
Pesawat yang membawa Ilham, Sisi dan Umi Qoniah sudah mendarat di Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta. Terlihat para penumpang mulai turun dari pesawat menuju ke lobi Bandara. Begitu juga dengan Sisi. Sembari menyeret kopernya, Sisi berjalan menuju lobi. Setelah sampai di lobi, dia mengambil ponselnya di dalam tas, dan terlihat sedang menghubungi seseorang.
"Ayah, Sisi udah sampai di Bandara! Ada yang jemput Sisi nggak, Yah?" tanya wanita yang memakai gamis berwarna hijau muda pada orang di seberang sana.
"Hmmm, terus gimana Yah? Cari taksi akan sulit kalau jam segini!" lanjutnya dengan nada kecewa. Karena anggota keluarganya tidak ada yang menjemputnya di Bandara.
"Iya udah, iya. Sisi akan coba cari dulu, nanti kalau nggak nemu, Sisi kabarin Ayah lagi, ya! Assalamualaikum?" Sisi menutup panggilan telponnya dengan Ayahnya, dan berjalan menuju ke halaman Bandara. Sembari mengotak-atik handphonenya, dia mencari taksi online yang bisa mengantarnya pulang ke rumah. Saling fokusnya dengan layar handphonenya, hingga tak sadar dia menabrak seseorang.
"Aduh!!! Maaf-maaf, saya nggak sengaja," ucapnya pada seorang pria yang memakai jaket denim berwana coklat susu.
Seulas senyum terpancar dari bibir pria itu kala melihat Sisi yang terlihat cemas. "Kamu kenapa? Apa belum ada yang menjemput kamu?" tanyanya kemudian.
Suara pria itu sontak membuat Sisi mendongakkan wajahnya kearah sumber suara. Karena baginya suara itu tidak asing di telinganya. Setelan melihat dengan jelas pria yang baru saja dia tabrak, Sisi kembali menunduk. Dia merasa malu, karena orang yang dua tabrak adalah Ilham. Pria yang seharusnya dia hindari, namun takdir selalu mempertemukan mereka.
"Si, kalau belum ada yang jemput, bareng kami aja!" tawar Ilham pada wanita itu.
Sisi yang merasa canggung, dia menolak tawaran dari Ilham. Dia tidak mau terjadi kesalahpahaman, jika orangtuanya melihat dia diantar oleh pria yang belum di kenal oleh keluarganya. "Nggak usah, Kak Ilham! Sisi pesen taksi online saja!" tolak wanita itu dengan suara gemetar.
Sisi sendiri pun bingung, kerap kali bertema atau ngobrol dengan Ilham, dia seperti orang yang mati kutu. Dadanya berdetak begitu cepat, hingga terlihat jelas kecanggungannya pada Ilham. Padahal, jika dengan pria lain, dia tidak merasakan apa yang dirasakan saat dekat dengan Ilham.
Tak lama kemudian, Umi Qoniah datang dari arah barat. Beliau menunggu Ilham tak kunjung datang, akhirnya dia memutuskan untuk menyusul putranya. Tujuan Ilham di tempat itu adalah untuk menemui driver yang membawa mobil yang sudah ia sewa.
"Ham, udah ketemu be..." Belum selesai umi Qoniah bicara, pandangannya menangkap sosok yang berdiri di depan putranya. "Sisi, sayang kamu belum ada yang jemput?"
"Belum Umi, supir di rumah sedang mengantar adik Sisi ke Solo. Jadi, Sisi belum ada yang jemput!" terang Sisi pada Umi Qoniah.
"Ya, udah. Bareng kami aja, lagian kita searah Kok!" Sisi sedikit terkejut dan berfikir sejenak. "Ham, kita berangkat sekarang, ya!" seru Umi pada anaknya.
__ADS_1
"Iya Umi. Itu mobilnya udah datang!" Ilham menunjuk sebuah mobil sedan berwarna hitam yang sedang melaju ke arah mereka.
"Dengan Bapak Muhamad Ilham Alfahri?" tanya driver mobil itu pada Ilham, setelah menghentikan mobilnya.
"Iya, Pak."
"Ayo Nak Sisi! Bareng Umi aja, sekalian Umi pengen tahu di mana rumah kamu!" Wanita itu meraih pundak Sisi dan mengarahkan agar Sisi berjalan menuju ke mobil itu.
Sisi sedang Dejavu saat ini, jika menolak ajakan Umi Qoniah, dia tak enak hati. Tapi jika dia menerimanya, sudah merepotkan Ilham dan Umi Qoniah. Akhirnya dengan terpaksa dia mengikuti kemauan Ini Qoniah dengan naik ke mobil yang sudah di sewa Ilham.
