuni hambamu ini. Karena aku mencintai salah satu mahkluk ciptaan mu, dia begitu indah untuk aku miliki, berikan kelancaran pernikahan kami besok," lirihnya, menengadahkan tangannya di dadanya setelah itu di usapkan di wajahnya seraya berucap, "aamiin."
Setelah itu, Sisi berniat untuk memejamkan matanya karena dia tidak sabar menunggu hari esok tiba. Namun perasaan gelisah meliputi wanita itu, hingga dia begitu sulit untuk membawa dirinya ke alam mimpi. Akhirnya dia mengambil ponselnya yang terletak di nakas, samping tempat tidurnya.
Sisi membuka aplikasi WhatsApp di ponselnya, ada beberapa chat masuk di sana. Salah satunya dari Asyifa, adiknya Ilham.
"Assalamualaikum, Kak Sisi. Selamat ya, sebentar lagi bakal jadi kakak ipar Syifa. Syifa seneng deh, kak Sisi mau terima khitbah-an Kak Ilham"
Sisi membacanya sambil senyum-senyum sendiri, setelah itu dia membalasnya.
"Waalaikum salam awas ya, kenapa gak bilang ke Kakak dari awal. Kalau Kak Ilham akan di jodohkan dengan Kakak."
Sisi mengirimnya ke nomor Syifa, kebetulan gadis itu masih online. Jadi, tidak menunggu lama, chat dari Sisi di buka oleh gadis itu. Selang beberapa saat, Syifa membalasnya.
"Kan biar surprise, hehehehe 🤭. Tapi seneng, kan?" Sisi kembali tersenyum membacanya, dan di balas oleh dia.
"Iya, seneng banget. Udah dulu ya Fa, Kakak mau istirahat dulu. assalamualaikum."
Setelah mendapat balasan dari Syifa meletakkan kembali ponselnya di nakas, setelah itu dia menarik selimut untuk membungkus tubuhnya. Sesaat kemudian, dering ponselnya berbunyi. Sisi mengurungkan niatnya untuk berbaring, dan mengambil kembali ponselnya. Terlihat di layar ponselnya nomor tidak di kenal. Sisi berniat mengabaikan, namun dia takut ada hal yang penting.
"Assalamualaikum," sapanya, Sisi menjawab panggilan. Saat dia mendengar jawaban dalam darinya, wajahnya berubah merah semu.
"Waalaikumussalam, kamu belum tidur?" Suara orang di seberang sana.
Lidah Sisi berubah menjadi kelu, jantungnya berdetak hebat mendapat perhatian dari orang di seberang sana. "Ini, mau tidur, kok!" jawabnya dengan gugup.
"Ya sudah, selamat tidur Felisya Basri. Calon istriku. Sampai bertemu di akad besok," ucap pria itu, semakin membuat Sisi melayang ke udara.
"Iya, Kak Ilham. Kakak juga cepetan tidur, ya! Semoga mimpi indah."
"Aamiin."
"Si!"
"Iya Kak!"
__ADS_1
"Jaga hatimu buat Kakak, ya? Kakak gak sanggup jika kehilangan kamu, karena kamu adalah wanita yang pertama kali hadir dalam hidup Kakak. Dan besar harapan Kakak untuk menjadikan kamu wanita terakhir dalam hidup Kakak!"
Hening, Sisi tak bersuara. Dia begitu terharu mendengar itu dari Ilham. Hatinya bagai di siram dengan air bunga setaman.
"Si!"
"Eh, iya Kak. Inshaa Allah, Kak. Sisi akan jaga hati ini untuk Kakak. Begitupun dengan Sisi, Kak. Harapan Sisi hanya satu, semoga Kakak menjadi imam Sisi sampai till Jannah."
"Aamiin. Ya sudah ya, Kakak tutup dulu telponnya. Assalamualaikum!"
"Waalaikumussalam!"
Tak dapat dipungkiri hati Ilham di liputi rasa kecemasan yang amat hebat. Benar, dia tidak terpancing dengan Hanif. Tapi, batinnya kini berperang. Antara takut kehilangan Sisi dan takut jika rencana ijab qobul nya besok gagal. Apalagi saat dia membuka ponselnya, WhatsApp Sisi sedang online. Gemuruh di dadanya begitu meluap. Takut, jika wanita itu masih berhubungan dengan Hanif, mantan tunangannya.
Bukan tanpa alasan dia punya pikiran seperti itu. Karena sejak pertemuannya tadi dengan Sisi, Ilham bisa melihat dengan jelas masih ada rasa sedikit di mata Sisi untuk Hanif. Hanya saja, rasa itu tertutup kekecewaan yang teramat besar, hingga tidak terlihat oleh Sisi sendiri.