Di dalam mobil banyak pertanyaan yang terlintas di kepala Sisi. Sehingga membuat wanita itu hanya diam tak bersuara. Mungkin efek kecapekan juga, sehingga mereka lebih banyak diam. Hingga mobil itu berhenti pas di depan rumah Sisi.
"Umi, mampir dulu yuk ke rumah Sisi!"
Umi Qoniah hanya tersenyum manis kearah Sisi, sementara iris matanya melirik rumah mewah yang berdiri kokoh di depannya. "Lain kali aja, ya sayang. Umi sama Ilham nginep di hotel depan sana!" tolak Umi Qoniah menunjuk sebuah hotel yang berada di ujung gang perumahan, tempat Sisi tinggal.
"Terimakasih ya Umi, Kak Ilham atas tumpangannya. Saya permisi dulu. Assalamualaikum!"
"Umi! Kalau boleh Ilham tahu, di mana rumah calon istri Ilham?" Pertanyaan itu lolos dari bibir Ilham, setelah dia menahannya untuk tidak bertanya pada Uminya.
Wanita paruh baya itu tersenyum tipis menanggapi pertanyaan putranya. "Nanti kamu juga tahu, sayang!" ucapnya membuat Ilham mengerinyitkan keningnya.
Mobil yang di tumpangi Ilham kembali melaju kearah hotel, tempat mereka menginap. Sesampainya di hotel, Ilham dan Umi Qoniah sudah di papak oleh Kyai Abdulloh beserta adiknya. Mereka sudah lebih dulu menginap di hotel itu.
"Assalamualaikum Abi, Paklek!" sapa Ilham pada dua orang pria yang baru saja datang itu.
"Waalaikumussalam!" balas keduanya.
__ADS_1
"Mashaa Allah le, kamu udah sebesar ini. Pantesan Abimu sudah gak sabar pengen nikahkan kamu," sahut pamannya Ilham.
"Alhamdulillah Paklek!"
"Ya sudah, ayo kita ke kamar. Kalian pasti capek, kan. Ayok, Umi!!" Mereka menuju ke kamar yang sudah mereka pesan.
Ilham memesan dua kamar di hotel itu, satu untuk Abi dan Umi nya. Satunya lagi untuk dia dan pamannya. Setelah sampai di lantai dua belas, mereka memisahkan diri. Umi dan Abinya Ilham masuk ke kamar mereka. Sementara Ilham dan pamannya masuk ke kamar satunya lagi.
Sebuah kamar dengan ranjang king size, cocok untuk mereka berdua. Selain ranjang, di sana terdapat televisi dan lemari untuk menyimpan pakaian mereka selama tinggal di sana. Ilham memilih ke kamar mandi terlebih dahulu untuk melaksanakan sholat Ashar sekaligus mengaasar sholat Dzuhur nya tadi yang tertinggal akibat perjalanan jauh.
Usai sholat, Ilham memilih duduk di tepi ranjang itu sembari memainkan handphonenya.
"Ham, wah selera kamu mantap juga ya. Calon istri kamu tuh cantik banget!!!" seru Pak Zakri pada keponakannya.
"Ilham belum pernah melihatnya, Paklek!" jawab Ilham dengan jujur.
"Masa sih, Ham! Wah benar-benar deh Umi mu tuh. Mau kasih kejutan yang luar biasa deh buat kamu." Ilham hanya tersenyum tipis.
"Apa Paklek punya foto gadis yang akan Ilham nikahi nanti?" Entah kenapa firasat Ilham tidak karuan, dia penasaran dengan calon istrinya ini.
"Kalaupun ada, Paklek gak akan kasih tahu ke kamu!" goda Pak Zakri, kemudian terkekeh.
"Ilham heran, kenapa Umi merahasiakannya pada Ilham ya! Kerap kali Ilham tanya, siapa gadis itu. Jawabnya pasti sama, nanti juga tahu!" Ilham menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.
"Paklek kasih tahu tempat tinggalnya, ya! Dia tinggal di daerah sini, gak jauh kok dari hotel ini. Kira-kira satu kiloan!"
Terlintas di kepala Ilham, apa mungkin gadis itu Sisi. Wanita yang tinggal di daerah itu juga dan rumahnya hanya berjarak satu kilo dari hotel tempat dia mengingat. Namun pikiran itu lantas di pangkas oleh Ilham. Dia tidak mau terlalu berharap, jika gadis itu benar-benar Sisi. Dia takut kecewa, jika bukan Sisi, nantinya.
__ADS_1
"Besok, acara lamarannya Ham. Sebenarnya Abi mu pengennya hari ini. Tapi, keluarga pihak perempuan masih ada hajat di tempat sahabatnya." Mendengar hal itu, jantung Ilham semakin berdegup cepat.
"Ya Allah, apa benar dia Felisya Basri!" batinnya.