Tapi meski begitu, tidak dijadikan masalah itu oleh Ilham untuk berburuk sangka. Dia masih punya pemilik hati, yang suatu saat akan menghapus rasa yang sedikit itu dari diri wanita yang di cintainya. Dan cintanya yang akan menggantikan posisi itu.
Sisi meletakkan kembali ponselnya di atas meja, namun ponsel itu berdering kembali. Dan di lihatnya siapa yang menelponnya, nomor baru lagi. Dengan sedikit keraguan dia mengangkat panggilan telpon itu.
"Mau apa lagi, kita sudah gak ada urusan lagi!" ketusnya lagi.
Selang beberapa saat Sisi mendekat ke jendela, atas perintah orang itu. Sisi melihat kebawah kamarnya, dan benar saja. Hanif ada di sana, pria itu berdiri tepat di bawah kamar Sisi.
"Aku nggak akan turun, lebih baik kamu pergi dari situ!"
"Nggak akan!" sentaknya, dan menutup panggilannya.
Sisi berjalan menjauh dari tempat dia berdiri menuju ke ranjangnya. Namun, hatinya gelisah, karena Hanif mengancam akan naik keatas kamarnya, jika dia tidak mau menemuinya di bawah.
"Ya Allah, kenapa dia masih saja egois, sih!"
Ponselnya kembali berdering, namun Sisi tidak menjawabnya. Karena nomor itu dari Hanif, dia memilih meletakkan ponselnya di atas meja. Namun tertahan bunyi chat masuk dari WhatsApp.
"Baiklah, aku akan naik sekarang juga!"
Seperti itu isi pesan dari Hanif. Sisi tidak mungkin membiarkan Hanif masuk kedalam kamarnya. Kalau ada yang tahu, akan menjadi masalah buatnya. Akhirnya dia menyetujui untuk menemui Hanif di bawah, dengan syarat dia tidak mau menemui Hanif di bawah kamarnya. Dia memilih untuk menemui Hanif di taman rumahnya, paling tidak mereka tidak harus berduaan. Karena post satpam terletak tak jauh dari taman itu.
__ADS_1
"Sekarang katakan apa yang akan kamu bicarakan dengan aku!!" sentak Sisi saat mereka sudah duduk di bangku taman itu.
"Si, aku mohon! Gagalkan pertunangan kamu dengan Ilham. Menikahkan denganku! Aku mohon, Si!!!" ucap Hanif memelas.
"Nif, tolong mengertilah. Hargai keputusan aku. Kita sudah berakhir. Dan sekarang aku memilih Ilham untuk menjadi imamku. Tolong mengertilah!!!" tolak Sisi dengan tegas.
"Apa benar kamu sudah tidak mencintaiku?" Hanif mencoba meraih tangan Sisi, namun dengan cepat Sisi menolaknya.
"Jangan sentuh aku, Nif!" gertak Sisi menjauhkan dirinya dari Hanif.
"Aku janji, aku akan merubah sikapku selama ini. Demi kamu! Tolong, Si. Cabut kata-kata kamu ingin menikah dengan Ilham."
Hanif tiba-tiba bersimpuh di depan Sisi. Dia terus memohon agar Sisi mau kembali kepadanya.
"Nif, apa-apaan kamu! Berdirilah! Jangan seperti ini, aku mohon."
"Aku nggak akan berdiri, sebelum kamu mau kembali denganku."
"Nif, kamu jangan memaksakan kehendak kamu sendiri. Hubungan kita sudah berakhir, dan tidak akan bisa bersatu lagi. Aku sudah menganggap kamu kawan, jadi tolong hargai keputusan aku, Nif."
"Apa benar kamu sudah tidak memiliki rasa cinta padaku, Si!" ujar Hanif mendongakkan kepalanya agar bisa menatap wajah Sisi.
Wanita itu terdiam sejenak, setelah itu dia bersuara. "Aku sudah tidak mencintai kamu, karena dalam hati ku ini sudah ada penghuninya."
Hanif tertunduk lemas, haruskah dia menyerah begitu saja. Atau dia masih harus berusaha lagi, agar Sisi kembali mencintainya.
"Aku yakin, kamu pun demikian. Tanyakan pada hati nurani kamu, apa kamu masih mencintaiku atau sebenarnya itu hanya egomu sendiri, Nif. Tanyakan pada hatimu, aku yakin kamu akan mendapatkan jawabannya."
Sisi meninggalkan Hanif yang masih bersimpuh di tanah. Pria itu menunduk lemas seraya menangisi nasibnya. Ada yang membuat hatinya begitu sakit dari semua kata-kata yang di ucapkan oleh Sisi.
"Aku sudah tidak mencintai mu, karena hari ini sudah menjadi milik orang lain." Kata-kata itu terngiang-ngiang di telinga Hanif. Harapannya harus pupus.
To be continued
Hanif masih akan berjuang...
Ihhh penasaran gak Sih 😁😁😁
__ADS_1